SAYA MENEMUKAN TOILET TERSUMBAT, SAAT SAYA MEMANGGIL TUKANG LEDENG UNTUK MEMPERBAIKINYA, RAHASIA YANG TELAH LAMA DISEMBUNYIKAN SUAMI SAYA TERUNGKAP—TERNYATA DIA TIDAK SESEDERHANA YANG SAYA KIRA.
Saya dan suami saya, Marco, bertemu seolah-olah sudah takdir. Sejak pertama kali kami bertemu, kami langsung jatuh cinta. Karena emosi pertama yang kami rasakan begitu kuat, kami tidak lagi memperhatikan perbedaan di antara kami. Jika dibandingkan dengan Marco, penampilan saya jauh lebih mencolok. Penghasilan saya pun jauh lebih besar darinya. Awalnya, orang tua saya menentang hubungan kami, tetapi karena pendirian saya yang keras, mereka akhirnya terpaksa setuju.
Setelah kami menikah, saya masih sangat sibuk dengan pekerjaan—sering lembur dan pulang larut malam. Marco tidak pernah memaksa saya untuk segera memiliki anak. Setiap malam, dialah yang membersihkan rumah, memasak, dan menunggu saya pulang. Ketika saya pulang dalam keadaan lelah luar biasa, dia menyiapkan air hangat untuk mandi dan menghangatkan makanan yang sudah tertata rapi di meja. Dia bahkan belajar memijat agar saya merasa lebih rileks.
Setelah beberapa lama, saya menyadari bahwa perlahan-lahan sikapnya menjadi dingin kepada saya. Ketika saya bertanya, dia hanya bilang bahwa dia sering merasa sangat lelah akhir-akhir ini. Saya mulai merasa curiga—apakah ada sesuatu yang dia sembunyikan dari saya? Atau mungkinkah ada wanita lain? Namun, saya sangat mempercayai suami saya. Bagaimana mungkin dia bisa mengkhianati saya?
Saya sempat berencana agar kami berdua pergi berlibur ke Tagaytay selama beberapa hari. Namun, ketika saya katakan bahwa saya akan mengambil cuti kerja, tiba-tiba dia berkata bahwa dia ingin pulang ke kampung halamannya di Batangas terlebih dahulu. Dia tidak memberi saya kesempatan untuk membantah—dia langsung pergi begitu saja. Saya tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkannya, karena saya tidak ingin bertengkar lebih lanjut.
Keesokan harinya, saya menyadari bahwa toilet tersumbat, jadi saya memanggil tukang ledeng untuk memperbaikinya. Saya merasa heran karena biasanya fasilitas kami baik-baik saja dan kami tidak melakukan apa pun yang bisa menyebabkan penyumbatan. Saat tukang ledeng sedang bekerja, saya berdiri di sampingnya untuk melihat apa yang menyumbat di dalam. Ketika saya melihat apa yang dia tarik keluar… saya terdiam karena terkejut.

Tukang ledeng itu menarik keluar sebuah kantong plastik kedap udara yang dilapisi isolasi hitam tebal. Kantong itu terlihat kotor, tetapi isinya terlindung sempurna dari air. Di dalamnya, saya bisa melihat sebuah benda persegi panjang yang berat dan beberapa dokumen yang tergulung.
“Maaf, Bu, sepertinya ini sengaja diletakkan di pipa pembuangan darurat agar tidak ketahuan,” ujar tukang ledeng itu sambil menyerahkan kantong tersebut kepada saya.
Dengan tangan gemetar, saya membuka isolasi itu. Di dalamnya terdapat sebuah paspor diplomatik dengan foto Marco, namun dengan nama yang berbeda. Di samping paspor itu, terdapat sebuah ponsel satelit dan sebuah kunci deposit bank internasional.
Namun, yang paling menghancurkan hati saya adalah sebuah buku harian kecil. Saya membukanya dan membaca halaman terakhir yang ditulis hanya beberapa hari sebelum dia pergi ke Batangas:
“Tugas pengamanan ini seharusnya berakhir setahun lalu. Aku diperintahkan untuk mendekatinya karena ayahnya dicurigai terlibat dalam sindikat pencucian uang internasional. Tapi aku gagal. Aku jatuh cinta padanya. Sekarang, mereka memaksaku pulang untuk memberikan laporan akhir. Jika aku tidak kembali ke Batangas menemui ‘kontak’ itu, mereka akan mencelakakannya untuk memaksaku bicara. Aku harus pergi sendirian, meski dia akan membenciku selamanya.”
Air mata saya jatuh tanpa suara. Marco, pria yang setiap malam memijat kaki saya dan menyiapkan air hangat, ternyata adalah seorang agen intelijen yang ditugaskan untuk memata-matai keluarga saya. Seluruh kesederhanaannya, pekerjaan serabutannya, dan penolakan orang tua saya—semuanya adalah bagian dari skenario yang lebih besar.
Tiba-tiba, ponsel satelit di dalam kantong itu bergetar. Sebuah pesan singkat muncul di layarnya: “Operasi Batangas gagal. Subjek terdeteksi. Segera evakuasi istrimu. Mereka sudah menuju ke rumahmu.”
Detik itu juga, suara rem mobil yang mencicit terdengar dari depan rumah kami. Saya menyadari bahwa perjalanan Marco ke Batangas bukanlah untuk meninggalkanku karena bosan, melainkan untuk menjadi umpan demi menjauhkan bahaya dari pintu rumah kami.
Pria sederhana yang saya kira hanya bisa memasak dan membersihkan rumah, kini menjadi satu-satunya alasan mengapa saya masih bernapas. Saya memandang ke arah pintu depan yang mulai didobrak paksa, menyadari bahwa hidup saya yang selama ini saya anggap “mapan” hanyalah sebuah ilusi yang dilindungi oleh cinta rahasia seorang pria yang paling berbahaya—dan yang paling mencintai saya—di dunia.