Posted in

“KAMI DIPAKSA MENIKAH—AKU MENGIRA DIA TIDAK PEDULI PADAKU, SAMPAI HARI SAAT DIA TAK MEMBIARKAN PRIA LAIN MENDEKATIKU.”**

“KAMI DIPAKSA MENIKAH—AKU MENGIRA DIA TIDAK PEDULI PADAKU, SAMPAI HARI SAAT DIA TAK MEMBIARKAN PRIA LAIN MENDEKATIKU.”**

“Dokter Alcantara, sebenarnya apa hubunganmu dengan istrinya?”

Bisik-bisik itu menyebar dari meja perawat hingga ke lorong **Makati Premier General Hospital**, membuat langkahku tanpa sadar melambat.

“Baru sekarang mereka tahu kalau dia sudah menikah? Bukankah Dokter Gabriel Alcantara terkenal sebagai ‘Pangeran Es’?”

“Serius! Kemarin waktu dia ganti jas dokter, aku sendiri melihat bekas cincin di jari manisnya. Jelas dia sering memakai cincin nikah, hanya sesekali dilepas!”

“Ya ampun! Perempuan seperti apa yang berhasil meluluhkan hatinya? Pasti bukan orang rumah sakit. Kalau iya, kabarnya pasti sudah lama menyebar!”

Mendengar itu, aku menunduk dan tanpa sadar mengusap jari manisku.

Di sana… ada bekas cincin yang sama.

Sudah empat bulan kami menikah. Namun selain keluarga kami dan pastor di gereja, tidak ada seorang pun yang tahu bahwa aku adalah istri **Gabriel Alcantara**.

“Maya?”

Suara berat yang sangat kukenal terdengar dari belakang. Aku menoleh dan melihat senyum hangat Profesor Reyes, dokter pembimbingku. Namun senyumku langsung membeku ketika melihat pria yang berdiri di sampingnya…

Gabriel.

Dengan jas dokter putih yang rapi, tubuh tinggi dan postur sempurna, ia tampak seperti model sampul majalah medis. Wajahnya tegas, sorot matanya tajam namun dingin, memancarkan aura yang membuat siapa pun enggan mendekat.

Selama empat bulan hidup bersama, aku masih sulit menghubungkan kata **“suami”** dengan pria di hadapanku.

Profesor Reyes berkata dengan ramah,

“Kebetulan sekali, Maya. Dokter Alcantara adalah murid terbaikku. Saat kamu menjalani rotasi di bagian Kardiologi nanti, kalau ada kesulitan, jangan sungkan bertanya kepadanya.”

Aku menelan ludah dan sedikit membungkuk.

“Selamat pagi… Dokter Alcantara.”

Gabriel hanya melirik sekilas ke arahku, seolah kami adalah orang asing.

“Hm.”

Dingin. Berjarak. Seakan kami tidak pernah tidur di ranjang yang sama.

Begitu Profesor Reyes pergi menangani pasien darurat, hanya kami berdua yang tersisa di lorong. Gabriel hendak pergi ketika seseorang berteriak,

“Maya! Tunggu!”

Itu Dokter **Leo Valencia**, residen senior pediatri yang terkenal ramah. Ia berlari menghampiriku sambil membawa segelas **Iced Yema Latte**.

“Kamu kelihatan capek tadi. Aku ingat ini minuman favoritmu di kafe bawah. Nih, biar lebih segar.”

Aku baru saja hendak menerimanya ketika sebuah tangan tiba-tiba menggenggam pergelangan tanganku.

Gabriel.

Entah sejak kapan ia sudah berdiri begitu dekat. Wajahnya tetap tanpa ekspresi, tetapi genggamannya begitu kuat hingga hampir terasa sakit.

“Dokter Intern Maya,” ucapnya datar dengan nada penuh wibawa. “Saya sudah melihat rekam medis pasienmu di tempat tidur nomor empat. Ada banyak kesalahan. Ikut saya ke ruang kerja sekarang.”

Setelah mengatakan itu, ia bahkan tidak melirik Leo sedikit pun. Ia langsung menarikku pergi.

Leo hanya bisa berdiri terpaku di lorong, masih memegang latte itu.

Saat Gabriel membawaku menuju lift khusus dokter senior, aku tak bisa menahan diri untuk bertanya,

“Dokter Alcantara… memang ada masalah apa dengan pasien di bed nomor empat?”

“Di rumah saja kita bicarakan.”



Pintu lift menutup.

Di pantulan dinding logam, aku melihat sesuatu yang membuatku tertegun…

Telinga Gabriel memerah.

Pernikahanku dengan Gabriel Alcantara adalah perjodohan yang telah diatur kedua keluarga kami sejak lama di **Jakarta**. Kakek-nenek kami sudah bersahabat selama puluhan tahun. Ketika bisnis keluargaku bangkrut, pernikahan ini menjadi jalan keluar.

Gabriel, 34 tahun, adalah Kepala Bedah Kardiotoraks yang terkenal, masih lajang, dan terus didesak keluarganya untuk segera menikah.

Sedangkan aku, 25 tahun, seorang dokter koas tahun pertama yang tak punya pilihan selain menuruti keinginan keluarga.

Saat pertama kali bertemu di sebuah restoran mewah di kawasan **SCBD, Jakarta**, ia duduk di hadapanku tanpa ekspresi.

Aku langsung bertanya,

“Dokter Alcantara, bagaimana pendapatmu tentang pernikahan ini?”

Jawabannya singkat.

“Aku tidak keberatan.”

Aku mengira kami sama saja—dua orang yang dipaksa menikah dan hanya ingin hidup tenang tanpa tekanan keluarga.

Pada hari pernikahan, ia hanya mengajukan satu permintaan.

“Jangan sampai ada orang di rumah sakit yang tahu. Aku tidak ingin pekerjaanku terpengaruh.”

Aku menyetujuinya.

Pernikahan tanpa cinta memang lebih baik disimpan sebagai rahasia.

Namun sejak kami tinggal bersama di sebuah apartemen mewah di kawasan **Sudirman, Jakarta**, suamiku yang dingin dan seolah hanya menjalani **pernikahan kontrak** mulai menunjukkan sikap-sikap yang sangat aneh…

Berikut adalah bab penutup (ending) untuk melengkapi cerita romance-drama medis Anda:

Kode Gelap di Balik Pintu Lift

Pintu lift khusus dokter meluncur naik dengan sunyi menuju lantai lima. Dalam ruang sempit berhias permukaan logam mengkilap itu, keheningan terasa begitu pekat. Telinganya yang memerah kontras dengan ekspresinya yang berusaha keras tetap datar.

“Gabriel…” bisikku, berusaha melepaskan pergelangan tanganku yang masih ia genggam. “Kita masih di lingkungan rumah sakit.”

Gabriel tidak serta-merta melepas tanganku. Bukannya merenggangkan cengkeramannya, ia justru memutar tubuhnya hingga punggungku bersandar pada dinding lift. Aroma mint dan sandalwood yang menjadi ciri khasnya mendadak mengurungku.

“Kamu suka Iced Yema Latte?” tanya Gabriel. Suaranya serak dan berat, jauh dari nada formal yang biasa ia gunakan di depan staf rumah sakit.

“Apa?” aku terbelalak, bingung dengan perubahan topik yang tiba-tiba. “Leo cuma… dia cuma berniat baik—”

“Aku tidak suka cara dia menatapmu,” potongnya tegas. Sorot matanya yang biasanya sedingin es kini memancarkan api tersembunyi yang membuat dadaku berdebar kencang. “Dan aku tidak suka kamu menerima minuman dari pria lain saat suamimu sendiri bisa membelikanmu seluruh kedai kopi itu.”

“Tapi kamu yang bilang pernikahan kita harus dirahasiakan!” seruku pelan, tidak berani meninggikan suara di dalam lift. “Kamu bilang kamu tidak ingin pekerjaannmu terpengaruh. Kenapa sekarang kamu bersikap seperti ini di depan Dokter Leo?”

Ting.

Pintu lift terbuka di lantai kantor eksekutif. Gabriel menarik napas panjang, melangkah keluar sembari tetap memegang jemariku, menyeretku masuk ke dalam ruang kerjanya yang luas dan mengunci pintunya dari dalam.

Cincin di Balik Jas Putih

Ia menyandarkan tubuhnya di meja kerja, menatapku lurus-lurus.

“Kamu ingin tahu kenapa aku menyetujui perjodohan ini di SCBD waktu itu, Maya?” tanya Gabriel pelan.

Ia meraih kantong dalam jas dokter putihnya, mengeluarkannya, lalu menyuruhku mendekat. Dari balik kantong jasnya, ia menarik sebuah kalung rantai perak tipis. Di sana… tergantung sebuah cincin pernikahan yang persis sama dengan milikku.

“Pernikahan ini mungkin diatur oleh keluarga kita, tapi aku tidak pernah dipaksa,” akuinya jujur. Matanya menatapku dengan kehangatan yang belum pernah kulihat sebelumnya. “Empat tahun lalu, waktu kamu masih mahasiswa kedokteran tingkat awal di Jakarta dan pingsan karena dehidrasi saat ujian anatomi… aku yang membawamu ke ruang gawat darurat.”

Jantungku seperti meloncat. Empat tahun lalu?

“Sejak hari itu, aku memperhatikanmu dari jauh,” lanjut Gabriel, senyum tipis yang sangat langka akhirnya terbit di bibirnya. “Ketika kakek menawarkan perjodohan ini, aku langsung menyetujuinya tanpa ragu. Tapi aku tahu kamu menikahiku hanya demi menyelamatkan bisnis keluargamu dan karena tekanan orang tua. Aku tidak ingin menakutimu dengan perasaanku.”

Gabriel melangkah mendekat, mengikis jarak di antara kami. Tangan besarnya merengkuh pipiku dengan lembut—sangat berlawanan dengan sikap dingin yang selama ini ia tampilkan di depan orang lain.

“Aku meminta pernikahan ini dirahasiakan di rumah sakit bukan karena malu padamu, Maya,” bisiknya lembut di depan wajahku. “Aku hanya ingin kamu berkembang sebagai dokter hebat dengan usahamu sendiri, tanpa bayang-bayang namaku. Tapi melihat pria lain mencoba mendekatimu… rasanya aku bisa gila.”

Pengakuan di Depan Publik

Aku terpaku. Selama empat bulan ini, aku mengira perhatian-perhatian kecilnya—seperti menyiapkan sarapan hangat sebelum aku bangun, memastikan jas laboratoriumku selalu bersih, dan ketenangannya di rumah—hanyalah bentuk formalitas pasangan kontrak.

Ternyata, pria yang dijuluki ‘Pangeran Es’ ini telah menyimpan rasa begitu dalam untukku.

“Gabriel…” panggilku pelan, menyentuh tangannya yang ada di pipiku. “Kamu tahu… aku tidak pernah membenci pernikahan ini. Aku hanya takut kamu tidak pernah menginginkanku.”

Mata Gabriel berbinar. Tanpa kata-kata lagi, ia menarikku ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku. Kehangatan tubuhnya meruntuhkan seluruh tembok kecanggokan yang membentang di antara kami selama beberapa bulan terakhir.

Sore harinya, saat jam istirahat makan siang di kafetaria utama rumah sakit yang penuh dengan dokter dan perawat, Gabriel berjalan masuk.

Ia tidak lagi mengenakan jas putihnya. Di jari manis tangan kirinya, cincin pernikahan emas putih terpasang rapi dan berkilau di bawah lampu ruangan.

Tanpa memedulikan tatapan terkejut dari belasan staf medis—termasuk Dokter Leo yang duduk tak jauh dari sana—Gabriel melangkah mantap menuju mejaku. Ia membawa sebuah nampan berisi makan siang lengkap dan segelas Iced Yema Latte berukuran besar.

“Dokter Maya,” panggil Gabriel dengan suara cukup lantang hingga terdengar ke meja sebelah.

Aku mendongak, wajahku memerah melihat cincin di jarinya.

Ia meletakkan kopi itu di hadapanku, lalu duduk tepat di sampingku tanpa jarak.

“Minumanmu,” ucapnya manis, lalu mengecup keningku singkat di depan seluruh penghuni rumah sakit. “Mulai hari ini, tidak ada lagi rahasia. Dan tidak ada pria lain yang boleh membelikanmu kopi selain suamimu sendiri.”

Bisik-bisik kagum dan pekikan heboh langsung memenuhi kafetaria. Pangeran Es Makati Premier General Hospital akhirnya telah meleleh—dan aku adalah satu-satunya wanita yang memegang hatinya.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.