Posted in

SAAT LIBUR PANJANG, TIBA-TIBA SELURUH KELUARGA BESAR SUAMIKU DATANG KE RUMAH KAMI—MENGHARAPKAN AKU YANG MELAYANI SEMUA… TAPI PADA SUATU MALAM YANG SUNYI, AKU MELAKUKAN SESUATU YANG MEMICU KEKACAUAN KEESOKAN HARINYA

SAAT LIBUR PANJANG, TIBA-TIBA SELURUH KELUARGA BESAR SUAMIKU DATANG KE RUMAH KAMI—MENGHARAPKAN AKU YANG MELAYANI SEMUA… TAPI PADA SUATU MALAM YANG SUNYI, AKU MELAKUKAN SESUATU YANG MEMICU KEKACAUAN KEESOKAN HARINYA

Empat hari libur—
seharusnya itu waktu istirahat.
Waktu untuk liburan.
Untuk bersama keluarga sendiri.
Untuk sekadar bernapas sejenak.

Tapi bagiku—
sebagai menantu yang tinggal di kota—
liburan itu berubah jadi mimpi buruk.

Tiba-tiba saja datang—
seluruh keluarga suamiku dari kampung.

Dua belas orang.

Tanpa pemberitahuan.

Ibu mertuaku menelepon suamiku.
“Cuma jalan-jalan ke kota. Beberapa hari saja.”

Tapi saat mereka datang—
aku langsung terpaku.

Bukan “beberapa orang.”
Bukan “beberapa hari.”

Seperti satu klan penuh masuk ke rumah kami.

Mereka membawa tas.
Makanan dari kampung.
Pakaian.
Barang berserakan di mana-mana.

Ruang tamu penuh.
Ribut.
Mereka senang.

Dan aku?
Diam.
Hanya menelan napas panjang.

Rumahku seperti jadi penginapan gratis.

Dan aku—
otomatis jadi pelayan.

Tidak ada yang bertanya.
Tidak ada yang menawarkan bantuan.

Bagi mereka—
itu hal biasa.

“Kamu menantu, sudah seharusnya kamu yang urus.”

Sepanjang hari—
aku di dapur.

Sarapan.
Makan siang.
Makan malam.

Belum selesai cuci piring—
sudah harus menyiapkan makanan berikutnya.

Sementara mereka—
duduk santai.
Menonton TV.
Tertawa.

Kadang-kadang masih berteriak dari ruang tamu:

“Hei, nak! Tambah kuahnya dong!”
“Sayurnya masih kurang matang!”
“Tisu di kamar mandi habis!”

Dan suamiku?

Tidak ada.

Pergi keluar.
Bertemu teman.
“Lagi ada kerja,” katanya.

Semuanya—
ditinggalkan padaku.

Lelah.
Kesal.
Tapi aku tidak bisa bicara.

Karena aku tidak mau dianggap—
“menantu yang tidak sopan.”

Malam kedua—

Semua sudah mabuk.
Sudah tidur.
Rumah akhirnya sunyi.

Aku duduk di dapur.

Menatap tumpukan piring kotor seperti gunung.

Dan saat itu—
aku hampir menangis.

“Kenapa aku harus bertahan seperti ini?” bisikku.

“Ini bukan tamu…”

“Seperti aku yang jadi tamu di rumahku sendiri.”

Aku berpikir dalam diam.
Lama.
Berat.

Sampai—
aku membuat keputusan.

Sesuatu yang belum pernah kulakukan sebelumnya.

Agak berisiko.
Agak berani.

Tapi malam itu—
aku sudah lelah untuk diam.

Dan apa yang kulakukan setelah itu…

Aku berdiri dari kursi dapur, menghapus sisa air mata yang belum sempat jatuh, dan mulai bergerak dengan sangat tenang.

Pertama, aku mengeluarkan semua bahan makanan dari kulkas. Daging, telur, sayuran, hingga bumbu-bumbu yang tadinya aku siapkan untuk “pesta makan besar” besok pagi. Aku memasukkan semuanya ke dalam kantong plastik besar, lalu membawanya ke mobil.

Kedua, aku mengambil semua kunci cadangan rumah, remote gerbang, dan—ini yang paling penting—modem Wi-Fi. Aku juga mematikan saklar pemanas air di kamar mandi tamu.

Ketiga, aku menulis satu pesan di grup WhatsApp keluarga yang berisi suamiku dan semua iparku:

“Aku tiba-tiba merasa sangat tidak enak badan. Karena rumah ini sudah sangat penuh dan aku butuh ketenangan untuk pulih, aku memutuskan untuk menginap di hotel beberapa hari ke depan. Bahan makanan habis, jadi silakan pesan makanan sendiri atau masak apa saja yang kalian bawa dari kampung. Selamat berlibur!”

Setelah mengirim pesan itu, aku langsung mematikan ponselku. Aku mengambil koper kecil yang sudah kusiapkan secara kilat, masuk ke mobil, dan meluncur pergi ke hotel bintang lima di pusat kota yang sudah kupesan secara daring lima menit sebelumnya.


Keesokan harinya—pukul 07:00 pagi.

Rumahku berubah menjadi zona perang.

Ibu mertuaku bangun pertama kali, mengharapkan aroma kopi dan nasi goreng hangat. Namun, yang dia temukan hanyalah dapur yang kosong melompong. Tidak ada roti. Tidak ada telur. Bahkan sisa makanan semalam sudah aku buang ke tempat sampah luar yang sudah diangkut petugas subuh tadi.

Dia mencoba membangunkan suamiku, tapi suamiku baru pulang jam dua pagi dan sedang tidur mati karena pengaruh alkohol.

Saudara iparku mulai mengeluh karena air di kamar mandi sedingin es. Anak-anak kecil mulai menangis karena lapar. Dan yang paling parah bagi mereka: tidak ada Wi-Fi.

Pesan-pesan di grup mulai meledak.

“Mana sarapannya?” “Kenapa Wi-Fi mati?” “Di mana semua kunci mobil cadangan? Kami mau jalan-jalan!”

Suamiku akhirnya terbangun oleh teriakan ibunya. Dia panik, mencoba meneleponku berkali-kali, tapi nomor pribadiku tidak aktif. Dia mencoba mencari kartu kredit tambahan yang biasanya aku simpan di laci, tapi aku sudah membawanya.

Mereka terjebak. Dua belas orang di dalam rumah yang tidak memiliki persediaan makanan, tanpa hiburan, dan tanpa pelayan yang biasanya bisa mereka perintah-perintah.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah keluarga mereka, ibu mertuaku harus mengantre di toko kelontong depan kompleks untuk membeli mie instan demi memberi makan anak cucunya. Suamiku harus mencuci gunung piring kotor semalam karena bau sisa lemak mulai memenuhi rumah—dan ibunya menolak menyentuh piring karena “dia adalah tamu.”

Kekacauan itu memicu pertengkaran hebat. Ipar-iparku mulai menyalahkan suamiku karena tidak becus mengatur istrinya. Ibu mertuaku menangis, merasa “dihina” karena tidak dilayani dengan layak.

Sementara itu, aku?

Aku sedang duduk di balkon hotel dengan jubah mandi yang empuk, menikmati sarapan buffet mewah sambil menatap pemandangan kota. Untuk pertama kalinya dalam liburan ini, aku bisa bernapas.

Aku tidak lagi takut dianggap “menantu yang tidak sopan.” Karena ternyata, saat aku berhenti menjadi pelayan, mereka akhirnya sadar bahwa selama ini mereka tidak sedang bertamu—mereka sedang menjajah. Dan aku baru saja memerdekakan diriku sendiri.