MIKU MENGGUNAKAN UANGKU UNTUK MENIKAHI SELINGKUHANNYA. MEREKA PIKIR SETELAH “HONEYMOON” MEWAH, MEREKA AKAN TINGGAL DI MANSION YANG KUBELI. YANG TIDAK MEREKA TAHU—SAAT MEREKA BERSENANG-SENANG, AKU SUDAH MENJUAL RUMAH ITU. DAN SAAT MEREKA MENCOBA MEMBUKA PINTUNYA, MEREKA BARU SADAR—TIDAK ADA LAGI YANG TERSISA UNTUK MEREKA, BAHKAN SATU SEN PUN.
Miliarder yang Pura-Pura Buta
Namaku Bianca Valderama. Di usia 32 tahun, aku memimpin kerajaan fashion dan kosmetik terbesar di Asia. Karena terlalu percaya pada cinta, aku tidak pernah memperhitungkan uang saat menikah dengan Troy—pria yang mengaku hanya seorang marketing director biasa.
Aku memberinya segalanya.
Rekening bersama berisi ratusan miliar rupiah.
Mobil sport mewah.
Dan sebuah mansion senilai sekitar Rp140.000.000.000 di Forbes Park.
Kupikir cintaku cukup.
Aku salah.
Suatu hari, Troy pamit untuk “perjalanan bisnis sebulan” ke Eropa.
“Babe, aku harus tutup deal di Paris dan Santorini. Aku bakal sibuk, mungkin jarang hubungi kamu. I love you.”
Aku percaya.
Sampai suatu malam—
notifikasi dari bank masuk bertubi-tubi.
ALERT: Rp15.000.000.000 ditarik untuk “Santorini Grand Wedding and Honeymoon Package.”
ALERT: Rp5.000.000.000 untuk “Cartier Diamond Bridal Set.”
Aku membeku.
Pernikahan?
Honeymoon?
Aku langsung menyewa penyelidik pribadi.

Beberapa jam kemudian—
aku menerima foto.
Troy.
Memakai tuxedo putih.
Tersenyum bahagia.
Mencium pengantin wanita di altar di Yunani.
Stella.
Sekretarisnya.
Dan semua itu—
dibayar dengan uangku.
Lebih buruk lagi—
aku mendapat rekaman suara.
“Tenang saja, babe,” kata Troy dalam pesan itu. “Istriku yang bodoh itu masih sibuk kerja. Kita nikmati honeymoon dulu. Setelah pulang, aku akan cerai dia dan usir dia dari mansion. Kita yang akan tinggal di sana. Semua uangnya jadi milikku.”
Saat itu—
aku tidak menangis.
Aku tersenyum.
Menjual Surga Mereka
Mereka ingin mansionku?
Mereka ingin hidup dari uangku?
Baik.
Aku mengangkat telepon.
“Membekukan semua rekening bersama,” kataku pada pengacaraku.
“Tarik kembali semua dana yang dia ambil. Bekukan kartu kreditnya. Dan siapkan gugatan penipuan.”
“Baik, Nona Bianca. Bagaimana dengan mansionnya?”
Aku menjawab tanpa ragu:
“Jual.”
“Secepat mungkin. Bahkan kalau harus setengah harga—tidak masalah. Aku mau itu terjual sebelum mereka pulang.”
Aku memindahkan semua barangku ke penthouse di BGC.
Meninggalkan mansion itu—
kosong.
Tanpa furnitur.
Tanpa kenangan.
Tanpa belas kasihan.
Karena rumah itu—
atas namaku.
Dan dalam hitungan hari—
rumah itu berpindah tangan.
Pemilik baru langsung mengganti semua kunci, sistem keamanan, dan gerbang.
Sementara itu—
aku menghapus Troy dari hidupku.
Dari perusahaan.
Dari rekening.
Dari semua akses.
Dan sebagai hadiah terakhir—
kasus hukum.
Penipuan besar.
Bigami.
Kepulangan yang Menghancurkan
Dua minggu kemudian—
mobil mewah berhenti di depan mansion lama itu.
Troy turun lebih dulu.
Masih percaya diri.
Masih tersenyum.
Stella turun di sampingnya—
dengan cincin berlian besar di jarinya.
“Finally, babe,” katanya manja. “Rumah kita.”
Troy tertawa.
“Mulai sekarang, semuanya milik kita.”
Ia memasukkan kunci ke pintu.
Klik.
Tidak terbuka.
Ia mencoba lagi.
Tetap tidak bisa.
“Kenapa ini?”
Saat itu—
gerbang terbuka.
Seorang pria asing keluar.
“Bisa saya bantu?” tanyanya dingin.
“Kami pemilik rumah ini,” jawab Troy kesal.
Pria itu mengangkat alis.
“Pemilik?”
Ia tersenyum tipis.
“Saya baru membeli rumah ini minggu lalu.”
Wajah Troy langsung pucat.
“Itu tidak mungkin—”
“Dokumen lengkap ada pada saya. Jika Anda tidak pergi, saya akan memanggil keamanan.”
Stella mulai panik.
“Troy… apa yang terjadi…?”
Troy mundur selangkah.
Tangannya gemetar.
Dan saat itu—
teleponnya berdering.
Aku.
Ia mengangkatnya dengan tangan gemetar.
“Bianca… apa ini—”
Aku tersenyum di ujung telepon.
“Selamat datang di dunia tanpa aku.”
Sunyi.
Lalu aku melanjutkan:
“Rumah itu sudah bukan milikmu.”
“Rekeningmu kosong.”
“Mobilmu sudah ditarik.”
“Dan… surat panggilan pengadilan mungkin sudah menunggumu di alamat lama.”
Napasnya memburu.
“Bianca, dengar—aku bisa jelaskan—”
Aku tertawa pelan.
“Jelaskan ke hakim saja.”
Aku berhenti sejenak—
lalu menambahkan:
“Oh ya…”
“Selamat atas pernikahanmu.”
“Semoga kalian bahagia…”
aku tersenyum dingin—
“di jalanan.”
Aku menutup telepon.
Dan di sisi lain—
untuk pertama kalinya—
Troy tidak punya apa-apa.
Troy terdiam kaku di depan gerbang yang kini terasa seperti tembok penjara. Di sampingnya, Stella mulai berteriak histeris, menuntut penjelasan tentang kemewahan yang dijanjikan namun menguap seperti embun.
Tiba-tiba, sebuah truk derek berhenti tepat di belakang mobil sport yang mereka kendarai.
“Maaf, Tuan. Kendaraan ini ditarik atas perintah perusahaan pembiayaan karena gagal bayar dan penyalahgunaan aset perusahaan Valderama,” ujar petugas itu tanpa ekspresi.
Stella menjerit saat tas bermereknya ditarik paksa dari kursi penumpang sebelum mobil itu dikaitkan ke truk. Kini, mereka benar-benar berdiri di pinggir trotoar—hanya dengan koper berisi baju pantai dari Santorini dan sisa-sisa kesombongan yang hancur.
“Troy, lakukan sesuatu! Gunakan kartu kreditmu!” bentak Stella.
Troy dengan tangan gemetar mengeluarkan kartu hitamnya dan mencoba memesan hotel melalui ponsel.
NOTIFIKASI: TRANSAKSI DITOLAK. AKUN DIBEKUKAN.
Ia mencoba kartu lain. Hasilnya sama. Bianca tidak hanya menutup pintu rumah, ia telah memutus oksigen finansial mereka.
Saat itulah, sebuah mobil polisi mendekat. Dua petugas turun membawa dokumen resmi.
“Saudara Troy? Anda ditahan atas dugaan penggelapan dana perusahaan sebesar Rp20 miliar dan laporan atas tindakan bigami yang diajukan oleh Nyonya Bianca Valderama.”
Wajah Troy berubah menjadi abu-abu. Ia menoleh pada Stella, berharap setidaknya wanita itu akan membelanya. Namun, Stella justru mundur menjauh, melepaskan cincin berlian (yang sebenarnya juga sudah dilaporkan hilang oleh Bianca sebagai pencurian) dan melemparkannya ke tanah.
“Aku tidak tahu apa-apa! Dia yang mengajakku!” teriak Stella sambil berlari mencari taksi, meninggalkan Troy sendirian saat borgol dingin melingkari pergelangan tangannya.
Dari kejauhan, di dalam sebuah gedung pencakar langit yang menghadap ke arah mansion itu, aku menyesap kopi hitamku. Aku melihat siluet Troy yang digiring masuk ke mobil polisi melalui layar monitor CCTV yang dikirimkan tim keamananku.
Ponselku berdering lagi. Pesan singkat dari pengacaraku: “Semua aset telah dipulihkan. Troy akan menghadapi tuntutan minimal 15 tahun penjara.”
Aku meletakkan ponsel itu. Tidak ada amarah, tidak ada dendam yang tersisa. Hanya ada rasa lega yang murni.
Troy mengira dia bisa menipu seorang miliarder. Dia lupa bahwa aku tidak membangun kerajaan bisnis ini dengan belas kasihan. Aku membangunnya dengan perhitungan. Dan hari ini, perhitungannya sangat sederhana:
Pengkhianatan sama dengan kehancuran total.
Aku menutup tirai kantorku, membalikkan badan, dan kembali memimpin duniaku. Dunia yang kini jauh lebih bersih tanpa parasit sepertinya.