Posted in

IKAKAKU MENELPONKU DI TENGAH MALAM DAN MENYURUH AKU BERSEMBUNYI DI LOTENG TANPA MEMBERITAHU SUAMIKU… DAN APA YANG KULIHAT DARI CELAH LANTAI MENGHANCURKAN SEMUA YANG KUPERCAYA

IKAKAKU MENELPONKU DI TENGAH MALAM DAN MENYURUH AKU BERSEMBUNYI DI LOTENG TANPA MEMBERITAHU SUAMIKU… DAN APA YANG KULIHAT DARI CELAH LANTAI MENGHANCURKAN SEMUA YANG KUPERCAYA

Ponselku berdering pukul 00.08.

Hampir saja tidak kujawab.

Di sampingku, Daniel Cruz—suamiku—tertidur lelap di rumah kami yang tenang di sebuah kompleks perumahan di Quezon City. Hujan turun pelan di jendela, dan baby monitor di sampingku berkedip lampu hijau—anak kami, Noah, sedang menginap di rumah neneknya untuk akhir pekan.

Sunyi.
Damai.

Sampai aku melihat nama di layar.

Mara.

Dia tidak pernah menelepon di jam seperti ini…
kecuali ada sesuatu yang salah.

Aku menjawab dengan berbisik.

“Halo?”

Suaranya tegang.
Terkendali.
Tapi ada rasa takut di dalamnya.

“Dengarkan baik-baik. Matikan semua lampu. SEMUA. Ponsel, lampu—semuanya. Lalu naik ke loteng. Tutup pintunya. Dan jangan beri tahu Daniel.”

Tubuhku langsung dingin.

“Apa? Mara, kamu menakutiku—”

“Sekarang, Liza.”

Aku menoleh ke arah Daniel.

Dia berbaring.
Diam.
Seolah masih tertidur.

“Aku tidak mengerti—”

“LAKUKAN SEKARANG.”

Aku tidak bertanya lagi.

Perlahan aku bangun.
Mengambil charger tanpa berpikir.
Dan keluar dari kamar.

Di belakangku…
Daniel bergerak.

“Liza?” panggilnya pelan.

Aku berhenti.

“Uh… aku cuma mau minum air…”

Tidak ada jawaban.

Satu per satu aku mematikan semua lampu.
Ruang tamu.
Dapur.
Lorong.

Tanganku gemetar.
Hampir menjatuhkan ponselku.

Mara tetap diam di ujung telepon.
Aku hanya mendengar napasnya.

Saat aku sampai di tangga menuju loteng—

dia berbisik.

“Jangan tutup teleponnya.”

Perlahan aku naik.

Setiap langkah…
lantai kayu berderit.

Loteng itu berbau debu.
Dan kotak-kotak lama.

Aku menutup pintu.

“Dan kunci.”

“Sudah.”

“Jauhi jendela.”

Dan tiba-tiba…
telepon terputus.

Sunyi.

Sunyi yang mencekik.

Sampai aku mendengar suara Daniel…
dari bawah.

Tapi dia tidak terdengar seperti baru bangun.

Dingin.
Tenang.

“Lampunya sudah mati,” katanya.

Seseorang menjawab.

Suara lain.

Di dalam rumahku.

“Kalau begitu… dia sudah tahu.”

Aku menutup mulutku.
Menahan agar tidak berteriak.

Ada orang lain di dalam.

Perlahan aku berlutut.

Dan mengintip dari celah lantai.

Aku bisa melihat sebagian lorong.

Daniel berdiri di sana.

Sepenuhnya terjaga.

Dan dia tidak sendirian.

Seorang pria dengan mantel hitam berdiri di sampingnya.

Pria itu menyerahkan sebuah kotak kecil.

Daniel membukanya.

Dan di dalamnya…

tiga paspor.

Satu—dengan fotonya.

Satu—dengan foto anak kami.

Dan yang ketiga…

aku.

Aku mendekatkan mataku ke celah lantai kayu yang kasar, berusaha mengatur napas yang terasa mencekik di tenggorokan.

Di bawah sana, Daniel membolak-balik paspor-paspor itu dengan gerakan yang sangat efisien—terlalu efisien untuk seorang arsitek yang selama ini kukenal lembut.

“Semua sudah siap?” tanya Daniel. Suaranya datar, tanpa emosi.

“Sesuai instruksi,” jawab pria bermantel hitam itu. “Penerbangan ke Zurich jam empat pagi. Tim pembersihan akan tiba sepuluh menit setelah kalian berangkat. Tidak akan ada jejak ‘Liza Cruz’ yang tersisa di rumah ini. Semua catatan medis, identitas, bahkan foto masa kecilnya sudah kami amankan.”

Jantungku serasa berhenti berdetak. Tidak ada jejak?

Daniel mengangguk, lalu ia membuka paspor dengan fotoku. Namun, saat ia membaliknya, aku melihat sesuatu yang membuat perutku mual. Nama yang tertera di sana bukan Liza Cruz. Bukan namaku. Di sana tertulis: “Subjek 04-B / Aset Non-Aktif.”

“Kasihan sekali dia,” pria itu terkekeh dingin. “Dia benar-benar percaya bahwa dia adalah istrimu selama lima tahun ini. Obat penghapus memori itu bekerja terlalu sempurna.”

Daniel menutup paspor itu dengan suara plak yang tajam. “Dia bukan istriku. Dia adalah barang bukti yang harus kupindahkan sebelum pusat mendeteksinya. Mara sudah mulai menghubunginya. Protokol keamanan sudah bocor.”

“Lalu bagaimana dengan anak itu? Noah?”

Daniel terdiam sejenak. Matanya yang biasanya menatapku dengan penuh cinta kini terlihat kosong, seperti lubang hitam yang tak berdasar.

“Noah adalah prototipe generasi berikutnya. Dia aset berharga. Jika Liza menjadi beban dalam pelarian ini…” Daniel memberi jeda yang menyiksa, “…eliminasi dia di bandara. Kita hanya butuh anak itu.”

Duniaku runtuh.

Lima tahun pernikahan. Tawa Noah. Janji-janji di altar. Semuanya hanyalah sebuah eksperimen yang dipantau. Aku bukan seorang istri. Aku adalah “Subjek” yang sedang diawasi oleh sipir yang kupanggil suami.

Tiba-tiba, ponsel di genggamanku bergetar. Sebuah pesan masuk dari Mara.

“Liza, jangan melihat ke bawah lagi. Daniel tidak tahu ada jalan keluar lewat jendela kecil di belakang tumpukan kotak. Keluar SEKARANG. Aku menunggumu di ujung blok. Aku akan menjelaskan siapa kita sebenarnya—dan mengapa ingatan kita dihapus.”

Aku mendongak, menatap kegelapan loteng. Di bawah, suara langkah kaki Daniel mulai menaiki tangga.

“Liza?” panggilnya. Suaranya kembali lembut, penuh kepura-puraan yang mematikan. “Sayang? Kamu di atas? Aku membawakanmu air minum…”

Setiap derit tangga adalah lonceng kematian bagi hidup yang kusangka nyata. Aku merangkak mundur menuju jendela kecil itu, meninggalkan semua yang kupercaya di bawah sana, dan bersiap untuk menghadapi kenyataan bahwa aku tidak pernah benar-benar mengenal diriku sendiri.