Posted in

AKU MENGIRIM EURO SELAMA 8 TAHUN UNTUK 3 ANAKKU; SAAT AKU PULANG KE FILIPINA, AKU MENEMUKAN MEREKA MENGEMIS DAN HATIKU DIHANCURKAN OLEH PENGKHIANATAN DARAH DAGINGKU SENDIRI

AKU MENGIRIM EURO SELAMA 8 TAHUN UNTUK 3 ANAKKU; SAAT AKU PULANG KE FILIPINA, AKU MENEMUKAN MEREKA MENGEMIS DAN HATIKU DIHANCURKAN OLEH PENGKHIANATAN DARAH DAGINGKU SENDIRI

BAGIAN 1

—Tolong, Pak, berhenti sebentar! Bukankah itu anak-anakku?!
Teriakan Clara menggema di dalam taksi hingga membuat sopir terkejut. Di luar, matahari siang menyengat di sepanjang EDSA, Manila, panasnya seolah menembus sampai ke napas.

Taksi itu mengerem mendadak. Klakson jeepney dan kendaraan di belakang bersahut-sahutan, orang-orang mengeluh, tapi Clara sudah tidak peduli. Wajahnya menempel di jendela, seluruh tubuhnya gemetar.

Di pinggir lampu merah, menghindari padatnya lalu lintas dan menghirup asap knalpot, berdiri seorang anak laki-laki kurus memegang wadah plastik. Ia memakai kaus kotor yang terlalu besar, dan sepatunya diikat dengan kawat. Matanya kosong—mata seorang anak yang sudah terbiasa dengan penderitaan.

Saat anak itu menoleh untuk meminta recehan, dunia Clara runtuh.
Itu dia. Daniel. Anak sulungnya.

Jam tangan pintar yang dibelinya dari Madrid masih tersimpan rapi di dalam koper. Begitu juga cokelat mahal untuk Naomi dan mobil remot untuk si bungsu, Jason.

Delapan tahun dia bekerja di luar negeri. Enam belas jam kerja di sebuah klinik, membersihkan orang tua, menahan lelah, hinaan, dan kesepian—semuanya demi bisa mengirim uang setiap dua minggu dan memastikan anak-anaknya tidak kekurangan makanan dan pendidikan.

Ia berlari keluar dari taksi, hampir terjatuh, bahkan lupa dengan tas dan kopernya. Daniel menatapnya seperti melihat hantu.
Butuh waktu sebelum anak itu mengenalinya. Ia bukan lagi ibu di layar ponsel yang menelepon setiap Minggu—ia benar-benar ada di depan mata, menangis.

—Dani? —panggilnya lirih.

Bibir anak itu gemetar, wadah berisi beberapa koin jatuh dari tangannya.

—Ibu? —bisiknya.

Clara memeluknya erat, putus asa, sampai para pedagang di pinggir jalan ikut menoleh.

Namun saat ia memeluk anaknya, hatinya hancur. Tubuh Daniel kurus kering. Ada luka dan bekas pukulan di lengannya.

—Anakku… apa yang mereka lakukan padamu? Di mana saudara-saudaramu? —tanyanya sambil menangis, mencium wajah kotor anaknya.

Daniel menunduk, malu terlihat seperti itu di hadapannya.
—Kami disuruh mengemis oleh Tante Sandra, Bu… katanya kalau uang yang kami bawa kurang, kami dikurung di halaman dan tidak diberi makan.

Tubuh Clara gemetar—awalnya karena dingin, lalu karena amarah.
Saudara kandungnya sendiri. Wanita yang dulu menangis di bandara dan berjanji akan menjaga anak-anaknya seperti anak sendiri.

Semua ini bermula delapan tahun lalu, saat Clara mendapat visa dan berangkat ke luar negeri, sementara Sandra tinggal. Sandra yang menjaga anak-anak itu—“hanya sementara,” sementara Clara mengirim setiap rupiah yang ia hasilkan.

Clara merasa seolah-olah seluruh dunianya baru saja meledak. Setiap bulan, tanpa absen, ia mengirimkan hampir seluruh gajinya—ribuan Euro yang jika dikonversi ke Peso seharusnya bisa membuat mereka hidup di rumah mewah dengan pelayan. Tapi di depannya, Daniel tampak seperti anak yang tak pernah mengenal rasa kenyang.

“Bawa Ibu ke Naomi dan Jason. Sekarang!” tuntut Clara, suaranya parau karena amarah dan tangis yang bercampur.

Daniel menuntunnya melewati gang-gang sempit dan kumuh di belakang gedung-gedung tinggi Makati, tempat yang sangat jauh dari alamat rumah bagus yang selalu dikirimkan Sandra lewat foto di pesan singkat. Ternyata foto-foto rumah indah yang dikirim Sandra selama ini hanyalah kebohongan—mungkin rumah orang lain yang ia potret dari luar.

Di depan sebuah gubuk kayu yang nyaris roboh, Clara melihat Naomi (12 tahun) sedang mencuci tumpukan baju kotor milik orang lain, sementara si bungsu Jason (9 tahun) duduk di tanah, berusaha memperbaiki mainan rusak yang ia temukan di tempat sampah.

“Naomi… Jason…”

Pertemuan itu memilukan. Anak-anak itu tidak lari memeluknya dengan tawa; mereka justru mundur dengan ketakutan, seolah-olah kedatangan orang asing akan membawa hukuman baru bagi mereka. Butuh waktu beberapa menit bagi Clara untuk meyakinkan mereka bahwa ini bukan mimpi.


Pengkhianatan di Balik Pintu

Clara tidak menunggu lama. Ia membawa ketiga anaknya kembali ke taksi dan langsung menuju alamat rumah mewah yang sebenarnya—rumah yang dibangun atas nama Sandra, namun menggunakan uang kiriman Clara selama delapan tahun ini.

Saat Clara menendang pintu gerbang rumah itu, Sandra sedang duduk di teras sambil menyesap kopi, mengenakan perhiasan emas yang mencolok dan memegang ponsel terbaru. Di garasinya terparkir sebuah mobil SUV baru.

“Sandra!” teriak Clara.

Sandra tersentak, menjatuhkan cangkirnya hingga pecah. Wajahnya yang tadinya tenang berubah menjadi pucat pasi saat melihat Clara berdiri di sana bersama ketiga anaknya yang kumuh.

“Clara? Kamu… kenapa tidak bilang mau pulang?” suara Sandra bergetar.

“Agar aku tidak melihat bagaimana kamu memperlakukan anak-anakku seperti anjing jalanan?” Clara melangkah maju, menjambak rambut saudara kandungnya itu dengan kemarahan yang sudah memuncak di ubun-ubun. “Mana uangku?! Mana uang yang kukirim untuk sekolah mereka? Untuk makan mereka?!”

“Aku… aku menginvestasikannya, Clara! Ini untuk masa depan mereka juga!” bela Sandra sambil merintih.

“Masa depan?! Anak-anakku mengemis di EDSA sementara kamu membangun istana ini?!” Clara menunjuk ke arah rumah megah itu. “Kamu memakan keringatku, kamu menghisap darah anak-anakku!”


Pembalasan Sang Ibu

Clara tidak hanya datang untuk menangis. Ia segera menelepon polisi dan pengacaranya. Ternyata, selama delapan tahun, Clara secara cerdik menyimpan semua bukti transfer dan pesan singkat di mana Sandra mengaku telah membayar biaya sekolah dan asuransi anak-anak.

Malam itu juga, Sandra diseret keluar dari rumah tersebut dengan tangan terborgol atas tuduhan penggelapan uang dan kekerasan terhadap anak di bawah umur.

Clara masuk ke dalam rumah megah itu—rumah yang secara hukum dibangun dengan uangnya namun dikuasai kakaknya. Ia menyalakan lampu kristal yang mahal, membuang semua barang-barang milik Sandra ke jalanan, dan memeluk ketiga anaknya di atas sofa yang empuk.

“Mulai hari ini,” bisik Clara sambil menciumi kepala Jason, “tidak akan ada lagi wadah plastik untuk mengemis. Tidak ada lagi jalanan yang panas. Ibu tidak akan pernah pergi lagi.”

Meskipun hatinya hancur melihat trauma di mata anak-anaknya, Clara bersumpah akan menggunakan sisa hidupnya untuk menyembuhkan mereka. Delapan tahun yang hilang tidak bisa kembali, tetapi bagi Sandra, penjara adalah tempat yang pantas untuk seorang pengkhianat darah daging sendiri.