“‘PERGI SAJA! DAN JANGAN PERNAH KEMBALI LAGI!’ TERIAK MANTAN SUAMIKU SAMBIL MENGUSIRKU KE JALAN SAAT AKU SEDANG HAMIL DELAPAN BULAN… NAMUN KEESOKAN PAGINYA, DIA MENERIMA SESUATU YANG MEMBUATNYA MEMBISU DAN MENGGUNCANG SELURUH HIDUPNYA.”**
**BAGIAN 1**
Hujan turun sangat deras pada malam ketika **Adrian Castillo** mengusirku.
Saat itu aku sedang hamil delapan bulan.
Aku bahkan sudah sulit berjalan karena perutku yang semakin besar.
Namun…
Dia sama sekali tidak peduli.
Satu per satu Adrian melempar barang-barangku keluar dari kondominium kami di kawasan pusat bisnis.
Disusul pakaian-pakaianku.
Sepatu-sepatuku.
Bahkan foto hasil USG anak kami pun ikut dilemparkannya.
**”Pergi!”**
Teriaknya sambil menunjuk ke arah lift.
**”Aku sudah muak menanggung hidupmu!”**
**”Kamu bahkan tidak becus mencari uang!”**
Aku hanya menatapnya.
Tiga tahun kami menikah.
Selama tiga tahun pula aku percaya bahwa dia mencintaiku.
Baru malam itu aku sadar…
Betapa bodohnya aku.
Di belakangnya berdiri **Vanessa**.
Wanita barunya.
Seorang Assistant Director di perusahaan tempat Adrian bekerja.
Tangannya melingkar di lengan Adrian.
Seolah-olah dialah pemilik semua yang ada di sana.
Dia tersenyum kepadaku.
Senyum seorang pemenang.
*”Andrea…”*
Katanya pelan.
*”Kadang-kadang, kamu harus menerima kenyataan saat kamu sudah kalah.”*
Rasanya seperti ada pisau yang menusuk dadaku.
Namun…
Yang terjadi setelahnya jauh lebih menyakitkan.
Ibu mertuaku, **Ny. Celia Castillo**, keluar dari dalam apartemen.
Dia memandangku dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Tatapannya dipenuhi penghinaan.
**”Memang pantas.”**
**”Kamu kira menjadi istri saja sudah cukup?”**
**”Lihat Vanessa.”**
**”Punya jabatan.”**
**”Punya uang.”**
**”Punya masa depan.”**
**”Kalau kamu? Apa yang bisa kamu berikan untuk anakku?”**
Aku hanya mengusap perutku perlahan.
Selama delapan bulan kehamilan ini…
Tidak sekali pun mereka bertanya bagaimana keadaan bayiku.
Namun setiap hari…
Mereka selalu mengingatkanku bahwa aku tidak berharga.
Aku menarik napas panjang.
Lalu bertanya kepada Adrian.
**”Jadi… ini benar-benar keputusanmu?”**
Dia menjawab tanpa sedikit pun ragu.
**”Ya.”**
**”Hubungan kita sudah selesai.”**
**”Dan jangan pernah berpikir kamu masih punya tempat untuk kembali ke sini.”**
Setelah mengucapkan itu…
Dia membanting pintu dengan sangat keras.
Seolah-olah…
Aku tidak pernah menjadi bagian dari hidupnya.
Air hujan membasahi wajahku.
Menyatu dengan keheningan malam.
Beberapa detik kemudian…
Ponselku berdering.
Aku menatap layarnya.
Dan untuk pertama kalinya malam itu…
Aku tersenyum.
Karena yang menelepon adalah **Pengacara Ramon Reyes**.

Kepala Penasihat Hukum **Monarch Holdings Corporation**.
Dan apa yang akan disampaikannya kepadaku…
Akan menjadi awal dari mimpi buruk keluarga Castillo.
BAGIAN 2 (LANJUTAN)
Aku mengangkat telepon itu di bawah guyuran hujan, menempelkannya ke telinga dengan tangan yang sangat tenang.
“Halo, Nona Andrea,” suara Pengacara Ramon Reyes terdengar tegas dan penuh hormat di seberang sana. “Semua dokumen pengalihan aset dan pembatalan hak guna kondominium atas nama Adrian Castillo telah selesai diproses. Sesuai perintah kakek Anda, seluruh eksekusi akan berjalan mulai besok pagi pukul delapan tepat.”
“Terima kasih, Pengacara Ramon. Pastikan tidak ada satu pun detail yang terlewat,” jawabku pelan.
“Baik, Nona. Mobil jemputan dari kediaman utama Monarch Holdings sudah menunggu Anda di lobi bawah sejak satu jam yang lalu. Silakan turun, Nona. Anda tidak boleh terlalu lama berada di udara dingin dalam kondisi hamil tua.”
Aku mematikan sambungan telepon. Kuambil foto USG anakku yang sempat dilempar Adrian ke lantai koridor, membersihkan tetesan air yang membasahinya, lalu melangkah masuk ke dalam lift tanpa sekali pun menoleh ke belakang pintu kondominium itu.
Mereka mengira aku adalah gadis yatim piatu miskin yang tidak punya apa-apa saat Adrian menikahiku tiga tahun lalu. Mereka tidak pernah tahu bahwa aku adalah pewaris tunggal Monarch Holdings—perusahaan konglomerat yang menaungi tempat Adrian bekerja, sekaligus pemilik sah dari seluruh gedung kondominium mewah yang mereka tinggali saat ini. Aku sengaja menyembunyikan identitasku demi menguji ketulusan cinta Adrian. Dan malam ini, ujian itu berakhir dengan jawaban yang sangat menjijikkan.
Keesokan paginya, pukul tujuh lewat empat puluh lima menit.
Adrian sedang menikmati kopi hangat yang dibuatkan oleh Vanessa di ruang tamu kondominium. Di sofa seberang, Ny. Celia Castillo sedang sibuk memilah-milah brosur perhiasan, merasa hidupnya sudah sangat terjamin karena putranya kini akan bersanding dengan seorang Assistant Director.
“Setelah urusan perceraianmu dengan Andrea selesai, kita harus segera menggelar pesta pernikahan mewah dengan Vanessa,” ujar Ny. Celia sambil tersenyum lebar.
“Tentu saja, Ibu. Vanessa jauh lebih berkelas daripada Andrea yang hanya tahu cara menghabiskan uangku,” balas Adrian sambil mengecup dahi Vanessa yang duduk di sampingnya.
Tepat pukul delapan pagi, bel pintu kondominium berbunyi dengan sangat keras.
BAGIAN 3 (THE END)
Adrian mengernyitkan dahi. “Siapa yang datang sepagi ini? Apakah Andrea datang merangkak untuk meminta maaf?”
Dengan langkah angkuh, Adrian membuka pintu. Namun, senyumnya seketika lenyap. Di depannya berdiri tiga orang pria paruh baya mengenakan setelan jas formal yang sangat mahal, dikawal oleh empat orang petugas keamanan gedung. Pria di barisan paling depan adalah Pengacara Ramon Reyes.
“Adrian Castillo?” tanya Pengacara Ramon tanpa ekspresi.
“Ya, saya sendiri. Anda siapa?” Adrian bertanya dengan nada defensif. Vanessa dan Ny. Celia ikut berjalan ke pintu, penasaran.
Pengacara Ramon tidak menjawab. Dia langsung menyodorkan sebuah map hitam tebal ke dada Adrian. “Saya adalah Kepala Penasihat Hukum dari Monarch Holdings Corporation. Saya di sini untuk menyerahkan surat perintah pengosongan properti dan surat pemutusan hubungan kerja sepihak atas nama Anda.”
Adrian membeku. “Apa maksud Anda?! Pengosongan properti? Ini kondominium saya! Dan apa-apaan surat pemutusan kerja ini? Saya adalah manajer senior di anak perusahaan Monarch!”
Vanessa, yang mengenali logo emas di map tersebut, langsung merebutnya dengan wajah pucat. Matanya membaca dokumen itu dengan cepat, dan sedetik kemudian, seluruh tubuhnya gemetar hebat.
“Adrian… kondominium ini… pemilik sahnya bukan atas namamu. Dokumen hak guna atas namamu didelegasikan oleh yayasan utama Monarch Holdings… dan pemilik sah yayasan itu adalah…” Vanessa menghentikan kalimatnya, suaranya tercekat di tenggorokan saat membaca nama pemilik tanda tangan di lembar paling belakang.
“Siapa, Vanessa?! Katakan!” bentak Ny. Celia yang mulai panik.
“Andrea…” bisik Vanessa, matanya melebar penuh kengerian. “Andrea Valderrama-Castillo. Dia adalah putri mahkota dan pewaris tunggal seluruh aset Monarch Holdings.”
Mendengar nama itu, Adrian seperti dihantam badai petir di siang bolong. Lidahnya mendadak kelu, seluruh tubuhnya membisu, dan dunianya runtuh dalam satu detik.
“Tidak… tidak mungkin! Andrea itu miskin! Dia tidak punya keluarga!” teriak Ny. Celia histeris, mencoba merebut kertas itu.
“Nona Andrea sengaja menggunakan nama belakang ibunya selama tiga tahun ini untuk menyembunyikan identitas aslinya,” ujar Pengacara Ramon dengan nada sedingin es. “Namun setelah apa yang kalian lakukan kepadanya dan calon pewaris Monarch Holdings tadi malam, kakek Nona Andrea memastikan bahwa kalian tidak akan memiliki tempat lagi di kota ini.”
Pengacara Ramon mundur satu langkah dan memberi isyarat kepada petugas keamanan. “Kalian memiliki waktu tiga puluh menit untuk membawa pakaian kalian. Setelah itu, seluruh aset di dalam rumah ini akan disita. Dan untuk Anda, Nona Vanessa… karena Anda ikut terlibat dalam skandal moral yang mencemarkan nama baik keluarga besar Monarch, surat mutasi dan penurunan jabatan Anda ke daerah terpencil juga sudah diterbitkan pagi ini.”
Vanessa terduduk lemas di lantai koridor, air matanya menetes meratapi kariernya yang hancur dalam sekejap. Sementara Ny. Celia mulai menangis dan memohon-mohon kepada para petugas, namun tidak ada satu pun yang memedulikannya.
Adrian berdiri terpaku di ambang pintu, menatap koridor kosong yang dingin. Pikirannya melayang pada malam sebelumnya, saat dia melempar foto USG anaknya ke jalanan yang basah. Rasa penyesalan yang teramat sangat menusuk jantungnya, namun semuanya sudah terlambat.
Kejahatan yang dia lakukan terhadap istrinya yang sedang hamil tua telah dibayar kontan dalam waktu kurang dari dua belas jam, meninggalkan dirinya dan keluarganya hancur tanpa menyisakan apa pun selain kehinaan di jalanan.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.