Posted in

BAGIAN 2 (LANJUTAN)

Aku membalas pesan itu dengan satu kata yang selalu dia sukai dari seorang Emily yang penurut: “Baik.”

Sepanjang jalan pulang ke apartemen kami, aku tidak meneteskan air mata satu pun. Otakku bekerja dengan sangat jernih. Ryan ingin aku memutuskannya agar dia bisa keluar dari hubungan ini sebagai pihak yang “terzolimi” atau setidaknya bukan sebagai penjahat yang mencampakkan wanita yang menemaninya selama tujuh tahun dari nol. Dia ingin mencuci tangannya bersih-besih.

Aku membuka lemari pakaian. Di sana tergantung gaun pengantin yang baru saja kukirim dari penjahit minggu lalu. Aku menatapnya sebentar, lalu beralih memilih sebuah gaun malam berwarna hitam pekat—bukan warna yang biasa kupakai untuk makan malam formal, tapi sangat cocok untuk malam ini.

Aku berdandan dengan sangat rapi, persis seperti permintaannya. Riasanku tajam, rambutku kusanggul rapi. Saat Ryan pulang untuk menjemputku, dia sempat terpaku di ambang pintu melihat penampilanku.

“Kamu… dandan beda sekali malam ini,” komentarnya, matanya menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa bersalah yang sekilas lewat, namun segera tertutupi oleh sorot kelelahan dan kebosanan yang biasa kulihat belakangan ini.

“Bukankah kamu bilang aku harus dandan yang rapi untuk teman-temanmu?” jawabku sambil tersenyum manis. “Ayo berangkat, kita tidak boleh terlambat.”

Di dalam mobil, keheningan di antara kami terasa begitu pekat. Ryan sibuk membalas pesan di ponselnya, sengaja memiringkan layarnya menjauh dariku—kebiasaan baru yang baru kusadari maknanya sekarang. Aku hanya memandang keluar jendela, melihat lampu-lampu kota yang berpendar, merasa asing dengan pria yang duduk di sampingku.

Restoran yang dipilih Ryan adalah restoran kelas atas yang biasa didatangi rekan-rekan bisnisnya. Di meja bundar besar, sudah ada empat orang temannya beserta pasangan mereka.

Begitu kami duduk, salah satu teman Ryan, Leo, langsung berseru, “Wah, pengantin baru kita sudah datang! Tinggal tiga minggu lagi, ya? Bagaimana persiapan pernikahan, Emily? Ryan pasti memanjakanmu dengan cincin terbaik, kan?”

Aku melirik Ryan. Dia tampak sedikit tegang, senyumnya terlihat dipaksakan saat dia menjawab, “Ah, iya. Emily yang mengurus semuanya. Aku agak sibuk di kantor belakangan ini.”

Aku menyesap air putihku perlahan, lalu menatap Leo dengan senyuman paling tulus. “Sebenarnya, hari ini aku pergi ke toko perhiasan sendirian. Memilih cincin yang dulu pernah kami impikan saat masih tinggal di kos-kosan sempit.”

Mendengar kata ‘kos-kosan sempit’, wajah Ryan langsung berubah sedikit tidak nyaman. Dia tidak suka diingatkan akan masa lalunya di depan teman-temannya yang kaya. “Emily, tidak perlu membahas masa lalu di sini,” bisik Ryan tegas di sampingku.

“Kenapa tidak, Ryan?” tanyaku, suaraku cukup keras hingga terdengar oleh semua orang di meja. “Bukankah menyenangkan mengingat dari mana kita memulai? Sebelum salah satu dari kita merasa… bosan?”

BAGIAN 3 (THE END)

Suasana di meja makan mendadak menjadi kaku. Teman-teman Ryan saling berpandangan, merasakan ketegangan yang tiba-tiba memuncak.

“Emily, kamu bicara apa sih? Kamu mabuk?” Ryan berbisik setengah membentak, tangannya mencengkeram pergelangan tanganku di bawah meja.

Aku melepaskan cengkeramannya dengan sentakan pelan, lalu mengeluarkan ponselku. Aku meletakkannya di tengah meja, menampilkan tangkapan layar postingan forum online yang sempat kuabadikan sebelum dihapus oleh Ryan—lengkap dengan nama akun, foto profil, dan ribuan komentar hujatan netizen.

“Aku tidak mabuk, Ryan. Aku hanya ingin membantu mewujudkan keinginanmu,” kataku dengan nada suara yang sangat tenang, bergema di antara keheningan restoran. “Kalian semua ingin tahu bagaimana persiapan pernikahan kami? Biar kutunjukkan apa yang dipikirkan calon suamiku tiga minggu sebelum hari pernikahan.”

Leo mengambil ponsel itu, dan dalam hitungan detik, matanya membelalak. Ponsel itu beralih ke teman-teman Ryan yang lain. Bisik-bisik langsung terdengar, dan tatapan penuh penghormatan yang tadinya diarahkan pada Ryan seketika berubah menjadi tatapan jijik dan tidak percaya.

“Ryan… ini benar kamu?” tanya Leo, suaranya penuh kekecewaan. “Kamu menyamakan Emily dengan makanan basi di kulkas?”

Wajah Ryan memerah padam, campur aduk antara malu yang teramat sangat dan amarah yang meledak. Dia berdiri dari kursinya, menunjukku dengan jari gemetar. “Emily! Kamu sengaja ingin mempermalukanku di depan teman-temanku?! Kalau kamu punya masalah, kita selesaikan di rumah, bukan dengan cara murahan seperti ini!”

Aku ikut berdiri. Dengan anggun, kurogoh tas kecilku dan mengeluarkan sebuah amplop tebal berisi dokumen pembatalan sewa gedung, katering, dan vendor pernikahan yang sudah kuurus lewat pesan singkat sepanjang sore tadi. Aku menjatuhkannya di atas meja, tepat di depan piringnya.

“Kamu membuat postingan itu karena kamu terlalu pengecut untuk menjadi orang jahat, Ryan. Kamu ingin aku yang meminta putus agar kamu bisa bebas tanpa merasa bersalah,” ujarku, menatap langsung ke dalam matanya yang kini memancarkan ketakutan.

“Jadi, hari ini aku mengabulkan permintaanmu. Hubungan kita selesai. Pernikahan kita batal. Mulai malam ini, kamu bebas mencari ‘makanan baru’ yang sesuai dengan seleramu.”

“Emily, tunggu…” Suara Ryan mendadak melemah saat dia menyadari bahwa semua vendor telah dibatalkan dan reputasinya di depan rekan-rekannya telah hancur total. Dia mencoba meraih tanganku, namun aku mundur satu langkah.

“Terima kasih untuk tujuh tahun ini, Ryan. Setidaknya di akhir hubungan, kamu mengingatkanku bahwa aku pantas mendapatkan seseorang yang menghargaiku lebih dari sekadar makanan sisa.”

Aku berbalik, melangkah keluar dari restoran itu dengan punggung tegak dan kepala terangkat tinggi. Di belakangku, aku bisa mendengar suara teman-temannya yang mulai memaki Ryan, dan suara Ryan yang panik mencoba memanggil namaku.

Saat pintu kaca restoran tertutup di belakangku, angin malam menerpa wajahku. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku bernapas dengan sangat lega. Aku tidak kehilangan tujuh tahun hidupku; aku justru baru saja menyelamatkan sisa hidupku dari pria yang salah.

TIGA MINGGU SEBELUM PERNIKAHAN, TUNANGANKU MEMBUAT POSTINGAN: “AKU SUDAH BOSAN DENGANNYA. BAGAIMANA CARANYA AGAR DIA MAU MEMUTUSKAN HUBUNGAN INI?” SAAT AKU MEMBACA TULISAN ITU… AKU SEDANG BERADA DI TOKO PERHIASAN, MEMILIH CINCIN PERNIKAHAN.**

**BAGIAN 1**

Tinggal tiga minggu lagi.

Kami akan menikah.

Hari itu aku mengambil cuti setengah hari dari kantor untuk memilih cincin pernikahan.

Cincin pertama yang kucoba…

Adalah desain yang dulu pernah dijanjikan **Ryan** akan dibelikannya untukku saat kami sudah memiliki cukup uang.

Pramuniaga itu tersenyum.

“Bu, model ini sebenarnya sudah agak lama. Sekarang ada koleksi baru yang jauh lebih populer.”

Aku ikut tersenyum.

Lalu menggeleng pelan.

“Tidak apa-apa. Aku memang menginginkan yang ini.”

Karena…

Inilah impian kami berdua saat pertama kali memulai hubungan.

Saat kami masih sama-sama mengejar mimpi.

Saat kami sama-sama belum punya apa-apa.

Saat kami percaya…

Selama kami bersama…

Itu sudah lebih dari cukup.

Tiba-tiba ponselku bergetar.

Pesan dari sahabatku, **Mae**.

Disusul sebuah tautan.

Dan sebuah pesan suara.

“Emily, coba lihat ini.”

“Aku harap yang dimaksud bukan Ryan.”

“Kalau benar dia… aku tidak akan tinggal diam.”

Aku membuka tautan itu.

Yang muncul adalah sebuah postingan di forum online yang sedang populer.

Baru membaca judulnya saja…

Rasanya seperti ada air es disiramkan ke seluruh tubuhku.

> **”Aku sudah tujuh tahun pacaran dengan kekasihku. Tinggal tiga minggu lagi kami akan menikah. Tapi aku benar-benar sudah bosan dengannya. Dia seperti makanan yang sudah berhari-hari disimpan di kulkas. Melihatnya saja sudah membuatku kehilangan selera. Bagaimana caranya supaya dia sendiri yang meminta putus?”**

Tanganku gemetar saat membuka profil pengunggahnya.

Aku bahkan tidak perlu menebak.

Itu Ryan.

Dia lupa menggunakan akun anonim.

Postingan itu bahkan belum satu jam.

Namun…

Sudah dibaca ribuan orang.

Hampir semua…

Mengutuknya.

*”Tujuh tahun memberi harapan, lalu berakhir seperti ini?”*

*”Kalau memang tidak cinta lagi, katakan terus terang. Jangan jadi pengecut.”*

*”Kamu benar-benar tidak tahu malu.”*

*”Lebih baik lepaskan dia daripada terus menyakitinya.”*

Aku hanya menatap layar.

Tak mampu bergerak.

“Bu?”

Aku menoleh ke arah pramuniaga.

“Sepertinya ukurannya agak sempit. Saya ambilkan yang lebih besar, ya.”

Barulah aku tersadar.

Perlahan kulepas cincin itu.

“Maaf.”

“Saya jadi tidak membeli hari ini.”

Aku mengembalikan cincin itu kepadanya.

Lalu…

Diam-diam keluar dari pusat perbelanjaan.

Aku duduk di sebuah bangku dekat pintu masuk.

Saat kembali membuka tautan tadi…

Postingan itu sudah dihapus.

Mungkin…

Ryan sudah menyadari kesalahannya.

Atau seseorang menyuruhnya segera menghapus postingan tersebut.

Aku teringat percakapan kami pagi tadi.

Aku sempat mengirim pesan.

> **”Sayang, nanti sore aku mau pergi memilih cincin pernikahan.”**

Balasannya sangat singkat.

> **”Aku sibuk.”**

Tidak ada kalimat lain.

Dia tidak bertanya model seperti apa yang kuinginkan.

Tidak mengatakan akan menemaniku.

Bahkan tidak menunjukkan sedikit pun ketertarikan.

Dulu…

Kupikir dia benar-benar sibuk bekerja.

Namun sekarang…

Aku akhirnya mengerti.

Dia bukan sibuk.

Dia memang sudah tidak ingin menikah denganku.

Mae kembali menelepon.

Kemarahannya terdengar jelas.

“Emily…”

“Katakan saja.”

“Kita temui dia sekarang juga.”

Aku memandang orang-orang yang berlalu-lalang di luar mal.

Lalu menarik napas panjang.

“Aku tidak apa-apa.”

Dan itu memang benar.

Kupikir…

Aku akan menangis.

Mengamuk.

Atau langsung mendatanginya untuk meminta penjelasan.

Ternyata tidak.

Aku justru sangat tenang.

Seolah-olah…

Hatiku sudah lama tahu bahwa hari ini pasti akan datang.

Tepat saat itu…

Muncul notifikasi baru.

Pesan dari Ryan.

> **”Malam ini kita makan malam dengan beberapa temanku. Dandan yang rapi.”**

Aku menatap pesan itu cukup lama.

Lalu tersenyum tipis.

Baru beberapa jam yang lalu…

Dia menyebutku seperti makanan basi yang sudah tidak berharga.

Namun malam ini…

Dia masih ingin membawaku bertemu teman-temannya.

Seolah-olah…

Dia tidak pernah melakukan kesalahan apa pun.

BAGIAN 2 (LANJUTAN)

Aku membalas pesan itu dengan satu kata yang selalu dia sukai dari seorang Emily yang penurut: “Baik.”

Sepanjang jalan pulang ke apartemen kami, aku tidak meneteskan air mata satu pun. Otakku bekerja dengan sangat jernih. Ryan ingin aku memutuskannya agar dia bisa keluar dari hubungan ini sebagai pihak yang “terzolimi” atau setidaknya bukan sebagai penjahat yang mencampakkan wanita yang menemaninya selama tujuh tahun dari nol. Dia ingin mencuci tangannya bersih-besih.

Aku membuka lemari pakaian. Di sana tergantung gaun pengantin yang baru saja kukirim dari penjahit minggu lalu. Aku menatapnya sebentar, lalu beralih memilih sebuah gaun malam berwarna hitam pekat—bukan warna yang biasa kupakai untuk makan malam formal, tapi sangat cocok untuk malam ini.

Aku berdandan dengan sangat rapi, persis seperti permintaannya. Riasanku tajam, rambutku kusanggul rapi. Saat Ryan pulang untuk menjemputku, dia sempat terpaku di ambang pintu melihat penampilanku.

“Kamu… dandan beda sekali malam ini,” komentarnya, matanya menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa bersalah yang sekilas lewat, namun segera tertutupi oleh sorot kelelahan dan kebosanan yang biasa kulihat belakangan ini.

“Bukankah kamu bilang aku harus dandan yang rapi untuk teman-temanmu?” jawabku sambil tersenyum manis. “Ayo berangkat, kita tidak boleh terlambat.”

Di dalam mobil, keheningan di antara kami terasa begitu pekat. Ryan sibuk membalas pesan di ponselnya, sengaja memiringkan layarnya menjauh dariku—kebiasaan baru yang baru kusadari maknanya sekarang. Aku hanya memandang keluar jendela, melihat lampu-lampu kota yang berpendar, merasa asing dengan pria yang duduk di sampingku.

Restoran yang dipilih Ryan adalah restoran kelas atas yang biasa didatangi rekan-rekan bisnisnya. Di meja bundar besar, sudah ada empat orang temannya beserta pasangan mereka.

Begitu kami duduk, salah satu teman Ryan, Leo, langsung berseru, “Wah, pengantin baru kita sudah datang! Tinggal tiga minggu lagi, ya? Bagaimana persiapan pernikahan, Emily? Ryan pasti memanjakanmu dengan cincin terbaik, kan?”

Aku melirik Ryan. Dia tampak sedikit tegang, senyumnya terlihat dipaksakan saat dia menjawab, “Ah, iya. Emily yang mengurus semuanya. Aku agak sibuk di kantor belakangan ini.”

Aku menyesap air putihku perlahan, lalu menatap Leo dengan senyuman paling tulus. “Sebenarnya, hari ini aku pergi ke toko perhiasan sendirian. Memilih cincin yang dulu pernah kami impikan saat masih tinggal di kos-kosan sempit.”

Mendengar kata ‘kos-kosan sempit’, wajah Ryan langsung berubah sedikit tidak nyaman. Dia tidak suka diingatkan akan masa lalunya di depan teman-temannya yang kaya. “Emily, tidak perlu membahas masa lalu di sini,” bisik Ryan tegas di sampingku.

“Kenapa tidak, Ryan?” tanyaku, suaraku cukup keras hingga terdengar oleh semua orang di meja. “Bukankah menyenangkan mengingat dari mana kita memulai? Sebelum salah satu dari kita merasa… bosan?”

BAGIAN 3 (THE END)

Suasana di meja makan mendadak menjadi kaku. Teman-teman Ryan saling berpandangan, merasakan ketegangan yang tiba-tiba memuncak.

“Emily, kamu bicara apa sih? Kamu mabuk?” Ryan berbisik setengah membentak, tangannya mencengkeram pergelangan tanganku di bawah meja.

Aku melepaskan cengkeramannya dengan sentakan pelan, lalu mengeluarkan ponselku. Aku meletakkannya di tengah meja, menampilkan tangkapan layar postingan forum online yang sempat kuabadikan sebelum dihapus oleh Ryan—lengkap dengan nama akun, foto profil, dan ribuan komentar hujatan netizen.

“Aku tidak mabuk, Ryan. Aku hanya ingin membantu mewujudkan keinginanmu,” kataku dengan nada suara yang sangat tenang, bergema di antara keheningan restoran. “Kalian semua ingin tahu bagaimana persiapan pernikahan kami? Biar kutunjukkan apa yang dipikirkan calon suamiku tiga minggu sebelum hari pernikahan.”

Leo mengambil ponsel itu, dan dalam hitungan detik, matanya membelalak. Ponsel itu beralih ke teman-teman Ryan yang lain. Bisik-bisik langsung terdengar, dan tatapan penuh penghormatan yang tadinya diarahkan pada Ryan seketika berubah menjadi tatapan jijik dan tidak percaya.

“Ryan… ini benar kamu?” tanya Leo, suaranya penuh kekecewaan. “Kamu menyamakan Emily dengan makanan basi di kulkas?”

Wajah Ryan memerah padam, campur aduk antara malu yang teramat sangat dan amarah yang meledak. Dia berdiri dari kursinya, menunjukku dengan jari gemetar. “Emily! Kamu sengaja ingin mempermalukanku di depan teman-temanku?! Kalau kamu punya masalah, kita selesaikan di rumah, bukan dengan cara murahan seperti ini!”

Aku ikut berdiri. Dengan anggun, kurogoh tas kecilku dan mengeluarkan sebuah amplop tebal berisi dokumen pembatalan sewa gedung, katering, dan vendor pernikahan yang sudah kuurus lewat pesan singkat sepanjang sore tadi. Aku menjatuhkannya di atas meja, tepat di depan piringnya.

“Kamu membuat postingan itu karena kamu terlalu pengecut untuk menjadi orang jahat, Ryan. Kamu ingin aku yang meminta putus agar kamu bisa bebas tanpa merasa bersalah,” ujarku, menatap langsung ke dalam matanya yang kini memancarkan ketakutan.

“Jadi, hari ini aku mengabulkan permintaanmu. Hubungan kita selesai. Pernikahan kita batal. Mulai malam ini, kamu bebas mencari ‘makanan baru’ yang sesuai dengan seleramu.”

“Emily, tunggu…” Suara Ryan mendadak melemah saat dia menyadari bahwa semua vendor telah dibatalkan dan reputasinya di depan rekan-rekannya telah hancur total. Dia mencoba meraih tanganku, namun aku mundur satu langkah.

“Terima kasih untuk tujuh tahun ini, Ryan. Setidaknya di akhir hubungan, kamu mengingatkanku bahwa aku pantas mendapatkan seseorang yang menghargaiku lebih dari sekadar makanan sisa.”

Aku berbalik, melangkah keluar dari restoran itu dengan punggung tegak dan kepala terangkat tinggi. Di belakangku, aku bisa mendengar suara teman-temannya yang mulai memaki Ryan, dan suara Ryan yang panik mencoba memanggil namaku.

Saat pintu kaca restoran tertutup di belakangku, angin malam menerpa wajahku. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku bernapas dengan sangat lega. Aku tidak kehilangan tujuh tahun hidupku; aku justru baru saja menyelamatkan sisa hidupku dari pria yang salah.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.