Posted in

PADA HARI PERTUNANGAN KAMI, CALON IBU MERTUAKU MENYURUHKU MENGUPAS UDANG UNTUK ANAK PEREMPUANNYA—MAKA DALAM SATU GERAKAN CEPAT, AKU MENUMPAHKAN SATU PIRING PENUH UDANG KE ATAS KEPALANYA

PADA HARI PERTUNANGAN KAMI, CALON IBU MERTUAKU MENYURUHKU MENGUPAS UDANG UNTUK ANAK PEREMPUANNYA—MAKA DALAM SATU GERAKAN CEPAT, AKU MENUMPAHKAN SATU PIRING PENUH UDANG KE ATAS KEPALANYA

“Kupaskan udangnya untuk adik perempuan tunanganmu. Kuku nail art barunya masih bagus, nanti rusak.”

Itulah kalimat yang diucapkan calon ibu mertuaku tepat di depan lebih dari dua puluh orang saat acara lamaran dan makan malam pertunangan kami di sebuah restoran mewah.

Tanganku yang sedang memegang sendok dan garpu langsung terhenti.

Di hadapanku duduk Bea, calon adik iparku. Kedua tangannya sengaja diangkat sambil memamerkan kuku akrilik baru bertabur rhinestone yang berkilauan. Ia menatapku dengan senyum meremehkan, seolah-olah sudah sewajarnya aku menjadi pelayannya.

Aku tidak bergerak. Aku bahkan tidak menyentuh piring udang itu.

Suasana di ruang VIP mendadak membeku. Obrolan hangat kedua keluarga yang sebelumnya riuh langsung terdiam. Semua mata—para paman, bibi, dan sepupu Mark—tertuju kepadaku.

Saat melihat aku tidak menuruti perintahnya, Bu Helen—ibu Mark—membanting sendok garpunya ke meja.

**CLANG!**

“Kamu masih punya rasa hormat atau tidak?!” bentaknya hingga menggema di seluruh ruangan. “Orang tuamu tidak pernah mengajarkan sopan santun? Belum juga resmi masuk keluarga kami, sudah berani membangkang! Di keluarga kami, melayani keluarga suami adalah tanggung jawab seorang istri!”

Wajah ibuku langsung memucat menahan malu sekaligus marah. Aku bisa melihat ayahku mengepalkan tangan di bawah meja, berusaha menahan emosi.

Aku menoleh kepada tunanganku, Mark, berharap ia akan berdiri membelaku dan keluargaku.

Namun bukannya menggenggam tanganku, ia justru memegang lenganku dan berbisik,

“Sam, jangan keras kepala. Kupaskan saja dua ekor udang itu untuk Mama dan Bea. Mama sudah marah. Jangan bikin malu keluarga kita.”

Saat itulah aku tertawa.

Tawa pendek yang dingin.

Perlahan aku meletakkan garpuku, lalu berdiri dari kursi.

Di bawah tatapan kaget semua orang, aku mengangkat sepiring besar Garlic Butter Chili Shrimp yang masih panas, berkilau oleh mentega dan saus cabai merah yang kental.

Aku melangkah ke belakang Bu Helen.

Lalu, dengan satu gerakan cepat…

**AKU MENUMPAHKAN SELURUH ISI PIRING UDANG PANAS ITU TEPAT KE ATAS KEPALANYA.**

Saus merah langsung meledak membasahi tatanan rambut mahalnya, mengalir ke wajahnya, lalu menetes ke gaun sutra mewah yang dikenakannya. Seekor udang bahkan tersangkut di anting mahalnya.

Seluruh ruangan mendadak sunyi.

Tak seorang pun berani bernapas.

“AAAAAHHH! MAMA!” jerit Bea sambil melompat ketakutan.

Butuh beberapa saat sebelum Bu Helen bisa berbicara. Seluruh tubuhnya gemetar saat mengusap minyak yang mengalir ke matanya.

“KAMU… KAMU KURANG AJAR! DASAR PEREMPUAN SETAN!”

Ayahku langsung berdiri dengan mata memerah.

“Jangan berani menghina anak saya! Kalian yang lebih dulu merendahkan keluarga kami!”

Di tengah kekacauan itu, Mark menghampiriku. Matanya merah karena marah.

“Sam! Minta maaf pada Mama SEKARANG JUGA! Kamu tidak akan keluar dari ruangan ini sebelum berlutut di depan Mama!”

Aku tersenyum dingin.

“Minta maaf? Tidak akan pernah, Mark. Dan sekalian saja kuberitahu… **PERNIKAHAN KITA BATAL.**”

Namun sebelum aku sempat melangkah keluar, Bu Helen menghadangku dengan wajah yang masih dipenuhi saus dan minyak.

“Mau membatalkan pernikahan? Silakan! Tapi kembalikan dulu uang lamaran sebesar **Rp550.000.000**! Dan uang **Rp960.000.000** yang kamu berikan untuk uang muka rumah kalian juga jangan harap bisa kembali! Kami anggap itu sebagai ganti rugi atas penghinaan yang kamu lakukan padaku!”

Aku malah tertawa lebih keras.

Aku mengeluarkan ponsel dari dalam tas, membuka bukti transfer bank beserta email konfirmasi, lalu menunjukkannya tepat di depan wajah Mark.

Peut être une image de pâtes

“Bu Helen… sebaiknya Ibu pastikan dulu ke mana sebenarnya uang **Rp960.000.000** milik saya itu pergi. Karena kalau Ibu belum tahu, putra kesayangan Ibu bukan cuma mencuri uang saya… rumah yang selama ini kami tabung bersama ternyata diam-diam sudah didaftarkan atas nama perempuan lain!”

Keheningan mendadak mencekam. Seluruh pandangan di ruang VIP kini beralih dari kepala Bu Helen yang berantakan langsung menatap Mark dengan raut kaget.

“A-apa maksudmu, Sam?!” Mark panik, wajahnya seketika pucat pasi bagai mayat. Ia berusaha merebut ponselku, namun ayahku dengan sigap pasang badan dan mendorong Mark hingga tersungkur ke kursinya.

“Buka mata Ibu lebar-lebar,” ucapku dingin sambil menggeser layar ponsel, menampilkan tangkapan layar obrolan Mark beserta sertifikat kepemilikan rumah atas nama Sisca. “Putra kesayangan Ibu bukan hanya menguras tabunganku sebesar Rp960.000.000 untuk atas nama selingkuhannya, tapi uang Rp550.000.000 yang Ibu banggakan itu? Itu bukan uang dari keluarga Ibu. Itu adalah komisi proyek pribadiku yang sengaja ditransfer lewat rekening Mark agar ia tidak terlihat ‘kalah kelas’ di depan keluarga besar kalian.”

Napas Bu Helen tertahan. Ia memandang Mark dengan mata melotot, menuntut penjelasan. “Mark… ini benar?!”

Mark tidak bisa menjawab. Bibirnya gemetar, peluh dingin mengucur deras melintasi wajahnya yang memerah.

“Oh, dan soal kerugian Ibu?” Aku melangkah maju, memiringkan kepala sambil menatap Bu Helen dan Bea yang masih kebasahan oleh saus udang. “Tim pengacaraku sudah menyiapkan gugatan penggelapan uang dan penipuan atas nama Mark. Restoran mewah ini, gaun sutra Ibu, dan kuku rhinestone cantik milik Bea… silakan nikmati untuk terakhir kalinya. Karena besok pagi, seluruh aset Mark akan dibekukan, dan pengacara kami akan memastikan kalian membayarnya hingga rupiah terakhir.”

Aku membalikkan badan, menggandeng tangan ibuku yang gemetaran dan merangkul pundak ayahku.

“Ayo, Yah, Bu. Makanan di sini terlalu murah untuk selera kita,” kataku lantang tanpa sedikit pun berpaling.

Saat aku melangkah keluar VIP room, jeritan histeris Bu Helen menyuarakan amarahnya pada Mark, berbaur dengan tangisan Bea yang panik karena kuku cantiknya ketumpahan saus.

Aku berjalan keluar restoran dengan kepala tegak. Malam itu, aku tidak hanya membuang udang busuk ke kepala calon ibu mertuaku—aku baru saja membuang sampah terbesar dalam hidupku.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.