Posted in

Dimasak sendiri oleh ayahku, sup Bulalo khas Batangas untukku saat aku sedang hamil…**

Dimasak sendiri oleh ayahku, sup Bulalo khas Batangas untukku saat aku sedang hamil…**

Namun ibu mertuaku membanting mangkuk itu tepat di depan ayahku dan mempermalukannya di dapur.

Sampai akhirnya, dengan tenang aku menelepon pengacaraku dan mengucapkan satu kalimat yang membuat seluruh keluarga suamiku membeku…

Suasana meja makan di penthouse mewah di kawasan BGC, Taguig, mendadak sunyi ketika ayahku membuka tutup panci Bulalo panas yang ia bawa langsung dari Batangas.

Aroma harum kaldu sapi langsung memenuhi seluruh ruangan.

Namun tepat pada saat itu, ibu mertuaku tiba-tiba berdiri dan dengan kasar merebut mangkuk dari tangan ayahku.

“Berani-beraninya kamu memakai mangkuk ini untuk makanan seperti itu?!”

“Tahu tidak? Ini keramik buatan tangan yang kubeli langsung dari Yogyakarta!”

“Astaga… sekarang sudah penuh minyak sapi!”

Mangkuk itu terjatuh ke lantai.

**PRANG!**

Pecahan porselen putih-biru berserakan di kaki ayahku.

Dengan panik ia langsung membungkuk untuk memungutnya.

Pecahan tajam melukai tangannya hingga darah menetes ke lantai marmer yang mengilap.

Namun yang paling menyakitkan bagiku…

Bukan luka di tangannya.

Melainkan karena ia sama sekali tidak mengeluh.

Ia terus membungkuk sambil berulang kali meminta maaf.

“Maaf ya, Bu… saya kira ini cuma mangkuk biasa…”

“Saya benar-benar tidak tahu kalau harganya mahal…”

Aku terpaku di dapur.

Perutku yang sedang hamil enam bulan tiba-tiba terasa sesak.

Bulalo itu…

Sejak pukul empat dini hari, ayahku sudah bangun di Batangas.

Ia sendiri yang pergi membeli tulang sapi ke pasar.

Ia sendiri yang merebusnya selama berjam-jam karena tahu aku sedang ngidam dan hanya makanan itu yang bisa kumakan.

Setelah selesai, ia menempuh perjalanan hampir empat jam menuju Manila.

Sepanjang perjalanan, panci itu dipeluk erat agar kuahnya tetap hangat.

Namun sekarang…

Di mata ibu mertuaku, semua usaha itu hanyalah sampah yang mengotori rumahnya.

Ia menatap tangan ayahku yang berdarah lalu tersenyum sinis.

“Dasar orang kampung.”

“Tidak tahu sopan santun kalau bertamu ke rumah orang.”

“Sudah kuduga, orang dari daerah yang datang ke Jakarta memang suka ikut campur.”

Setiap kata itu terasa seperti tamparan keras di wajahku.

Aku menoleh kepada suamiku, Adrian.

Kupikir setidaknya ia akan membela ayahku.

Walau hanya satu kalimat.

Namun ia hanya menghela napas.

“Mom… sudah cukup.”

Aku sempat bernapas lega.

Kupikir akhirnya ia berpihak kepadaku.

Tetapi sedetik kemudian ia menoleh kepada ayahku.

“Tapi Ayah juga salah.”

Aku menatapnya tak percaya.

Adrian menarik kursinya lalu berkata dengan dingin,

“Pak, Jakarta berbeda dengan kampung.”

“Barang milik orang lain tidak boleh dipakai sembarangan.”

“Bapak tidak izin dulu. Itu memang tidak sopan.”

Ayahku terdiam.

Tangannya yang berdarah berhenti di udara.

Ia memandang Adrian seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

Tiga tahun lalu…

Adrian sendiri yang datang ke rumah kami di Batangas untuk melamarku.

Ia menggenggam tangan ayahku sambil berjanji,

“Saya akan menjaga Serena seumur hidup.”



“Saya akan menganggap Bapak sebagai ayah kandung saya sendiri.”

Namun sekarang…

Ia berdiri di penthouse yang kubeli dengan uangku sendiri bahkan sebelum kami menikah…

Dan membiarkan ayahku dihina seperti seorang pengemis.

Ibu mertuaku masih belum berhenti.

Ia mengangkat panci Bulalo itu.

“Kalau cuma mengotori rumahku, lebih baik dibuang saja!”

Sebelum aku sempat bergerak—

**BRAK!**

Ia langsung membuang seluruh Bulalo itu ke tempat sampah.

Kuah panas tumpah ke mana-mana.

Tulang-tulang sapi yang direbus berjam-jam oleh ayahku bercampur dengan sampah sisa makanan.

Seluruh dapur langsung sunyi.

Ayahku membeku.

Bibirnya bergetar.

“Jangan… jangan dibuang…”

“Itu makanan yang sedang diidamkan anak saya…”

Namun Adrian hanya menarik ibunya menjauh.

Lalu berkata dengan dingin,

“Orang tua harus tahu batas.”

“Kalau terus dimanjakan, nanti mereka semakin keterlaluan.”

Aku menatap pria di depanku.

Dan untuk pertama kalinya…

Aku merasa sudah tidak mengenalnya lagi.

Bayi di dalam kandunganku menendang dengan keras.

Dan hatiku…

Seolah membeku sepenuhnya.

Aku tidak menangis.

Aku juga tidak berteriak.

Aku hanya berjalan menghampiri ayahku dan membantunya berdiri.

Lalu kubalut luka di jarinya dengan tisu.

Kepalanya tetap tertunduk.

“Serena… maafkan Ayah…”

“Malah membuatmu semakin susah…”

Saat mendengar itu…

Dadaku langsung terasa sesak.

Seumur hidup, ayahku membesarkanku seorang diri.

Ia bekerja sebagai sopir angkutan umum.

Bahkan pernah tidur di terminal hanya agar bisa menghemat uang untuk biaya kuliahku.

Saat aku sukses dan mendirikan perusahaan sendiri di Jakarta, ia tidak pernah meminta apa pun dariku.

Dan sekarang…

Orang yang telah mengorbankan seluruh hidupnya untukku…

Berdiri di rumah anaknya sendiri sambil menunduk meminta maaf kepada orang lain.

Aku mengepalkan tangan erat-erat.

Lalu menatap Adrian.

“Kamu benar.”

Ia tampak sedikit terkejut.

Mungkin ia tidak menyangka aku akan setenang itu.

Aku mengangguk.

“Benar. Orang yang lebih tua memang harus tahu batas.”

“Dan hari ini, aku juga akhirnya mengerti sesuatu.”

Ibu mertuaku tersenyum puas.

“Syukurlah kalau akhirnya kamu sadar.”

Aku menatapnya.

Lalu mengeluarkan ponselku.

Dan menelepon seseorang.

“Halo, Pak Pengacara?”

“Ya. Saya ingin segera mengajukan gugatan cerai.”

Udara di seluruh rumah seolah membeku.

Adrian langsung berdiri.

“Apa?!”

Aku bahkan tidak menoleh kepadanya.

Aku tetap melanjutkan pembicaraan di telepon.

“Dan satu hal lagi…”

“Tolong urus juga pengosongan rumah saya.”

Wajah ibu mertuaku langsung pucat.

“Apa yang baru saja kamu katakan?!”

Aku menatap mereka semua perlahan.

Lalu tersenyum dingin.

“Kalau ayah saya ternyata tidak punya hak memakai satu mangkuk pun di rumah ini…”

“Lalu atas dasar apa kalian merasa berhak tinggal di penthouse milik saya?”…

Wajah Adrian dan ibunya berubah drastis dalam sekejap. Senyum culas ibu mertuaku lenyap, berganti dengan riak ketakutan yang luar biasa, sementara Adrian berdiri mematung dengan mulut terbuka lebar.

“Serena! Kamu gila?!” bentak Adrian, suaranya yang tadinya penuh kesombongan kini bergetar panik. “Ini cuma masalah mangkuk dan makanan kampung! Kenapa harus bawa-bawa pengacara dan cerai?!”

“Masalah mangkuk?” jawabku dengan nada sangat tenang, tetapi di balik ketenangan itu ada keputusasaan yang telah berubah menjadi belati tajam. “Ini bukan tentang mangkuk, Adrian. Ini tentang martabat ayahku. Orang yang kamu injak-injak hari ini adalah alasan aku bisa berdiri di sini dan membiayai hidupmu selama tiga tahun terakhir.”

Ibu mertuaku maju selangkah, tangannya yang gemetar menunjuk wajahku. “K-kamu tidak bisa mengusir kami! Adrian itu suamimu! Anak yang di perutmu itu cucuku!”

“Cucu?” Aku terkekeh sinis, menyapu air mata yang sempat menetes di pipi ayahku. “Anda bahkan tidak peduli bayi ini ngidam apa. Anda membuang makanan yang dibuat penuh kasih sayang oleh kakeknya ke tempat sampah. Anda tidak pantas dipanggil nenek, apalagi ibu.”

Aku kembali memegang ponselku yang masih terhubung dengan pengacara keluarga.

“Pak Hendra, tolong siapkan tim keamanan dan surat pengosongan properti dalam dua jam. Sediakan juga berkas perceraian atas nama Adrian. Sertakan klausul pencabutan seluruh akses fasilitas perusahaan, kartu kredit tambahan, dan mobil yang atas nama saya.”

“Baik, Ibu Serena. Segera kami proses,” jawab Pak Hendra tegas dari balik telepon.

Adrian panik luar biasa. Ia berlari menghampiriku, berusaha menggenggam tanganku. “Serena, tolong… Mama cuma emosi! Aku minta maaf, aku refleks tadi! Pak, tolong katakan sesuatu pada Serena!” Adrian berbalik, memohon pada ayahku yang masih menunduk lesu.

Namun sebelum ayahku sempat bersuara, aku menyela dan menarik tangan ayahku menjauh dari Adrian.

“Jangan berani-beraninya kamu menyentuh ayahku lagi,” ucapku dingin. “Penthouse di BGC ini dibeli atas namaku sepenuhnya sebelum kita menikah. Mobil yang kamu pakai, jam tangan emas di tangan ibumu, bahkan baju-baju mahal yang kalian kenakan hari ini—semuanya dibeli dengan uang dari perusahaan yang kudirikan dengan keringat ayahku.”

Ibu mertuaku terduduk di sofa kemewahan yang sebentar lagi tak akan bisa ia nikmati lagi. Wajahnya yang tadinya tinggi hati kini pucat pasi bagai mayat. Ia menyadari sepenuhnya bahwa tanpa diriku, mereka berdua hanyalah benalu yang tak punya apa-apa.

“Kalian punya waktu satu jam untuk mengepak barang-barang pribadi kalian,” kataku sambil menatap mereka tanpa rasa iba sedikit pun. “Jika masih ada di sini saat pengacaraku tiba bersama sekuriti, barang-barang kalian akan dilempar keluar—sama seperti cara kalian membuang Bulalo buatan ayahku.”

Tanpa menunggu balasan dari mereka yang membisu ketakutan, aku merangkul bahu ayahku yang gemetar.

“Mari, Yah. Serena obati lukanya di luar. Kita makan Bulalo yang baru di tempat terbaik, hanya untuk kita berdua.”

Ayahku menatapku dengan mata berkaca-kaca, lalu mengangguk pelan. Kami berjalan keluar melintasi pecahan keramik dan tumpahan makanan, meninggalkan dua manusia bertopeng yang kini menyadari bahwa kehancuran mereka baru saja dimulai.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.