Posted in

Pada hari aku menyerahkan surat pengunduran diriku, aku sama sekali tidak menyangka bahwa pada hari yang sama aku juga akan mengetahui kalau ternyata aku sedang hamil.

Pada hari aku menyerahkan surat pengunduran diriku, aku sama sekali tidak menyangka bahwa pada hari yang sama aku juga akan mengetahui kalau ternyata aku sedang hamil.

Dan ayah dari bayi yang kukandung…

Adalah Chief Executive Officer (CEO) baru di perusahaan tempatku bekerja.

Seorang pria yang berada di puncak kesuksesan, sementara aku hanyalah karyawan kontrak yang sebentar lagi akan pergi.



Tiga bulan sebelumnya.

Perusahaan mengadakan pesta besar untuk merayakan keberhasilan menyelesaikan sebuah proyek penting.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, seluruh jajaran manajemen hadir lengkap.

Pusat perhatian malam itu adalah CEO baru yang baru saja kembali dari luar negeri.

Namanya **Adrian**.

Masih muda, berkepribadian dingin, dan terkenal karena ketegasannya dalam mengambil keputusan.

Baru beberapa minggu menjabat, ia sudah merombak banyak divisi di perusahaan.

Di mata para karyawan, ia adalah sosok yang hampir tidak pernah tersenyum.

Sementara aku hanya berniat makan sebentar lalu pulang dengan tenang.

Namun sebelum sempat meninggalkan meja, ketua tim menahanku.

“Kontribusimu paling besar dalam proyek ini.”

“Setidaknya ikut bersulang sekali saja bersama semua orang.”

Sebenarnya aku tidak bisa minum alkohol.

Tetapi karena para klien dan para petinggi perusahaan ada di sana, aku tidak berani menolak.

Gelas pertama.

Masih baik-baik saja.

Gelas kedua.

Kepalaku mulai terasa panas.

Gelas ketiga…

Pandangan di depanku mulai kabur.

Suara tawa dan percakapan terasa semakin jauh.

Aku berdiri untuk keluar mencari udara segar.

Namun begitu sampai di lorong, lututku tiba-tiba lemas.

Tepat saat tubuhku hampir terjatuh.

Sebuah tangan yang kuat menopang bahuku.

“Aku akan mengantarmu beristirahat.”

Suara rendah itu berbisik di dekat telingaku.

Aku berusaha membuka mata.

Itu Adrian.

“A-aku masih bisa pulang…”

Ia menjawab dengan tenang.

“Kamu demam.”

Dan setelah itu…

Aku benar-benar kehilangan kesadaran.



Keesokan paginya.

Aku terbangun di sebuah VIP suite hotel.

Pakaianku masih rapi seperti semula.

Di atas meja terdapat segelas air hangat dan obat penurun demam.

Ada juga secarik kertas kecil dengan tulisan tangan yang tegas.

> **”Menurut dokter, kamu alergi terhadap alkohol. Istirahatlah dulu sebelum pulang.”**

Tidak ada tanda tangan.

Tetapi aku tahu dialah yang meninggalkannya.

Saat aku hendak keluar, pintu tiba-tiba terbuka.

Adrian masuk.

Ia masih mengenakan setelan jas hitam yang rapi, seolah tidak terjadi apa pun semalam.

“Kamu sudah bangun?”

Wajahku langsung memerah.

“M-maaf… dan terima kasih banyak.”



Ia hanya mengangguk tipis.

“Perusahaan sudah mengurus cutimu.”

“Istirahatlah dua hari lagi.”

Aku mengucapkan terima kasih pelan sebelum buru-buru pergi.

Beberapa minggu berikutnya.

Setiap kali bertemu dengannya di kantor.

Aku selalu menghindar.

Dan ia pun tidak pernah sekali pun menyinggung kejadian malam itu.

Lama-kelamaan aku mengira semuanya sudah berakhir.

Sampai suatu pagi.

Hampir sebulan aku tidak mengalami menstruasi.

Awalnya kukira hanya karena stres pekerjaan.

Namun beberapa hari kemudian.

Aku sering merasa pusing dan mual.

Bahkan hanya mencium aroma kopi saja sudah membuatku ingin muntah.

Seorang rekan kerja bercanda.

“Jangan-jangan kamu hamil.”

Seluruh tubuhku langsung terasa dingin.

Sepulang kerja.

Aku diam-diam mampir ke sebuah apotek kecil.

Sepuluh menit kemudian.

Dua garis merah yang sangat jelas muncul pada alat tes kehamilan.

Rasanya seluruh duniaku berhenti berputar.

Tidak mungkin…

Aku bahkan belum pernah punya pacar.

Kecuali…

Malam itu.

Aku langsung pergi ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan.

Dokter tersenyum.

“Usia kehamilannya sekitar enam minggu.”

“Perkembangan bayinya sangat baik.”

Saat mendengar kata “bayi”, air mataku langsung mengalir.

Perlahan aku mengusap perutku.

Dari luar memang belum terlihat perubahan apa pun.

Namun di dalam sana, ada sebuah kehidupan kecil yang perlahan bertumbuh.

Semalaman aku terus berpikir.

Haruskah aku memberi tahu Adrian…

Apakah dia akan percaya bahwa semua ini hanyalah sebuah kecelakaan?

Atau justru mengira aku ingin memanfaatkan anak ini untuk masuk ke keluarga kaya?

Dunia kami terlalu berbeda.

Aku tidak ingin mempertaruhkan masa depan anakku.

Pada akhirnya.

Aku mengambil keputusan.

Mengundurkan diri.

Meninggalkan kota ini.

Dan membesarkan anakku seorang diri.

Keesokan harinya.

Aku menyerahkan surat pengunduran diri.

Aku hanya perlu menunggu proses serah terima pekerjaan selesai.

Kupikir semuanya akan berjalan lancar.

Namun sore harinya.

Tiba-tiba pihak Human Resources menghubungiku.

“Maaf.”

“Pengunduran diri Anda belum bisa kami proses.”

Aku terkejut.

“Kenapa?”

Beberapa detik kemudian, suara di seberang telepon menjawab.

“Itu perintah langsung dari CEO.”

Jantungku langsung berdegup semakin kencang.

Pada saat yang sama, ponselku bergetar.

Ada pesan dari nomor yang tidak kukenal.

> **”Datanglah ke lantai paling atas.”**

> **”Ada sesuatu yang ingin kutanyakan kepadamu.”**

Tidak ada nama pengirim.

Tetapi aku tahu…

Hanya ada satu orang yang memiliki wewenang untuk menghentikan pengunduran diriku.

Aku berdiri di depan lift.

Tanganku menggenggam erat hasil USG yang kusimpan di dalam tas.

Pintu lift perlahan terbuka.

Di ujung lorong.

Seorang pria bertubuh tinggi berdiri membelakangiku.

Saat ia berbalik…

Tanpa sengaja hasil USG itu terjatuh dari dalam tasku.

Adrian membungkuk untuk mengambilnya.

Tatapannya langsung terpaku ketika membaca tulisan yang tercetak di atasnya.

Lalu perlahan ia menatapku.

“Jadi…”

“Kamu benar-benar berniat pergi tanpa memberi tahu bahwa kamu sedang mengandung anakku?”

Jantungku seakan berhenti berdetak. Suasana di koridor lantai paling atas itu mendadak hening, hanya menyisakan deru napas kami berdua.

Aku terdiam, lidahku kufur kata. Tatapan dingin yang biasa terpancar dari mata Adrian kini berganti dengan gejolak emosi yang sulit kutebak—ada keterkejutan, kemarahan, dan penyesalan yang mendalam.

“Aku… aku tidak ingin menjadi beban bagimu,” bisikku dengan suara bergetar, berusaha sekuat tenaga menahan air mata yang mulai menggenang. “Dunia kita terlalu berbeda, Adrian. Aku tahu malam itu hanyalah ketidaksengajaan.”

Adrian melangkah mendekat. Setiap pijakan kakinya terasa begitu berat, membuat instingku menuntut untuk mundur, namun punggungku sudah tertahan pintu lift.

Ia tidak membentak. Sebaliknya, ia berlutut di depanku untuk memungut lembar USG yang sempat terjatuh, lalu mengusap permukaannya dengan jemarinya yang gemetar. Saat ia kembali berdiri, wajah dingin sang CEO yang ditakuti seluruh perusahaan itu runtuh sepenuhnya.

“Ketidaksengajaan?” suaranya terdengar serak. “Kamu pikir aku menahanmu di VIP suite malam itu hanya karena kasihan? Kamu pikir aku membiarkanmu menghindarinya selama tiga bulan ini tanpa alasan?”

Aku menatapnya bingung. “Maksudmu…”

Adrian menarik napas panjang, merengkuh kedua bahuku dengan lembut namun tegas—berbeda dengan kehangatan cengkeramannya malam itu yang membuatku sadar bahwa ingatan ingatanku yang kabur sebenarnya tidak pernah sepenuhnya hilang.

“Malam itu, kamu memang mabuk dan demam tinggi. Aku merawatmu sampai matamu terbuka dan kamu memelukku, memohon padaku untuk tidak pergi,” ungkap Adrian, menatap lurus ke dalam mataku. “Tindakan yang terjadi malam itu… aku merespons perasaan yang selama ini kupendam padamu sejak pertama kali aku melihat kerja kerasmu di proyek ini. Aku tidak pernah memanfaatkanku, dan aku bertanggung jawab penuh atas apa yang kupilih malam itu.”

Air mataku menetes. “Tapi surat pengunduran diri ini—”

“Tidak akan pernah kuterima,” potong Adrian cepat. Ia menarik surat keputusan mundur yang terselip di dalam tas mapku dan meremasnya tanpa ragu sebelum melemparnya ke tempat sampah di dekatnya.

Ia mengambil tanganku, lalu membawanya untuk mengelus dadanya sendiri—tepat di mana jantungnya berdetak sangat kencang.

“Anak ini tidak akan tumbuh tanpa seorang ayah. Dan kamu… tidak akan pernah melangkah pergi dari sisiku lagi,” tegasknya dengan nada penuh tekad, namun diiringi selarik senyuman tipis yang belum pernah diperlihatkan kepada siapa pun di kantor ini. “Mulai hari ini, kamu bukan lagi karyawan kontrakku. Kamu adalah masa depanku.”

Di lantai tertinggi gedung pencakar langit itu, di bawah batasan takdir yang awalnya kukira akan memisahkan kami, aku akhirnya sadar: keberangkatan yang kurencanakan justru menjadi awal dari kisah kami yang sebenarnya.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.