Posted in

WANITA INI MENINGGALKAN PACARNYA YANG BERJUALAN IKAN KARENA “BAU,” NAMUN IA TERKEJUT SAAT MENGETAHUI BAHWA PRIA ITU KINI TELAH MENJADI PEMILIK PERUSAHAAN EKSPOR SEAFOOD TERBESAR

WANITA INI MENINGGALKAN PACARNYA YANG BERJUALAN IKAN KARENA “BAU,” NAMUN IA TERKEJUT SAAT MENGETAHUI BAHWA PRIA ITU KINI TELAH MENJADI PEMILIK PERUSAHAAN EKSPOR SEAFOOD TERBESAR
“Dante, tolonglah! Jangan mendekatiku! Kamu bau sekali!” teriak Sheila sambil menutup hidungnya dengan saputangan mahalnya. Mereka sedang berada di tengah pasar. Dante, yang mengenakan celemek penuh sisik dan noda darah ikan, memegang sebuah kue kecil.

“Sheila, hari ini hari jadi kita,” kata Dante sedih. “Aku menabung untuk ini. Sebentar saja, ayo kita makan bersama.”

“Makan?! Dengan penampilanmu seperti itu?” Sheila merasa jijik. “Dante, aku lelah. Aku lelah punya pacar yang bau pasar! Pacar teman-temanku semuanya wangi, bekerja di kantor. Kamu? Apa selamanya hanya akan jadi penjual ikan?”

“Sheila, ini pekerjaan halal. Suatu hari nanti, lapakku akan berkembang…”

“Suatu hari nanti? Kamu cuma bisa bermimpi!” Sheila menyambar kue itu dan melemparkannya ke dalam bak berisi ikan nila. “Kita selesai. Aku tidak mau lagi. Aku akan mencari pria yang bisa menghidupiku tanpa membuatku bau amis!”

Sheila meninggalkan Dante begitu saja. Pemuda itu berdiri mematung di tengah tatapan sesama pedagang, berlinang air mata, sambil memungut sisa kue yang hancur di antara tumpukan ikan.

Lima tahun berlalu. Hidup tidak berjalan mulus bagi Sheila. Pacarnya yang dulu ia banggakan sebagai “orang kantoran” ternyata menipunya dan meninggalkannya dengan tumpukan utang. Kini, ia sedang mencari pekerjaan sebagai sekretaris.

Ia mendapat panggilan wawancara di “Blue Ocean Global Exports,” perusahaan ekspor makanan laut terbesar di Asia. Saat memasuki gedung, ia takjub—lantainya marmer, AC-nya sangat dingin, dan seluruh ruangan beraroma lavender yang mewah.

“Ibu Sheila?” panggil resepsionis. “CEO sudah siap di ruang konferensi. Anda giliran berikutnya untuk wawancara terakhir.”

Sheila merapikan blusnya. “Aku harus mendapatkan pekerjaan ini. Pemilik perusahaan ini pasti sangat kaya raya.”

Ia membuka pintu ruang konferensi. Di ujung meja panjang, seorang pria tampak membelakangi pintu, menatap keluar jendela ke arah teluk. Pria itu mengenakan setelan jas Armani yang sangat mahal.

“Selamat pagi, Pak. Saya Sheila, melamar untuk posisi—”

Perlahan sang CEO berbalik. Mata Sheila membelalak. Map yang ia pegang terjatuh. Wajahnya pucat pasi seolah kehabisan darah. Pria di depannya—tampan, bersih, wangi, dan berwibawa—tidak lain adalah Dante.

“D-Dante?” bisik Sheila.

Dante tersenyum, tapi itu bukan senyum cinta, melainkan senyum dingin seorang pengusaha. “Ibu Sheila, silakan duduk,” ucapnya formal.

“Dante! Ini benar-benar kamu!” Nada bicara Sheila tiba-tiba berubah manis. “Luar biasa! Kamu sudah sangat kaya sekarang! Aku bangga sekali padamu! Aku selalu tahu kamu pasti bisa sukses!”

“Benarkah?” tanya Dante dengan alis terangkat. “Terakhir yang aku ingat, kamu melempar kueku ke bak ikan dan bilang aku tidak punya masa depan.”

“Dante, kita masih muda saat itu! Aku hanya terbawa emosi!” kilah Sheila sambil mencoba menyentuh tangan Dante. “Kita bisa memulai kembali semuanya. Aku lajang sekarang. Karena kamu bosnya, mungkin kita bisa… kembali bersama lagi?”

Catatan Mata Uang:
Dalam konteks Indonesia, tabungan Dante yang dulu bernilai ratusan ribu Rupiah kini telah berubah menjadi aset perusahaan bernilai Miliaran Rupiah….

Dante perlahan menarik tangannya, menghindari sentuhan Sheila dengan gerakan halus namun tegas. Ia berjalan kembali ke kursi kebesarannya, lalu menatap Sheila dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kenangan pahit dan ketegasan masa kini.

“Dunia memang berputar, Sheila,” ujar Dante tenang. “Bau amis yang dulu kamu benci itu adalah aroma kerja keras. Dari tiap sisik ikan yang aku bersihkan, aku membangun jaringan. Dari ejekanmu hari itu, aku belajar bahwa aku tidak boleh hanya punya ‘lapak,’ tapi harus menguasai ‘lautan’.”

Sheila memaksakan tawa kecil, matanya berbinar penuh harap. “Dan kamu berhasil, Sayang! Lihat dirimu sekarang. Aku menyesal, sungguh. Berikan aku kesempatan untuk menebusnya. Aku bisa jadi sekretaris pribadi yang hebat… atau lebih dari itu.”

Dante membuka sebuah map di atas mejanya. Ia mengambil sebuah pulpen mahal dan menuliskan sesuatu di sana.

“Kamu melamar untuk menjadi sekretaris di perusahaan ini,” kata Dante tanpa melihatnya. “Kriteria utama di Blue Ocean Global Exports adalah kesetiaan, ketahanan di bawah tekanan, dan kemampuan untuk melihat nilai dari sesuatu yang masih dalam proses. Sayangnya…”

Dante menutup map itu dan mendorongnya ke arah Sheila. Di atas map tersebut, tertulis kata “DITOLAK” dengan tinta merah yang tegas.

“Dante! Kenapa?!” Sheila memekik, air matanya mulai mengalir—kali ini bukan karena cinta, tapi karena melihat peluang emasnya hancur.

“Karena sekretarisku harus bisa mencium bau peluang, bukan hanya bau parfum mewah,” jawab Dante dingin. Ia kemudian menekan tombol interkom di mejanya. “Siska, tolong antar Nona Sheila keluar. Dan sampaikan pada resepsionis, aku tidak ingin ada gangguan lagi.”

Sheila berdiri mematung, sementara dua petugas keamanan muncul di pintu. Ia menyadari satu hal yang menyakitkan: Dante tidak lagi membencinya. Dante telah sepenuhnya selesai dengannya.

Saat Sheila berjalan gontai keluar dari gedung megah itu, ia melewati lobi dan menghirup aroma lavender yang dulu ia puja. Namun kini, aroma itu terasa mencekik. Ia teringat pada kue kecil yang hancur di pasar lima tahun lalu—kue yang sebenarnya jauh lebih berharga daripada seluruh kemewahan di gedung ini, namun telah ia buang demi gengsi yang kini menjeratnya dalam kemiskinan.