Posted in

Tiga Puluh Tujuh Orang Berbaris untuk Foto Keluarga, tetapi Tak Seorang Pun Menyisakan Tempat untukku—Sementara di Tempat Lain, Mereka Berkata: “Posisimu Masih Menunggumu.”**

Tiga Puluh Tujuh Orang Berbaris untuk Foto Keluarga, tetapi Tak Seorang Pun Menyisakan Tempat untukku—Sementara di Tempat Lain, Mereka Berkata: “Posisimu Masih Menunggumu.”**

Pada perayaan ulang tahun ke-90 nenek dari pihak ayah, ayahku secara khusus menyewa sebuah tim produksi profesional untuk membuat film dokumenter tentang empat generasi keluarga kami.

Sang sutradara memegang daftar silsilah keluarga. Satu per satu ia memanggil nama setiap anggota keluarga dan mengatur posisi mereka di depan kamera.

Saat tiba pada keluarga ayahku, ia hanya menyebut empat nama dengan lantang.

Ayah.

Ibu.

Adik laki-lakiku.

Adik perempuanku.

Aku berdiri di samping mereka dan menunggu dengan tenang.

Satu detik.

Tiga detik.

Sepuluh detik.

Sang sutradara kembali melihat daftar itu, lalu menatapku dari ujung kepala hingga kaki.

“Maaf, apakah Anda staf yang membantu acara hari ini?”

Ia menunjuk ke arah lorong.

“Area untuk anggota keluarga sudah penuh. Silakan beristirahat dulu di samping.”

Aku bahkan belum sempat menjawab ketika ibuku menghampiri dan menarik lenganku.

Senyum lembut masih menghiasi wajahnya karena kamera sedang mengarah kepada kami.

“Jangan berdiri di belakang nenekmu. Nanti beliau tertutup. Pergilah ke dapur dan lihat apakah mi panjang umur untuk ulang tahun nenek sudah siap.”

Nenek duduk di kursi besar yang diletakkan tepat di tengah panggung.

Adik laki-laki dan adik perempuanku memegang hadiah sambil berlutut dengan sopan di hadapannya.

Nenek mengusap kepala mereka berdua dengan penuh kasih.

“Dari semua cucuku, hanya kalian berdua yang paling baik dan paling menggemaskan.”

Semua orang di sekeliling tertawa.

Tiga puluh tujuh anggota keluarga berdiri rapi dalam tiga baris.

Sang sutradara memberi aba-aba.

Lampu studio menyala bersamaan.

Suara rana kamera terdengar bertubi-tubi.

Aku berdiri di ambang pintu dapur sambil memandangi judul yang muncul di monitor tim produksi.

**”Warisan—Empat Generasi Bersatu.”**

Aku mengeluarkan ponselku dan diam-diam memotret pemandangan itu.

Tiga baris orang yang hampir berdesakan, semuanya tersenyum bahagia.

Namun tak ada satu pun tempat yang disisakan untuk anggota keluarga yang ketiga puluh delapan.

Aku kembali ke dapur dan mulai membagi mi ke dalam mangkuk.

Setelah itu, kubuka email yang sudah tiga hari tersimpan di kotak masukku.

Itu adalah undangan resmi untuk bergabung dalam proyek penelitian jangka panjang di Antarktika.

Aku menatap layar selama beberapa detik.

Pada akhirnya, aku menekan tombol:

**”Saya menerima tawaran ini.”**

Daftar keluarga mereka sudah lengkap.

Mungkin sekarang sudah waktunya aku sendiri menulis jalan hidupku.

“Mi panjang umurnya sudah siap belum? Nenekmu sudah menunggu.”

Suara ibuku terdengar dari ruang utama.

Tidak terlalu keras.

Namun cukup keras untuk kudengar.

Dan cukup jelas agar semua orang tahu bahwa orang yang berada di dapur hanyalah seseorang yang bertugas menjalankan perintah.

Aku keluar sambil membawa nampan.

Sembilan mangkuk mi tersusun rapi, masing-masing dilengkapi sebutir telur.

Saat melewati sang sutradara, kulihat ia sedang memutar ulang rekaman yang baru saja diambil.

Di layar, tiga baris anggota keluarga tersenyum cerah.

Ia melirik ke arahku, lalu berbisik kepada asistennya,

“Perempuan yang menghidangkan makanan itu dari keluarga yang mana? Gerakannya cekatan sekali.”

Asistennya kembali memeriksa daftar.

“Saya juga tidak tahu. Namanya tidak ada di sini.”

Aku tidak berhenti untuk menjelaskan.

Satu per satu, kuletakkan mangkuk-mangkuk itu di meja utama.

Untuk mangkuk nenek, aku sengaja menambahkan satu butir telur lagi.

Namun beliau bahkan tidak menoleh kepadaku.

Beliau sedang sibuk berbincang dengan sepupuku, putra paman keduaku.

“Kudengar tahun ini kamu diterima di program pascasarjana?”

Sepupuku tersenyum malu.

Istri pamanku segera menambahkan,

“Iya, Bu. Dia juga mendapatkan beasiswa nasional.”

Nenek menepuk tangan sepupuku dengan bangga.

“Hebat sekali. Anak-anak berprestasi di keluarga kita semakin banyak.”

Aku berdiri di samping mereka selama beberapa detik.

Tak seorang pun menoleh kepadaku.

Tahun lalu, ketika aku menerima pemberitahuan bahwa namaku masuk dalam daftar cadangan proyek penelitian di Antarktika, aku mengunggah sebuah foto di media sosial.

Berikut adalah kelanjutan dan akhir (ending) dari cerita tersebut:

Dalam foto itu, aku memegang surat pemberitahuan resmi yang memiliki stempel emas dari Institut Penelitian Kutub Negara. Itu adalah pencapaian tertinggi di bidangku, sebuah kehormatan yang hanya bisa diraih oleh segelintir ilmuwan muda di negara ini.

Malam itu, ayahku memberikan tanda like pada unggahanku.

Namun keesokan harinya, di grup obrolan keluarga, ia mengirimkan pesan: “Adikmu hari ini memenangkan kompetisi debat tingkat universitas. Semua orang harus belajar dari kegigihannya.”

Seketika, grup itu dipenuhi ratusan pesan ucapan selamat, stiker kembang api, dan pujian setinggi langit untuk adikku. Surat pemberitahuanku tenggelam begitu saja, seperti batu yang dilemparkan ke dalam samudra yang dalam. Tak ada satu pun pertanyaan, tak ada satu pun ucapan selamat.

Bagi mereka, pencapaianku yang tidak menghasilkan uang instan atau gelar yang bisa dipamerkan di arisan keluarga, tidak pernah dianggap ada. Aku hanyalah anak tertua yang terlalu membosankan, yang selalu mengalah, dan yang paling aman untuk diabaikan.

Perjamuan Terakhir

“Kirana, kenapa masih berdiri di situ? Ambilkan tisu basah untuk pamanmu,” perintah ayahku tiba-tiba, memecahkan lamunanku.

Aku menatap pria yang menyebut dirinya ayahku itu. Di jas mahalnya, ada pin keluarga yang khusus ia pesan untuk acara hari ini. Pin itu berjumlah tiga puluh tujuh buah. Di sakuku, tidak ada apa-apa.

“Baik,” jawabku pelan.

Aku berjalan ke ruang belakang, mengambil kotak tisu, lalu meletakkannya di meja. Aku tidak kembali ke dapur. Aku juga tidak duduk di kursi kosong di sudut ruangan yang biasanya menjadi tempatku jika meja utama sudah penuh.

Aku berjalan menuju kamar lamaku di lantai dua. Kamar itu kini sudah berubah fungsi menjadi gudang penyimpanan barang-barang lama milik adik-adikku. Koperku yang sudah kukemas sejak semalam berdiri di sudut ruangan, tersembunyi di balik tumpukan kardus mainan.

Aku mengambil koper itu. Tidak ada barang yang banyak. Hanya beberapa pakaian hangat, dokumen penting, dan sebuah foto masa kecilku bersama kakek—satu-satunya orang di keluarga ini yang dulu selalu menggandeng tanganku dan berkata bahwa aku adalah bintang yang paling terang.

Saat aku melangkah turun membawa koper, seluruh keluarga besar masih tenggelam dalam tawa dan obrolan hangat di ruang tengah. Film dokumenter itu masih terus direkam. Kamera menangkap setiap sudut kebahagiaan mereka.

Langkah kakiku yang menyeret koper akhirnya menarik perhatian ibuku. Ia menoleh, senyumnya membeku sesaat melihat koper di tanganku.

“Mau ke mana kamu membawa koper besar begitu? Acara nenek belum selesai, tamu-tamu belum pulang. Jangan bikin malu,” bisiknya dengan nada tajam, setengah menahan suaranya agar tidak tertangkap mikrofon tim produksi.

Ayahku ikut menoleh, alisnya bertaut tidak senang. “Kirana, apa-apaan ini? Jangan kekanak-kanakan. Cuma karena tidak ikut foto, kamu mau merajuk dan pulang?”

Mendengar ucapan ayah, beberapa kerabat mulai berbisik-bisik. Pandangan mereka yang penuh penilaian kini tertuju padaku.

“Dia memang selalu begitu, suka mencari perhatian di saat yang tidak tepat,” sindir bibi keduaku sambil mengunyah buah.

Aku berhenti di anak tangga terakhir. Aku menatap mereka satu per satu. Tiga puluh tujuh orang yang berbagi darah denganku, namun terasa lebih asing daripada orang-orang yang kutemui di jalanan.

“Aku tidak merajuk,” kataku, suaraku terdengar sangat tenang, bahkan membuat diriku sendiri terkejut. “Aku pergi.”

“Pergi ke mana? Paling juga ke kosanmu,” sahut adik laki-lakiku sambil tertawa kecil. “Nanti kalau uang bulanan habis juga balik lagi.”

Aku menatapnya, lalu tersenyum tipis. “Tidak. Aku pergi jauh. Sangat jauh. Penerbanganku beberapa jam lagi.”

Aku mengeluarkan sebuah surat dari dalam tas kecilku dan meletakkannya di atas meja konsol dekat pintu masuk. Itu adalah surat pernyataan pelepasan hak waris atas rumah tua kakek yang selama ini menjadi rebutan paman dan ayahku—satu-satunya alasan mengapa mereka masih mempertahankan namaku di kartu keluarga.

“Aku sudah menandatanganinya. Kalian tidak perlu bingung lagi membagi bagian untukku,” kataku. “Mulai hari ini, silakan hapus namaku dari silsilah keluarga. Daftar kalian sudah genap tiga puluh tujuh orang. Jangan biarkan orang ketiga puluh delapan merusak estetika foto keluarga kalian.”

“Kirana! Jaga bicaramu!” Ayahku membentak, wajahnya mulai memerah karena merasa otoritasnya ditantang di depan umum. “Kalau kamu melangkah keluar dari pintu itu hari ini, jangan pernah mengemis untuk kembali ke keluarga ini!”

“Aku tidak akan kembali,” jawabku tegas.

Aku berbalik, membuka pintu rumah besar itu, dan melangkah keluar tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Di belakangku, aku bisa mendengar suara ibuku yang mencoba menenangkan suasana, meminta sutradara untuk terus merekam dan mengabaikan “gangguan kecil” yang baru saja terjadi.

Bagi mereka, kepergianku hanyalah sebuah gangguan kecil di hari yang sempurna.

Tempat di Mana Aku Ditunggu

Tiga puluh enam jam kemudian.

Setelah melewati dua penerbangan internasional dan satu penerbangan militer khusus, aku akhirnya menginjakkan kaki di Ushuaia, kota paling selatan di dunia, titik keberangkatan menuju Antarktika.

Udara dingin yang menusuk tulang langsung menyambutku begitu aku keluar dari bandara kecil itu. Angin bertiup kencang, menerbangkan rambutku, namun untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa bisa bernapas dengan lega. Dada yang selama ini terasa sesak oleh penolakan yang sunyi, kini terasa lapang.

Di area penjemputan, seorang pria paruh baya dengan jaket tebal merah berlambang proyektor penelitian internasional sedang berdiri memegang papan nama.

Begitu ia melihatku, matanya berbinar. Ia menurunkan papan nama itu dan melangkah lebar ke arahku, mengulurkan tangannya yang kokoh dengan senyum paling tulus yang pernah kulihat.

“Dr. Kirana? Selamat datang!” katanya dengan suara lantang dan penuh semangat. “Saya Profesor Marcus, kepala tim ekspedisi.”

“Selamat siang, Profesor. Terima kasih sudah menjemput saya,” jawabku sambil menjabat tangannya.

Profesor Marcus mengambil alih koper besarku, lalu menepuk pundakku dengan hangat.

“Kami semua sudah menunggumu di pangkalan. Begitu namamu dikonfirmasi dari daftar cadangan karena peneliti sebelumnya mengundurkan diri, seluruh tim sangat gembira. Jurnal penelitianmu tentang struktur es sangat luar biasa. Di tim kami, keahlianmu adalah kepingan terakhir yang kami butuhkan.”

Ia menunjuk ke arah sebuah mobil jip besar yang sudah menunggu di luar, di mana tiga peneliti lain dari negara berbeda sedang melambaikan tangan dengan ceria ke arah kami.

“Masuklah, udara di luar sangat dingin,” kata Profesor Marcus sambil membukakan pintu jip untukku. “Di Antarktika, medannya berat dan tempatnya sepi. Tapi jangan khawatir…”

Ia menatapku dengan mata yang penuh rasa hormat dan penghargaan, kalimatnya persis seperti pesan surel yang dikirimkannya tiga hari lalu:

“…Posisimu di tim ini sudah lama menunggumu, Kirana. Kamu adalah bagian dari keluarga besar kami sekarang.”

Aku tersenyum, merasakan kehangatan yang menjalar di seluruh tubuhku, mengalahkan dinginnya angin kutub.

Aku masuk ke dalam jip, membiarkan pintu tertutup rapat, meninggalkan masa lalu, tiga puluh tujuh orang yang tidak pernah menganggapku ada, dan foto keluarga yang tidak akan pernah menyisakan tempat untukku.

Di tempat yang paling dingin di bumi ini, aku justru menemukan rumahku yang sebenarnya.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.