Posted in

SEORANG CEO DIAM-DIAM MENGIKUTI ASISTEN RUMAH TANGGANYA KARENA MENGIRA IA MENCURI MAKANAN—NAMUN SAAT MELIHATNYA MEMBERI MAKAN DUA LANSIA YANG TERLANTAR, IA LANGSUNG GEMETAR KETIKA MENYADARI BAHWA MEREKA ADALAH ORANG TUANYA SENDIRI**

SEORANG CEO DIAM-DIAM MENGIKUTI ASISTEN RUMAH TANGGANYA KARENA MENGIRA IA MENCURI MAKANAN—NAMUN SAAT MELIHATNYA MEMBERI MAKAN DUA LANSIA YANG TERLANTAR, IA LANGSUNG GEMETAR KETIKA MENYADARI BAHWA MEREKA ADALAH ORANG TUANYA SENDIRI**

**BAGIAN 1**

Alejandro Villanueva bukan tipe orang yang suka bertanya.

Ia menginginkan jawaban yang cepat.

Angka yang rapi.

Hasil yang dapat dikendalikan.

Itulah sebabnya ia menjadi salah satu CEO termuda di Jakarta.

Dan itulah pula yang perlahan membuatnya menjadi pria yang dingin.

Maka ketika suatu malam istrinya, Clarisse, berkata santai sambil menyeruput segelas wine,

“Aku rasa asisten rumah tangga kita mencuri makanan.”

Alejandro tidak langsung marah.

Sebaliknya…

Ia merasa penasaran.

Bukan karena makanannya.

Melainkan karena ia tidak suka ada sesuatu yang terjadi di rumahnya tanpa sepengetahuannya.

Rosa telah bekerja di rumah mewah mereka selama bertahun-tahun.

Ia selalu pendiam.

Datang pagi-pagi.

Membersihkan rumah tanpa banyak bicara.

Lalu pulang dengan tenang.

Ia adalah tipe wanita yang nyaris tak terlihat lagi oleh majikan kaya, karena kehadirannya sudah dianggap biasa.

Namun ada satu kebiasaan Rosa yang terus berulang.

Setiap hari.

Tepat pukul 16.15.

Ia membungkus sisa makanan dengan sangat hati-hati.

Roti.

Buah-buahan.

Kadang semangkuk sup di dalam wadah plastik bekas.

Selalu dilakukan dengan cepat.

Selalu diam-diam.

Seolah berharap tak seorang pun memperhatikannya.

Tetapi Alejandro melihat semuanya.

Alih-alih bertanya makanan itu akan dibawa ke mana…

Ia memilih mengikutinya.

Dari dalam SUV hitamnya, ia diam-diam membuntuti Rosa yang naik bus meninggalkan kawasan bisnis Jakarta.

Semakin jauh.

Gedung-gedung pencakar langit perlahan menghilang.

Jalanan menjadi semakin sempit.

Lingkungannya semakin sederhana.

Semakin sunyi.

Hingga akhirnya jalan beraspal berubah menjadi jalan tanah.

Sejujurnya…

Alejandro hampir saja berbalik arah.

Ia tidak terbiasa berada di tempat seperti ini.

Udara terasa panas.

Berdebu.

Dan entah mengapa ada perasaan berat yang perlahan memenuhi dadanya.

Ia tidak mampu menjelaskannya.

Seolah ada kenangan lama yang sedang berusaha bangkit dari dalam dirinya.

Rosa turun di pemberhentian terakhir.

Lalu mulai berjalan kaki.

Alejandro mengikutinya dari kejauhan.

Hampir dua puluh menit mereka berjalan sebelum ia melihat deretan rumah-rumah reyot di kejauhan.

Nyaris tak layak dihuni.

Tidak ada toko.

Tidak ada musik.

Tidak ada orang berlalu-lalang.

Seolah tempat itu telah dilupakan dunia.

Kemudian…

Rosa berhenti di depan sebuah gubuk kecil yang atapnya hampir roboh.

Perlahan ia mengetuk pintu.

Saat pintu terbuka…

Alejandro melihat dua orang lansia bertubuh kurus duduk di atas peti kayu tua.

Tangan mereka gemetar.

Jelas terlihat sangat kelaparan.

Rosa segera berlutut di depan mereka.

Dengan hati-hati ia mengeluarkan makanan yang dibawanya.

Seperti anak-anak yang sudah berhari-hari tidak makan, kedua lansia itu segera menyantap makanan tersebut.

Alejandro hanya bisa berdiri diam dari kejauhan.

Tiba-tiba dadanya terasa sangat sesak.

Ia sendiri tidak tahu alasannya.

Hingga sebuah foto lama terjatuh dari kantong belanja Rosa.

Foto itu melayang ke tanah.

Dan saat Alejandro melihatnya…

Dunianya seakan berhenti berputar.

Tangannya bergetar hebat.

Karena pria yang ada di foto itu…

Adalah ayahnya yang selama bertahun-tahun dinyatakan telah meninggal oleh keluarganya.

Dan wanita yang tersenyum di sampingnya…

Adalah ibunya sendiri.

BAGIAN 2

Napas Alejandro mendadak tercekat. Udara sore yang panas di pinggiran Jakarta itu seketika terasa membekukan seluruh sendi-sendi tubuhnya. Pria yang biasanya selalu memiliki kendali penuh atas ekspresi wajahnya, kini menatap foto usang di tanah itu dengan mata membelalak dan bibir yang bergetar hebat.

Ia melangkah maju. Sepatu pantofel mahalnya yang berlumur debu tanah tidak lagi ia pedulikan. Langkahnya gontai, seolah beban berton-ton mendadak dijatuhkan di atas pundaknya.

“Pa… Ma…?” bisik Alejandro, suaranya nyaris habis, tertelan oleh gemuruh penyesalan yang tiba-tiba menghantam dadanya.

Mendengar suara langkah kaki asing, Rosa menoleh dengan waspada. Ia terkejut setengah mati saat melihat siapa yang berdiri di sana. “Tuan Alejandro? Kenapa Tuan… bagaimana bisa…” Kalimat Rosa terputus saat melihat tatapan Alejandro tertuju lurus pada kedua lansia di depannya.

Kedua lansia itu mendongak. Mata mereka yang lamur dan dipenuhi katarak menatap tajam ke arah pria berjas rapi yang sedang menangis itu. Sang pria tua, yang separuh wajahnya dipenuhi kerutan kasar, menatap Alejandro dengan tatapan bingung yang perlahan berubah menjadi binar kerinduan yang amat sangat.

“Ale…?” suara ringkih itu keluar dari bibir kering sang ayah. “Apakah itu kamu, Nak?”

Alejandro langsung ambruk berlutut di atas tanah yang kotor. Ego seorang CEO muda yang ditakuti di dunia bisnis runtuh seketika. Ia merangkak mendekat, lalu menggenggam tangan ayahnya yang kasar, dingin, dan gemetar. Di sampingnya, ibunya yang sudah pikun hanya menatapnya kosong, namun tangan kurusnya refleks mengusap rambut Alejandro dengan sisa-sisa naluri seorang ibu.

“Maafkan Ale, Pa… Maafkan Ale…” tangis Alejandro pecah di pangkuan ayahnya.

Selama belasan tahun, keluarga besarnya—terutama mendiang pamannya yang ambisius—mengatakan bahwa kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis di luar kota saat Alejandro masih kuliah di luar negeri. Kematian itu dibuat begitu rapi hingga Alejandro mewarisi perusahaan tanpa pernah tahu bahwa orang tuanya sengaja “dibuang” dan diisolasi ke pinggiran kota demi merebut aset keluarga. Dan selama bertahun-tahun, Alejandro yang buta oleh kerja keras dan kekayaan, tidak pernah memeriksa ulang kebenaran itu.

Rosa, yang menyaksikan pemandangan itu, ikut meneteskan air mata. “Tuan,” sela Rosa lembut. “Saya menemukan mereka menggelandang di dekat pasar dua tahun lalu. Ibu tidak ingat namanya sendiri, tapi Bapak selalu memegang foto Tuan saat kecil. Saya tidak tahu kalau mereka orang tua Tuan… Saya hanya tahu Bapak selalu menyebut nama ‘Alejandro’.”

Alejandro menatap Rosa dengan rasa bersalah yang teramat dalam. Pria itu mengingat kembali bagaimana istrinya menuduh wanita suci ini sebagai pencuri, dan bagaimana dirinya sendiri mencurigai Rosa dengan penuh keangkuhan.

“Rosa…” Alejandro menyeka air matanya, suaranya bergetar penuh rasa hormat. “Kamu bukan mencuri… kamu sedang menyelamatkan hidupku. Kamu menjaga harta paling berharga yang mengalirkan darah di tubuhku.”

Alejandro berdiri. Sisi dingin dan tegasnya kembali, namun kali ini bukan untuk bisnis, melainkan untuk melindungi keluarganya yang tersisa. Ia melepas jas mahalnya, menyelimutkannya ke bahu ibunya yang menggigil, lalu membopong tubuh kurus ayahnya dengan kedua tangannya sendiri.

“Kita pulang,” kata Alejandro tegas.

“Tapi Tuan, rumah mewah itu…” Rosa ragu-ragu.

“Rumah itu milik mereka, Rosa. Dan mulai hari ini, tidak akan ada lagi yang berani menyentuh atau membuang mereka,” ujar Alejandro, matanya berkilat penuh tekad. Ia menatap Rosa. “Dan kamu, Rosa… kamu tidak akan pernah lagi menjadi asisten rumah tangga di rumahku. Kamu adalah bagian dari keluarga ini.”

Malam itu, SUV hitam milik Alejandro membelah jalanan Jakarta, membawa pulang dua jiwa yang sempat terlupakan oleh dunia. Alejandro tahu, esok hari ia harus menghadapi kenyataan pahit, menghadapi kebohongan keluarga besarnya, dan barangkali menghadapi protes dari istrinya, Clarisse. Namun melihat kedua orang tuanya tertidur lelap di kursi belakang setelah makan kenyang, Alejandro tahu—ia telah menemukan kembali jiwanya yang sempat hilang di balik meja kerja sang CEO.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.