KETIKA TEKNISI MEMPERBAIKI AC, DIA MENEMUKAN SESUATU DI DALAM PLAFON KAMAR TIDUR KAMI… SEBUAH TAS TANGAN WANITA YANG TIDAK PERNAH KUKENAL. AKU LANGSUNG CURIGA SUAMIKU PUNYA “WANITA SIMPANAN”. TAPI SAAT TAS ITU DIBUKA, TERUNGKAPLAH KENYATAAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN RAHASIA LAMA MILIK IBU MERTUAKU.**
Belakangan ini aku merasa kamar tidur kami terasa aneh. AC memang menyala, tetapi udara yang keluar hanya terasa hangat. Akhirnya aku memutuskan memanggil seorang teknisi untuk memeriksanya.
Nama teknisi itu Rian. Tubuhnya kurus dan wajahnya tampak ramah. Sambil berdiri di atas tangga aluminium dan membuka penutup AC, ia bertanya,
— Sudah berapa lama AC ini dipakai, Bu?
— Kurang lebih lima tahun. Tapi akhir-akhir ini rasanya semakin tidak dingin.
Rian menyorotkan senter ke dalam plafon. Tiba-tiba dahinya berkerut.
— Wah… ada sesuatu yang aneh di dalam sini, Bu.
Jantungku langsung berdegup kencang.
— Aneh? Maksudnya apa?
Rian memasukkan tangannya ke celah antara plafon dan unit AC, seolah sedang meraih sesuatu. Beberapa detik kemudian, ia meletakkannya di atas tempat tidur.
Sebuah tas tangan wanita berwarna merah marun.
Aku seperti disambar petir saat melihatnya. Tas itu tampak mahal dan elegan—jelas bukan seleraku. Lututku mendadak lemas.
— Mungkin tertinggal waktu ada orang memperbaiki plafon dulu? — tebak Rian.
Namun sejak aku menikah dan pindah ke rumah ini di Jakarta, kamar tidur kami belum pernah direnovasi sama sekali.
Tas itu tergeletak di atas tempat tidur, seolah menantangku untuk menghadapi sebuah kenyataan.
Setelah selesai memperbaiki AC, Rian pun pamit. Sebelum pergi, ia masih sempat berkata,
— Menurut saya, sebaiknya Ibu tanyakan kepada anggota keluarga yang lain. Sepertinya tas ini belum terlalu lama disimpan di sini.
Aku menutup pintu kamar. Tanganku gemetar saat mengambil tas itu.
Bagian luarnya bahkan tidak berdebu. Itu berarti… tas ini baru saja disembunyikan di sana belum lama ini.
Pikiranku langsung tertuju pada suamiku.

Kamar ini hanya kami berdua yang menempatinya. Kalau memang ada wanita lain yang pernah masuk ke sini…
aku tidak tahu apakah aku sanggup menerimanya.
Dari lantai bawah, aku bisa mendengar ibu mertuaku, Bu Lourdes, sedang sibuk menyiapkan makan malam. Sementara itu, suamiku, Marco, sedang melakukan perjalanan dinas ke Surabaya dan baru akan pulang besok malam.
Aku menarik napas panjang.
Perlahan-lahan aku memegang ritsleting tas itu…
Perlahan-lahan aku memegang ritsleting tas itu, menahan napas sejenak, lalu menariknya perlahan. Sreet…
Di dalamnya tidak ada kosmetik, parfum, atau barang-barang khas wanita simpanan seperti yang kutakutkan. Hanya ada selembar amplop cokelat besar yang sudah agak menguning di bagian ujungnya, sebuah buku tabungan bank lama atas nama orang lain, dan sebuah gantungan kunci berbentuk logo sebuah panti asuhan di daerah Jawa Tengah.
Aku membuka amplop cokelat itu. Jantungku berdegup kencang saat mengeluarkan isinya: tumpukan surat kontrak adopsi anak, foto seorang bayi laki-laki yang baru lahir, dan secarik surat pernyataan bersertifikasi hukum dari 30 tahun lalu.
Aku membaca surat kontrak adopsi itu. Nama bayinya tertulis: Marco.
Namun, nama ibu kandung yang melepaskan hak asuhnya bukanlah Ibu Lourdes. Nama yang tertera di sana adalah Ratih Saraswati. Dan yang membuat duniaku serasa berputar adalah nama pihak kedua yang mengadopsi bayi itu: Lourdes & Mendiang Suaminya.
Tiba-tiba, dari arah pintu kamar yang terbuka sedikit, terdengar suara gelas pecah. PRANK!
Aku tersentak dan langsung menoleh. Ibu Lourdes berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat pasi, matanya menatap tas merah marun di atas tempat tidur dengan tatapan horor yang amat sangat. Di dekat kakinya, genangan air putih dan pecahan gelas berserakan.
“Liza… d-dari mana kamu menemukan tas itu?” suara Ibu Lourdes bergetar hebat. Beliau melangkah masuk, lalu menutup pintu kamar dengan rapat, seolah takut ada dinding yang menguping.
Rahasia 30 Tahun Lalu
Ibu Lourdes terduduk di tepi ranjang, air matanya luruh. Sambil memeluk tas merah marun itu, beliau akhirnya menceritakan kenyataan yang selama ini terkunci rapat.
“Tas ini milik Ratih, sahabat karib Ibu dulu,” bisik Ibu Lourdes lirih. “Dan Ratih… adalah ibu kandung Marco yang sebenarnya.”
Tiga puluh tahun lalu, Ibu Lourdes divonis mandul dan tidak bisa memberikan keturunan bagi suaminya. Di saat yang sama, Ratih, sahabatnya yang bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan, hamil akibat hubungan gelap dengan bosnya yang sudah beristri. Pria itu menolak bertanggung jawab dan mengancam akan menghancurkan hidup Ratih jika rahasia itu terbongkar.
“Ratih frustrasi dan berniat menggugurkan kandungannya. Ibu tidak tega. Akhirnya, kami membuat perjanjian. Ibu membiayai seluruh persalinannya secara sembunyi-sembunyi, dan setelah Marco lahir, Ratih menyerahkannya kepada Ibu untuk dirawat sebagai anak kandung,” cerita Ibu Lourdes dengan suara serak.
“Lalu, kenapa tas ini disembunyikan di atas plafon kamar kami, Bu? Dan kenapa baru-baru ini?” tanyaku, masih berusaha mencerna semuanya.
Ibu Lourdes menatapku dengan mata sembap. “Karena dua bulan lalu, sebelum Marco pergi dinas ke luar kota untuk pertama kalinya tahun ini, Ratih datang ke Jakarta. Dia menderita kanker stadium akhir. Dia tahu umurnya tidak lama lagi, dan keinginan terakhirnya hanyalah melihat Marco dari jauh.”
Ratih datang ke rumah ini saat aku sedang bekerja. Dia memberikan tas merah marun miliknya yang berisi dokumen-dokumen asli kelahiran Marco kepada Ibu Lourdes. Ratih tidak ingin menuntut apa pun, dia hanya ingin dokumen itu disimpan oleh Ibu Lourdes sebagai bukti sejarah hidup anaknya.
“Ibu panik, Liza. Ibu takut sekali kalau Marco atau kamu tidak sengaja menemukan dokumen ini di kamar Ibu. Ibu takut Marco membenci Ibu jika tahu dia bukan anak kandungku. Karena panik dan terdesak, saat kalian berdua sedang pergi akhir pekan lalu, Ibu nekat memanjat kursi di kamarmu dan menyembunyikannya di dalam celah plafon dekat AC. Ibu pikir, kamar ini adalah tempat yang paling aman karena tidak pernah kalian utak-atik,” aku Ibu Lourdes sambil menggenggam tanganku, memohon pengertian.
Akhir yang Melegakan
Rasa curiga dan cemburu yang sempat membakar dadaku seketika sirna, digantikan oleh rasa iba yang mendalam. Wanita simpanan yang kutakutkan tidak pernah ada. Yang ada hanyalah ketakutan seorang ibu tua yang rapuh akan kehilangan kasih sayang anak laki-laki satu-satunya.
Aku memeluk Ibu Lourdes erat. “Ibu… Marco sangat menyayangi Ibu. Ibu yang merawatnya, mendidiknya, dan ada untuknya selama 30 tahun ini. Darah mungkin mengalir dari orang lain, tapi Ibu adalah satu-satunya ibu kandung di hatinya.”
Malam itu, kami berdua sepakat. Rahasia ini akan tetap menjadi rahasia kami berdua, setidaknya sampai waktu yang tepat tiba. Kami membersihkan pecahan gelas, menyimpan kembali dokumen itu ke tempat yang benar-benar aman di luar rumah, dan melanjutkan makan malam seolah tidak terjadi apa-apa.
Besok malam, Marco akan pulang dari Surabaya. Dan saat aku melihat wajah suamiku nanti, aku tahu aku akan memeluknya lebih erat dari biasanya—bukan karena bersyukur dia tidak berselingkuh, melainkan karena tahu betapa beruntungnya dia dibesarkan oleh seorang ibu yang amat sangat mencintainya.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.