Posted in

Dua Tahun Aku Buta, Tetapi Saat Penglihatanku Kembali, Dunia Ini Hancur Karena Hal Pertama yang Kulihat**

Dua Tahun Aku Buta, Tetapi Saat Penglihatanku Kembali, Dunia Ini Hancur Karena Hal Pertama yang Kulihat**

Namaku Clara, 28 tahun. Dua tahun yang lalu, aku mengalami kecelakaan dalam kebakaran di kantor kami. Aku berhasil menyelamatkan diri, tetapi karena asap tebal dan bahan kimia beracun, penglihatanku rusak. Dokter menyatakan bahwa aku mengalami kebutaan total.

Duniaku runtuh. Namun di tengah kegelapan itu, ada satu orang yang menjadi cahaya sekaligus penuntunku—suamiku, Marco. Marco mengambil alih semua tanggung jawab. Dialah yang bekerja, merawatku, dan selalu menguatkanku setiap kali aku ingin menyerah. Ia terus berkata bahwa apa pun yang terjadi, ia tidak akan pernah meninggalkanku.

Agar ada yang menjagaku saat ia bekerja, Marco mengajak sepupunya yang lebih muda, Stella, datang dari kampung halaman. Stella menjadi mata dan tanganku di rumah. Ia baik hati, selalu berbicara dengan lembut, dan sering menceritakan keadaan di luar rumah yang sudah lama tidak bisa kulihat.

Setiap hari, aku bersyukur kepada Tuhan karena merasa memiliki suami yang penuh kasih dan seorang sepupu yang setia.

### Keajaiban dan Operasi Rahasia

Namun, ada satu rahasia yang kusimpan dari Marco. Sebelum kecelakaan itu terjadi, aku adalah seorang arsitek terkenal dan memiliki dana perwalian bernilai miliaran rupiah yang diwariskan oleh almarhum ayahku. Aku menggunakan uang itu untuk membayar seorang dokter spesialis mata ternama dari Amerika Serikat yang diam-diam memeriksa kondisiku setiap kali aku mengatakan bahwa aku akan menjalani terapi.

Sebulan yang lalu, aku menjalani operasi yang sangat rumit. Aku merahasiakannya dari Marco dan Stella karena ingin memberi mereka kejutan. Aku ingin orang pertama yang kulihat saat penglihatanku kembali adalah pria yang selama ini kukira telah mengorbankan segalanya demi diriku.

“Operasinya berhasil, Clara,” kata dokternya sambil perlahan membuka perban di mataku. “Tetapi kamu tetap harus berhati-hati. Jangan dulu terlalu lama terkena cahaya yang terang.”

Saat perlahan membuka mata, semuanya tampak buram, lalu sedikit demi sedikit menjadi jelas. Aku bisa melihat lagi! Air mata kebahagiaan langsung mengalir. Aku tak sabar ingin pulang dan memeluk Marco.

### Pulang ke Rumah Penuh Kebohongan

Aku tidak meminta sopir menjemput. Aku naik taksi dan turun tepat di depan rumah kami. Aku mengenakan kacamata hitam agar mataku tidak terlalu silau sekaligus supaya mereka tidak langsung menyadari bahwa aku sudah bisa melihat.

Perlahan kubuka pintu utama. Ruang tamu begitu sunyi. Aroma rumah yang selama ini hanya bisa kurasakan kini kembali disertai pemandangan warna dinding dan perabotan yang akhirnya bisa kulihat lagi.

Aku berjalan menuju kamar kami. Pintunya terbuka sedikit. Aku hendak masuk sambil meneriakkan kabar bahagia itu…

Namun, jantungku seakan berhenti berdetak.

Di dalam kamar kami, tepat di atas ranjang tempat Marco dan aku biasa tidur, kulihat sebuah pemandangan yang menghancurkan seluruh hidupku.

Marco sedang berbaring. Dan di atas dadanya, menciumnya dengan penuh gairah, tidak lain adalah Stella. Sepupunya sendiri! Wanita yang selama ini kukira dengan tulus merawatku!



“Sayang, sebenarnya kapan kita bisa menyingkirkan istrimu yang cuma jadi beban itu?” goda Stella manja sambil membelai rambut Marco…

“Tenang saja, Stella,” jawab Marco dengan nada suara yang selama ini kukira penuh kehangatan, namun kini terdengar begitu menjijikkan. Ia memeluk pinggang Stella dan mengecup bibirnya sekilas.

“Semua aset warisan ayahnya sebentar lagi akan jatuh ke tanganku. Dokumen pengalihan kuasanya sudah siap, tinggal menunggu dia cap jempol secara buta minggu depan. Setelah uang itu cair, kita akan kirim si buta itu ke panti asuhan di luar kota, dan kita bisa menikah.”

Stella tertawa kegirangan, menyandarkan kepalanya di dada suamiku—dada yang selama dua tahun ini menjadi tempatku bersandar di kala takut akan kegelapan.

Duniaku runtuh seketika. Dua tahun dalam kegelapan, aku mengira aku dikelilingi oleh malaikat pelindung, namun ternyata aku sedang hidup bersama dua iblis yang paling keji. Rasa sakit yang luar biasa menghujam dadaku, memicu sesak yang membuatku ingin berteriak.

Namun, sebagai wanita yang pernah menghadapi kobaran api, aku menolak untuk hancur di tangan mereka. Aku menarik napas dalam-dalam, menelan seluruh air mata dan amarahku, lalu memundurkan langkah dengan senyap.

Mereka mengira aku buta dan tak berdaya. Baik, aku akan memainkan peran itu untuk terakhir kalinya.

PERMAINAN DI BALIK KACAMATA HITAM

Aku berjalan kembali ke ruang tamu, menutup pintu depan dengan agak keras agar mereka mendengar kedatanganku, lalu mengetukkan tongkat jalanku ke lantai.

“Marco? Stella? Aku pulang,” panggilku dengan suara yang sengaja kubuat lemah dan gemetar.

Seketika terdengar suara grasak-grusuk panik dari dalam kamar. Hanya dalam hitungan detik, Stella berlari keluar sambil merapikan pakaiannya yang berantakan, disusul oleh Marco yang langsung memasang wajah penuh perhatian yang palsu.

“Clara! Sayang, kamu sudah pulang dari terapi?” Marco langsung memelukku. Aroma tubuhnya kini terasa begitu memuakkan karena bercampur dengan parfum Stella. “Kenapa tidak minta jemput? Aku sangat mengkhawatirkanmu.”

“Tidak apa-apa, Marco. Aku hanya rindu rumah,” jawabku datar dari balik kacamata hitamku. Di balik lensa gelap itu, mataku menatap tajam ke arah Stella yang sedang tersenyum mengejek ke arahku, mengira aku tidak tahu apa-apa.

“Kak Clara pasti lelah. Biar Stella buatkan minum, ya?” kata Stella dengan suara lembut yang kini terdengar seperti desisan ular di telingaku.

“Terima kasih, Stella. Kamu memang sepupu yang sangat… setia,” ujarku menekankan kata terakhir.

Malam itu, aku berpura-pura tidur lebih awal. Begitu memastikan kedua pengkhianat itu telah terlelap di kamar tamu bawah, aku segera bangkit. Aku tidak lagi membutuhkan tongkat. Dengan langkah pasti dan penglihatan yang tajam, aku menggeledah ruang kerja Marco.

Di dalam laci meja kerjanya yang terkunci—yang kuncinya dengan mudah kutemukan di gantungan bajunya—aku menemukan berkas pengalihan aset warisan ayahku. Benar saja, mereka telah memalsukan dokumen paspor, identitas, dan membuat surat kuasa mutlak yang hanya membutuhkan cap jempolku.

Aku tersenyum dingin. Aku mengambil ponsel pribadiku yang selama dua tahun ini jarang kugunakan, lalu menghubungi pengacara keluarga ayahku serta detektif swasta terbaik.

“Siapkan persidangan dan bawa tim audit forensik. Aku punya mangsa yang siap dijebloskan ke neraka,” bisikku ke seberang telepon.

HANCURNYA DUNIA SANG PENGKHIANAT

Satu minggu kemudian.

Hari yang dinanti-nanti oleh Marco dan Stella akhirnya tiba. Marco mengundang seorang oknum notaris gadungan ke rumah untuk melancarkan aksi penipuan mereka.

“Sayang,” kata Marco lembut sambil menaruh selembar kertas di atas meja makan. “Ini adalah dokumen perpanjangan asuransi kesehatanmu. Kamu hanya perlu menempelkan cap jempolmu di sebelah sini. Biar Stella yang mengarahkan tanganmu.”

Stella mendekat dengan senyum kemenangan yang tak lagi disembunyikannya, memegang tangan kananku dengan kasar, lalu menekankan jempolku ke bantalan tinta instan. “Ayo, Kak Clara, pelan-pelan ya… Nah, sekarang tempelkan di sini.”

Tepat saat jempolku berada satu sentimeter di atas kertas, aku menarik tanganku kembali dengan sentakan kuat.

Stella terkejut. “Kak Clara? Kenapa?”

Aku tidak menjawab. Perlahan, aku mengangkat kedua tanganku, membuka kacamata hitam yang selama seminggu ini menutupi mataku, lalu melemparkannya ke atas meja. Aku mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata Marco dan Stella dengan pandangan yang begitu tajam, jernih, dan penuh dengan kilatan amarah yang mematikan.

“Maaf, Marco. Sepertinya kontras cahayanya kurang pas untuk dokumen palsu ini,” kataku dengan suara yang tenang namun dingin mematikan.

Marco mematung. Wajahnya seketika memucat. “Clara… ma-matamu… kamu bisa melihat?!”

Stella mundur selangkah, tangannya gemetar hebat. “Ti-tidak mungkin! Dokter bilang kamu buta permanen!”

“Aku bisa melihat, Stella. Aku bisa melihat segalanya,” ujarku sambil berdiri dengan anggun. “Aku melihat bagaimana kamu mencium suamiku di atas ranjangku. Aku mendengar bagaimana kalian berencana membuangku ke panti asuhan setelah merampok harta ayahku!”

“Clara! Ini salah paham! Aku bisa jelaskan!” Marco panik, ia mencoba meraih tanganku, namun aku menepisnya dengan kasar hingga ia tersungkur ke lantai.

“Belum cukup, Marco?” tanyaku sinis. “Mari kita bicarakan tentang kebakaran kantor dua tahun lalu. Tim detektifku baru saja menemukan bukti baru bahwa sabotase bahan kimia malam itu… direncanakan olehmu agar aku lumpuh atau buta, sehingga kamu bisa menguasai dana perwalianku!”

Mendengar hal itu, lutut Marco lemas. Ia bersujud di lantai, sementara Stella menangis histeris, menyadari bahwa taktik busuk mereka telah terbongkar total.

BRAK!

Pintu depan rumah didobrak paksa. Sembilan petugas kepolisian bersama dengan pengacara keluargaku masuk ke dalam rumah.

“Terdakwa Marco dan Stella, Anda ditahan atas pasal percobaan pembunuhan berencana, pemalsuan dokumen publik, dan percobaan penipuan berat,” tegas perwira polisi sambil memasangkan borgol besi ke pergelangan tangan mereka berdua.

Saat mereka diseret keluar menuju mobil tahanan di bawah guyuran hujan, Marco terus berteriak memohon ampun padaku. “Clara! Maafkan aku! Aku suamimu, Clara! Tolong cabut gugatanmu!”

Aku berdiri di ambang pintu, menatap mereka yang kini basah kuyup dan terhina di depan para tetangga yang menonton.

“Dua tahun lalu, duniaku hancur karena kegelapan,” kataku lantang, suaraku mengalahkan suara rintik hujan. “Namun hari ini, di bawah cahaya yang terang, duniaku kembali tegak… dan duniamulah yang hancur berkeping-keping di balik jeruji besi.”

Aku menutup pintu rumah rapat-rapat. Kegelapan telah berlalu, dan kini, akulah penguasa tunggal atas hidup dan masa depanku sendiri.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.