Posted in

SELAMA LIMA TAHUN AKU BEKERJA DI DUBAI DAN MENGIRIM $2.000 SETIAP BULAN UNTUK ISTRI DAN ANAKKU. AKU PULANG TANPA MEMBERI TAHU UNTUK MENGEJUTKAN MEREKA, NAMUN APA YANG KULIHAT DI TAMAN MANSION YANG KUBANGUN SENDIRI MEMBEKUKAN DARAHKU DAN MEMBANGUNKAN MONSTER DI DALAM HATIKU.

SELAMA LIMA TAHUN AKU BEKERJA DI DUBAI DAN MENGIRIM $2.000 SETIAP BULAN UNTUK ISTRI DAN ANAKKU. AKU PULANG TANPA MEMBERI TAHU UNTUK MENGEJUTKAN MEREKA, NAMUN APA YANG KULIHAT DI TAMAN MANSION YANG KUBANGUN SENDIRI MEMBEKUKAN DARAHKU DAN MEMBANGUNKAN MONSTER DI DALAM HATIKU.

Mimpi di Tengah Gurun

Namaku Gabriel, 35 tahun. Sebagai Chief Engineer di perusahaan minyak besar di Dubai, aku menahan panas gurun yang menyengat dan rasa rindu yang hampir membuatku gila. Satu-satunya yang memberiku kekuatan adalah bayangan istriku, Sabrina, dan anak kami, Lucas, yang baru berusia satu tahun saat aku meninggalkan Filipina.

Setiap bulan, aku mengirim $2.000—sekitar Rp30.000.000—ke rekening Sabrina. Aku bahkan membangun mansion impian kami dengan taman luas.

“Jangan khawatir, Sayang,” kata Sabrina di setiap video call, sambil mengenakan perhiasan mahal. “Aku merawat Lucas dengan baik. Dia sekolah di preschool eksklusif dan mendapatkan semua yang dia mau. Kamu jaga diri di sana.”

Aku percaya.

Namun setiap kali aku ingin berbicara dengan anakku, selalu ada alasan—katanya sudah tidur, sedang les, atau bermain di rumah tetangga. Karena lelah bekerja, aku tidak berpikir macam-macam.

Kepulangan Tanpa Peringatan

Kontrakku selesai tiga bulan lebih cepat. Aku ingin melihat ekspresi kaget dan bahagia di wajah mereka, jadi aku memutuskan pulang diam-diam. Aku membawa hadiah mahal, cokelat, dan sebuah robot mainan besar untuk Lucas, yang kini sudah enam tahun.

Pukul empat sore saat aku tiba di mansion kami di Alabang.

Gerbang besar terbuka.

Banyak mobil mewah terparkir di luar.

Dari dalam, terdengar musik pesta yang keras, tawa, dan dentingan gelas anggur dari taman dan kolam renang.

Agar lebih mengejutkan, aku tidak masuk lewat pintu utama. Aku berjalan menyusuri sisi rumah menuju taman, membawa semua hadiah.

Tapi apa yang kulihat—

seperti pisau tajam yang menusuk dadaku berulang kali.

Pemandangan yang Menghancurkan

Di sekitar kolam renang, Sabrina sedang berpesta dengan teman-temannya.

Ia mengenakan bikini.

Dan bersandar erat di lengan seorang pria yang sangat kukenal—

Troy.

Mantan temanku.

Pengangguran.

Penjudi.

Troy menciumi leher Sabrina sambil mereka tertawa.

Duniaku seakan berhenti.

Namun itu belum yang terburuk.

Di ujung taman, jauh dari para tamu, ada kandang besar berisi anjing-anjing ras mahal milik Sabrina.

Di samping kandang itu—

di bawah terik matahari—

duduk seorang anak kecil.

Kurus.

Tulangnya terlihat jelas.

Pakaiannya kotor.

Dan saat ia mengangkat wajahnya—

napasku berhenti.

Itu Lucas.

Anakku.

Yang katanya hidup dalam kemewahan.

Yang katanya bahagia.

Yang katanya… memiliki segalanya.

Tapi di hadapanku—

ia duduk sendirian.

Seperti tidak berarti apa-apa.

Seperti… bukan siapa-siapa.

Tanganku yang memegang hadiah mulai gemetar.

Robot mainan itu jatuh ke tanah.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku—

aku tidak merasakan lelah.

Tidak merasakan rindu.

Tidak merasakan sakit.

Hanya satu hal yang tersisa—

amarah.

Dingin.

Dalam.

Dan tak terhentikan.

Aku melangkah keluar dari bayang-bayang pepohonan, tepat ke tengah kerumunan pesta yang sedang tertawa riuh. Musik masih berdentum, tapi kehadiranku seperti hawa dingin yang mematikan api.

Sabrina yang sedang memegang gelas kristal di pelukan Troy, membeku. Wajahnya yang tadinya kemerahan karena alkohol berubah menjadi pucat pasi seputih kertas.

“G-Gabriel?” suaranya bergetar hebat. “Kamu… kenapa kamu di sini? Katanya tiga bulan lagi…”

Aku tidak menjawabnya. Aku bahkan tidak menatap Troy yang mencoba melepaskan tangannya dari pinggang istriku dengan panik. Mataku hanya tertuju pada satu titik: sudut taman di dekat kandang anjing.

Aku berjalan melewati mereka tanpa sepatah kata pun. Langkah sepatuku terasa berat di atas rumput hijau yang disiram dengan uang keringatku. Saat aku sampai di depan Lucas, anak itu meringkuk ketakutan, menutup wajahnya dengan tangan kecilnya yang penuh luka gores.

“Jangan pukul, Ma… Lucas tidak lapar lagi…” bisiknya pelan, suara yang seharusnya tidak keluar dari mulut bocah enam tahun.

Hancur. Hatiku yang kukira membeku, kini hancur menjadi debu. Aku berlutut di tanah kotor itu, mengabaikan jas mahalku, dan menariknya ke dalam pelukanku. Dia begitu ringan—terlalu ringan untuk anak seusianya.

“Ini Papa, Nak. Ini Papa,” bisikku dengan suara serak.

Saat itulah, monster di dalam hatiku terbangun sepenuhnya. Aku berdiri sambil menggendong Lucas, lalu berbalik menatap mereka. Sabrina mencoba mendekat, air mata buaya mulai mengalir di pipinya.

“Gabriel, dengarkan aku… Itu hanya akting, Lucas nakal sekali belakangan ini, dia…”

“Cukup,” kataku pelan, namun nadanya membuat seluruh tamu pesta terdiam ketakutan.

Aku merogoh ponselku dan menekan satu tombol cepat ke tim pengacaraku dan kepala keamanan yang kukontrak dari Dubai.

“Eksekusi sekarang,” perintahku singkat.

Dalam hitungan detik, sirene meraung di depan gerbang. Bukan polisi, tapi tim keamanan swasta dan truk pengangkut aset.

“Apa-apaan ini?!” teriak Troy mencoba berani.

“Rumah ini, mobil-mobil itu, perhiasan yang kau pakai, Sabrina… semuanya atas nama perusahaan cangkangku di Dubai,” kataku dengan nada sedingin es. “Dan hari ini, aku baru saja menyatakan perusahaan itu bangkrut dan menyita semua asetnya. Kalian punya waktu lima menit untuk keluar dari sini sebelum anjing-anjing ini dilepaskan dari kandangnya.”

Sabrina berteriak histeris saat petugas mulai menarik tas-tas bermereknya. Troy mencoba kabur, namun ia dihentikan oleh dua pria besar di gerbang—detektif swasta yang sudah mengumpulkan bukti perjudiannya menggunakan uangku.

“Aku mengirim $2.000 sebulan agar anakku hidup seperti raja, bukan agar kau bisa memelihara parasit di rumahku,” desisku tepat di depan wajah Sabrina.

Aku tidak membiarkannya menjawab. Aku membawa Lucas masuk ke dalam mobil hitam yang sudah menungguku. Sebelum pergi, aku melihat mereka berdua berdiri di trotoar, tanpa alas kaki, tanpa uang, dan tanpa harga diri—diusir dari surga palsu yang mereka bangun di atas penderitaan anakku.

Sambil memeluk Lucas yang mulai tertidur aman di dekapanku, aku membisikkan janji:

“Tidur yang nyenyak, jagoan. Mulai hari ini, dunia akan berlutut padamu, dan takkan ada satu orang pun yang berani menyentuhmu lagi.”

Balas dendamku baru saja dimulai, dan penjara adalah tempat yang terlalu mewah untuk mereka. Aku akan memastikan mereka merasakan setiap detik kelaparan yang dirasakan Lucas selama lima tahun ini.