SUAMIKU YANG SELALU MENGELUH KAMI MISKIN DAN MENGAKU HANYA BERPENGHASILAN RP4 JUTA SEBULAN TETAP MEMAKSA KAMI MEMILIKI ANAK KETIGA… HINGGA SUATU HARI AKU MENEMUKAN BAHWA DIA DIAM-DIAM MENAFKAHI KELUARGA LAIN**
Suamiku bekerja di proyek konstruksi dan hampir setiap bulan hanya membawa pulang sekitar **Rp4 juta**, tetapi ia tetap bersikeras agar kami memiliki anak ketiga.
Saat putra kami lahir, ia bahkan bercanda sambil berkata,
“Akhirnya keluarga kita punya penerus.”
Aku hanya tersenyum pahit.
“Syukurlah kita tidak punya utang. Memangnya apa yang mau kita wariskan?”
Wajahnya langsung berubah canggung dan ia segera mengalihkan pembicaraan.
Aku pun tidak terlalu memikirkannya.
Sampai suatu hari aku sudah tidak bisa lagi berutang susu untuk si bungsu, sehingga aku terpaksa datang ke lokasi proyek untuk meminta bantuan kepada suamiku.
Namun bukannya mendapat pertolongan, aku justru melihatnya diam-diam menyelipkan sebuah amplop tebal berisi uang ke dalam tas tangan seorang perempuan muda.
Perempuan itu tersenyum lalu bertanya,
“Bukannya kamu bilang istrimu hidup susah sekali sampai mereka hampir tidak punya makanan?”
Suamiku menundukkan kepala sambil menyalakan rokok, lalu menjawab tanpa sedikit pun merasa bersalah,
“Dia terlalu baik dan terlalu mudah dibohongi. Apa pun yang kukatakan pasti langsung dia percaya.”
“Lagi pula kami sudah punya tiga anak. Memangnya dia bisa pergi ke mana?”
Aku hanya berdiri di dalam gelap sambil menggenggam kaleng susu anakku yang kosong.
Aku tidak keluar.
Saat ia mengantar perempuan itu ke mobil, ia bahkan dengan hati-hati menopang pinggangnya.
Sebelum perempuan itu duduk di kursi penumpang, gelang emas di pergelangan tangannya berkilau.
Itu persis gelang yang minggu lalu kulihat lama di pusat perbelanjaan.
Aku berdiri di sana cukup lama.
Aku bahkan tidak sanggup melangkah masuk ke lokasi proyek.
Susu si bungsu hampir habis.
Seragam sekolah anak sulung belum lunas.
Biaya kelas seni anak kedua sudah menunggak dua bulan hingga gurunya mulai sungkan menagih.
Bukan karena suamiku tidak punya uang.
Melainkan karena tidak ada satu rupiah pun yang ia sisihkan untuk kami.
Setelah mobil itu pergi, ia kembali masuk ke area proyek.
Aku bersembunyi di balik tangga dan melihatnya berjalan menjauh.
Saat aku tiba di rumah, suasana masih gelap.
Anak sulung sedang mengerjakan PR dengan tenang, sementara anak kedua menggendong adiknya sambil mengayun pelan agar berhenti menangis.
“Bu, Ibu sudah pulang.”
Begitu melihat tas yang kubawa, mata anak sulung langsung berbinar.
“Adik sudah punya susu?”
Aku memaksakan senyum.
“Sudah.”
Anak kedua melihat secarik kertas utang yang menyembul dari dalam tasku.
Usianya baru tujuh tahun, tetapi ia sudah bisa membaca.
Dengan suara lirih ia bertanya,
“Bu… kita berutang lagi?”
Aku langsung memeluknya erat.
“Sebentar lagi semua utang kita akan selesai.”
Kalimat itu sudah berkali-kali kuucapkan.
Bukan hanya untuk menenangkan anak-anakku.
Tetapi juga untuk membohongi diriku sendiri.
Setengah jam kemudian suamiku pulang.
Baru masuk rumah saja ia sudah menendang sepatunya lalu menatap bubur sayur di meja dengan wajah kesal.
“Lagi-lagi makan ini?”
Dulu setiap kali mendengar kata-kata itu aku selalu merasa bersalah.
Aku akan menjelaskan bahwa harga bahan makanan mahal dan kami harus mengutamakan kebutuhan anak-anak.
Namun kali ini aku hanya menatapnya dalam diam.
Aku memandangi laki-laki yang baru saja memberikan uang dalam jumlah besar kepada perempuan lain, tetapi sekarang mengeluh karena makanan sederhana keluarganya sendiri.
“Kita tidak punya uang.”
Kataku tenang.
Ia terdiam sesaat lalu mulai kesal.
“Sudah kubilang, proyek kami belum dibayar.”
“Jangan terus menekanku soal uang. Aku juga capek bekerja.”
Ia makan beberapa suap, lalu mendorong mangkuknya.
“Besok masak daging, ya.”
Tatapanku beralih ke jam tangan baru yang melingkar di pergelangan tangannya.
Dial hitam.
Tali baja.
Aku pernah melihatnya di pusat perbelanjaan.
Harganya hampir **Rp18 juta**.
“Jam tangan itu dari mana?”
Ia langsung membeku.
“Hadiah dari teman.”
“Teman yang mana?”
Tatapannya langsung berubah dingin.
“Kamu mau menuduh apa?”
“Aku sudah kerja mati-matian. Masa jam tangan saja mau kamu persoalkan?”
Bentakannya membangunkan si bungsu yang langsung menangis keras.
Anak sulung segera menggendong adiknya, sementara anak kedua mundur ke sudut ruangan dengan mata berkaca-kaca.
Suamiku bahkan tidak menoleh kepada anak-anak kami.
Tatapannya hanya tertuju kepadaku.
“Berhenti berpikir yang macam-macam.”
“Hidup kita sudah susah, jangan ditambah lagi.”
Aku malah tertawa.
Lucu sekali.
Ia selalu menjadikan kemiskinan sebagai tameng untuk menghindari semua pertanyaanku dan menyembunyikan semua kebohongannya.
Aku tidak lagi berdebat.
Aku membuatkan susu untuk si bungsu lalu menidurkan ketiga anak kami.
Saat ia sedang mandi, aku memeriksa celana yang baru dilepasnya.
Sebuah struk pembayaran terjatuh.
Struk itu berasal dari toko perhiasan.
Nilainya **Rp210 juta**.
Atas nama seseorang bernama **Tuan Gino**.
Tanganku gemetar saat menatap nominal tersebut.
Dengan uang sebanyak itu, aku bisa membeli susu anakku selama bertahun-tahun, melunasi biaya sekolah kedua anakku, sekaligus membiayai pengobatan ibuku.
Suara air dari kamar mandi masih terus mengalir.
Aku memotret struk itu, lalu mengembalikannya ke tempat semula.
Aku duduk sendirian dalam gelap hingga matahari terbit.
Keesokan paginya guru anakku menelepon.
Biaya makan siang dan penitipan sepulang sekolah masih belum dibayar.
Aku terus meminta maaf.
Begitu telepon ditutup, anak sulung sudah berdiri di depan pintu mengenakan seragam lama yang kini kekecilan.
Dengan suara pelan ia bertanya,
“Bu… apa aku jadi beban lagi?”
Dadaku terasa sesak.
“Tidak, Nak. Berangkatlah sekolah. Biar Ibu yang mengurus semuanya.”
Setelah mengantarnya ke sekolah, aku membawa si bungsu ke toko perlengkapan bayi.
Pemilik toko menghela napas begitu melihatku.
“Aku ingin membantumu, tapi dua dus susu sebelumnya saja belum kamu bayar.”
Aku memeluk bayi kecilku erat-erat.
“Tolong satu dus lagi saja. Besok saya akan cari kerja.”
Ia menatap anakku cukup lama, lalu akhirnya tetap memberikan satu dus susu.
“Suamimu benar-benar tidak memberi uang?”
Aku menggeleng.
Ia tampak ragu sebelum akhirnya berkata pelan,
“Aku melihat suamimu kemarin.”
Aku langsung menatapnya.
“Dia membeli dua dus susu impor, vitamin untuk ibu hamil, dan banyak perlengkapan bayi untuk seorang perempuan muda. Perempuan itu juga memakai gelang emas.”
Semua potongan kejadian langsung menyatu di kepalaku.
Susu impor.
Vitamin ibu hamil.
Gelang emas.
Sementara anakku sendiri meminum susu paling murah yang bahkan masih harus kuutang.
Keluar dari toko itu, aku tidak pulang.
Aku langsung menuju lokasi proyek.
Satpam mengenaliku.
“Ibu mencari Pak?”
Aku mengangguk.
“Beliau ada?”
Satpam mengintip ke dalam.
“Tidak ada. Beliau sedang rapat dengan pemasok. Sekarang beliau yang menangani beberapa proyek.”
Dadaku terasa berat.
“Bukannya dia hanya pekerja biasa?”
Satpam tertawa.
“Sudah lama bukan. Sekarang beliau kontraktor kecil. Anak buahnya lebih dari sepuluh orang, bahkan bulan lalu baru membeli mobil pikap.”
Duniaku seakan berputar.
Kontraktor.
Punya mobil sendiri.
Punya banyak karyawan.
Jadi selama ini…
Yang ia tunjukkan kepadaku bukanlah kemiskinan.
Melainkan sandiwara.
Ia begitu pandai berpura-pura hingga aku, yang pernah mengenyam pendidikan tinggi, rela berutang susu, menambal pakaian anak-anak, bahkan terus membelanya di depan semua orang.
Saat aku hendak pergi, aku mendengar beberapa pekerja sedang bercanda.
“Bilang sama bos, gaji kami dibayar, dong. Buat selingkuhannya saja cepat keluar uang, tapi buat upah kami selalu ada alasan.”
Temannya langsung menyikutnya.
“Diam!”
Aku menoleh kepada mereka.
“Selingkuhan?”
Wajah pria itu langsung pucat.
“Tidak… tidak ada apa-apa, Bu.”
Aku tidak bertanya lagi.
Apa yang kudengar sudah lebih dari cukup.
Malam harinya suamiku pulang dan, seperti biasa, kembali mengeluhkan betapa lelahnya ia bekerja.
Aku menatap kuku-kukunya yang bersih dan sepatu barunya.
“Proyeknya sudah dibayar?”
“Belum. Minggu depan.”
Aku meletakkan mangkuk makan di depannya.
“Kalau begitu, siapa yang membelikan mobil pikapmu?”
Ia langsung terdiam.
Namun tak lama kemudian ia berhasil menguasai diri.
“Siapa lagi yang bilang begitu? Itu mobil proyek. Aku cuma meminjam.”
Aku menatapnya.
“Lalu lebih dari sepuluh anak buahmu juga kamu pinjam?”
Ia membanting sumpit ke meja.
“Kamu mengikuti aku?”
“Memangnya salah kalau aku ingin tahu bagaimana keluargaku hidup?”
Ia membalas dengan nada tinggi.
“Aku mencari nafkah untuk keluarga ini!”
Aku tertawa pelan.
“Kamu yang menghidupi keluarga?”
“Susu anak kita masih utang. Uang sekolah dua anak kita belum lunas. Obat ibuku kubeli dari hasil kerja sambilanku.”
“Keluarga yang mana sebenarnya yang kamu hidupi?”
Wajahnya langsung menggelap.

Ia berdiri dan mencengkeram pergelangan tanganku dengan keras.
“Cukup menyalahkanku.”
“Aku yang bekerja, kamu yang mengurus anak-anak. Itu kesepakatan kita.”
Aku melepaskan cengkeraman tangannya dengan sentakan kuat. Rasa sakit di pergelangan tanganku tidak ada apa-apanya dibanding rasa muak yang sudah sampai ke ubun-ubun.
“Kesepakatan kita adalah membangun keluarga, bukan membiarkan anak-anakmu kelaparan sementara kamu membangun istana untuk perempuan lain!” ucapku, suaraku rendah namun penuh penekanan.
Ia tertegun, terkejut melihatku yang biasanya tunduk kini berani melawan. Sebelum ia sempat mengeluarkan bualan baru, aku melemparkan selembar kertas foto hasil cetakan dari ponselku tepat ke atas mangkuk makannya.
Itu adalah foto struk toko perhiasan senilai Rp210 juta atas nama Tuan Gino.
Wajah suamiku seketika berubah abu-abu. Bibirnya terkunci rapat.
“Gino…” aku menyebut nama aslinya yang selama ini ia sembunyikan di luar rumah. “Nama yang hebat untuk seorang kontraktor sukses. Tapi sayang, di akta kelahiran ketiga anakmu, namamu hanya tertulis sebagai buruh proyek miskin.”
“Kamu… dari mana kamu dapat ini?” tanyanya dengan suara yang tiba-tiba bergetar.
“Aku tidak sebodoh yang kamu dan selingkuhanmu pikirkan,” kataku sambil berjalan mundur, mengambil tas ransel besar yang sudah kusiapkan di balik pintu kamar. Di dalamnya sudah ada seluruh pakaian dan surat-surat penting milikku dan anak-anak.
Ia panik begitu melihat tas itu. “Mau ke mana kamu? Jangan gila! Anak-anak sudah tidur!”
“Anak-anak sudah kubangunkan sejak kamu mandi tadi. Mereka sudah menunggu di luar bersama taksi,” jawabku dingin.
Saat itulah tangisnya pecah. Bukan tangis penyesalan, melainkan ketakutan karena kedoknya telah runtuh. Ia mencoba menahan langkahku, memohon-mohon, dan bersumpah akan memutuskan hubungan dengan perempuan itu.
Namun, hatiku sudah mati rasa. Sambil menggendong si bungsu dan menggandeng kedua anakku yang menatap ayahnya dengan pandangan asing, aku melangkah keluar dari rumah kontrakan sempit itu tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
Tiga Bulan Kemudian: Pembalasan yang Senyap
Aku tidak pernah menuntut uang sepeser pun darinya untuk diriku sendiri. Aku menggunakan pendidikan tinggiku yang sempat tertunda untuk bekerja di sebuah perusahaan konsultan hukum milik seorang teman lama.
Namun, aku tidak membiarkannya lepas begitu saja. Bersama pengacaraku, aku melakukan serangan balik yang tidak pernah ia duga:
1. Gugatan Nafkah Anak Mutlak
Pengadilan agama mengabulkan gugatan ceraiku beserta tuntutan nafkah anak sebesar 80% dari total pendapatan resminya sebagai kontraktor. Semua rekening bank atas nama “Tuan Gino” dibekukan oleh pengadilan untuk menjamin masa depan ketiga anak kami hingga mereka lulus kuliah.
2. Audit Pajak Penghasilan
Aku mengirimkan seluruh bukti struk pembelian perhiasan mewah, mobil pikap, dan aset tersembunyinya ke kantor pajak. Sebagai kontraktor yang selama ini mengaku berpenghasilan Rp4 juta dan tidak pernah membayar pajak usaha, ia langsung dijatuhi denda berlipat ganda atas dugaan penggelapan pajak.
3. Kehancuran Sang Selingkuhan
Begitu rekening Gino dibekukan dan aset-asetnya disita untuk membayar denda pajak serta nafkah anak, perempuan muda yang sedang hamil itu langsung meninggalkannya. Perempuan itu membawa kabur sisa uang tunai dan mobil pikap yang belum sempat disita, meninggalkan Gino dalam jeratan utang yang sesungguhnya.
Sore itu, aku duduk di teras rumah baruku yang sederhana namun bersih. Anak sulungku pulang sekolah dengan seragam baru yang pas di badannya, membawa piala lomba matematika. Anak keduaku sedang asyik berlatih menggambar di ruang tengah, sementara si bungsu tertidur pulas setelah meminum susu formula terbaik tanpa perlu kuutang lagi.
Ponselku bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak kukenal—itu Gino.
“Rumahku disita. Perempuan itu pergi membawa anak di kandungannya yang ternyata bukan anakku. Aku tidak punya uang bahkan untuk membeli sebungkus rokok. Tolong biarkan aku melihat anak-anak…”
Aku tidak membalasnya. Aku langsung memblokir nomor tersebut.
Dulu, ia menggunakan kemiskinan palsu untuk mengikatku dan memuaskan ego serakahnya. Sekarang, semesta telah mengabulkan ucapan dan sandiwaranya sendiri. Ia kini benar-benar miskin, sebatang kara, dan hancur di atas tanah yang ia gali sendiri.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.