Posted in

SUAMIKU MENGKHianATI AKU BERSAMA ANAKKU SENDIRI

SUAMIKU MENGKHianATI AKU BERSAMA ANAKKU SENDIRI

Halo, namaku Marga, 41 tahun, dari Bulacan. Suami pertamaku masuk penjara saat anak kami, Lia, masih kecil, dan selama bertahun-tahun hanya kami berdua yang saling menemani dalam susah dan senang.

Dulu aku pikir aku sudah menemukan ketenangan saat menikah lagi dengan Boby. Ketika Boby hadir dalam hidup kami, aku merasa dialah yang akan melengkapi keluarga kecil kami. Tampan, perhatian, dan aku benar-benar merasa dia menyayangi kami. Tapi seiring waktu, saat Lia tumbuh dewasa—sekarang usianya 21 tahun—ada hal-hal yang mulai kuperhatikan, namun kupaksakan untuk kuabaikan karena aku tidak ingin menghancurkan keluarga yang sudah kami bangun.

Kadang aku memergoki mereka berdua di ruang tamu, terlalu manis satu sama lain. Duduk terlalu dekat, sering bercanda seperti bukan hubungan ayah dan anak. Awalnya aku merasa cemburu, tapi langsung kutegur diriku sendiri. Aku bilang pada diriku mungkin mereka hanya dekat karena Boby memang sudah seperti ayah bagi Lia sejak ayah kandungnya tidak ada. Aku mengubur semua kecurigaanku, menutup mata dan telinga demi mempertahankan gambaran keluarga yang bahagia.

Suatu sore, aku pamit kepada mereka untuk pergi ke pasar membeli bahan makan malam. Tapi saat di pasar, perasaan tidak tenang terus menghantui—seolah ada yang mendorongku untuk segera pulang.

Saat tiba di depan rumah, aku perlahan mengintip melalui jendela kamar Lia. Aku hanya ingin memastikan apakah semua ini hanya perasaanku saja, atau memang ada sesuatu yang lebih dalam terjadi. Langkahku pelan saat mendekati jendela yang sedikit terbuka, dari mana terdengar suara pelan dan tawa yang tidak bisa kujelaskan.

Dan di situlah semuanya runtuh.

Duniaku hancur dalam sekejap saat aku melihat apa yang terjadi di dalam kamar Lia…

Aku mematung di balik bayangan jendela. Udara di sekitarku terasa mendadak hilang, digantikan oleh rasa mual yang hebat. Di dalam sana, di atas tempat tidur yang dulu kupilihkan dengan penuh kasih sayang untuk putriku, aku melihat Boby—pria yang kupanggil suami—sedang memeluk Lia.

Bukan pelukan seorang ayah. Itu adalah ciuman yang penuh nafsu, tangan yang lancang, dan bisikan-bisikan menjijikkan yang seharusnya tidak pernah terucap di antara mereka.

“Kamu jauh lebih cantik dari ibumu,” bisik Boby, suaranya yang biasanya terdengar lembut di telingaku kini terdengar seperti desis ular.

Lia tertawa kecil, suara yang selama 21 tahun ini menjadi musik bagiku, kini terdengar seperti belati yang mengiris jantungku. “Hati-hati, Boby. Nanti Mama pulang cepat.”

“Tenang saja, dia selalu lama kalau di pasar,” jawab Boby sambil kembali menarik tubuh Lia ke dalam dekapannya.

Aku tidak berteriak. Aku tidak menggedor pintu. Tubuhku terasa dingin seolah-olah darahku membeku. Aku mundur perlahan, langkahku goyah hingga aku hampir terjatuh di atas rumput halaman. Aku pergi dari sana, masuk ke dalam mobil, dan menyetir tanpa tujuan. Air mata tidak keluar; yang ada hanya kehampaan yang luar biasa gelap.


Malam Pembalasan

Dua jam kemudian, aku pulang. Aku bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Aku memasak makan malam, menata meja, dan memanggil mereka berdua. Melihat mereka duduk bersama, berpura-pura menjadi keluarga harmonis, membuatku ingin memuntahkan seluruh isi perutku.

“Lia, Boby,” kataku tenang di tengah makan malam. “Aku punya kejutan untuk kalian berdua.”

Boby tersenyum, senyum yang dulu kucintai. “Kejutan apa, sayang?”

Aku mengeluarkan ponselku dan meletakkannya di tengah meja. Aku tidak hanya mengintip tadi sore; aku telah merekam mereka melalui celah jendela. Aku menekan tombol play.

Suara desahan dan percakapan menjijikkan mereka memenuhi ruang makan.

Wajah Boby berubah pucat pasi, seketika berkeringat dingin. Lia menunduk, tangannya gemetar hebat hingga sendoknya terjatuh ke piring dengan denting yang memilukan.

“Marga… aku bisa jelaskan…” suara Boby tercekat.

“Tidak ada yang perlu dijelaskan,” kataku dengan suara yang sangat rendah namun tajam. “Lia, kamu adalah darah dagingku. Aku melindungimu dari dunia luar, tapi ternyata aku gagal melindungimu dari dirimu sendiri. Dan kamu, Boby… kamu bukan hanya mengkhianati pernikahan kita, kamu menghancurkan jiwa anakku.”


Akhir dari Segalanya

Aku berdiri dan melemparkan sebuah map plastik ke atas meja.

“Itu surat cerai. Dan Lia, koper-kopermu sudah aku keluarkan ke teras belakang saat kalian sedang mandi tadi. Kalian ingin bersama? Silakan. Pergilah sejauh mungkin dari hidupku.”

“Mama, tolong… aku khilaf,” Lia menangis, mencoba meraih tanganku.

Aku menarik tanganku menjauh. Rasa sakitnya terlalu dalam untuk sebuah kata maaf. “Khilaf itu satu kali, Lia. Apa yang kulihat tadi adalah kebiasaan. Kamu sudah dewasa, kamu tahu apa yang kamu lakukan.”

Malam itu, aku mengunci pintu rumah rapat-rapat. Aku duduk di ruang tamu yang gelap, mendengarkan suara mobil Boby yang menderu pergi membawa putriku yang telah menjadi orang asing bagiku.

Aku kehilangan suami dan anakku dalam satu hari. Tapi saat fajar mulai menyingsing di atas langit Bulacan, aku menyadari satu hal: lebih baik hidup sendiri dalam kebenaran yang pahit, daripada selamanya membusuk dalam kebohongan yang manis. Aku akan mulai lagi, tanpa mereka, dan tanpa pengkhianatan yang bersembunyi di bawah atapku.