Posted in

AKU PULANG KE RUMAH SAAT JAM ISTIRAHAT SIANG UNTUK MENENGOK SUAMIKU YANG “SEDANG SAKIT”… TAPI AKU MENDENGARNYA DI TELEPON, MERENCANAKAN MENGAMBIL SERTIFIKAT, REKENING, DAN SEMUA HARTAKU

AKU PULANG KE RUMAH SAAT JAM ISTIRAHAT SIANG UNTUK MENENGOK SUAMIKU YANG “SEDANG SAKIT”… TAPI AKU MENDENGARNYA DI TELEPON, MERENCANAKAN MENGAMBIL SERTIFIKAT, REKENING, DAN SEMUA HARTAKU

Aku pulang karena rasa bersalah tidak berhenti menggangguku.
Sudah tiga hari Gavin “terlalu sakit” untuk masuk kerja.
Pucat.

Lemah.

Batuk-batuk sambil terbungkus selimut di sofa, seolah dia akan hancur kalau berdiri.

Setiap pagi sebelum aku berangkat ke kantor, aku menaruh air di sampingnya, mengecek obatnya, dan menanyakan apakah dia butuh sesuatu. Setiap pagi, dia memberiku senyum lemah penuh terima kasih dari sofa.

Dan setiap pagi, aku membenci diriku sendiri karena ada bagian dalam diriku yang merasa lega saat pintu tertutup di belakangku dan aku sampai di kantor.

Jadi siang itu, aku memutuskan untuk mengejutkannya.
Sup hangat dari deli.

Minuman jahe favoritnya.

Sebuah ciuman singkat.

Pengingat kecil bahwa meskipun aku sibuk, aku tetap peduli.
Aku memarkir mobil beberapa rumah jauhnya agar dia tidak terbangun oleh suara garasi.

Lingkungan terlihat normal.

Pohon-pohon gundul karena musim dingin.

Anak-anak menyeret ransel di trotoar.

Seekor anjing menggonggong di balik pagar.

Rumah kami tampak tenang dari luar—tirai tertutup, teras rapi, semuanya damai dan biasa saja.

Jenis rumah yang orang sebut menenangkan.

Aku masuk perlahan, memegang sepatu di tangan.
Lalu aku tiba-tiba berhenti.

Aku mendengar suara Gavin dari ruang tamu.
Pelan.

Tajam.

Penuh ketegangan.

Tidak seperti suara lemah yang dia gunakan padaku sepanjang minggu.

Dia tidak batuk.

Tidak kesulitan bernapas.
Dia mondar-mandir.

Dan setiap kata yang keluar dari mulutnya membuat lantai di bawah kakiku terasa runtuh.

“Tidak, kamu tidak mendengarkan,” kata Gavin. “Aku sudah memberikan timeline. Dia tidak boleh curiga sebelum Jumat.”
Jumat.

Perutku menegang.
“Dia?”

Sebuah suara wanita terdengar dari seberang.
Pelan, tapi jelas.

“Berhenti bertele-tele. Kamu sudah berjanji.”
Tenggorokanku kering.

“Aku yang urus,” bisik Gavin. “Dia pintar. Kalau aku terlalu memaksa, dia akan mulai menyelidiki. Dan kalau dia menyelidiki…”
Wanita itu memotongnya.

“Lalu apa? Kamu mundur? Aku tidak akan menunggu selamanya. Aku mau apa yang kamu janjikan.”

Aku hampir menjatuhkan kantong sup.

Aku bersandar di dinding lorong.

Detak jantungku begitu keras, rasanya dia bisa mendengarnya.
Dari celah kecil, aku melihatnya.

Memegang telepon.
Berdiri tegak.

Sehat.
Waspada.

Kesal.
Sangat baik-baik saja.

“Uangnya sudah kamu transfer?” tanya wanita itu.
Gavin berhenti berjalan.

“Sudah,” katanya. “Bagian itu selesai. Tinggal yang lain.”
Uang.
Uangku?

Dua malam lalu, dia masih menguliahi aku tentang betapa ketatnya anggaran kami sampai bonusku cair.
Dia bahkan terlihat kecewa saat aku bilang mungkin kami baik-baik saja.

Dan sekarang, dia dengan tenang mengatakan pada wanita lain bahwa uang itu sudah dipindahkan.

Wanita itu tertawa dingin.

“Kamu taruh di mana? Aku mau bukti.”
Suara Gavin merendah.

“Kamu dapat bukti setelah Jumat. Aku akan kirim dokumen. Sertifikat. Rekening. Semuanya.”
Sertifikat.
Rekening.
Dokumen.
Penglihatanku kabur.

Ini bukan sekadar kesalahpahaman.
Ini bukan hanya perselingkuhan.

Ini rencana.

Ada dokumen.
Ada waktu.

Kamu tidak memindahkan sertifikat dan rekening kecuali kamu sedang membangun hidup baru di tempat lain.

Atau mencuri hidup orang yang tidur di sampingmu.

Tiba-tiba Gavin menoleh, seolah merasakan sesuatu.

Aku mundur ke bagian lorong yang lebih gelap saat tatapannya menyapu ke arah itu.

Dia tidak melihatku.

Tapi dia ragu.
Dalam satu detik yang mengerikan, aku pikir dia tahu.

Lalu dia berbicara lagi di telepon, tetap tenang.

“Dia sudah di sini. Aku harus tutup.”
Darahku terasa dingin.

Aku tidak membuat suara.
Aku tidak bergerak.

Tapi entah bagaimana, dia tahu.

Aku melihat sup di tanganku.

Minuman jahe itu.

Kebaikan kecil yang kubawa untuk pria yang berpura-pura sakit sambil merencanakan kejatuhanku.

Dan pada saat itu, aku menyadari sesuatu yang mengubahku sepenuhnya:

Aku tidak pulang untuk merawat suamiku.

Aku pulang tepat waktu untuk menyelamatkan diriku sendiri.
Tapi Gavin masih berpikir aku adalah istri yang sama—yang akan meminta maaf duluan, mudah percaya, dan menutup mata demi menjaga kedamaian.

Dia salah.

Karena sebelum Jumat tiba…

Aku akan mencari tahu apa yang dia pindahkan, kepada siapa, dan kenapa dia perlu membuatku tetap tidak tahu sampai akhir minggu.

Dan saat aku akhirnya keluar dari lorong itu, yang kubawa bukan lagi sup.

Aku membawa bukti pertama.

Berikut adalah kelanjutan dan akhir dari kisah tersebut:


BAGIAN 2: Permainan Bayangan

Aku tidak masuk ke ruang tamu. Dengan gerakan sehalus kucing, aku berbalik dan keluar melalui pintu samping. Aku masuk ke mobil, jantungku masih berpacu $180$ kali per menit. Aku tidak menangis. Rasa sakit itu sudah menguap, digantikan oleh kedinginan yang luar biasa.

Aku segera menelpon bank pribadiku.

— “Halo, ini Elena. Bisa periksa aktivitas rekening bersama saya dalam $48$ jam terakhir?”

Hening sejenak, hanya suara ketikan komputer di ujung sana.

— “Ibu Elena? Ada transfer sebesar Rp500.000.000 ke rekening firma hukum ‘Handoko & Associates’ kemarin sore. Dan pagi ini, ada permintaan penarikan dana darurat sebesar Rp200.000.000 yang sedang diproses.”

Tanganku mencengkeram kemudi hingga buku jariku memutih. Itu uang tabunganku untuk renovasi rumah dan dana pendidikan masa depan. Gavin tidak hanya mencuri; dia sedang menguras sumur sampai kering.

BAGIAN 3: Siapa “Wanita” Itu?

Aku menggunakan akses cloud bersama untuk melacak lokasi ponsel Gavin secara diam-diam. Bukti pertama yang kutemukan di sana menghancurkan sisa-sisa hatiku: wanita di telepon itu bukan sekadar selingkuhan.

Namanya Siska. Dia adalah agen properti sekaligus mantan kekasih Gavin sebelum kami menikah.

Pesan-pesan mereka muncul di layar laptopku saat aku bekerja dari kafe terdekat:

“Sertifikat rumah sudah kupotokopi semalam saat dia tidur. Aku akan memalsukan tanda tangannya untuk surat kuasa jual. Hari Jumat, pembeli akan datang ke notaris. Setelah uangnya masuk ke rekening luar negeriku, kita berangkat.”

Jumat. Itu lusa. Dia berencana menjual rumah yang kubeli dengan tetesan keringatku sendiri, lalu melarikan diri bersamanya.

BAB AKHIR: Skakmat di Hari Jumat

Hari Jumat tiba. Gavin masih berakting, terbatuk-batuk saat aku pamit “bekerja”. Aku mencium keningnya—sebuah kecupan kematian yang dingin.

— “Istirahatlah, sayang. Sebentar lagi semuanya akan selesai,” bisikku.

Pukul $14.00$, Gavin tiba di kantor notaris di pusat kota, tampak segar bugar dengan setelan jas mahal yang diam-diam dia sembunyikan. Siska menantinya dengan senyum kemenangan. Namun, saat mereka hendak menandatangani dokumen penjualan, pintu ruangan terbuka.

Aku masuk bersama dua orang polisi dan pengacaraku.

— “Elena? Apa yang kamu lakukan di sini?” Wajah Gavin memucat, berubah dari putih menjadi abu-abu dalam hitungan detik.

— “Aku hanya ingin membantu ‘orang sakit’ ini menandatangani dokumen,” kataku sambil meletakkan map di meja.

Isinya bukan sertifikat rumah, melainkan Surat Perintah Penangkapan atas tuduhan pemalsuan dokumen dan pencucian uang, serta Surat Gugatan Cerai yang membatalkan seluruh hak asuhnya atas aset apa pun.

— “Bank sudah membekukan rekening luar negeri yang kamu buat pagi tadi, Gavin. Dan pengacara ‘Handoko’ yang kamu sewa? Dia rekan kuliahku. Dia sudah menyerahkan semua rekaman percakapan kalian padaku sejak kemarin.”

Siska mencoba melarikan diri, namun polisi menahannya. Gavin jatuh terduduk, gemetar seperti saat dia berpura-pura sakit di sofa, tapi kali ini tidak ada selimut yang melindunginya.

Aku mendekat, membungkuk, dan berbisik di telinganya:

— “Supnya enak, kan? Aku menaruh sedikit ‘kebenaran’ di dalamnya. Selamat menikmati hidup barumu… di balik jeruji besi.”

Aku berjalan keluar tanpa menoleh lagi. Matahari sore terasa hangat di wajahku. Hari Jumat ini, suamiku memang mengambil semuanya—dia mengambil beban berat dari bahuku, dan membiarkanku berjalan bebas menuju hidup yang benar-benar milikku.