MEMUTUSKAN UNTUK MENDORONG IBU MEREKA KE LAUT AGAR DIA HILANG SELAMANYA DAN SEMUA HARTA JATUH KE TANGAN MEREKA… NAMUN TAK SATU PUN DARI MEREKA YANG MEMIKIRKAN BAGAIMANA AKHIR DARI PERBUATAN ITU


Setelah suaminya meninggal, Aling Maria berubah drastis. Ia menjadi pendiam, jarang keluar rumah, dan hampir tidak berbicara dengan siapa pun. Rumah yang dulu penuh tawa kini terasa dingin dan sunyi. Anak-anaknya melihat perubahan itu dengan perasaan berbeda—awalnya kesal, lalu perlahan berubah menjadi perhitungan.
Semua yang ditinggalkan suaminya jatuh ke tangannya. Kondominium di Manila, rekening bank, usaha kecil—semuanya atas namanya. Dan setiap kali topik masa depan muncul, ia selalu berkata dengan tenang:
— Ini jaminanku untuk masa tua yang tenang. Saat aku tiada, semuanya juga akan jadi milik kalian.
Namun mereka tidak ingin menunggu.
Awalnya, mereka mencoba memaksanya dengan kata-kata. Lalu mereka mencoba membujuknya—berjanji akan merawatnya dan bahkan menyusun rencana-rencana indah. Ketika itu tidak berhasil, mereka melangkah lebih jauh—mencoba memalsukan dokumen, tetapi itu terlalu berisiko. Maka mereka memikirkan cara lain.
Di hari ulang tahunnya, mereka menghadiahkan perjalanan naik helikopter dan skydiving. Aling Maria terkejut, namun sedikit merasa senang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada kilau yang kembali muncul di matanya. Ia mengira anak-anaknya hanya ingin membahagiakannya dan mengembalikan semangat hidupnya.

Hari itu tampak sempurna. Langit cerah, suara baling-baling helikopter menggema, dan di bawahnya terbentang luas Samudra Pasifik tanpa batas. Anak-anaknya tersenyum, menunjuk pemandangan, bahkan bercanda. Wanita itu pun tertawa—untuk pertama kalinya setelah waktu yang lama.
Lalu salah satu anak berkata:
— Bu, ke sini, lihat… pemandangannya indah sekali.
Ia mendekat ke pintu yang terbuka, memegang pegangan. Angin menerpa wajahnya, rambutnya berantakan, dan jantungnya berdegup kencang. Ia sedikit membungkuk ke depan… dan pada saat itu, ia merasakan dorongan kuat dari belakang.
Lantai seakan menghilang dari bawah kakinya. Ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
Namun tak satu pun dari mereka memikirkan bagaimana akhir dari perbuatan mengerikan itu.
Saat tubuh Aling Maria meluncur jatuh menuju birunya Samudra Pasifik, anak-anaknya terpaku di tepi pintu helikopter. Tidak ada jeritan, hanya suara angin yang menderu. Mereka saling pandang dengan napas memburu, ada rasa lega yang mengerikan sekaligus ketakutan yang mulai merayap. Mereka pikir, air laut akan menelan segalanya—jejak kejahatan, tubuh ibu mereka, dan semua penghalang menuju kekayaan.
Namun, mereka melupakan satu hal yang sangat krusial: hukum dunia nyata tidak sesederhana rencana jahat mereka.
1. Bukti yang Tertinggal
Di era teknologi ini, tidak ada kejahatan yang benar-benar bersih. Pilot helikopter yang mereka sewa telah memasang kamera GoPro di kokpit untuk dokumentasi ulang tahun, dan sensor pintu darurat mencatat anomali pada sistem keamanan tepat saat Aling Maria jatuh. Saat mereka mendarat dengan wajah pura-pura histeris, polisi tidak butuh waktu lama untuk menemukan ketidakkonsistenan dalam cerita mereka.
2. Labirin Birokrasi dan Hukum
Ironi terbesar menyapa mereka seminggu kemudian. Saat mereka mendatangi bank dan notaris dengan penuh percaya diri, mereka disambut oleh kenyataan pahit:
- Status “Orang Hilang”: Secara hukum, seseorang yang hilang di laut tanpa jenazah tidak langsung dinyatakan meninggal. Di banyak yurisdiksi, dibutuhkan waktu bertahun-tahun (seringkali hingga 7 tahun) sebelum seseorang dinyatakan “meninggal secara hukum” agar warisannya bisa diproses.
- Prinsip Slayer Rule: Di bawah hukum waris, seorang ahli waris yang terbukti membunuh atau menyebabkan kematian pemberi waris secara otomatis kehilangan hak atas sepeser pun harta tersebut.
3. Penjara yang Lebih Dingin dari Samudra
Bukannya berjemur di kondominium mewah atau menghabiskan isi rekening bank, anak-anak Aling Maria justru berakhir di dalam sel sempit. Harta yang mereka dambakan kini habis terjual hanya untuk membayar biaya pengacara yang sia-sia.
Di malam-malam yang sunyi di balik jeruji besi, mereka sering terbangun karena mimpi buruk yang sama. Bukan mimpi tentang polisi, melainkan bayangan wajah Aling Maria di detik terakhir—bukan wajah penuh kebencian, melainkan wajah yang penuh pengampunan karena ia telah menyiapkan kejutan lain.
Sehari sebelum perjalanan itu, Aling Maria ternyata telah menandatangani dokumen hibah yang memindahkan seluruh hartanya ke sebuah yayasan panti asuhan, karena ia merasa anak-anaknya sudah cukup mapan dan mandiri.
Mereka telah membunuh ibu mereka untuk mendapatkan kosong. Mereka mendorong Aling Maria ke laut, namun justru mereka sendirilah yang tenggelam dalam penyesalan yang tak berujung.