Posted in

IBU 70 TAHUN DATANG MEMINTA UANG PENGOBATAN KEPADA ANAK LAKI-LAKINYA, SANG ANAK HANYA MEMBERI SEBUNGKUS MIE INSTAN LALU MENGUSIR DENGAN HALUS. SESAMPAI DI RUMAH, SAAT DIBUKA, SANG IBU TERDIAM KAGET KETIKA MELIHAT…

IBU 70 TAHUN DATANG MEMINTA UANG PENGOBATAN KEPADA ANAK LAKI-LAKINYA, SANG ANAK HANYA MEMBERI SEBUNGKUS MIE INSTAN LALU MENGUSIR DENGAN HALUS. SESAMPAI DI RUMAH, SAAT DIBUKA, SANG IBU TERDIAM KAGET KETIKA MELIHAT…

Sore menjelang, gerimis turun pelan. Bu Sari berjalan tertatih menyusuri jalan tanah berbatu dengan tongkat di tangan. Di pundaknya tergantung tas kain tua yang sudah usang—di dalamnya hanya ada beberapa lembar hasil pemeriksaan dokter dan recehan yang bahkan cuma cukup untuk membeli sepotong roti. Usianya sudah 70 tahun, kakinya gemetar, tapi hari ini ia memaksa diri berangkat—mencari putra kandungnya, Andi, anak yang dulu ia besarkan dengan seluruh cinta dan pengorbanan seorang ibu.

Bu Sari mengidap penyakit jantung. Dokter bilang harus segera operasi, biayanya puluhan juta rupiah. Ia tak punya uang sebanyak itu. Satu-satunya jalan adalah meminjam pada anaknya. Andi pemilik toko bahan bangunan, hidupnya tergolong mapan—rumah besar, mobil mengilap. Bu Sari percaya, seberapa sibuk pun anaknya, ia tak mungkin tega membiarkan ibunya menderita.

Sesampainya di sana, Bu Sari berhenti di depan gerbang besi besar, menekan bel. Bunyi “ting-ting” terdengar, lama baru ada yang membuka. Seorang perempuan muda—istri Andi—menatapnya dari ujung rambut sampai kaki, lalu berkata dingin:
– Ibu ke sini ada perlu apa?

Bu Sari tersenyum tipis, suaranya bergetar:
– Ibu mau jenguk kalian… sekalian ada sedikit hal mau minta tolong ke Andi…

Istri Andi tak menjawab, hanya berbalik memanggil suaminya. Andi keluar dari dalam rumah, berpakaian rapi, ponsel masih di tangannya.
– Ibu ke sini ada urusan apa? Aku lagi sibuk.

Dengan ragu, Bu Sari mengeluarkan kertas hasil pemeriksaan dari tasnya:
– Ibu sakit jantung, Dokter bilang harus segera operasi. Ibu cuma mau pinjam sedikit uang dulu. Nanti kalau adikmu di kampung sudah panen padi, ibu kembalikan…

Andi mengernyit, menghela napas:
– Ya ampun, Bu… aku juga lagi seret modal buat usaha. Lagi nggak ada uang. Ibu pulang saja dulu, nanti aku pikirkan lagi.

Mata Bu Sari memerah.
– Ibu cuma butuh sedikit, cukup buat biaya rumah sakit… Tolong ibu sekali ini, ya?

Andi melirik istrinya, lalu berkata seolah ingin cepat mengakhiri pembicaraan:
– Nih, Ibu bawa saja sebungkus mi ini buat makan. Aku beneran lagi nggak punya. Nanti kalau ada uang, aku kirim ke kampung.

Ia mengambil sebungkus mi instan dari bagasi mobil, menyodorkannya ke tangan ibunya, lalu mendorong pelan Bu Sari ke luar gerbang.
– Ibu pulang saja, sebentar lagi hujan deras. Nanti tambah sakit.

Bu Sari menunduk, memeluk bungkus mi itu erat-erat, berusaha menahan air mata. Gerbang besi menutup, meninggalkan sang ibu tua berdiri sendirian di tengah hujan yang kian deras.

Dalam perjalanan pulang, Bu Sari tak menyalahkan anaknya. Ia menghibur diri: “Mungkin Andi benar-benar sedang susah. Setidaknya dia masih memberi sebungkus mi—anggap saja itu niat baiknya.”

Sesampainya di rumah reyotnya, Bu Sari meletakkan bungkusan mi di atas meja. Perutnya lapar; ia berniat menyeduh satu bungkus mi agar badannya hangat. Saat membuka bungkusan itu, Bu Sari tertegun—di dalamnya bukan hanya mi instan… tapi juga…

Di sela-sela lipatan bumbu mi instan itu, terselip sebuah kartu ATM berwarna emas dan secarik kertas kecil yang tulisannya tampak terburu-buru, bercampur dengan bekas tetesan air yang sepertinya adalah air mata Andi.

Dengan tangan gemetar, Bu Sari membaca tulisan itu:

“Ibu, maafkan Andi. Istri Andi memegang semua kendali keuangan rumah dan selalu mengawasi setiap rupiah yang keluar. Tadi dia ada di sana, jadi Andi harus berakting seolah-olah Andi anak yang durhaka agar dia tidak curiga dan tidak marah pada Ibu nantinya.”

“Di dalam bungkus mi ini ada kartu ATM atas nama asisten toko Andi yang paling Andi percaya. PIN-nya adalah tanggal lahir Ibu. Di dalamnya ada 100 juta rupiah. Pakailah untuk operasi dan semua biaya pemulihan. Andi sudah mengatur ambulans untuk menjemput Ibu besok pagi jam 8. Jangan bilang siapa-siapa, cukup Ibu dan Tuhan yang tahu. Andi akan selalu menjaga Ibu dari jauh sampai keadaan lebih baik. Sehat ya, Bu. Andi sayang Ibu.”

Bu Sari jatuh terduduk di lantai tanah rumahnya. Tangis yang sedari tadi ia tahan di depan menantunya kini pecah sejadi-jadinya. Ia memeluk bungkus mi instan kosong itu seolah-olah sedang memeluk tubuh anaknya.

Ternyata, sebungkus mi yang ia kira adalah bentuk pengusiran hina, justru merupakan “perahu penyelamat” yang dikirimkan anaknya dengan penuh risiko. Andi sengaja melakukan itu agar istrinya yang dominan tidak menghalangi niat tulusnya membantu sang ibu.

Malam itu, meski hanya makan mi instan tanpa telur atau sayur, Bu Sari merasa itu adalah makanan paling nikmat dan paling hangat yang pernah ia santap seumur hidupnya. Penyakit jantungnya memang belum sembuh secara medis, namun hatinya yang sempat hancur kini telah utuh kembali.

Keesokan paginya, tepat pukul 08.00, sebuah ambulans putih berhenti di depan rumah reyot itu. Bu Sari melangkah masuk dengan senyum tenang, membawa bungkus mi instan itu di dalam tas kainnya sebagai pengingat: bahwa kasih sayang seorang anak terkadang harus bersembunyi di balik bungkus yang paling sederhana demi sebuah keselamatan.