Posted in

SEORANG MILIARDER MENYAMAR MENJADI PENGEMIS UNTUK MENGUJI KESETIAAN KEKASIHNYA—NAMUN SAAT PRIA ITU MENGUSIRNYA, SEORANG KURIR YANG BAIK HATI MENOLONGNYA, DAN KEPADANYALAH IA MENYERAHKAN KEKAYAAN BERNILAI MILIARAN RUPIAH**

SEORANG MILIARDER MENYAMAR MENJADI PENGEMIS UNTUK MENGUJI KESETIAAN KEKASIHNYA—NAMUN SAAT PRIA ITU MENGUSIRNYA, SEORANG KURIR YANG BAIK HATI MENOLONGNYA, DAN KEPADANYALAH IA MENYERAHKAN KEKAYAAN BERNILAI MILIARAN RUPIAH**

Namaku **Cassandra**, usiaku dua puluh delapan tahun, dan aku adalah CEO **Crestwood Empire**, salah satu konglomerat properti dan investasi terbesar di Asia.

Selama dua tahun, aku menjalin hubungan dengan **Cedric**, seorang pria yang kukenal dalam sebuah acara amal.

Selama ini ia selalu bersikap lembut, perhatian, dan tampak sangat mencintaiku.

Namun sebagai seorang miliarder yang dikelilingi orang-orang haus harta…

aku ingin memastikan satu hal sebelum menikah dengannya.

Apakah yang ia cintai adalah **Cassandra**…

atau miliaran rupiah yang kumiliki?

Karena itu…

aku menyusun sebuah rencana.

Aku menyebarkan berita palsu bahwa perusahaanku bangkrut, terlilit utang miliaran rupiah, dan seluruh asetku telah disita oleh bank.

Aku mengenakan pakaian compang-camping, mengotori wajahku dengan debu, lalu berjalan tanpa alas kaki menuju kantor Cedric.

## LUKA AKIBAT SEBUAH PENGHINAAN

Gerimis turun saat aku tiba di depan gedung tempat Cedric bekerja.

Begitu melihatnya berjalan menuju mobilnya, aku segera menghampiri.

“Cedric! Cedric, Sayang!” teriakku sambil menangis dan mencoba meraih lengannya.

Cedric terkejut.

Ia menatapku dari kepala hingga kaki.

Wajah yang dulu selalu tersenyum…

berubah menjadi penuh rasa jijik.

Ia bahkan mundur beberapa langkah, seolah-olah aku membawa penyakit menular.

“Cassandra?!” bentaknya.

“Apa yang terjadi padamu?”

“Kenapa penampilanmu seperti gelandangan?”

“Cedric…” kataku sambil terisak.

“Semua berita itu benar.”

“Perusahaanku bangkrut.”

“Semua hartaku sudah disita.”

“Aku tidak punya uang lagi.”

“Aku juga kehilangan rumah.”

“Tolonglah aku.”

“Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi.”

Sambil menangis…

aku berlutut di atas trotoar yang basah oleh hujan.

Aku berharap…

ia akan memelukku dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Namun kata-kata yang keluar dari mulutnya…

menghancurkan hatiku.

“Apa kamu sudah gila?” katanya dingin.

“Memangnya aku lembaga amal?”

“Aku mau bersamamu karena kamu seorang miliarder.”

“Sekarang kamu ingin aku ikut menanggung semua utangmu?”

“Lupakan saja!”

“Mulai hari ini kita putus!”

“Aku tidak akan mendapatkan apa pun dari seorang pengemis miskin sepertimu!”

Ia mendorongku dengan keras.

Tubuhku terjatuh ke genangan lumpur di pinggir jalan.

“Cedric…” tanyaku sambil menangis di bawah hujan.

“Bukankah dulu kamu bilang mencintaiku?”

Ia justru tertawa mengejek.

“Cinta?” katanya sinis.

“Cinta tidak ada gunanya kalau tidak punya uang!”

“Satpam!”

“Usir sampah ini dari depan gedung!”



“Kalau masih membandel, laporkan saja ke polisi karena masuk tanpa izin!”

Beberapa satpam segera berlari mendekat atas perintah Cedric. Tubuhku yang gemetar karena dingin dan hancur karena pengkhianatan hampir saja diseret dengan kasar. Di dalam hatiku, luka itu tergores sangat dalam, namun seiring dengan air mata yang membasahi pipi, rasa sakit itu perlahan berubah menjadi ketegasan yang dingin.

Aku mencatat setiap wajah yang telah menghinaku hari ini.

Namun, sebelum tangan para satpam itu menyentuh pakaian compang-campingku, sebuah motor matic tua berhenti mendadak di tepi trotoar. Seorang pria muda berpakaian jaket ojek online yang basah kuyup langsung melompat turun dan pasang badan di depanku.

“Stop! Jangan kasar pada wanita!” teriak kurir itu dengan lantang. Ia menghalangi para satpam dengan tubuhnya sendiri.

Cedric mendengus jijik. “Heh, kurir miskin. Jangan ikut campur! Dia itu pengemis gila yang mau memeras saya. Usir mereka berdua!”

Kurir itu tidak gentar. Ia berbalik, mengabaikan makian Cedric, lalu berlutut di depanku. Dengan mata yang memancarkan ketulusan, ia melepaskan jaket ojek onlinenya yang kering di bagian dalam, lalu menyelimutkannya ke bahuku yang menggigil.

“Mbak, tidak apa-apa? Mari saya bantu berdiri,” katanya lembut, sama sekali tidak peduli dengan lumpur yang mengotori wajah dan pakaianku.

Ia membantuku berdiri dengan sangat sopan, lalu menoleh ke arah Cedric dengan tatapan geram. “Uang memang bisa dibeli dengan kerja keras, Tuan. Tapi harga diri dan kemanusiaan tidak ada tokonya. Kalau tidak mau membantu, minimal jangan menginjak sesama manusia!”

Cedric tertawa terbahak-bahak. “Bagus! Pecundang menolong gelandangan. Cocok sekali! Silakan bawa sampah ini pergi dari hadapanku!” Dengan angkuh, Cedric masuk ke dalam mobil mewahnya dan melesat pergi, mencipratkan sisa air hujan ke arah kami.

KETULUSAN DI BALIK KEMISKIKAN

Kurir itu menghela napas panjang, lalu tersenyum hangat padaku. “Nama saya Leo, Mbak. Rumah saya tidak jauh dari sini. Kalau Mbak tidak keberatan, Mbak bisa berteduh dan membersihkan diri di sana. Ibu saya pasti senang membantumu.”

Hari itu, aku menerima uluran tangannya. Leo membawaku ke rumah kontrakannya yang sangat kecil namun sangat bersih. Di sana, ibunya yang sudah tua menyambutku tanpa prasangka. Mereka memberiku pakaian layak, menyuguhkanku secangkir teh hangat, dan sepiring nasi goreng sederhana.

“Makanlah yang banyak, Nak. Hidup di kota ini memang keras, tapi Tuhan tidak pernah tidur,” ucap ibu Leo sambil mengusap rambutku dengan kasih sayang seorang ibu—sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan.

Sambil memakan nasi goreng itu, aku bertanya kepada Leo, “Leo, hidupmu sendiri sudah sulit. Kenapa kamu mau menolong orang asing yang kotor dan tidak punya apa-apa sepertiku?”

Leo tersenyum tulus sambil merapikan paket-paket yang harus diantarnya besok. “Mbak, ayah saya dulu selalu berpesan: jangan pernah menolong orang karena melihat siapa mereka, tapi tolonglah karena kita tahu rasanya saat tidak punya siapa-siapa. Saya tidak punya banyak uang, tapi selagi saya punya tenaga, saya akan bantu.”

Mendengar kalimat itu, hatiku yang sempat beku oleh pengkhianatan Cedric seketika mencair. Aku tahu, ujianku telah selesai. Dan aku telah menemukan berlian di dalam lumpur.

“Leo, bisakah besok pagi jam sembilan kamu mengantarkan paket terakhirmu ke Gedung Crestwood Empire? Aku ingin memberikan sesuatu sebagai rasa terima kasih,” tanyaku tenang.

Leo sempat ragu, namun akhirnya mengangguk. “Tentu, Mbak. Kebetulan rute antar saya besok melewati daerah sana.”

BALAS DENDAM DAN REZEKI YANG TERTUKAR

Keesokan harinya, pukul 09.00 WIB.

Gedung utama Crestwood Empire tampak sangat sibuk. Hari itu, perusahaanku menjadwalkan penandatanganan kontrak investasi besar dengan PT Sanjaya, di mana Cedric menjabat sebagai Manajer Utama yang sangat berharap mendapatkan proyek ini untuk menyelamatkan kariernya.

Cedric berdiri di lobi dengan setelan jas mahalnya, tampak cemas menanti kedatangan sang CEO misterius yang rumornya bangkrut namun ternyata baru saja melakukan restrukturisasi besar-besaran.

Tiba-tiba, Leo masuk ke dalam lobi dengan jaket ojek onlinenya yang agak kusam. Ia tampak kebingungan mencari alamat penerima paket.

Begitu melihat Leo, wajah Cedric langsung mengeras. Ia menghampiri Leo dan menepis paket di tangan Leo hingga terjatuh. “Hei! Kurir miskin! Sedang apa kamu di sini? Ini gedung elite, bukan tempat sampah untuk orang-orang sepertimu!”

“Tuan, saya hanya ingin mengantarkan paket untuk seseorang bernama Cassandra…” kata Leo mencoba membela diri.

“Cassandra? Hahaha! Pengemis gila kemarin?” Cedric tertawa puas. “Dia membohongimu! Dia sudah jadi gelandangan! Satpam, tendang kurir ini keluar!”

“Siapa yang mau kamu tendang keluar, Cedric?!”

Sebuah suara dingin dan penuh wibawa menggema dari arah lift pribadi VIP.

Semua orang di lobi langsung membungkuk hormat. Dari dalam lift, melangkah keluar seorang wanita dengan gaun desainer papan atas berwarna hitam, mengenakan perhiasan berlian yang berkilau, dan dikawal oleh sepuluh pengawal berbadan tegap. Wajahnya bersih, rambutnya disanggul rapi, dan matanya memancarkan otoritas mutlak seorang miliarder.

Itu adalah aku. Cassandra, CEO Crestwood Empire.

Cedric membeku. Jantungnya seakan copot dari tempatnya. “Ca… Cassandra?! Kamu… bagaimana mungkin… berita kebangkrutan itu…”

Aku berjalan melewati Cedric seolah-olah dia hanyalah sebutir debu yang tidak berharga. Aku melangkah langsung ke arah Leo yang terpaku kebingungan.

“Selamat pagi, Leo,” kataku dengan senyuman paling manis yang pernah kupunya.

“M-Mbak… Mbak pengemis yang kemarin?” tanya Leo dengan mata terbelalak, hampir tidak mempercayai penglihatannya.

“Namaku Cassandra, Leo. Dan berita kebangkrutan itu hanyalah ujian yang sengaja kubuat untuk menyaring orang-orang bermuka dua di hidupku,” jawabku tegas, lalu menoleh ke arah asisten pribadiku yang berdiri di belakang. “Bawa kemari dokumennya.”

Asistenku menyerahkan sebuah map kulit eksklusif. Aku membuka map tersebut dan menyerahkannya langsung ke tangan Leo yang gemetar.

“Leo, atas ketulusan hatimu dan ibumu kemarin, hari ini aku menyerahkan 51% saham anak perusahaan Crestwood Media, sebuah rumah dinas mewah di kawasan elite, dan dana investasi tunai senilai 50 miliar rupiah atas namamu. Mulai hari ini, kamu bukan lagi seorang kurir. Kamu adalah mitra bisnis utamaku.”

Leo hampir pingsan di tempat. “Mbak… ini… ini terlalu banyak. Saya tidak bisa menerimanya!”

“Kamu layak menerimanya, Leo. Kamu menyelamatkan harga diriku saat dunia mencampakkanku,” kataku sambil menggenggam tangannya yang jujur.

Melihat hal itu, Cedric langsung menjatuhkan dirinya berlutut di lantai. Ia merangkak mendekatiku dengan wajah memelas dan air mata yang mulai bercucuran. “Cassandra! Maafkan aku! Aku khilaf kemarin! Aku bersumpah aku masih mencintaimu! Tolong beri aku kesempatan kedua!”

Aku menatapnya dari atas dengan pandangan paling dingin yang pernah ada.

“Cedric, kamu bilang kemarin cinta tidak ada gunanya kalau tidak punya uang. Sekarang, aku punya seluruh uang di dunia ini, tapi tidak sedikit pun akan kugunakan untuk orang sepertimu. Hari ini juga, investasi dengan PT Sanjaya dibatalkan. Dan aku pastikan, namamu akan masuk daftar hitam di seluruh jaringan bisnis Asia.”

Aku memberi isyarat kepada para pengawal. Dengan kasar, Cedric diseret keluar dari lobi gedung, menangis histeris meratapi kebodohannya yang telah membuang seorang miliarder demi kesombongan sesaat.

Aku berbalik ke arah Leo dan tersenyum. “Mari, Leo. Masa depan barumu sudah menunggu di dalam.”

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.