Posted in

20 CAMBUKAN YANG MENGAKHIRI SEMUANYA: RAHASIA SEORANG MILIARDER WANITA DAN BALAS DENDAM PALING MANIS**

20 CAMBUKAN YANG MENGAKHIRI SEMUANYA: RAHASIA SEORANG MILIARDER WANITA DAN BALAS DENDAM PALING MANIS**

Cambukan pertama dari ikat pinggang kulit yang tebal menghantam punggungku dengan rasa perih yang luar biasa. Saat itulah aku benar-benar sadar… dia sedang menyiksaku di dalam rumah mewah kami sendiri.

Selama tiga tahun menikah, aku mengira telah mengenal suamiku, **Mateo**. Namun ketika cambukan ke-20 mendarat di tubuhku, sementara darah mulai menetes ke lantai marmer Italia yang dingin di bawah lututku, seluruh cinta yang masih tersisa untuknya ikut mati.

Saat aku tertunduk, menahan rasa sakit hingga tubuhku hampir mati rasa, terdengar tawa yang sangat kukenal.

“Lihat dia!” kata **Chloe** dengan senyum manis namun penuh ejekan. “Masih saja berpura-pura jadi wanita suci dan korban, setelah semua yang dia lakukan padaku!”

Aku mengangkat kepala.

Chloe berdiri di samping Mateo dengan senyum kemenangan, seolah-olah baru saja dinobatkan sebagai ratu. Ia mengenakan gaun sutra berwarna champagne yang sangat mewah dari butik ternama di **Plaza Indonesia**—gaun yang dibeli menggunakan uangku sendiri melalui kartu kredit yang selama ini kupercayakan kepada suamiku.

### Racun Seekor Ular

Alasan aku dipukuli?

Sebuah kebohongan yang dirancang dengan sempurna.

Pagi tadi, Chloe datang ke rumah kami sambil menangis dengan beberapa memar di lengannya. Ia menuduhku mendatanginya di apartemennya di Jakarta Selatan, memborgolnya, lalu memaksanya meminum racun setelah aku mengetahui hubungan gelapnya dengan Mateo.

Semuanya hanyalah cerita bohong demi mendapatkan simpati suamiku.

Dan Mateo—yang sudah dibutakan oleh nafsu dan cintanya kepada Chloe—bahkan tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan.

Ia langsung menyeretku ke ruang tamu dan menjatuhkan hukuman versinya sendiri.

“Belajar tahu diri, Beatrice!” bentaknya sambil terengah-engah, masih menggenggam ikat pinggang itu. “Kalau kamu berani menyakiti Chloe lagi, hukumannya akan jauh lebih berat! Kamu benar-benar istri yang tidak berguna!”

Bahuku gemetar.

Bukan lagi karena menangis.

Melainkan karena amarah yang begitu dingin, gelap, dan membara.

Mateo mengira aku hanyalah wanita biasa yang tidak memiliki keluarga atau siapa pun untuk melindungiku.

Saat kami menikah, aku sengaja menyembunyikan identitas asliku agar bisa hidup sederhana. Aku rela meninggalkan kehidupan mewahku demi membuktikan bahwa sebuah keluarga bisa dibangun dengan cinta yang tulus.

Namun Mateo telah membuktikan bahwa dirinya sama sekali tidak pantas mendapatkan semua itu.

Perlahan aku berdiri, mengabaikan rasa perih di punggungku.

Aku menatap mereka berdua dengan sorot mata sedingin es.

Lalu aku mengeluarkan ponsel dari saku.

“Apa? Mau telepon polisi?” ejek Mateo sambil tertawa. “Siapa yang bakal percaya sama kamu? Rumah ini milikku! Dan aku kenal baik Kapolres Jakarta Selatan!”

Aku sama sekali tidak menanggapinya.

Aku menekan tombol **speed dial nomor satu**.



Baru satu kali dering…

Telepon itu langsung diangkat.

Suara di ujung telepon terdengar berat, penuh kepatuhan yang amat sangat. “Halo, Nona Besar. Ada perintah?”

“Pak Bowo,” ucapku singkat dengan suara datar tanpa emosi. “Mulai detik ini, cabut seluruh dana pendamping, bekukan semua rekening, dan sita seluruh aset atas nama Mateo Wiryawan. Batalkan juga semua kontrak bisnis antara seluruh anak perusahaan Vance Global Group dengan perusahaannya.”

Langkah kaki Mateo terhenti. Tawa Chloe seketika memudar.

“Baik, Nona Beatrice. Apakah kami perlu mengosongkan rumah yang Anda tempati sekarang?” tanya Pak Bowo tegas dari balik telepon.

“Sekarang juga. Kirim tim kuasa hukum utama kita, lengkap dengan pihak kepolisian polda dan pengawal pribadi,” jawabku dingin sebelum mematikan sambungan telepon.

Mateo tertawa terbahak-bahak, meski ada sedikit keraguan di matanya saat mendengar nama Vance Global Group—konglomerasi multinasional bernilai ratusan triliun rupiah yang menguasai berbagai industri utama di negeri ini.

“Vance Global? Kamu gila, Beatrice?!” bentak Mateo sambil menggelengkan kepala. “Punggungmu yang berdarah itu bikin otakmu geser, ya? Kamu cuma anak yatim piatu yang aku selamatkan dari jalanan! Jangan mimpi bisa akting serendah ini!”

Chloe ikut menimpali sambil mengelus dada Mateo. “Aduh Mateo, sudah jelas dia makin stres. Mending panggilkan ambulans atau lempar saja dia ke luar sekarang!”

Aku tidak menjawab. Aku berjalan tenang ke arah sofa, mengambil tas tanganku, dan mengeluarkan sebuah dokumen tebal berstempel emas yang selama ini kutyimpan rapat. Aku melemparnya ke meja kaca di depan mereka.

“Halaman 12,” kataku pelan. “Sertifikat kepemilikan rumah mewah ini, beserta 85% saham perusahaan yang kamu bangga-banggakan itu… semuanya berdiri di atas nama yayasan milik keluarga Vance. Milikku.”

Seketika, ponsel Mateo di saku celananya berdering hebat. Bukan hanya satu, melainkan tiga ponsel bisnisnya bergetar secara bersamaan.

Dengan tangan gemetar, Mateo mengangkat telepon pertamanya.

“Pak Mateo! Bahaya Pak! Semua rekening operasional perusahaan dibekukan oleh Bank Central! Semua investor asing membatalkan kontrak dan menuntut ganti rugi ratusan miliar! Perusahaan kita dinyatakan bangkrut detik ini juga!” teriak direktur keuangannya histeris dari telepon.

Belum sempat Mateo menjawab, telepon kedua masuk dari pengacaranya.

“Mateo! Kamu bikin masalah apa dengan keluarga Vance?! Semua aset pribadi milikmu—mobil, sertifikat tanah, hingga kartu kredit platinummu disita penuh malam ini! Kamu miskin mendadak, Mateo!”

Wajah Mateo mendadak pucat pasi bagaikan mayat. Ikat pinggang kulit di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai.

Dalam hitungan kurang dari lima menit, sirine mobil polisi dan konvoi sepuluh mobil SUV hitam mewah terdengar melaju kencang memasuki pelataran rumah. Puluhan pengawal berseragam rapi dan petugas kepolisian daerah masuk mengepung ruang tamu.

Seorang pria paruh baya berjas sangat rapi—Pak Bowo, CEO kepercayaan keluargaku—melangkah masuk dan langsung membungkuk hormat 90 derajat di hadapanku.

“Maaf kami terlambat, Nona Beatrice Vance,” ucap Pak Bowo dengan nada penuh penyesalan. Saat matanya melihat bercak darah di baju dan punggungku, aura wajahnya berubah sangat murka. Ia menoleh ke arah perwira polisi di belakangnya.

“Komisaris, pria itu baru saja melakukan penganiayaan berat dan percobaan pembunuhan terhadap pemilik tunggal Vance Global Group. Proses hukum dia dan wanita di sampingnya atas tuduhan penganiayaan, pencemaran nama baik, serta penipuan keuangan!”

Beberapa petugas polisi langsung maju dan borgol besi berkilat seketika melingkari pergelangan tangan Mateo dan Chloe.

“N-Nona Vance…? Kamu… Beatrice Vance?” gumam Mateo dengan tubuh gemetar hebat. Lututnya lemas hingga ia jatuh berlutut di atas lantai marmer—di tempat yang sama di mana darahku baru saja menetes.

Chloe berteriak histeris saat petugas menyeretnya. “Tidak! Saya tidak ikut-ikut! Ini semua ide Mateo! Tolong lepaskan saya! Gaun saya dari Plaza Indonesia!”

“Gaun itu dibeli pakai kartu kreditku, Chloe,” potongku tenang sambil melangkah melewatinya. “Dan besok pagi, kamu akan menerima tagihan ganti rugi atas tuduhan palsu dan pencurian aset.”

Mateo merangkak di lantai, mencoba menggapai ujung gaun hitamku dengan mata menangis meraung-raung.

“Beatrice! Ampuni aku! Aku khilaf, sayang! Tolong, aku mencintaimu! Jangan hancurkan aku seperti ini!” jeritnya penuh penyesalan yang terlambat.

Aku menghentikan langkahku tepat di depan pintu keluar. Tanpa membalikkan badan, aku menoleh sedikit dan menatapnya dengan tatapan penuh kehampaan.

“20 cambukan tadi adalah harga pembayaran untuk tiga tahun kebodohanku mencintaimu, Mateo,” ucapku dingin. “Dan mulai detik ini… kamu akan menghabiskan sisa hidupmu di dalam sel tahanan, tanpa uang, tanpa nama, dan tanpa ampunan.”

Aku melangkah keluar menuju mobil Rolls-Royce yang telah membukakan pintu untukku. Malam yang dingin di Jakarta malam itu tak lagi menyiksaku, sebab di balik perih di punggungku, sebuah kekuasaan mutlak telah kembali ke tanganku—dan balas dendam paling manis baru saja dimulai.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.