Posted in

DIA MEMELUK KUTUKAN ILMU HITAM HANYA UNTUK MENGHAPUS SAHABAT TERDEKATNYA DARI DUNIA DAN MEREBUT PRIA YANG BUKAN MILIKNYA. NAMUN DI TENGAH PERAYAAN PERNIKAHAN MEREKA, SEBUAH JIWA KEMBALI DARI KUBUR—BUKAN UNTUK MEMBERKATI, MELAINKAN UNTUK MENAGIH SETIAP DETIK YANG TELAH DICURI.

DIA MEMELUK KUTUKAN ILMU HITAM HANYA UNTUK MENGHAPUS SAHABAT TERDEKATNYA DARI DUNIA DAN MEREBUT PRIA YANG BUKAN MILIKNYA. NAMUN DI TENGAH PERAYAAN PERNIKAHAN MEREKA, SEBUAH JIWA KEMBALI DARI KUBUR—BUKAN UNTUK MEMBERKATI, MELAINKAN UNTUK MENAGIH SETIAP DETIK YANG TELAH DICURI.

Trixie dan Mavie sudah bersama sejak kecil, tumbuh di perbukitan sunyi sebuah kota kecil di Batangas. Mereka selalu memakai pakaian yang serasi, berjanji akan bersahabat selamanya. Namun di balik semua itu, perlahan hati Trixie dimakan oleh iri hati yang tersembunyi.

Mavie adalah gadis yang sempurna—cerdas, sangat cantik, dan dicintai semua orang. Sementara Trixie selalu berada di bayang-bayang—terlihat, tapi tak pernah benar-benar diperhatikan.

Sampai akhirnya segalanya runtuh saat mereka bertemu Marco.

Tinggi, kaya, dan sangat tampan, Marco adalah pria yang diam-diam telah lama dicintai Trixie. Ia menyimpan foto pria itu di dompetnya, menolak semua yang mendekatinya, berharap suatu hari ia akan dilihat.

Namun Marco tak pernah melihatnya.

Sebaliknya, Mavie yang dipilihnya.

Hanya dalam sekali pandang, ia jatuh cinta. Dalam beberapa bulan, cintanya tumbuh sepenuhnya untuk Mavie. Dan saat Mavie dengan gembira menunjukkan cincin pertunangannya—

di situlah kewarasan Trixie benar-benar hancur.

Jika dunia tidak memberinya kehidupan yang ia inginkan…

maka ia akan merebutnya.

Dalam amarah yang nyaris membuatnya gila, ia mencari Mang Kulam Isko, seorang dukun terkenal di Quiapo yang konon menggunakan kekuatan terlarang. Ia menyerahkan sehelai rambut Mavie yang dicurinya, foto Marco, dan uang dalam jumlah besar.

“Aku ingin dia hilang dari dunia ini,” katanya dingin. “Dan aku ingin dia mencintaiku.”

Efeknya cepat… dan mengerikan.

Hanya dalam beberapa hari, Mavie ditemukan di apartemennya—tewas. Wajahnya terdistorsi oleh rasa sakit yang tak terjelaskan. Para dokter bingung. Gagal jantung mendadak pada wanita sehat—tanpa penjelasan.

Di pemakaman, Trixie memainkan perannya dengan sempurna sebagai sahabat yang berduka. Ia memeluk Marco, menangis sejadi-jadinya saat peti diturunkan ke tanah.

Namun ibu Mavie, menatap langit gelap, berteriak:

“Jiwamu tidak akan tenang sampai keadilan ditegakkan bagi yang membunuhmu!”

Trixie mengabaikan peringatan itu.

Ia segera melanjutkan langkah berikutnya.

Dengan bubuk merah dari dukun itu, diam-diam ia mencampurkannya ke dalam kopi Marco setiap kali mereka bertemu. Perlahan, kesedihan Marco memudar—digantikan oleh obsesi yang dipaksakan terhadap Trixie.

Hanya dalam beberapa bulan—

Marco melamarnya.

Ia bahkan memberikan cincin yang sama yang dulu ia siapkan untuk Mavie.

Mabuk kemenangan, Trixie merencanakan pernikahan paling megah di seluruh Manila. Ia ingin menunjukkan kepada semua orang “kemenangannya.”

Ia merasa—tidak ada yang bisa menggoyahkannya lagi.

Hari pernikahan pun tiba.

Langit cerah. Katedral batu tua dipenuhi tamu-tamu kaya. Ia tampak seperti ratu saat berjalan di atas karpet putih, mengenakan gaun mahal dari Paris.

Ia tersenyum, menggenggam tangan Marco di altar.

Namun tepat saat pendeta menanyakan janji pernikahan—

segala sesuatu berubah.

Suhu tiba-tiba turun.

Para tamu bisa melihat napas mereka di udara.

Lilin-lilin berkelap-kelip… lalu padam.

Gereja menjadi gelap.

Dan kemudian—

sebuah suara keras menghantam.

Pintu besar di belakang terbuka dengan keras, diterpa angin kencang.

Orang-orang panik.

Trixie membeku.

Ada sesuatu yang masuk—

sebuah kehadiran penuh amarah.

Perlahan melayang di tengah lorong—

sosok arwah, memegang cambuk tebal.

Mavie.

Dan yang paling mengerikan—

hanya Trixie yang bisa melihatnya.

Dan arwah itu mendekat—

untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya…

Langkah Trixie membeku. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat sosok Mavie melayang mendekat. Wajah sahabatnya itu tak lagi cantik; kulitnya sepucat abu jenazah, dengan mata hitam pekat yang memancarkan api dendam.

“Trixie…” suara itu bukan berasal dari telinga, melainkan bergema langsung di dalam tengkoraknya. “Cincin itu… tidak pas di jarimu yang berdarah.”

Trixie mencoba berteriak, namun suaranya hilang. Di mata Marco dan para tamu, Trixie hanya berdiri mematung dengan wajah pucat pasi dan mata terbelalak ketakutan ke arah pintu yang kosong.

Tagihan dari Alam Gaib

Tiba-tiba, rasa sakit yang luar biasa menghujam dada Trixie. Ia merasa seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya—persis seperti apa yang dirasakan Mavie di detik-detik terakhir hidupnya.

Cambuk hitam di tangan arwah Mavie berdesis di udara. Setiap kali cambuk itu melecut, kulit Trixie melepuh meski tak ada benda fisik yang menyentuhnya. Gaun pengantin putihnya yang mahal mulai ternoda oleh bercak merah yang muncul entah dari mana.

“Hentikan! Maafkan aku!” Trixie akhirnya berhasil menjerit, jatuh berlutut di depan altar.

Para tamu berbisik panik. Marco mencoba memegang bahu Trixie, namun tangannya justru terasa seperti menyentuh es. “Trixie, ada apa? Siapa yang kamu ajak bicara?”

Kebenaran yang Terungkap

Arwah Mavie menunjuk ke arah cangkir perak berisi anggur perjamuan di atas altar. Dengan kekuatan gelap, cairan di dalamnya berubah menjadi hitam pekat dan berbau busuk—bau yang sama dengan ramuan Mang Kulam Isko.

Tiba-tiba, ingatan Marco yang selama ini tertutup kabut sihir mulai retak. Ia memegangi kepalanya, mengerang kesakitan saat pengaruh bubuk merah itu luntur seketika akibat kehadiran jiwa murni Mavie. Marco menatap Trixie, bukan lagi dengan cinta yang dipaksakan, melainkan dengan kengerian yang mendalam.

“Kau… apa yang telah kau lakukan padanya?” tanya Marco dengan suara bergetar.

Mavie mendekat, wajahnya kini hanya beberapa senti dari wajah Trixie. Ia membisikkan kalimat terakhir yang menghancurkan seluruh sisa kewarasan Trixie:

“Ilmu hitam meminta bayaran yang setimpal, Trixie. Kau menukar nyawaku dengan pernikahan ini. Sekarang, aku datang untuk mengambil pengantin pria… dan nyawamu sebagai bunganya.”

Akhir yang Tragis

Angin kencang tiba-tiba berputar di dalam katedral, memecahkan kaca-kaca patri yang indah. Saat debu mereda dan lampu kembali menyala, suasana menjadi hening mencekam.

Trixie tergeletak di lantai altar. Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit gereja tanpa nyawa. Wajahnya terdistorsi oleh rasa takut yang luar biasa—persis seperti wajah Mavie saat ditemukan tewas di apartemennya.

Marco berdiri di samping jenazah itu, namun ia tidak menangis. Ia merasakan sebuah belaian lembut dan dingin di pipinya—sebuah salam perpisahan yang tulus dari Mavie sebelum arwah itu menghilang menuju kedamaian.

Trixie mendapatkan keinginannya: ia “bersatu” dengan rahasianya selamanya di bawah tanah. Namun, ia tidak pernah memenangkan Marco. Pria itu menghabiskan sisa hidupnya dalam kesendirian, menjaga makam Mavie, sementara nama Trixie hanya diingat sebagai peringatan bahwa cinta yang dipaksakan melalui kegelapan hanya akan berakhir dalam kegelapan yang lebih abadi.