Pada hari seluruh hasil penjualan tanah lama keluarga masuk ke rekening bank, Mama dan Papa memutuskan untuk memberikan hak menggunakan uang kepada masing-masing anak.
Kakak laki-lakiku mendapat kartu kredit tambahan karena katanya sering bertemu klien.
Adik bungsuku juga diberi kartu karena sebentar lagi akan menikah dan membutuhkan banyak biaya.
Hanya aku yang tidak mendapat apa pun.
Aku bahkan belum sempat bertanya ketika Mama sudah menutup dompetnya.
“Kamu sudah punya pekerjaan yang bagus dan pandai berhemat. Kalau butuh sesuatu, bilang saja padaku.”
Aku hanya memaksakan senyum.
Perlahan kuturunkan tangan yang tadi sudah siap menerima kartu itu, lalu kuselipkan kembali ke saku jaketku.
Selama ini aku selalu berpikir, selama aku tidak berebut dan tetap menjadi anak yang baik, suatu hari nanti aku pasti akan merasakan kasih sayang yang sama di rumah ini.
Ternyata aku salah.
…
Suatu malam, saat pulang kerja, aku ditabrak sepeda motor yang melaju dari arah yang berlawanan.
Lututku terluka parah.
Lenganku patah.
Dokter mengatakan bahwa seorang anggota keluarga harus menandatangani formulir rawat inap dan membayar uang muka sebelum perawatan dapat dimulai.
Aku menelepon Mama.
Saat itu beliau sedang berbelanja bersama kakak iparku untuk membeli hadiah ulang tahun keponakanku.
“Tunggu sebentar ya, Nak. Mama masih sibuk.”
Setelah mengatakan itu, telepon langsung ditutup.
Lalu aku menelepon Papa.
Beliau sedang menemani adik bungsuku melihat-lihat apartemen baru.
“Apa rumah sakit tidak bisa menunggu sampai nanti untuk pembayarannya?”
Aku tidak sanggup berkata apa-apa lagi.
Pada akhirnya, justru supervisor-ku di kantor yang menempuh perjalanan lebih dari satu jam menuju rumah sakit.
Dialah yang membayar uang muka perawatanku.
Dialah juga yang menandatangani formulir sebagai kontak darurat.
Aku dirawat di rumah sakit selama tiga hari.
Tidak satu pun anggota keluargaku datang menjenguk.
…
Saat aku pulang dengan bantuan tongkat penyangga…
Suasana rumah sangat meriah.
Kakakku dengan bangga memamerkan jam tangan mewah barunya.
Adik bungsuku sangat gembira karena berhasil memesan mobil baru.
Mama sibuk memotong buah di dapur.
Begitu melihatku, hal pertama yang beliau katakan adalah,
“Dari mana saja kamu beberapa hari ini? Cucian di kamarmu sudah menumpuk.”
Tak seorang pun bertanya mengapa aku berjalan memakai tongkat.
Tak seorang pun bertanya apakah perawatanku berjalan lancar.
Aku hanya diam lalu kembali ke kamarku.
Malam itu…
Aku membuka email yang sudah berminggu-minggu tidak kujawab.
Itu adalah surat penawaran resmi untuk dipindahkan ke cabang perusahaan di sebuah pulau yang sangat jauh, hampir dua ribu kilometer dari sini.
Awalnya…
Aku masih ragu.
Kini…
Aku menekan tombol **”Accept.”**
…
Lima hari kemudian.
Saat kami makan malam bersama.
Mama tiba-tiba teringat sesuatu.
“Eh, bagaimana kecelakaanmu beberapa hari lalu?”

Aku meletakkan sendokku.
“Supervisor saya yang membantu semuanya.”
“Syukurlah.”
Beliau hanya mengangguk seolah itu bukan masalah besar.
“Dokter bilang saya masih harus kontrol selama beberapa bulan.”
“Oh, begitu ya.”
Hanya itu.
Tidak ada pertanyaan lagi.
Beliau tidak bertanya berapa biaya rumah sakitku.
Tidak bertanya apakah aku masih kesakitan.
Beliau juga tidak menyinggung uang yang dipinjamkan orang lain untuk menolongku.
…
Setelah makan…
Mama mengeluarkan ayam bakar yang baru matang.
Aromanya sangat menggugah selera.
Beliau meletakkan piring itu tepat di depan adik bungsuku.
“Masih hangat, ayo dimakan.”
Kakakku juga langsung mengambil bagian.
Mereka makan sambil mengobrol dengan riang.
Saat aku mengulurkan garpu…
Yang tersisa hanya sedikit saus dan beberapa potong bawang.
Mama diam-diam membereskan piring-piring.
Seolah tidak penting apakah aku sudah makan atau belum.
…
Malam itu…
Layar ponselku menyala.
Itu pesan dari supervisorku.
*”Jangan khawatir soal uang yang kupinjamkan. Bayar saja nanti kalau kamu sudah mampu.”*
Aku menatap pesan itu cukup lama.
Lalu hanya membalas singkat.
*”Terima kasih banyak, Pak.”*
Tak lama kemudian…
Muncul notifikasi baru di grup keluarga.
Adik bungsuku mengirim video saat mengendarai mobil barunya di sepanjang jalan pesisir.
Papa memberi reaksi tepuk tangan.
Mama mengirim banyak emoji hati merah.
Kakakku berkomentar.
*”Mobilnya keren sekali.”*
Aku mengetik sebuah pesan.
*”Kapan kalian akan mengganti uang yang dipinjamkan rekan kerjaku untuk biaya rumah sakitku?”*
Pesan itu terkirim.
Satu menit.
Sepuluh menit.
Dua puluh menit.
Tidak ada satu pun yang menjawab.
Mereka terus mengobrol tentang rencana liburan akhir pekan.
Aku menutup grup itu tanpa berkata apa-apa.
Lalu kulihat saldo rekening bankku.
Uang yang tersisa hanya cukup untuk membayar sewa bulan depan.
Saat itulah aku benar-benar menyadari.
Ada rumah yang disebut keluarga…
Tetapi sudah lama tidak lagi memiliki tempat untukku.
…
Dua hari kemudian.
Sabtu pagi.
Mama mengetuk pintu kamarku.
“Turun dulu ke ruang tamu.”
Saat aku turun…
Semua orang sudah berkumpul.
Sunyi.
Suasananya terasa sangat tegang.
Di atas meja ada kotak perhiasan yang terbuka.
Mama menatapku langsung.
“Beberapa hari lalu kamu yang membersihkan kamar kakak perempuanmu, kan?”
“Iya.”
“Gelang kenangannya hilang.”
Aku terdiam.
“Saya tidak mengambilnya.”
Kakak laki-lakiku berbicara pelan.
“Tapi hari itu hanya kamu yang masuk ke kamarnya.”
Ruang tamu tiba-tiba menjadi sangat sunyi.
Papa berdiri dengan tangan di pinggang.
Suaranya terdengar dingin.
“Kalau memang bukan kamu yang mengambilnya… bisakah kamu jelaskan kenapa gelang itu baru hilang setelah kamu masuk ke kamar?”
Aku memandang satu per satu orang-orang yang selama ini kupanggil keluarga.
Tak seorang pun bertanya apakah mungkin aku tidak bersalah.
Tak seorang pun membelaku.
Tepat pada saat itu…
Bel rumah berbunyi.
Seorang kurir berdiri di depan pintu.
Di tangannya ada sebuah amplop besar yang masih tersegel.
Dengan suara lantang ia berkata,
“Apakah ada yang bernama **May** di sini? Ada dokumen penting yang harus diterima langsung oleh yang bersangkutan.”
Semua orang serempak menoleh ke arah pintu.
Sementara aku…
Tersenyum untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Aku berjalan perlahan menuju pintu, membiarkan bunyi ketukan tongkat penyanggaku memecah keheningan ruang tamu yang tegang.
“Saya May,” ucapku tenang sambil menerima amplop tebal bertuliskan logo resmi perusahaan pusat.
Kurir itu menyerahkan pena untuk tanda tangan, lalu tersenyum sopan sebelum pamit pergi. Mama, Papa, dan kedua saudaraku memperhatikan setiap gerak-gerikku dengan dahi berkerut, seolah tuduhan pencurian gelang tadi mendadak kehilangan panggungnya.
“Dokumen apa itu?” tanya Papa, suaranya masih berusaha terdengar tegas. “May, jangan mengalihkan pembicaraan. Kita belum selesai soal gelang—”
“Gelang Kakak ada di dalam laci meja rias bawah, tertutup tumpukan kotak kosmetik,” potongku datar tanpa memandang beliau. “Hari itu saya hanya menyapu lantai. Kalau Mama mau meriksa kamar saya sekarang, silakan. Buka saja semua lemarinya.”
Mama tertegun, bibirnya sedikit terbuka namun tak ada kata yang keluar.
Aku merobek segel amplop tebal di tanganku. Di dalamnya terdapat dokumen surat tugas resmi, tiket pesawat satu arah, dan lembar kontrak kerja baru yang sudah ditandatangani oleh jajaran direksi.
“Apa itu?” tanya kakak laki-lakiku yang mulai merasa tidak nyaman dengan ketenanganku.
Aku mengambil napas panjang, meresapi rasa lega yang perlahan memenuhi dadaku. Rasa sakit di lengan dan lututku tak lagi terasa membebani.
“Surat pemindahan tugas,” jawabku singkat, menatap mereka satu per satu. “Perusahaan memindahkan saya ke cabang luar pulau. Saya berangkat nanti malam.”
Ruang tamu mendadak sunyi senyap.
“Nanti malam?!” suara Mama melengking kaget. “Kenapa baru bilang sekarang? Lalu bagaimana dengan pekerjaan rumah? Siapa yang bakal—”
“Mama,” potongku halus, namun ada ketegasan dingin yang belum pernah mereka dengar dari mulutku sebelumnya. “Selama ini aku berpikir kalau aku terus mengalah, diam, dan menjadi anak yang penurut, aku akan mendapatkan porsi kasih sayang yang sama di rumah ini. Tapi saat aku terbaring di rumah sakit dan tak satu pun dari kalian yang peduli… aku sadar, tempat ini cuma rumah, bukan keluarga.”
Aku melangkah kembali ke kamar untuk mengambil koper kecil yang sudah kupaking rapi sejak semalam. Sebelum keluar dari pintu depan, aku meletakkan selembar kertas kecil di atas meja tamu—rincian biaya rumah sakit yang dibayarkan oleh supervisor-ku.
“Tolong ganti uang supervisor-ku. Cuma itu satu-satunya hal terakhir yang aku minta dari kalian,” kataku tanpa berbalik lagi.
“May! Tunggu! Kamu tidak bisa pergi begitu saja!” teriak Papa, sementara Mama mulai memanggil namaku dengan nada panik yang baru pertama kali kudengar.
Namun, langkahku tak bergeming. Di luar pagar, sebuah taksi sudah menunggu untuk membawaku menuju bandara. Saat pintu mobil tertutup dan kendaraan perlahan melaju meninggalkan rumah itu, aku menyandarkan kepala di jendela, menatap jalanan yang berangsur menjauh.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, hatiku terasa sangat ringan. Aku memang kehilangan rumah tempatku tumbuh, tapi aku baru saja menemukan kebebasanku sendiri.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.