Posted in

SAAT AKU HAMIL, IBU MERTUAKU MENYURUHKU MENJAGA WARUNG KELONTONG DI TENGAH BADAI, SEMENTARA IPARKU SIBUK MEMPER CANTIK DIRI UNTUK PESTA DESA. NAMUN KETIKA SUAMIKU MELETAKKAN AKTA, SELURUH BUKTI PEMBAYARAN, DAN DOKUMEN KELURAHAN DI ATAS MEJA, SENYUM SELURUH KELUARGANYA LANGSUNG MEMBEKU DAN PERPISAHAN PALING DINGIN DALAM HIDUP KAMI PUN DIMULAI.**

SAAT AKU HAMIL, IBU MERTUAKU MENYURUHKU MENJAGA WARUNG KELONTONG DI TENGAH BADAI, SEMENTARA IPARKU SIBUK MEMPER CANTIK DIRI UNTUK PESTA DESA. NAMUN KETIKA SUAMIKU MELETAKKAN AKTA, SELURUH BUKTI PEMBAYARAN, DAN DOKUMEN KELURAHAN DI ATAS MEJA, SENYUM SELURUH KELUARGANYA LANGSUNG MEMBEKU DAN PERPISAHAN PALING DINGIN DALAM HIDUP KAMI PUN DIMULAI.**

**BAGIAN 1 — DI TENGAH AROMA LUMPIA GORENG DAN PAYUNG BASAH YANG MEMENUHI RUANG TAMU, MEREKA MEMAKSAKU MENJADI PEMBANTU MESKI PERUT HAMILKU SUDAH BERGETAR KARENA KELELAHAN, SEMENTARA SUAMIKU HANYA DUDUK MEMBISU DI SUDUT RUANGAN.**

Malam itu hujan turun sangat deras di kampung kami.

Air hujan memantul di atas atap seng, selokan di depan warung kelontong meluap, dan aroma lumpia goreng dari dapur bercampur dengan bau payung basah serta keringat para tamu yang sedang bersiap menyambut pesta desa.

Aku sedang hamil enam bulan.

Namun di rumah ibu mertuaku, yang mereka lihat seolah bukan perut hamil.

Melainkan utang.

Beban.

Alasan untuk menyuruhku bekerja lebih keras.

Aku berdiri di sudut dapur sambil memegang perutku, berusaha menyembunyikan rasa nyeri di bagian bawah perut. Sudah berjam-jam aku menggulung lumpia, memotong kol, menghitung stok minuman di kulkas warung, serta mencatat siapa saja yang masih berutang beras, es batu, minyak goreng, dan rokok.

Di ruang tamu, kakak iparku, Bianca, duduk santai di kursi plastik dengan kaki disilangkan.

Rambutnya baru selesai direbonding.

Kukunya baru dicat.

Di tangannya ada ponsel, dan dia sibuk melihat wajahnya sendiri di siaran langsung.

Katanya besok dia akan membuka booth kecantikan kecil di alun-alun desa.

Karena itu dia harus tetap terlihat segar.

Kalau aku kelelahan, katanya tidak masalah.

Soalnya aku “cuma di rumah.”

Ibu mertuaku, Bu Corazon, berdiri di tengah ruang tamu sambil memegang kipas tangan.

Tatapannya kepadaku seperti majikan kepada pembantu.

“Mara, jaga dulu warung sampai hujannya reda. Bianca sudah capek. Besok hari penting buat dia.”

Aku tidak langsung menjawab.

Di luar, dua tetangga sedang membeli es batu dan cuka.

Di belakangku, sepanci mi goreng masih mendidih.

Di dalam perutku, bayiku bergerak pelan, seolah ikut mengeluh.

Aku menarik napas perlahan.

“Bu… dari tadi saya sudah berdiri. Dokter bilang saya tidak boleh terlalu lelah.”

Kipas di tangan Bu Corazon langsung berhenti bergerak.

Matanya menyipit.

“Dokter lagi, dokter lagi. Waktu saya hamil Enzo, saya mencuci di sumur, mengangkat karung padi, jualan di pasar. Saya tidak pernah drama.”

Bianca tertawa kecil.

“Kak Mara, cuma jaga warung kok. Bukan disuruh kerja di proyek bangunan.”

Aku memegang perutku lebih erat.

Bukan karena kata-katanya menyakitkan.

Melainkan karena aku sudah terbiasa.

Dan terbiasa diperlakukan buruk jauh lebih menyakitkan.

Di ujung ruang tamu, suamiku, Enzo, duduk diam.

Ponselnya ada di tangan.

Dia tidak bermain gim.

Tidak menonton video.

Dia hanya menatap layar, seolah sedang membaca sesuatu, tetapi tetap tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Sudah tiga tahun kami menikah.

Selama tiga tahun itu aku terus mencoba memahami diamnya.

Saat ibunya meminta uang, dia diam.

Saat Bianca mengambil tasku tanpa izin, dia diam.

Saat ayahnya, Pak Rolando, berkata aku harus “bersyukur” karena diizinkan tinggal di kompleks keluarga mereka, dia tetap diam.

Padahal rumah kecil di belakang warung itu dibangun dari tabungan kami berdua.

Hampir semua batako, cat, plafon, lemari, dan peralatan rumah tangga dibayar dari uang lemburku saat masih bekerja di perusahaan BPO.

Tetapi sertifikat tanahnya tetap atas nama Bu Corazon.

Sedikit demi sedikit, rumah yang kami bangun mulai mereka sebut sebagai “rumah keluarga.”

Aku tidak bodoh.

Aku tahu apa artinya.

Artinya, kapan pun mereka marah, mereka bisa mengusirku.

Artinya, setiap kali aku melawan, aku dianggap tidak tahu berterima kasih.

Artinya, setelah anakku lahir nanti, bahkan anakku pun bisa dianggap milik keluarga mereka.

“Mara.”

Suara Bu Corazon kini jauh lebih tajam.

“Jangan menatap saya begitu. Ada pelanggan di luar. Setelah selesai menjaga warung, bawakan sup hangat ke kamar Bianca. Dia kurang enak badan karena kehujanan.”

Aku menoleh ke arah Bianca.

Dia masih duduk santai sambil makan kerupuk kulit dan sibuk mengetik caption untuk siaran langsungnya.

Kurang enak badan?

Padahal aku yang sudah beberapa hari pusing.

Aku yang kakinya bengkak.

Besok pagi aku harus kontrol kandungan.

Sejak tadi aku bahkan belum sempat duduk dengan nyaman.

Tetapi justru aku yang harus mengantarkan makanan kepada perempuan yang jauh lebih sehat dariku.

“Bu… Bianca bisa mengambil makanannya sendiri.”

Begitu kalimat itu keluar dari mulutku, ruang tamu langsung sunyi.

Seolah ada gelas pecah, padahal tidak ada suara apa pun.

Pak Rolando yang sejak tadi merokok di depan pintu langsung menoleh.

Bianca menurunkan ponselnya.

Bu Corazon tersenyum.

Senyum yang paling kutakuti.

Bukan senyum marah.

Lebih buruk daripada itu.

Senyum seseorang yang yakin lehermu ada di dalam genggamannya.

“Pantas saja perutmu makin besar, kepalamu juga ikut membesar.”

Perlahan dia berjalan mendekat.

“Mara, jangan lupa kamu tinggal di mana. Tanah yang kamu injak ini milik kami. Warung yang memberi tambahan penghasilan untuk kalian juga milik kami. Dan nama keluarga yang akan dipakai anakmu nanti adalah nama keluarga kami.”

Aku tidak bergerak.

Tetapi kedua tanganku terasa sedingin es.

“Kalau kamu tidak bisa menyesuaikan diri dengan keluarga suamimu, silakan kembali saja ke kamar kontrakanmu dulu di Jakarta.”

Saat itu Enzo berdiri.

Akhirnya.

Kupikir dia akan bicara.

Kupikir setidaknya kali ini dia akan berkata, “Sudah cukup.”

Namun dia hanya mengambil ponselnya lalu berjalan masuk ke kamar kami di belakang rumah.

Aku tidak mengikutinya.

Aku juga tidak menangis.

Aku hanya menatap pintu sambil mendengar suara laci dibuka dari dalam.

Bianca menyeringai.

“Itu, Kak. Paling Kak Enzo mau menasihati Kakak.”

Bu Corazon kembali duduk di sofa seolah sudah memenangkan semuanya.

“Bagus. Memang sebaiknya kamu belajar merendahkan diri dari sekarang. Baru hamil saja sudah merasa jadi ratu.”

Beberapa detik kemudian…

Enzo keluar lagi.

Kali ini yang dia bawa bukan ponsel.

Bukan juga dompet.

Di tangannya ada sebuah amplop cokelat tebal, sebuah map merah, dan sebuah kunci kecil dengan gantungan bertuliskan nama kantor properti.

Dia berjalan menuju meja ruang tamu.

Satu per satu isi amplop itu diletakkannya di atas meja.

Kontrak sewa yang telah dilegalisasi notaris.

Surat keterangan domisili terpisah dari kelurahan.

Seluruh kuitansi bahan bangunan.

Bukti transfer bank.

Dan fotokopi Sertifikat Hak Milik atas tanah yang selama ini selalu dibanggakan keluarganya.

Senyum Bu Corazon langsung menghilang.

Wajah Bianca membeku.

Pak Rolando berdiri dari kursinya.

Enzo menatap mereka bertiga.

Suaranya tenang.

Namun kali ini diamnya bukan lagi tanda kelemahan.

Melainkan dingin.

Tajam.

Seperti pisau yang selama ini disembunyikan di bawah bantal.

“Bu.”

“Pak.”

“Kalau memang kalian begitu menyayangi Bianca, silakan rawat dia, biayai dia, dan layani dia sendiri.”

Dia sempat menoleh kepadaku.

Lalu kembali menatap ibunya.

“Tapi mulai malam ini, kalian tidak akan lagi memperlakukan istriku yang sedang hamil seperti pembantu.”

Dia menggeser surat domisili ke tengah meja.

“Mulai hari ini kami resmi tinggal terpisah dari rumah ini.”

Kemudian dia meletakkan kunci rumah itu.

“Kami sudah punya tempat tinggal sendiri.”

Lalu ketika dia mengangkat map merah itu…

Wajah Bu Corazon langsung pucat.

Karena di bagian depannya tertulis jelas:

**”SURAT PERNYATAAN PENGADUAN.”**

Enzo menarik napas panjang.

“Dan sebelum kami pergi, kita akan membahas kenapa rekening dompet digital atas nama Bianca menerima uang yang seharusnya dipakai untuk dana pemeriksaan kehamilan Mara.”

BAGIAN 2 (TAMAT) — KEBOHONGAN YANG LURUH DI TENGAH BADAI, DAN LANGKAH KAKI KAMI YANG TIDAK AKAN PERNAH BERBALIK LAGI

Suara guntur menggelegar di luar, getarannya sampai membuat kaca jendela ruang tamu ikut berderit. Namun, suasana di dalam ruangan jauh lebih mencekam.

Bianca mendadak menumpahkan kerupuk kulit dari pangkuannya. Wajahnya yang penuh riasan tebal seketika berubah pasi, seputih kertas.

“E-Enzo… apa-apaan ini? Rekening apa? Uang apa?!” Bu Corazon mencoba meninggikan suaranya, namun ada nada panik yang tidak bisa dia sembunyikan. “Jangan menuduh adikmu sembarangan hanya karena kamu mau membela istrimu yang pemalas itu!”

Enzo tidak terpancing. Dia mengambil map merah, membukanya dengan tenang, lalu membentangkan selembar kertas berisi riwayat transaksi bank terperinci ke atas meja.

“Dua bulan lalu, perusahaan BPO tempat Mara dulu bekerja mencairkan dana insentif sisa potongan cuti melahirkan dan asuransi kehamilan senilai Rp35 juta. Mara tidak tahu karena notifikasinya masuk ke email lama yang password-nya sudah diganti,” Enzo menatap Bianca dengan pandangan yang begitu menusuk hingga adiknya itu refleks menyembunyikan tangannya di bawah meja.

“Dan siapa yang mengganti password itu? Siapa yang menautkan akun dompet digitalnya untuk menguras uang itu sampai habis dalam waktu tiga minggu?” Enzo mengetuk kertas tersebut dengan ujung jarinya. “Nomor ponsel yang terdaftar di sini adalah nomormu, Bianca. Uang yang seharusnya dipakai Mara untuk menebus obat penguat kandungan dan biaya rumah sakit nanti, kamu pakai untuk modal booth kecantikanmu dan bayar DP motor barumu.”

“Enzo! Dia adikmu!” Pak Rolando menyela, rokok di tangannya gemetar. “Bisa dibicarakan baik-baik, jangan bawa-bawa surat pengaduan kelurahan!”

“Saat Mara mengeluh pusing dan kalian menyuruhnya berdiri berjam-jam di warung, apa Ayah ingat kalau Mara ini manusia?” suara Enzo meninggi satu oktav, membuat Pak Rolando bungkam. “Selama tiga tahun ini saya diam karena saya menghormati Ibu dan Ayah. Saya pikir, dengan mengalah, kalian akan luluh dan menerima Mara. Tapi saya salah. Diam saya malah membuat kalian makin tuman.”

Enzo beralih menatap ibunya yang kini mematung.

“Ibu selalu membanggakan tanah ini. Ibu bilang rumah kecil di belakang adalah milik keluarga. Silakan ambil, Bu. Ambil seluruh batako, cat, dan lemari yang kami beli dengan uang lembur kami. Kami tidak akan membawa satu serpihan pun dari rumah ini.”

Enzo meraih amplop cokelat tebal, lalu menunjukkan dokumen sertifikat rumah baru.

“Satu tahun ini saya tidak pernah main gim di ponsel. Saya mengambil proyek sampingan sebagai developer sistem setiap malam sampai jam tiga subuh saat kalian semua tidur. Saya sudah membeli sebuah rumah klaster kecil atas nama Mara di kecamatan sebelah. Sudah lunas, dan per tanggal satu besok, kami resmi pindah.”

Aku menatap suamiku dengan mata berkaca-kaca. Rasa nyeri di perutku mendadak sirna, digantikan oleh kehangatan yang luar biasa menjalar di dadaku. Pria yang selama ini kukira abai, ternyata diam-diam sedang membangun benteng pertahanan yang sangat kokoh untuk melindungiku dan anak kami. Dia mengumpulkan semua bukti, menunggu waktu yang tepat agar keluarganya tidak bisa lagi mengelak atau memanipulasi keadaan.

“M-Mara…” Bu Corazon kini beralih menatapku, matanya memohon. Nadanya berubah drastis menjadi penuh bujuk rayu. “Kamu menantu Ibu, Nak… Kamu sedang hamil. Jangan biarkan Enzo bertindak gegabah. Kalau kalian pindah, siapa yang mengurus warung? Siapa yang menemani Ibu? Bianca kan masih muda, belum mengerti apa-apa…”

Aku tersenyum tipis, lalu memegang lengan Enzo dengan mantap.

“Bu, seperti kata Ibu tadi… saya harus belajar merendahkan diri,” kataku, suaraku terdengar begitu lugas dan bebas dari rasa takut. “Mulai malam ini, saya merendahkan diri untuk keluar dari rumah ini. Silakan Bianca yang menjaga warung di tengah badai, karena dia jauh lebih sehat dan ‘mengerti banyak hal’ tentang uang orang lain.”

Bianca mulai menangis sesenggukan, menyadari bahwa bisnis kecantikan yang ia banggakan di siaran langsungnya terancam hancur karena kasus hukum yang sudah disiapkan Enzo.

“Enzo, cabut pengaduannya, Nak… Ibu mohon…” ratap Bu Corazon, mencoba meraih kemeja Enzo.

Enzo mundur satu langkah, menghindari tangan ibunya. Dia mengemas kembali dokumen-dokumen di meja, menyisakan lembar transaksi rekening Bianca dan surat panggilan dari kelurahan.

“Uang Rp35 juta milik Mara harus dikembalikan utuh dalam waktu tiga bulan. Kalau tidak, surat pengaduan ini akan langsung naik ke polsek atas dugaan penipuan dan akses data tanpa izin. Saya tidak main-main,” kata Enzo dingin.

Enzo kemudian berbalik menatapku. Tatapan matanya yang tajam mendadak melunak, penuh dengan rasa bersalah sekaligus kasih sayang. Dia melepaskan jaketnya, lalu menyampirkannya ke bahuku yang kedinginan.

“Ayo, Mara. Kita pulang ke rumah kita yang sebenarnya.”

Aku mengangguk. Kami berbalik, berjalan berdampingan menuju pintu keluar. Di belakang kami, Bu Corazon terduduk di sofa sambil menangis histeris, sementara Bianca dan Pak Rolando mulai saling berteriak menyalahkan satu sama lain karena ketakutan.

Kami melangkah keluar dari warung kelontong itu, menembus derasnya hujan malam Natal desa di bawah satu payung yang sama. Angin badai bertiup kencang, namun untuk pertama kalinya setelah tiga tahun pernikahan kami, aku tidak lagi merasa dingin. Aku tahu, ke mana pun langkah kaki kami pergi setelah ini, aku dan bayiku telah berada di tangan yang aman.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.