Posted in

SETIAP KALI SUAMINYA PULANG DARI PERJALANAN DINAS, DIA SELALU MELIHAT ISTRINYA SEDANG MENCUCI SELIMUT DAN SEPRAI DENGAN SANGAT TELITI. DILIPUTI RASA CURIGA, DIAM-DIAM IA MEMASANG KAMERA DI KAMAR… NAMUN APA YANG DITEMUKANNYA ADALAH SEBUAH KENYATAAN MENYAKITKAN YANG MEMBUATNYA SANGAT MALU.**

SETIAP KALI SUAMINYA PULANG DARI PERJALANAN DINAS, DIA SELALU MELIHAT ISTRINYA SEDANG MENCUCI SELIMUT DAN SEPRAI DENGAN SANGAT TELITI. DILIPUTI RASA CURIGA, DIAM-DIAM IA MEMASANG KAMERA DI KAMAR… NAMUN APA YANG DITEMUKANNYA ADALAH SEBUAH KENYATAAN MENYAKITKAN YANG MEMBUATNYA SANGAT MALU.**

Setelah dipromosikan menjadi Regional Manager di sebuah perusahaan konstruksi di Jakarta, Daniel Cruz harus sering bepergian untuk urusan pekerjaan.

Awalnya hanya beberapa hari.

Namun lama-kelamaan berubah menjadi beberapa minggu, bahkan terkadang hampir setengah bulan ia tidak pulang ke rumah.

Setiap kali menyiapkan koper dan berpamitan dari rumah kecil mereka yang tenang di pinggiran kota, istrinya—Maria Cruz—selalu mengantarnya sampai ke depan pintu.

Dengan senyuman hangat dan pelukan penuh kasih.

Maria tidak pernah mengeluh.

Tidak pula mengucapkan sepatah kata pun yang menunjukkan penyesalan.

Namun ada satu hal yang perlahan mulai mengusik pikiran Daniel.

Setiap kali ia pulang, ia selalu melihat Maria sedang mencuci seprai dan selimut tempat tidur mereka, padahal tempat tidurnya tampak rapi, bersih, dan harum oleh pelembut pakaian.

Suatu hari, sambil bercanda Daniel bertanya,

“Sepertinya kamu benar-benar terobsesi dengan kebersihan, ya. Aku pergi seminggu, tapi tempat tidur ini kan kelihatannya bahkan tidak dipakai.”

Maria tersenyum tipis sambil menundukkan kepala.

“Akhir-akhir ini aku agak susah tidur… jadi aku suka ganti seprai supaya lebih nyaman. Lagipula… sudah agak kotor.”

“Kotor?” batin Daniel.

Siapa yang mengotorinya?

Bukankah selama itu dia tidak ada di rumah?

Kecurigaan perlahan merayap ke dalam hatinya, seperti angin dingin yang datang sebelum musim hujan.

Malam itu Daniel tidak bisa memejamkan mata.

Berbagai kemungkinan buruk terus berputar di kepalanya.

Apakah ada pria lain yang datang ke rumah saat dirinya pergi?

Keesokan harinya, ia membeli sebuah kamera kecil dan diam-diam memasangnya di rak buku yang menghadap langsung ke tempat tidur.

Ia berbohong kepada istrinya bahwa ia harus terbang ke Surabaya untuk menghadiri rapat selama sepuluh hari.

Padahal kenyataannya, ia hanya menyewa sebuah kamar kecil tidak jauh dari rumah mereka.



Pada malam kedua, ia membuka rekaman kamera melalui ponselnya.

Telapak tangannya langsung terasa dingin.

Di layar terlihat kamar tidur mereka yang gelap, hanya diterangi cahaya redup dari lampu tidur di samping ranjang.

Pukul 22.30 malam.

Perlahan pintu kamar terbuka.

Maria masuk sambil memeluk sesuatu erat di dadanya.

Napas Daniel seketika tertahan.

Sekilas ia mengira benda itu hanyalah sebuah bantal…

Namun ketika Maria meletakkannya di atas tempat tidur, barulah Daniel menyadari bahwa benda itu adalah…

…sebuah baju kemeja miliknya—kemeja biru tua yang sengaja Daniel tinggalkan di keranjang baju kotor sebelum pergi.

Napas Daniel yang sempat tertahan perlahan berembus keluar, namun digantikan oleh rasa sesak yang jauh lebih menghimpit di dadanya.

Di layar ponsel itu, Daniel menyaksikan Maria naik ke atas ranjang. Istrinya tidak tidur dengan posisi normal. Dia meringkuk erat seperti janin, memeluk kemeja kotor Daniel di dadanya, dan membenamkan wajahnya dalam-dalam ke kerah baju tersebut. Bahu Maria mulai bergetar hebat. Dia menangis tersedu-sedu, meratapi kesunyian rumah yang begitu luas dan hampa tanpa kehadiran suaminya.

Setiap kali kilatan lampu dari ponsel Daniel menyala di layar, ia bisa melihat betapa tersiksanya Maria oleh rasa kesepian. Karena tidak bisa tidur akibat serangan kecemasan (anxiety) setiap kali ditinggal sendirian, Maria melumuri wajah dan tubuhnya dengan air mata, keringat dingin, dan air liur saat ia menangis histeris hingga tertidur kelelahan sembari memeluk pakaian Daniel demi mencari sisa-sisa aroma tubuh suaminya.

Itulah alasan mengapa seprai dan selimut itu selalu basah dan kotor oleh peluh serta air mata kerinduan. Itulah mengapa Maria selalu mencucinya dengan sangat teliti setiap kali Daniel akan pulang—karena ia tidak ingin Daniel melihat jejak-jejak kerapuhan, kesedihan, dan penderitaan mental yang ia lalui sendirian selama berminggu-minggu demi mendukung karier sang suami.

Rasa Malu yang Mendalam

Daniel menurunkan ponselnya. Air matanya menetes tanpa bisa dibendung.

Dinding kamar sewaannya yang sempit mendadak terasa runtuh menimpanya. Dia merasa sangat bodoh, egois, dan teramat malu. Saat istrinya berjuang melawan depresi dan kesepian akut di rumah dalam diam demi menjaga senyum di wajahnya, Daniel justru meragukan kesetiaannya. Dia telah mengotori ketulusan Maria dengan tuduhan keji di dalam pikirannya sendiri.

Tanpa membuang waktu, Daniel langsung mengemas tasnya. Dia keluar dari kamar sewaan itu, memacu mobilnya membelah malam yang pekat, kembali ke rumah mereka.

Pukul satu dini hari, Daniel membuka pintu depan dengan kunci cadangan. Dia melangkah tanpa suara menuju kamar tidur mereka.

Saat pintu kamar dibuka, pemandangan di dalam persis seperti yang ada di kamera pantau tadi. Maria tertidur meringkuk dengan sisa air mata di pipinya, masih memeluk erat kemeja biru tua milik Daniel.

Akhir Cerita

Daniel perlahan merangkak naik ke atas ranjang. Ditengah kegelapan, ia menarik tubuh kurus Maria ke dalam pelukannya.

Maria tersentak kaget dan langsung terbangun, matanya yang sembap membelalak tidak percaya. “Daniel? Kamu… bukankah kamu di Surabaya? Kenapa pulang?”

Daniel tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memeluk istrinya dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di leher Maria, dan menangis tersedu-sedu.

“Maafkan aku, Maria… Maafkan aku yang terlalu buta untuk melihat rasa sakitmu,” bisik Daniel parau.

Malam itu, Daniel memutuskan untuk menurunkan egonya. Keesokan harinya, ia mengajukan permohonan kepada pihak perusahaan untuk dipindahkan kembali ke posisi staf kantor pusat agar tidak perlu lagi melakukan perjalanan dinas, meskipun itu berarti gajinya tidak sebesar saat menjadi Regional Manager.

Bagi Daniel, karier dan materi bisa dicari lagi, tetapi ketulusan dan kesehatan mental istri yang teramat mencintainya adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia tukar dengan apa pun di dunia ini. Kamera tersembunyi di rak buku itu segera ia buang, menyisakan sebuah janji baru di dalam hatinya untuk tidak akan pernah membiarkan Maria menangis kesepian lagi.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.