Posted in

Karena Aku Rela Jalan Kaki Demi Menghemat Ongkos Rp20.000, Aku Memergoki Pacarku yang Pura-Pura Miskin Membelikan Cincin Rp5 Miliar untuk Sahabatku—Maka Sebelum Hari Pernikahan, Diam-Diam Aku Memilih Kehidupan yang Selama Ini Mereka Sembunyikan Dariku**

Karena Aku Rela Jalan Kaki Demi Menghemat Ongkos Rp20.000, Aku Memergoki Pacarku yang Pura-Pura Miskin Membelikan Cincin Rp5 Miliar untuk Sahabatku—Maka Sebelum Hari Pernikahan, Diam-Diam Aku Memilih Kehidupan yang Selama Ini Mereka Sembunyikan Dariku**

Hari itu kami berencana memilih cincin pernikahan. Aku datang terlambat tiga puluh menit karena lebih memilih berjalan kaki daripada mengeluarkan ongkos taksi sebesar Rp20.000.

Sesampainya di toko perhiasan di Jakarta, aku mendengar suara pacarku berkata kepada sahabatku:

“**Cincin senilai Rp5 miliar ini untukmu.**”

“**Kalau yang Rp220 juta itu, cukup buat Mara.**”

Seketika semua suara di sekitarku seolah menghilang.

Aku berdiri di balik lemari pajangan yang tinggi, masih memegang payung murah yang kubeli dari pedagang kaki lima. Mereka sama sekali tidak menyadari kehadiranku.

Di depan cermin berdiri Bianca, sahabatku sejak kuliah. Sebuah cincin berlian besar melingkar di jarinya. Di sampingnya berdiri Adrian Villareal, pria yang telah kucintai selama lima tahun dan selama tiga tahun terakhir selalu mengaku hidup miskin.

Bianca menepuk bahunya.

“Hebat juga kamu, Adrian. Tiga tahun kamu menguji apakah Mara mencintaimu karena uang atau bukan. Masih belum puas juga?”

Adrian menghela napas.

“Tabungannya tinggal sekitar Rp55 juta. Dia sama sekali tidak pandai menabung. Kalau aku tidak mengendalikan pengeluaran kami, mungkin kami sudah terlilit utang sejak lama.”

Jari-jariku gemetar.

Rp55 juta.

Itulah sisa uangku setelah membayar uang muka gedung resepsi, membeli obat untuk ibunya yang katanya sedang sakit, dan mencicil apartemen kecil yang katanya akan menjadi rumah pertama kami.

Selama ini aku mengira bank beberapa kali salah mengirim notifikasi ketika tanpa sengaja kulihat di ponselnya transaksi pembelian tanah, jam tangan mewah, dan mobil premium.

Ternyata bukan.

Dia tidak pernah miskin.

Ibunya juga tidak pernah dirawat di rumah sakit pemerintah karena kekurangan biaya.

Setiap malam aku lembur, setiap siang hanya makan roti, setiap kali aku menahan diri untuk tidak membeli sepatu baru karena “kami harus menabung untuk menikah”—semuanya hanyalah bagian dari ujian yang bahkan tidak pernah kuketahui.

“Kalau nanti dia memilih cincin murah itu,” kata Adrian, “aku akan mengungkapkan semuanya saat resepsi. Dia pasti terkejut saat tahu kalau keluargaku adalah pemilik Villareal Group.”

Bianca tertawa.

“Yang penting setelah menikah jangan pernah sakiti dia. Bagaimanapun juga dia sahabatku.”

Dadaku terasa sesak mendengar kata **sahabat**.

Bianca selalu melarangku makan di restoran yang agak mahal.

“Jangan, Mara. Mahal. Masak saja di rumah.”

Dialah yang selalu menyuruhku menunda membeli baju baru.

“Kamu kurang hemat. Gimana nanti bisa nikah sama Adrian?”



Padahal saat kuliah dulu, ketika uang sakunya habis, aku selalu membagi makananku dengannya. Saat dia takut tinggal sendirian, aku membiarkannya tinggal gratis di apartemenku.

Sekarang, cincin di jarinya nilainya hampir dua puluh tiga kali lipat dari cincin yang disiapkan untukku.

Diam-diam aku mengeluarkan ponsel.

Ada satu pesan yang sudah berminggu-minggu tidak kubalas.

Pesan itu dari Kakek Emilio Sarmiento, yang sejak lama memintaku kembali bekerja di perusahaan keluarga.

Kami tidak berbicara selama bertahun-tahun karena beliau menentang hubunganku dengan Adrian. Katanya dulu, ada yang salah dengan pria yang ingin wanita yang dicintainya terus merasa lemah.

Dulu kupikir beliau hanya menghakimi Adrian.

Sekarang aku akhirnya mengerti.

Aku mengetik:

“Aku menerima posisi di Singapura. Tapi ada satu syarat—pindahkan aku sebelum hari pernikahan.”

Setelah pesan terkirim, barulah aku keluar dari balik lemari pajangan.

“Mara!” seru Bianca. “Sejak kapan kamu di sini?”

Aku tersenyum meski tubuhku terasa dingin.

“Baru saja sampai.”

Bianca buru-buru melepas cincin mahal itu lalu menunjuk sebuah cincin berlian kecil di baki sebelah.

“Ini yang kami pilih buat kamu. Sederhana, elegan, dan harganya juga masuk akal.”

“Berapa?”

“Cuma Rp220 juta.”

Begitu mudah angka itu keluar dari mulut wanita yang selama bertahun-tahun bahkan membuatku berpikir dua kali sebelum membeli semangkuk ramen.

Adrian memandangku dengan kesal.

“Sudah telat, nggak kasih kabar lagi. Semoga nanti pas hari nikah kamu nggak bikin semua orang nunggu.”

Aku mengabaikan rasa sakit di dadaku.

Bianca mengambil cincin kecil itu dan mencoba memakaikannya di jariku.

Terlalu sempit.

“Kekecilan,” kataku.

Adrian tertawa.

“Ya jelas. Itu ukuran jari Bianca. Jarinya lebih kecil daripada punyamu.”

Lalu ia menggenggam tangan Bianca dan memasangkan cincin itu ke jarinya.

Pas sekali.

Mereka berdua tertawa.

“Jangan-jangan memang jodohnya buat aku,” canda Bianca.

“Beli saja juga,” jawab Adrian. “Kalian kan sahabat. Nggak masalah kalau cincin kalian sama.”

Aku lalu menunjuk baki lain.

“Aku mau yang itu.”

Sebuah cincin platinum sederhana dengan berlian oval kecil.

Adrian melihat label harganya.

“Rp500 juta? Mara, kamu serius?”

“Iya. Aku ingin memakai cincin itu seumur hidup.”

Mereka langsung terdiam.

Sesaat kemudian Bianca tertawa.

“Kamu lucu kalau lagi ngambek. Kayak anak kecil.”

Ia mencoba meraih lenganku.

“Ayo, jangan buang-buang uang cuma karena suasana hatimu lagi jelek.”

Aku menarik tanganku.

“Kenapa orang lain boleh dibelikan cincin lebih dari Rp5 miliar, tapi aku bahkan tidak pantas mendapatkan cincin Rp500 juta?”

Wajah Bianca langsung pucat.

Namun Adrian lebih cepat menjawab.

“Jangan jadikan pernikahan sebagai ancaman supaya keinginanmu dituruti. Budget-ku cuma Rp220 juta. Kalau pernikahan batal gara-gara cincin, aku tidak akan menyesal.”

Rasanya seperti ditampar.

Akulah yang dulu terus memohon agar kami segera menikah karena dia berkali-kali berkata malu belum bisa memberiku kehidupan yang layak.

Sekarang seolah-olah justru aku yang memaksa.

“Baik,” kataku. “Aku beli sendiri.”

Kami keluar dari mal hampir tanpa bicara.

Untuk “mencairkan suasana”, Bianca mengajak kami makan hotpot di restoran seberang.

“Aku yang traktir,” katanya ceria.

Saat Bianca pergi mengambil saus, Adrian mencondongkan tubuh kepadaku.

“Aku cuma akan memaafkan sikapmu kali ini.”

“Maksudmu?”

“Drama kamu. Bianca selalu memaklumimu, tapi dia juga bisa capek. Nanti kamu yang bayar makan siang ini sebagai permintaan maaf.”

Aku tidak sanggup berkata apa-apa.

Belum sempat berdiri, seorang pelayan datang membawa kuah panas. Lenganku tak sengaja menyenggol pinggir panci.

Aku meringis kesakitan.

Adrian langsung berdiri.

Namun bukan aku yang ia lihat.

“Kenapa kuahnya pedas?” bentaknya kepada pelayan. “Bianca nggak makan pedas. Ganti dengan kuah tomat!”

Bianca kembali ke meja.

“Sudah baikan?” tanyanya sambil tersenyum.

Aku menatap mereka berdua.

Pria itu lebih mengkhawatirkan selera makan Bianca sementara lenganku memerah karena terbakar.

Wanita itu tetap tersenyum, masih mengenakan cincin yang seharusnya menjadi cincin pernikahanku.

Aku berdiri.

“Kalian saja yang makan. Biar aku yang bayar.”

Saat tiba di kasir, ponselku bergetar.

Balasan dari kakekku sudah datang.

“Keberangkatanmu sudah kuurus. Tapi ada hal yang lebih penting harus kamu tahu: Villareal Group bukan milik Adrian. Selama tiga tahun dia menggunakan uangmu untuk mempertahankan kebohongan itu—dan kami memiliki bukti bahwa Bianca adalah kaki tangannya yang sebenarnya.”

Beberapa detik kemudian, sebuah foto masuk.

Foto Adrian dan Bianca di dalam kamar hotel—

Tiga hari sebelum Adrian melamarku.

Foto itu memperjelas segalanya. Tidak ada “ujian cinta”, tidak ada romansa pria kaya yang menyamar miskin. Yang ada hanyalah dua penipu ulung yang memanfaatkan ketulusanku, menjarah uang tabunganku hingga tersisa Rp55 juta, sambil menertawakan kebodohanku di belakang panggung.

Adrian bukan pemilik Villareal Group—ia hanya benalu bernafsu tinggi yang bergaya dengan uang hasil memeras darah dan keringatku, sementara Bianca adalah dalang yang membantunya menguras setiap sen yang kupunya. Cincin Rp5 miliar itu? Mungkin dibeli dari hasil menipu korban-korban lain, atau sekadar ilusi untuk menyenangkan wanita simpanannya.

Aku menatap kasir, menyerahkan kartu kreditku untuk membayar makanan mereka, lalu berjalan keluar dari restoran tanpa menoleh lagi. Di belakangku, suara tawa Bianca dan suara berat Adrian terdengar sayup-sayup. Biarlah. Itu akan menjadi tawa terakhir yang pernah mereka nikmati.

Dua Hari Sebelum Pernikahan

Aku berpura-pura semua berjalan normal. Aku mendatangi fitting baju terakhir, mengangguk menyetujui susunan acara, dan mendengarkan Adrian yang terus-menerus mengingatkanku betapa “beruntungnya” aku karena ia mau menikahiku meskipun aku dianggapnya boros.

Namun, di balik layar, Kakek Emilio bergerak cepat.

Seluruh tabunganku yang dikelola Adrian melalui akun bersama atas nama proyek “rumah masa depan” langsung dibekukan oleh tim hukum keluarga Sarmiento. Tidak hanya itu, laporan tindak pidana penggelapan uang, penipuan, dan pemalsuan identitas resmi dilayangkan ke pihak kepolisian.

Malam itu, saat Adrian dan Bianca sedang sibuk mengurus persiapan resepsi mewah yang diam-diam mereka rencanakan—yang sejatinya ingin Adrian gunakan untuk memamerkan kebohongan statusnya kepada para kolega—sebuah pengumuman resmi dari Villareal Group dirilis di media nasional:

“Villareal Group menegaskan bahwa Saudara Adrian bukanlah pemilik, ahli waris, maupun perwakilan resmi dari perusahaan kami. Tindakan yang bersangkutan yang mengatasnamakan perusahaan sedang berada dalam proses hukum.”

Dalam hitungan jam, dunia rekaan Adrian hancur berkeping-keping.

Hari Pernikahan

Gedung mewah yang disewa menggunakan uang muka dari tabunganku sudah dipenuhi bunga-bunga indah. Adrian berdiri di dekat altar dengan setelan jas sewaan yang megah, menungguku dengan wajah gelisah. Di barisan depan, Bianca duduk dengan gaun anggun, masih mengenakan cincin berlian kecil yang seharusnya menjadi milikku.

Mereka menungguku.

Namun, pengantin wanitanya tidak akan pernah datang.

Sebagai gantinya, pintu ballroom terbuka lebar. Bukan gaun pengantin putih yang masuk, melainkan lima petugas kepolisian berseragam lengkap bersama tim pengacara dari Sarmiento Corp.

Suasana gedung seketika riuh.

“Adrian Villareal dan Bianca Pratama,” ujar perwakilan pengacara Kakek Emilio dengan suara tenang namun menggelegar di seluruh ruangan. “Anda berdua ditahan atas dugaan penipuan berskala besar, penggelapan dana sebesar Rp2,4 miliar milik Mara Sarmiento, serta pemalsuan dokumen atas nama Villareal Group.”

Wajah Adrian memucat secara instan. Matanya melotot liar, mencari-cariku di antara kerumunan.

“Mara! Di mana Mara?!” teriaknya histeris saat borgol besi mengunci kedua pergelangan tangannya. “Ini pasti salah paham! Mara yang menyuruhku menyimpan uang itu!”

Bianca menjerit ketakutan ketika petugas menarik tangannya. Cincin berlian di jarinya terlepas dan jatuh menatap lantai marmer, berdentang nyaring sebelum bergulir ke dekat sepatu pengacara.

“Mara tidak akan pernah memaafkan kalian,” kata pengacara itu dingin sambil memungut cincin tersebut. “Dan untuk informasi kalian, Miss Mara Sarmiento saat ini sudah berada di ketinggian 35.000 kaki menuju Singapura untuk mengambil alih posisinya sebagai Wakil Presiden Sarmiento Corp.”

Di Atas Langit Singapura

Dari balik jendela pesawat first class, aku menatap awan putih yang membentang luas. Lenganku yang sempat terpercik kuah panas kini sudah dibalut perban rapi setelah mendapat perawatan terbaik dari dokter pribadi kakekku.

Ponselku bergetar sekali lagi. Sebuah pesan singkat dari pengacara keluarga masuk:

“Proses penahanan sudah selesai, Miss Mara. Seluruh aset mereka telah disita, dan rekening Anda yang dikuras telah berhasil dibekukan untuk proses pengembalian. Selamat atas kehidupan baru Anda.”

Aku mematikan ponselku, lalu menyandarkan punggung ke kursi kulit yang nyaman.

Dulu, aku rela berjalan kaki menembus terik Jakarta dan menahan lapar demi menghemat Rp20.000, percaya bahwa cinta butuh pengorbanan dan kesederhanaan. Kini aku sadar, kesederhanaan tanpa harga diri hanyalah karpet merah bagi para pemanfaat.

Aku melepaskan sisa penderitaan itu bersama angin di ketinggian. Mulai hari ini, aku tidak lagi berjalan kaki untuk menghemat uang pria yang menipuku—aku terbang tinggi menuju takhta yang memang seharusnya menjadi milikku sejak awal.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.