*BARU SAJA AKU PINDAH KE KAMAR KOS PALING MURAH YANG BISA KUTEMUKAN DI JAKARTA—
TAPI AKU TAK PERNAH MENYANGKA, DI BAWAH SEBUAH POT BUNGA TUA DI HALAMAN BELAKANG… AKU AKAN MENEMUKAN SESUATU YANG MENGUBAH SELURUH HIDUPKU.**
Namaku Daniel.
Aku baru saja lulus dari universitas dengan gelar Sarjana Ekonomi.
Di atas kertas, masa depanku tampak cerah.
Namun dalam kenyataan…
isi dompetku hampir kosong.
Keluargaku tinggal di Surabaya, jadi aku terpaksa pindah ke Jakarta untuk mencari pekerjaan.
Kupikir semuanya akan mudah.
Namun setelah dua minggu mengirimkan lamaran kerja…
tak satu pun perusahaan menghubungiku.
Uang tabunganku semakin menipis.
Hingga suatu hari, aku melihat sebuah papan kecil di sebuah gang sempit di kawasan Jakarta Utara.
**”KAMAR KOS DISEWAKAN – Rp500.000 PER BULAN.”**
Aku hampir tidak percaya.
Hanya lima ratus ribu rupiah sebulan?
Jauh lebih murah dibandingkan kebanyakan kamar kos di Jakarta.
Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengetuk pintunya.
Seorang wanita tua membukakan pintu.
Namanya Bu Carmen.
Usianya sudah lanjut, tetapi senyumnya begitu hangat.
“Nak, sudah lama tidak ada yang tinggal di kamar itu,” katanya.
“Itulah sebabnya kondisinya sangat kotor. Kalau kamu bersihkan sedikit saja, pasti sudah layak ditempati.”
Begitu masuk ke dalam, aku langsung mengerti mengapa harga sewanya begitu murah.
Rumah itu sudah tua.
Lantai kayunya berderit setiap kali diinjak.
Dindingnya dipenuhi bercak jamur.
Udara di dalam terasa lembap dan berbau apek.
Namun aku tidak punya pilihan lain.
“Ini sudah cukup,” gumamku.
Aku hanya membutuhkan tempat untuk tidur sambil terus mencari pekerjaan.
Aku langsung membayar uang sewa dan pindah sore itu juga.
Setelah beberapa jam membersihkan kamar, akhirnya tempat itu lumayan nyaman untuk dihuni.
Di belakang rumah ada sebuah halaman kecil.
Tanaman-tanamannya tampak terbengkalai.
Di salah satu sudut berdiri sebuah pot tua berisi pohon kamboja.
Batangnya sudah bengkok.
Daunnya hampir habis.
Tanah di dalam pot benar-benar kering, seolah sudah lama tidak pernah disiram.
Aku tidak terlalu memedulikannya.
Hingga malam tiba.
Sekitar pukul satu dini hari…
aku tiba-tiba terbangun.
Ada suara dari halaman belakang.
**Klak… klak…**
Seperti seseorang mengetuk pelan pintu belakang.
Aku langsung duduk di tempat tidur.
Jantungku berdetak sangat kencang.
“Mungkin cuma angin,” bisikku pada diri sendiri.
Aku mencoba tidur kembali.
Namun sekitar pukul tiga dini hari, suara itu terdengar lagi.
Kali ini lebih jelas.
**Klak… klak…**
Lalu setelah itu…
aku mendengar helaan napas panjang.
Lambat.
Berat.
Seolah ada seseorang berdiri di belakang rumah.
Bulu kudukku langsung meremang.
Namun aku berusaha menenangkan diri.
“Rumah ini memang sudah tua,” kataku dalam hati.
“Mungkin cuma suara angin.”
Aku tidak punya uang untuk pindah.
Jadi aku harus bertahan.
Keesokan paginya, aku memutuskan memeriksa halaman belakang.
Mungkin pintunya longgar atau engselnya rusak.
Saat keluar…
semuanya tampak normal.
Suasana sangat tenang.
Namun ada satu hal yang langsung menarik perhatianku.
Pot kamboja tua yang kulihat kemarin…
kini sudah miring ke samping.
Seolah ada yang menggesernya tadi malam.
Aku mendekat dan mencoba menegakkannya.
Tetapi saat tanganku menyentuh pot itu…
tiba-tiba pot tersebut roboh.
**PRANG!**
Pot itu pecah menghantam tanah.
Tanah keringnya berhamburan ke segala arah.
Dan tepat di bawah gundukan tanah itu…
sesuatu berkilau terkena sinar matahari.
Sebuah kalung emas.
Disusul beberapa cincin.
Tumpukan uang kertas lama.
Dan sebuah batangan emas kecil.
Aku membeku.
Jantungku hampir berhenti berdetak.
Karena di bawah pot tua itu…
terkubur sebuah harta yang sama sekali tidak pernah kuduga.
Namun saat itu aku belum tahu…

bahwa harta tersebut menyimpan sebuah rahasia yang telah lama tersembunyi di rumah itu.
Dan rahasia itulah…
yang akan membuat malam-malamku di Jakarta tidak akan pernah tenang lagi.
Aku berlutut di atas tanah, memungut batangan emas dan perhiasan itu dengan tangan gemetar. Di antara tumpukan logam mulia itu, jemariku menyentuh sebuah kotak besi kecil yang berkarat. Ketika kubuka, isinya bukan lagi harta, melainkan selembar foto usang bertahun 1998 dan sebuah buku catatan harian kecil.
Di dalam foto itu, tampak seorang pemuda tersenyum di depan kamar kos ini. Wajahnya… sangat mirip denganku.
Malamnya, rasa penasaran membuatku membuka buku catatan tersebut. Halaman demi halaman menceritakan kisah pemuda di foto itu—seorang mahasiswa perantauan yang juga tinggal di kamar murah ini. Namun, lembar terakhir tertulis dengan tulisan tangan yang cakar ayam dan penuh noda bercak hitam yang telah mengering:
“Bu Carmen tahu aku menyimpan uang demo di sini. Dia mengunci pintu dari luar. Kamar ini bising, tapi tidak ada yang mendengarku. Klak… klak… aku mencoba mengetuk dinding dengan sisa tenagaku. Jangan percaya senyumnya. Jangan…”
Napas duniaku mendadak terhenti. Klak… klak… Suara yang kudengar semalam bukan suara angin. Itu adalah tiruan bunyi ketukan kuku atau tulang manusia yang mencoba mencari jalan keluar.
Tepat saat jam berdenting menunjukkan pukul satu dini hari, hawa dingin yang pekat langsung menyelimuti kamar.
Klak… klak…
Suara itu kini bukan dari halaman belakang, melainkan dari bawah lantai kayu tempat tempat tidurku berada. Aku melompat berdiri, memeluk kotak besi itu dengan penuh ketakutan.
Dari celah pintu yang sedikit terbuka, aku melihat bayangan hitam bergerak di halaman belakang. Sosok tinggi kurus dengan leher yang patah miring, menatap lurus ke arah kamarku. Matanya kosong, namun tangannya menunjuk ke arah emas yang kini ada di dalam gansgku.
Di saat yang sama, langkah kaki yang lambat terdengar dari lorong depan.
Srek… srek… Langkah kaki diseret.
Pintu kamarku perlahan terbuka sepenuhnya. Di ambang pintu, berdiri Bu Carmen. Senyum hangat yang kulihat kemarin kini berubah menjadi seringai dingin yang mengerikan. Di tangannya, ia memegang sebuah kunci gembok besar dan sebuah sekop tua yang masih basah oleh tanah.
“Kamu sudah menemukan ‘tabungan’ pemuda sebelum kamu, ya, Nak?” bisik Bu Carmen, suaranya parau dan bergetar, bergema bersamaan dengan suara klak… klak… dari bawah lantai. “Emas itu adalah harga untuk kamar ini. Kamar paling murah di Jakarta… karena kamu tidak membayar dengan uang, tapi dengan nyawamu.”
Malam itu, aku menyadari satu hal yang terlambat: Jakarta tidak pernah ramah pada perantau yang putus asa, dan harta yang kutemukan bukanlah keberuntungan, melainkan umpan maut yang telah merenggut nyawa-nyawa sebelum aku. Aku tidak akan pernah bisa keluar dari kamar ini hidup-hidup.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.