Posted in

DIREBUT ADIK PEREMPUANKU SENDIRI KARENA AKU DIANGGAP “GEMUK” DAN MEMALUKAN—TAPI DI HARI PERNIKAHAN MEREKA, AKU DATANG BERSAMA PRIA YANG PALING DITAKUTI SEMUA ORANG!**

DIREBUT ADIK PEREMPUANKU SENDIRI KARENA AKU DIANGGAP “GEMUK” DAN MEMALUKAN—TAPI DI HARI PERNIKAHAN MEREKA, AKU DATANG BERSAMA PRIA YANG PALING DITAKUTI SEMUA ORANG!**

### **Pengkhianatan di Balik Pintu Tertutup**

Saat aku membuka pintu apartemen Lance, pria yang telah menjadi pacar sekaligus kekasihku selama tiga tahun, duniaku seakan runtuh seketika. Pria yang selama ini kuanggap setia ternyata sedang berbaring di atas ranjang bersama wanita yang masih sedarah denganku—adik kandungku sendiri, Stella.

Mereka sama-sama terdiam saat melihatku.

Namun, tak ada sedikit pun rasa bersalah di wajah Stella. Sebaliknya, ia malah menyunggingkan senyum sinis sambil dengan santai menarik selimut menutupi tubuhnya.

Aku sempat berharap Lance akan meminta maaf, berlutut, lalu menjelaskan semuanya.

Tetapi harapan itu hancur dalam hitungan detik.

Ia hanya berdiri, mengenakan pakaiannya tanpa sedikit pun penyesalan, lalu menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan penuh hinaan.

**”Syukurlah kamu akhirnya tahu juga, Maya,”** katanya dingin. **”Tidak usah menangis atau membuat drama. Coba lihat dirimu di cermin. Kamu gemuk, berpakaian seperti wanita tua, dan sama sekali tidak menarik. Kamu hanya mempermalukanku. Kamu tidak akan pernah cocok dengan dunia maupun keluarga besarku. Stella-lah wanita yang kubutuhkan—cantik, seksi, dan layak kubanggakan di lingkungan kalangan atas.”**

Stella tertawa pelan.

**”Maaf ya, Kak. Kamu memang tidak bisa memberikan apa yang dia inginkan. Terimalah kenyataan kalau kamu kalah.”**

Mataku terasa panas, tetapi aku menahan air mata yang hampir jatuh.

Setiap kata yang mereka ucapkan terasa seperti belati yang menusuk dadaku berkali-kali.

Mereka pasti berharap aku akan mengamuk, memohon, atau bertengkar dengan mereka.

Namun…

Aku tidak mengatakan sepatah kata pun.

Dengan tenang, kulepaskan cincin tunangan berlian yang diberikan Lance sebulan sebelumnya.

Aku meletakkannya perlahan di atas meja kaca.

Aku memandang mereka berdua tanpa menunjukkan emosi sedikit pun, lalu berbalik dan melangkah keluar, meninggalkan mereka yang hanya bisa terpaku melihat ketenanganku.

### **Bangkit dari Kehancuran**

Aku tidak mengurung diri dalam kesedihan.

Rasa sakit malam itu justru kujadikan bahan bakar untuk membangun hidupku kembali.

Aku memutuskan hubungan dengan keluargaku yang membela perbuatan Stella, lalu memusatkan seluruh perhatian pada karierku sebagai **strategi korporat**.

Aku tidak menurunkan berat badan demi menyenangkan mereka.



Aku merawat diriku demi diriku sendiri.

Aku belajar mencintai tubuhku apa adanya, memperbaiki cara berpakaian, dan membangun kembali rasa percaya diriku.

Dalam waktu satu tahun, namaku mulai dikenal di dunia bisnis.

Dan di sanalah aku bertemu dengan **Don Alejandro “Alec” Mercader**.

Alec adalah seorang miliarder sekaligus konglomerat paling berpengaruh di negeri ini.

Hampir tidak ada pebisnis yang berani mencari masalah dengannya karena ketegasannya, pengaruhnya yang luar biasa, dan caranya mengambil keputusan tanpa kompromi.

Namun, di balik reputasinya yang begitu menakutkan, ia melihat sesuatu yang tidak pernah dilihat orang lain dalam diriku.

Ia tidak pernah menilai berat badanku ataupun penampilanku.

Yang ia hargai adalah kecerdasanku, keberanianku, dan prinsip hidupku…

…Hingga akhirnya, hubungan profesional kami berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam. Alec memperlakukanku layaknya seorang ratu, menghargaiku dengan segala kelebihan dan bentuk tubuhku tanpa pernah menuntutku untuk berubah.

Dan hari pembalasan itu pun tiba.

Hari Pernikahan: Panggung Kemewahan yang Palsu

Satu tahun setelah malam pengkhianatan itu, Lance dan Stella menggelar pernikahan megah di ballroom hotel bintang lima termewah di ibu kota. Keluarga besarku hadir dengan angkuh, merasa bangga karena Stella berhasil memikat pewaris tunggal keluarga kaya.

Di tengah riuhnya pesta, gosip tentang ketidakhadiranku mulai berbisik-bisik di antara para tamu.

“Kasihan Maya, pasti dia sedang menangis di pojokan kamar karena kalah saing,” bisik Stella pada ibuku sambil tersenyum kemenangan. Lance yang berdiri di sampingnya tertawa meremehkan. “Wanita gemuk dan membosankan seperti dia memang tidak punya tempat di acara berkelas seperti ini.”

Tepat saat kata-kata hinaan itu keluar dari mulut Lance, pintu ganda ballroom yang besar terbuka lebar.

Seluruh ruangan mendadak hening. Atmosfer di dalam ballroom berubah mencekam dalam hitungan detik. Beberapa pengawal berbadan tegap berjas hitam masuk terlebih dahulu, membuat barisan barikade.

Lalu, melangkah masuklah sepasang kekasih yang langsung menyedot perhatian seluruh orang di ruangan.

Itu aku.

Aku berjalan dengan dagu terangkat dan senyum anggun, mengenakan custom-made emerald gown sutra yang memeluk lekuk tubuhku dengan sangat sempurna. Aku tidak kurus, tetapi aku memancarkan aura kecantikan, kemewahan, dan rasa percaya diri yang begitu mutlak hingga membuat gaun pengantin Stella yang berwarna putih tampak seperti kain murahan.

Namun, bukan penampilanku yang membuat semua orang—termasuk keluarga besar Lance dan investor-investor penting di ruangan itu—menahan napas dan mendadak pucat pasi.

Melainkan pria yang lengannya sedang kupeluk dengan mesra.

Don Alejandro “Alec” Mercader.

Pria yang paling ditakuti dan dihormati di seluruh negeri. Pria yang memegang kendali atas separuh saham industri di kota ini.

Kehancuran Sang Pengkhianat

Langkah kaki kami menggema di ballroom yang sunyi. Ayah Lance, yang menyadari siapa yang datang, langsung berlari kecil menghampiri kami dengan keringat dingin bercucuran di dahinya.

“D-Don Alejandro… Sebuah kehormatan luar biasa Anda berkenan hadir di pernikahan putra kami yang sederhana ini,” ucap ayah Lance dengan suara bergetar, membungkuk penuh hormat.

Alec tidak membalas jabat tangan ayah Lance. Ia hanya menatapnya dingin, lalu melirik ke arah Lance dan Stella yang kini mematung dengan wajah pucat bagai mayat.

“Aku tidak datang untuk pernikahan putramu,” suara berat Alec bergaung, dingin dan penuh penekanan. “Aku datang untuk menemani tunanganku, Maya. Dan untuk memastikan sesuatu.”

Mata Stella membelalak tak percaya. “T-Tunangan?! Kak Maya?!” jeritnya tertahan, kehilangan seluruh keanggunannya.

Lance mencoba melangkah maju, egonya terluka melihat mantan kekasih yang dulu dihujatnya kini bersanding dengan pria yang kekuasaannya berada jauh di atas keluarganya. “Maya… bagaimana bisa kamu…?”

Sebelum Lance menyelesaikan kalimatnya, Alec melangkah satu kali ke depan, menyembunyikan tubuhku di balik badannya yang tegap, menatap Lance dengan tatapan membunuh yang membuat nyali pria itu menciut seketika.

“Jadi, kau pria yang mencampakkan wanita luar biasa ini hanya karena standar dangkalmu?” tanya Alec dengan nada meremehkan yang amat sangat. Alec kemudian menoleh ke arah asisten pribadinya yang berdiri di belakang. “Rendra, batalkan semua kontrak pasokan logistik dan investasi Mercader Group dengan keluarga mereka. Detik ini juga.”

“Baik, Don,” jawab asistennya patuh.

Ayah Lance seketika lemas dan hampir berlutut di lantai. “Don Alejandro, tolong jangan lakukan itu! Bisnis kami bisa bangkrut total!”

“Kalian harusnya mendidik putra kalian agar punya mata dan otak yang bekerja,” ucap Alec tajam tanpa belas kasihan.

Kemenangan Mutlak

Aku melangkah maju, menyejajarkan posisiku dengan Alec. Aku menatap Stella yang mulai menangis ketakutan di hari pernikahannya, lalu beralih menatap Lance yang kini menyadari bahwa keputusannya berselingkuh telah menghancurkan masa depan seluruh keluarganya.

Aku tersenyum manis, senyuman paling tulus yang pernah kuberikan pada mereka.

“Selamat atas pernikahan kalian, Stella, Lance,” kataku lembut, namun setiap kata terdengar seperti vonis mati bagi mereka. “Kalian berdua memang sangat cocok. Pengkhianat dan pencuri… sama-sama tidak punya harga diri.”

Aku tidak menunggu jawaban mereka. Aku berbalik, memeluk lengan Alec yang langsung menatapku dengan tatapan penuh kehangatan—tatapan yang hanya ia berikan khusus untukku.

Kami berjalan keluar dari ballroom mewah itu, meninggalkan drama kehancuran yang baru saja dimulai bagi mereka. Saat pintu ballroom tertutup di belakang kami, aku tahu satu hal: aku tidak hanya berhasil membalas dendam, tetapi aku telah memenangkan hidupku kembali dengan menjadi diriku yang seutuhnya.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.