*DI TENGAH MAKAN MALAM, SUAMIKU MELEMPARKAN PIRING KE KEPALAKU KARENA AKU MENOLAK MEMBERIKAN APARTEMENKU KEPADA IBUNYA—NAMUN SAAT AKU BANGKIT DARI LANTAI, MIMPI BURUK MEREKA BARU SAJA DIMULAI**
Namaku Diana, usiaku dua puluh delapan tahun dan aku adalah seorang arsitek yang sukses. Jauh sebelum menikah dengan Robert, aku sudah membeli sebuah unit apartemen yang indah di kawasan Jakarta menggunakan hasil kerja keras dan uangku sendiri. Robert hanyalah seorang supervisor biasa, tetapi aku menerimanya dengan sepenuh hati karena aku percaya kami memiliki impian yang sama.
Setelah menikah, aku mengajaknya tinggal di apartemen milikku agar kami tidak perlu memikirkan biaya sewa. Namun seiring berjalannya waktu, aku mulai menyadari keluarganya perlahan ikut mencampuri kehidupan kami, terutama ibunya, Nyonya Minda. Ia terus-menerus meminta uang, suka memerintah, dan memperlakukanku seolah-olah aku adalah mesin ATM berjalan.
Namun aku tidak pernah menyangka bahwa keserakahan mereka akan mencapai titik sejauh itu.
## MALAM PENUH KEKERASAN
Malam itu adalah malam Sabtu. Robert mengadakan makan malam keluarga di apartemenku. Ia mengundang ibunya, kedua saudara perempuannya beserta suami mereka. Aku memasak semua hidangan sendiri dan menata meja makan seindah mungkin.
Saat mereka menikmati makanan sambil meminum anggur mahal milikku, Nyonya Minda tiba-tiba berdeham.
“Diana, Nak, ada sesuatu yang ingin kami bicarakan,” katanya sambil tersenyum. “Kamu tahu sendiri usia Ibu sudah semakin tua. Ibu butuh jaminan hidup.”
“Apa itu, Bu?” tanyaku sopan sambil mengambil makanan ke piringku.
“Aku dan Robert sudah sepakat kalau apartemen ini akan kamu balik nama menjadi atas nama Ibu,” ucap mertuaku dengan tenang, seolah hanya sedang meminta segelas air. “Selain itu, mulai bulan depan kamu harus memberi Ibu uang bulanan sebesar **Rp24.000.000**. Gajimu juga besar, kan.”
Aku langsung terdiam.
Aku menoleh ke arah Robert, berharap semua itu hanya lelucon.
Namun ia hanya menatapku seakan membenarkan semua perkataan ibunya.
“Robert? Maksudnya apa? Apartemen ini milikku. Aku membelinya tiga tahun sebelum kita menikah,” tanyaku bingung. “Dan kenapa aku harus memberi **Rp24.000.000** setiap bulan? Kita juga punya banyak kebutuhan.”
Wajah Robert langsung berubah.
“Diana! Itu ibuku! Sudah sewajarnya kita menanggung hidupnya! Untuk apa kita menikah kalau kamu tidak mau berbagi kekayaanmu dengan keluargaku?” bentaknya di depan saudara-saudaranya yang kini mulai menyeringai.
Aku menggenggam garpu semakin erat.
“Tidak.”
“Aku tidak akan memberikan hasil kerja kerasku kepada ibumu. Dan aku juga tidak akan memberikan uang sebanyak itu setiap bulan,” jawabku tegas tanpa ragu.
Seluruh meja makan langsung sunyi.
Kesunyian yang terasa begitu mencekam.
Mata Robert membelalak. Wajahnya memerah, urat-urat di lehernya menegang karena amarah. Ia berdiri begitu keras hingga kursinya terjatuh.
“Berani sekali kamu bilang **TIDAK** kepada ibuku, dasar bodoh!”
Sebelum sempat bereaksi, Robert meraih piring porselen yang masih berisi saus dan makanan.
Lalu…
Dengan seluruh tenaganya…
Ia melemparkannya tepat ke kepalaku!
**PRANG!**
Piring itu pecah berkeping-keping.
Saus, nasi, dan makanan langsung berhamburan mengenai rambut serta wajahku.
Pada saat yang sama, rasa sakit yang luar biasa menghantam kepalaku hingga membuat pandanganku berkunang-kunang.

Darah hangat mengalir dari dahiku, bercampur dengan makanan yang mengotori pakaianku.
Aku terjatuh ke lantai.
Tubuhku gemetar.
Air mata mulai mengalir karena rasa sakit, syok, dan penghinaan yang begitu dalam.
BAGIAN 2: Senyum di Balik Darah
Di lantai yang dingin, aku bisa mendengar suara tawa tertahan dari saudara-saudara perempuan Robert.
“Makanya, jadi istri itu jangan sombong. Baru punya apartemen saja sudah berani melawan suami,” cibir salah satu adik perempuannya sambil terus mengunyah daging steak yang kumasak.
Nyonya Minda bahkan tidak berkedip melihat darah yang mengalir di dahiku. Ia justru mendengus. “Bagus, Robert. Kasih dia pelajaran. Perempuan kalau terlalu banyak uang memang harus diinjak dulu biar tahu diri.”
Robert berdiri tegap di atas tubuhku, menatapku seperti seekor serangga. “Sekarang cepat bersihkan mukamu, ambil sertifikat apartemen itu, dan tandatangani surat penyerahannya! Kalau tidak, aku akan membuatmu lebih menderita dari ini!”
Aku memegangi lantai, perlahan-lahan mengumpulkan sisa tenagaku. Rasa sakit di kepalaku luar biasa, tetapi rasa benci yang membakar dadaku jauh lebih besar.
Aku menyeka darah di dahiku dengan punggung tangan, lalu perlahan-lahan bangkit berdiri.
Namun, alih-alih menangis atau memohon ampun seperti yang mereka harapkan, aku justru menegakkan kepalaku dan… tertawa kecil. Sebuah senyuman dingin terukir di wajahku yang berlumuran darah.
Robert mengernyitkan dahi, tampak ngeri melihat ekspresiku. “Kenapa kamu tertawa, dasar gila?!”
“Aku tertawa karena melihat betapa malangnya kalian,” kataku dengan suara yang sangat tenang, namun bergema tajam di ruang makan. “Kalian mengira kalian bisa menginjakku di tempat milikku sendiri?”
Aku berjalan ke arah meja konter dapur, mengambil ponselku yang sejak awal makan malam sengaja kuaktifkan dalam mode perekaman video tersembunyi untuk keperluan konten estetik ruang makan. Di layar ponsel, seluruh kejadian—mulai dari pemerasan Nyonya Minda hingga hantaman piring dari Robert—terekam dengan kualitas audio dan video yang sangat jernih.
“Robert, tahukah kamu siapa klien utama proyek superblok yang sedang kukerjakan saat ini?” tanyaku sambil menatapnya tajam.
Robert terdiam, wajahnya mulai menyiratkan kegelisahan.
“Pemiliknya adalah Wijaya Land,” lanjutku dingin. “Dan asisten utama Direktur Utamanya adalah sepupu kandungku. Perusahaan tempatmu bekerja sebagai supervisor hanyalah anak perusahaan kecil di bawah naungan mereka.”
BAGIAN 3: Runtuhnya Istana Pasir
Wajah Robert mendadak pucat pasi. Urat-urat di lehernya yang tadinya menegang karena amarah kini gemetar karena rasa takut yang mulai menjalar.
“D-Diana… apa maksudmu?” tanya Robert terbata-bata.
“Maksudku?” Aku menekan tombol send di ponselku, mengirimkan video kekerasan itu langsung ke sepupuku dan tim hukum kantorku. “Mulai detik ini, hidupmu di perusahaan itu sudah berakhir. Dan bukan hanya itu.”
Aku berjalan ke arah pintu utama apartemen, membukanya lebar-lebar. Di luar pintu, dua orang petugas keamanan apartemen bersama tiga orang anggota kepolisian yang telah dihubungi secara otomatis oleh sistem keamanan pintar unitku (yang mendeteksi suara pecahan dan teriakan histeris) sudah berdiri siap.
“Petugas, pria itu baru saja melakukan kekerasan dalam rumah tangga dan mencoba memeras harta benda saya. Ini bukti videonya,” kataku sambil menyerahkan ponselku kepada kepala polisi.
Nyonya Minda langsung berdiri dari kursinya, wajah tuanya mendadak panik. “Eh, Pak Polisi! Jangan dengarkan dia! Ini urusan rumah tangga kami! Dia menantu yang tidak tahu diuntung!”
“Diam, Bu!” bentak petugas polisi dengan tegas. “Kekerasan fisik dengan senjata tumpul hingga berdarah bukan lagi sekadar urusan domestik, ini tindak pidana murni!”
Dua polisi langsung merangsek masuk dan memiting kedua tangan Robert ke belakang. Robert berteriak histeris, mencoba memberontak. “Diana! Jangan lakukan ini! Aku suamimu! Tolong cabut laporannya! Ibu, tolong Robert!!”
Saudara-saudara perempuannya yang tadi mengejekku kini pucat pasi, ketakutan setengah mati melihat kakak laki-laki mereka diborgol di depan mata mereka.
BAGIAN KETIGA: AKHIR
“Diana, Nak… tolong maafkan Robert. Dia hanya emosi sesaat,” Nyonya Minda tiba-tiba merayap mendekatiku, mencoba meraih kakiku dengan wajah memelas yang menjijikkan. “Kami tidak akan meminta apartemen ini lagi, Ibu janji! Tolong jangan penjarakan anak Ibu…”
Aku melangkah mundur, menghindari sentuhannya seolah ia adalah sampah yang kotor.
“Nyonya Minda,” kataku dengan nada sedingin es. “Sertifikat apartemen ini tidak akan pernah berpindah tangan. Dan uang Rp24.000.000 yang Anda minta? Mulai besok, Anda harus menggunakannya untuk membayar pengacara terbaik, karena aku tidak hanya memenjarakan anakmu atas kasus KDRT, tetapi aku juga akan menggugat cerai dia dan menuntut ganti rugi materiil atas semua uang yang telah kalian peras dariku selama ini.”
Aku menoleh ke arah petugas keamanan. “Tolong usir wanita tua ini dan seluruh keluarganya dari properti saya. Mulai sekarang, wajah-wajah mereka masuk dalam daftar hitam gedung ini.”
Dengan tangisan histeris dan keputusasaan yang mendalam, Robert diseret keluar dari apartemen menuju mobil tahanan, diikuti oleh ibunya yang meratapi nasib dan saudara-saudaranya yang tertunduk malu di koridor.
Pintu apartemen mewah itu tertutup rapat kembali. Suasana menjadi sunyi.
Aku berjalan ke arah cermin di lorong, menatap pantulan diriku. Darah di dahiku sudah mengering, menyisakan luka yang akan membekas. Namun di dalam mataku, tidak ada lagi ruang untuk kesedihan.
Mimpi buruk mereka telah dimulai, dan kebebasanku baru saja kembali. Aku membersihkan sisa makanan di wajahku dengan tenang, tahu bahwa esok hari, aku akan menata kembali hidupku tanpa ada satu pun benalu yang tersisa.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.