Posted in

SAAT AKU HAMIL SEMBILAN BULAN, SUAMIKU MENCOBA MEMBUNUHKU DEMI MENDAPATKAN UANG ASURANSI BERNILAI MILIARAN RUPIAH… DI HARI PEMAKAMANKU, DIA TERSENYUM BERSAMA SELINGKUHANNYA—TAPI MEREKA TIDAK TAHU AKU MASIH HIDUP, DAN AKULAH YANG AKAN MENGHANCURKAN SEMUA YANG MEREKA BANGUN!**

SAAT AKU HAMIL SEMBILAN BULAN, SUAMIKU MENCOBA MEMBUNUHKU DEMI MENDAPATKAN UANG ASURANSI BERNILAI MILIARAN RUPIAH… DI HARI PEMAKAMANKU, DIA TERSENYUM BERSAMA SELINGKUHANNYA—TAPI MEREKA TIDAK TAHU AKU MASIH HIDUP, DAN AKULAH YANG AKAN MENGHANCURKAN SEMUA YANG MEREKA BANGUN!**

Dia mengira…

Satu dorongan saja sudah cukup untuk melenyapkanku selamanya.

Dia mengira…

Aku dan bayi yang kukandung akan mati bersama.

Namun dia tidak tahu…

Masih ada keajaiban yang menungguku di dasar jurang.

Dan sejak hari itu…

Aku tidak akan pernah kembali sebagai istrinya.

Aku akan kembali sebagai mimpi buruk paling mengerikan dalam hidupnya.

Namaku Celeste.

Inilah kisah bagaimana aku bangkit dari kuburku sendiri.

Seminggu sebelum hari perkiraanku melahirkan…

Suamiku, Roman, mengajakku berlibur ke sebuah resor pegunungan pribadi di kawasan Puncak.

Katanya itu adalah **babymoon**.

Liburan terakhir kami berdua sebelum anak kami lahir.

Aku sama sekali tidak menaruh curiga.

Dengan sepenuh hati aku percaya…

Ia hanya ingin memberiku kenangan indah.

Suatu sore…

Ia mengajakku berdiri di tepi jurang yang curam.

Udara terasa dingin.

Kabut sangat tebal.

Hampir tidak ada seorang pun di sekitar.

“Sayang…”

“Mundur sedikit lagi.”

“Pemandangannya jauh lebih bagus dari sana.”

Aku masih sempat tersenyum.

Tanganku mengusap perutku yang besar.

Aku melangkah satu langkah lagi.

Dan dalam sekejap…

Aku merasakan dorongan keras menghantam dadaku.

Bukan pelukan.

Bukan uluran tangan.

Melainkan dorongan penuh niat untuk membunuh.

Aku kehilangan keseimbangan.

Lalu terjatuh ke dalam jurang.

Hal terakhir yang kulihat…

Adalah senyum dingin Roman.

Seolah-olah ia sudah lama menunggu momen itu.

Dia mengira…

Aku sudah mati.

Namun Tuhan belum mengizinkanku pergi.

Tubuhku jatuh di atas tumpukan pepohonan dan bebatuan yang lebat di lereng jurang.

Aku hampir tidak bisa bernapas.

Salah satu kakiku patah.

Seluruh tubuhku dipenuhi luka.

Dan saat aku masih berjuang mempertahankan hidup…

Air ketubanku pecah.

Sendirian.

Kesakitan.

Tanpa siapa pun yang bisa menolong…

Aku mulai melahirkan.

Keesokan harinya…

Seorang penyelamat tua yang sedang berpatroli di pegunungan menemukan kami.

Ia tidak mengenalku.

Ia juga tidak tahu apa yang telah terjadi.

Yang ia lihat hanyalah…

Seorang ibu yang mati-matian berjuang menyelamatkan bayinya.

Ia membawa kami ke sebuah rumah sakit kecil di kota terdekat.

Di sanalah…

Aku menjalani pemulihan secara diam-diam.

Sebulan kemudian…

Saat kondisiku mulai membaik…

Aku melihat wajahku sendiri muncul di berita.

Aku telah dinyatakan meninggal dunia.

Katanya aku mengalami kecelakaan dengan terjatuh ke jurang.

Karena jasadku tidak pernah ditemukan…

Kasus itu pun resmi ditutup.

Namun ada satu fakta yang membuat seluruh tubuhku gemetar.

Aku mengetahui…

Bahwa segera setelah aku dinyatakan meninggal, klaim asuransi jiwa bernilai miliaran rupiah langsung diproses.

Dan satu-satunya orang yang akan menerima seluruh uang itu…

Adalah suamiku sendiri.

Sekarang…

Hari ini adalah hari pemakamanku sendiri.

BAGIAN 2: Pesta Di Atas Air Mata

Hari ini, sebuah peti mati kosong dikuburkan di pemakaman mewah pinggir kota Jakarta. Di sana tertera namaku: Celeste Anastasia.

Aku berdiri jauh di bawah rerimbunan pohon kamboja, mengenakan pakaian serba hitam, kacamata hitam besar, dan topi lebar yang menyembunyikan wajahku. Di dekapanku, bayiku—yang kuberi nama Leo—tertidur pulas dalam gendongan kain yang aman. Bayi laki-laki kecilku selamat tanpa kurang satu apa pun, sebuah mukjizat yang membakar sisa hidupku untuk membalas dendam.

Dari kejauhan, kulihat Roman berdiri di depan liang lahat. Ia mengenakan kemeja hitam, sesekali menyeka matanya dengan saputangan seolah-olah ia adalah suami yang paling hancur di dunia. Teman-teman dan rekan bisnisnya menepuk pundaknya, membisikkan kata-kata penghiburan.

Namun, begitu pelayat satu per satu mulai membubarkan diri, sandiwara itu usai.

Roman berjalan menuju parkiran mobil mewah, tempat sebuah mobil sport merah terparkir di sudut sepi. Di dalam mobil itu, seorang wanita cantik dengan gaun merah menyala yang provokatif sudah menunggunya. Dia adalah Valerie, sekretaris pribadi Roman yang selama ini kuduga menjadi selingkuhannya.

Aku melangkah mendekat secara perlahan, bersembunyi di balik pilar beton pembatas makam. Kaca mobil itu terbuka setengah, dan suara mereka terdengar sangat jelas di telingaku.

“Bagaimana, Sayang? Semuanya berjalan lancar?” tanya Valerie sambil mengelus rahang Roman mesra.

Roman terkekeh, senyumnya yang dingin dan serakah persis seperti saat ia mendorongku di tebing Puncak sebulan lalu. “Sangat lancar. Surat kematian dari kepolisian sudah keluar. Pihak asuransi bilang, dana sebesar Rp15.000.000.000 akan cair penuh ke rekeningku minggu depan.”

Valerie memekik gembira lalu mencium pipi Roman. “Akhirnya! Jalang sialan itu dan bayinya benar-benar membawa keberuntungan setelah mati. Sekarang, perusahaan arsitektur milik keluarganya sepenuhnya jatuh ke tanganmu, kan?”

“Tentu saja. Semua aset atas nama Celeste kini menjadi milikku sebagai ahli waris tunggal,” jawab Roman dengan pongah. “Ayo kita rayakan. Malam ini, kita pesan restoran termewah di Jakarta.”

Mobil itu melesat pergi, meninggalkan kepulan asap dan debu yang menerpa wajahku.

Aku menurunkan sedikit kacamata hitamku, menatap sisa-sisa debu mobil mereka dengan senyuman yang jauh lebih dingin dari kematian. Nikmatilah sisa harimu, Roman. Karena uang lima belas miliar itu tidak akan pernah sampai ke tanganmu, dan perusahaan ayahku tidak akan sudi dipimpin oleh seorang pembunuh.

BAGIAN 3: Tamu Tak Diundang

Satu minggu berlalu. Roman mengadakan pesta perayaan besar-besaran di aula utama gedung perusahaan peninggalan almarhum ayahku. Alasan resminya adalah untuk memperingati kembalinya stabilitas perusahaan setelah “tragedi” yang menimpa istrinya, namun semua orang tahu ini adalah pesta pengukuhan dirinya sebagai pemilik mutlak yang baru.

Roman berdiri di atas panggung dengan setelan jas mewah, didampingi Valerie yang kini terang-terangan bertindak sebagai manajer eksekutif barunya.

“Terima kasih atas kehadiran rekan-rekan semua,” ucap Roman dengan mikrofon di tangannya, memasang wajah penuh wibawa. “Kehilangan istri tercinta saya, Celeste, adalah pukulan berat. Namun, demi masa depan perusahaan ini, saya berjanji akan membawanya ke puncak kejayaan yang baru…”

Tepat saat ia hendak mengangkat gelas sampanyenya untuk bersulang, lampu aula utama mendadak padam.

Gumam panik terdengar dari ratusan tamu undangan.

“Ada apa ini? Manajemen gedung, cepat periksa listriknya!” bentak Roman kesal dari atas panggung.

Detik berikutnya, layar proyektor raksasa di belakang panggung menyala. Namun, alih-alih menampilkan logo perusahaan, layar itu memutar sebuah rekaman video berdurasi pendek.

Itu adalah rekaman dari kamera dasbor (dashcam) sebuah mobil logistik yang kebetulan melintas di jalur sepi pegunungan Puncak, tepat di hari kejadian sebulan lalu. Kamera itu menangkap siluet jelas seorang pria yang mendorong seorang wanita hamil dari tepi tebing, disusul dengan rekaman audio panggilan darurat yang dilakukan Roman beberapa jam setelahnya dengan suara yang dibuat panik—padahal di video ia tampak bersantai merokok di samping mobilnya.

“A-Apa ini?! Siapa yang berani meretas sistem ini?! Matikan!!” teriah Roman histeris, wajahnya mendadak pucat pasi seperti kertas.

“Kenapa harus dimatikan, Roman? Bukankah videonya sangat bagus?”

Sebuah suara yang sangat anggun, namun penuh daya magis yang mematikan, menggema dari arah pintu masuk aula. Lampu sorot cadangan mendadak menyala, mengarah tepat ke lorong tengah.

Semua orang menoleh. Napas mereka tercekat. Beberapa orang bahkan berteriak histeris seolah-olah melihat hantu.

Aku berjalan dengan langkah anggun di atas karpet merah. Aku mengenakan gaun putih bersih yang elegan, rambutku tertata rapi, dan di lenganku, seorang pengacara senior paling ditakuti di negeri ini berjalan mendampingiku. Di belakang kami, empat orang petugas kepolisian dari unit kejahatan kekerasan berjalan dengan langkah tegap.

“C-Celeste…? K-Kamu… kamu sudah mati!” gagap Roman, lututnya gemetar hebat hingga hampir terjatuh dari panggung. Valerie di sampingnya langsung bersembunyi di balik punggung Roman dengan tubuh menggigil ketakutan.

“Maaf membuatmu kecewa, Suamiku,” kataku sambil tersenyum manis, menghentikan langkah tepat di depan panggung. “Aku dan anakmu masih sangat sehat. Jurang yang kamu pilih ternyata kurang dalam untuk membunuh kami.”

BAGIAN KETIGA: AKHIR

Pengacaraku maju selangkah, membuka sebuah map dokumen resmi dan membacakannya dengan suara yang lantang agar terdengar oleh seluruh media dan pengusaha yang hadir.

“Berdasarkan hukum yang berlaku, karena Nyonya Celeste Anastasia masih hidup dan berada dalam kondisi sehat, maka seluruh klaim asuransi jiwa senilai Rp15.000.000.000 dibatalkan demi hukum. Atas tindakan pemalsuan dokumen dan percobaan pembunuhan berencana, Saudara Roman diperiksa sebagai tersangka utama.”

“Selain itu,” aku memotong dengan suara sedingin es, menatap lurus ke mata Roman yang kini dipenuhi keputusasaan. “Seluruh hak asuh, kepemilikan saham mutlak atas perusahaan ayahku, dan semua aset rumah tangga yang pernah kita miliki, secara hukum tetap berada di bawah namaku. Kamu tidak memiliki sepeser pun hak di gedung ini.”

“Celeste… tidak, Celeste! Ini salah paham! Aku dijebak! Valerie yang menghasutku! Aku mencintaimu, Celeste!” Roman merangkak turun dari panggung, mencoba berlutut di hadapanku dan meraih ujung gaunku.

Namun, sebelum tangannya yang kotor menyentuhku, petugas kepolisian dengan sigap mencengkeram lengannya, memitingnya ke belakang, dan memasangkan borgol besi yang dingin pada pergelangan tangannya. Valerie yang mencoba melarikan diri lewat pintu belakang juga langsung dicegat oleh petugas kepolisian lainnya atas dakwaan turut serta dalam konspirasi pembunuhan.

“Bawa mereka keluar,” perintah kepala polisi.

Roman berteriak-teriak histeris, memohon ampunan yang tak akan pernah datang, sementara para wartawan yang hadir mendadak menghujaninya dengan kilatan lampu kamera. Pria yang beberapa menit lalu merasa menjadi raja, kini diseret keluar seperti sampah di depan seluruh relasi bisnisnya. Harga diri, kekayaan, dan kebebasannya hancur lebur dalam satu malam.

Aula besar itu mendadak sunyi setelah kepergian mereka. Aku berbalik menghadap para tamu undangan, lalu mengangkat daguku dengan anggun.

“Pesta malam ini selesai. Namun, bagi perusahaan ini… kepemimpinan yang sesungguhnya baru saja kembali,” ucapku tegas.

Aku berjalan keluar dari gedung itu dengan kepala tegak. Di dalam mobil yang menungguku di luar, pengasuh bayiku menyerahkan Leo ke dalam pelukanku. Aku menatap wajah mungil putraku yang terbangun lalu tersenyum kecil.

Roman mengira satu dorongan bisa melenyapkanku, namun ia justru melahirkan musuh paling mematikan dalam hidupnya. Masa laluku bersamanya telah mati di dasar jurang itu, dan hari ini, aku memenangkan masa depanku bersama anakku.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.