Posted in

SETELAH IBU TIRIKU MELAHIRKAN SEORANG ANAK LAKI-LAKI, AYAHKU MEMAKSAKU BERHENTI SEKOLAH DAN BEKERJA DI TOKO KECIL MILIK KERABAT

SETELAH IBU TIRIKU MELAHIRKAN SEORANG ANAK LAKI-LAKI, AYAHKU MEMAKSAKU BERHENTI SEKOLAH DAN BEKERJA DI TOKO KECIL MILIK KERABAT

Aku tidak menangis.

Tapi saat aku berdiri di depan rumah, menggenggam koper tua… barulah aku mengerti—aku tidak punya tempat untuk kembali.

— “Ayah, aku ingin sekolah.”

Dia bahkan tidak menatapku.

Dia hanya menyodorkan beberapa lembar uang ke tanganku, seperti memberi perintah.

— “Untuk apa perempuan sekolah tinggi? Bekerja saja, jangan buang-buang uang.”

Di belakangnya, ibu tiriku berdiri sambil menggendong bayi yang baru lahir. Suaranya lembut, tapi setiap katanya tajam.

— “Di Manila, kalau kamu tidak punya uang, kamu harus tahu diri.”

Aku tidak menjawab.

Aku membalikkan badan dan meninggalkan rumah di Quezon City—tempat aku tinggal selama enam belas tahun.

Malam itu hujan deras.

Aku berdiri di bawah atap toko yang sudah tutup, dekat pangkalan jeepney. Baterai ponselku tinggal lima persen.

Aku melihat daftar kontakku berulang kali…

Sampai hanya satu nama yang tersisa.

— Tito Ramon.

Adik dari ibuku.

Pria yang pernah berkata:

“Kalau suatu hari kamu tidak punya tempat untuk pergi, hubungi aku saja.”

Aku berpikir tiga detik…

Lalu menelepon.

Baru satu dering, dia langsung menjawab.

— “Lia?”

Suaranya jelas. Terjaga.

Dadaku terasa berat.

— “Tito… aku tidak diizinkan sekolah lagi… aku disuruh bekerja…”

Dia terdiam.

Hanya suara hujan yang terdengar.

— “Kamu sekarang di mana?”

— “Dekat pangkalan… di Quezon…”

— “Jangan ke mana-mana. Ada yang akan menjemputmu dalam lima belas menit.”

Aku terdiam.

— “Siapa?”

— “Istriku.”

Aku belum pernah bertemu dengannya.

Yang kutahu, namanya Marisol, seorang manajer keuangan di perusahaan besar di Makati.

Aku menutup telepon.

Tiga belas menit kemudian…

Sebuah SUV berhenti di depanku.

Jendela terbuka.

Seorang wanita—sekitar usia tiga puluhan, rambut rapi, mengenakan blazer—menatapku. Tatapannya tajam, tapi tenang.

— “Lia?”

Aku mengangguk.

— “Masuk.”

Tanpa pertanyaan.

Tanpa kata penghiburan.

Perjalanan di tengah hujan itu sunyi.

Beberapa menit kemudian, dia berbicara.

— “Tito-mu sudah menjelaskan semuanya.”

Nadanya datar.

— “Kamu boleh tinggal bersama kami. Tapi ada tiga syarat.”

Punggungku langsung tegak.

— “Pertama, tidak ada yang gratis. Kamu harus membantu di rumah.”

— “Kedua, kalau kamu ingin sekolah, kamu harus lulus. Aku tidak memelihara orang yang menyerah.”

— “Ketiga…”

Mobil berhenti.

Dia menoleh ke arahku.

— “Masalahmu dengan ayahmu, aku yang akan hadapi. Tapi ingat, kamu bukan anakku. Aku tidak kasihan padamu.”

Aku menatapnya lurus.

— “Aku tidak butuh dikasihani.”

Dia tersenyum tipis.

— “Bagus.”

Di rumah mereka di Makati, Tito Ramon sudah menunggu.

Dia langsung mengambil koperku.

— “Kamu sudah sampai. Semuanya akan baik-baik saja.”

Malam itu, aku tidur di tempat tidur yang bersih—tanpa takut dibangunkan untuk bekerja.

Keesokan paginya, pukul tujuh, aku sudah bangun.

Marisol sudah duduk di meja, dengan laptop dan kopi.

— “Duduk.”

Sarapan sederhana, tapi tertata rapi.

— “Aku sudah menghubungi sekolah untukmu,” katanya.

— “Ada ujian masuk dalam satu minggu.”

Aku tidak ragu.

— “Aku akan lulus.”

Dia menatapku.

— “Semoga.”

Dia menyerahkan kartu ATM.

— “Uang saku bulananmu. Kalau habis, itu urusanmu.”

Aku menerimanya.

Bukan karena uangnya…

Tapi karena untuk pertama kalinya, ada yang percaya padaku.

Tiba-tiba—

Ponselku berdering.

Nomor tidak dikenal.

Marisol mengambilnya dan menjawab.

— “Halo.”

Hening.

— “Saya Marisol. Tante Lia.”

— “Dia ada bersama kami.”

Nada suaranya berubah.

— “Anda tidak punya hak melarangnya sekolah.”

— “Kalau Anda mau membuat masalah…”

Dia tersenyum tipis.

— “Kita bertemu di pengadilan.”

Dia menutup telepon.

— “Ayahmu.”

Aku menelan ludah.

— “Apa katanya?”

Dia berdiri.

— “Dia bilang akan datang ke sini. Menjemputmu.”

Tito Ramon keluar dari ruang tamu.

— “Coba saja.”

Marisol menatapku.

— “Mulai sekarang, kamu tidak lagi berada di bawah kendali ayahmu.”

— “Kami yang akan menjagamu.”

Dia berhenti sejenak.

— “Dan kalau dia menyakitimu…”

Tiba-tiba—

Suara rem keras di luar.

Pintu mobil dibuka.

Langkah kaki berat mendekat.

Dan—

— “LIA! KELUAR!”

Jantungku berdegup kencang.

Aku berdiri.

Marisol tidak bergerak.

Dia meletakkan cangkir kopinya dengan tenang.

— “Sepertinya dia datang lebih cepat.”

Ketukan keras.

BANG! BANG! BANG!

— “Buka pintunya!”

Tito Ramon hendak maju.

Tapi Marisol menahannya.

— “Biar aku.”

Dia berjalan perlahan menuju pintu.

Suara hak sepatunya terdengar jelas di lantai.

Aku… hanya berdiri di belakang.

Gemetar.

Pintu perlahan terbuka.

Dan saat tatapan Marisol bertemu dengan tatapan ayahku…

Barulah aku sadar—

Dia bukan wanita biasa.

Tapi seseorang yang siap mengakhiri semuanya…

tepat saat ini juga.

Marisol tidak berteriak. Ia bahkan tidak melebarkan pintu sepenuhnya. Ia berdiri tegak di ambang pintu, menghalangi pandangan ayahku yang sedang meledak karena amarah.

“Di mana Lia?! Bawa dia keluar! Dia harus bekerja, bukan malah bersembunyi di sini!” Ayahku berteriak, wajahnya merah padam. Di belakangnya, ibu tiriku berdiri di dekat mobil sambil menggendong bayinya, menatap rumah mewah ini dengan campuran rasa iri dan benci.

Marisol melipat tangannya di dada. “Satu langkah lagi melewati batas pintu ini, aku akan melaporkanmu atas pasal masuk tanpa izin dan percobaan penculikan anak di bawah umur.”

Ayahku tertawa sinis. “Penculikan? Aku ayahnya! Aku punya hak penuh atas dia!”

“Secara biologis? Mungkin,” sahut Marisol tenang, suaranya sedingin es. “Tapi secara hukum? Kita lihat saja. Aku sudah memeriksa catatan sekolah Lia. Kamu tidak membayar SPP-nya selama dua semester terakhir. Uang itu justru digunakan untuk DP mobil yang kamu parkir di depan itu, bukan?”

Ayahku terdiam sesaat. Skakmat.

“Lia tidak akan kembali ke rumah yang menganggap pendidikan sebagai beban,” lanjut Marisol. “Pergi sekarang, atau pengacaraku akan memastikan hak asuhmu dicabut karena penelantaran anak.”

Ayahku mengumpat, menendang pot bunga di depan pintu sebelum akhirnya mundur. Ia tahu ia tidak bisa melawan orang seperti Marisol. Dengan geram, ia memacu mobilnya pergi, meninggalkan kepulan asap yang menyesakkan.


Empat Tahun Kemudian.

Aku berdiri di depan cermin, merapikan toga wisudaku. Aku lulus sebagai lulusan terbaik jurusan Akuntansi dari universitas ternama di Manila—semuanya berkat kedisiplinan Marisol dan dukungan tanpa suara dari Tito Ramon.

Setelah upacara wisuda selesai, aku melihat sosok yang sudah lama tidak kulihat.

Ayahku berdiri di dekat gerbang universitas. Pakaiannya lusuh. Ia tidak lagi memiliki SUV itu. Di sampingnya, ibu tiriku tampak menua sepuluh tahun, menggendong anak laki-lakinya yang kini sudah bisa berjalan namun tampak kurang gizi.

Mereka mendekatiku dengan langkah ragu.

“Lia…” suara Ayah bergetar. “Selamat, Nak. Ayah tahu kamu pasti berhasil.”

Aku menatapnya datar. Tidak ada kemarahan, hanya rasa asing yang luar biasa.

“Kami sedang kesulitan, Lia,” bisik ibu tiriku, air mata mulai mengalir. “Toko kerabat kita bangkrut. Ayahmu sakit-sakitan. Adikmu butuh biaya sekolah… Kami mohon, kembalilah. Kamu sudah sukses sekarang, kamu bisa menyelamatkan keluarga kita.”

Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berhenti di belakangku. Marisol keluar, tetap dengan blazer rapi dan tatapan tajam yang sama seperti empat tahun lalu.

Ia berdiri di sampingku, menatap ayahku seolah pria itu adalah debu di sepatunya.

“Lia,” panggil Marisol pelan. “Pesawat kita ke Singapura berangkat tiga jam lagi. Kamu harus mulai bekerja di kantor pusat besok.”

Aku mengangguk. Aku menatap Ayah untuk terakhir kalinya.

“Dulu Ayah bilang perempuan tidak perlu sekolah tinggi agar tidak buang-buang uang,” kataku pelan. “Sekarang aku mengerti. Uang yang aku hasilkan memang terlalu berharga untuk dibuang kepada orang-orang yang pernah membuangku demi sebuah ego.”

Aku merogoh tas, mengeluarkan beberapa lembar uang—persis jumlah yang ia berikan padaku saat mengusirku dulu. Aku meletakkannya di tangan Ayah yang gemetar.

“Ini untuk biaya transport pulang. Jangan datang lagi.”

Aku berbalik dan masuk ke mobil Marisol. Saat mobil mulai melaju, aku melihat dari kaca spion—ayahku jatuh terduduk di aspal, sementara ibu tiriku menangis histeris.

Marisol tidak bertanya apa-apa. Ia hanya menyerahkan sebuah dokumen baru padaku.

“Ini proyek pertamamu di Singapura. Jangan mengecewakanku.”

Aku tersenyum. “Aku tidak akan pernah menyerah, Tante.”

Aku telah kehilangan sebuah rumah di Quezon City, tapi aku telah membangun sebuah kerajaan untuk diriku sendiri. Dan kali ini, pintunya tertutup rapat untuk mereka.