MANTAN ISTRIKU DATANG UNTUK MENJENGUK ANAK KAMI DAN MENGINAP SATU MALAM. TENTU SAJA AKU MENYURUHNYA TIDUR DI RUANG TAMU—TIDAK ADA CERITA “CINTA LAMA BERSEMI KEMBALI.” TAPI SAAT AKU TERBANGUN TENGAH MALAM UNTUK MINUM AIR, AKU MENDENGAR SUARA DARI ARAHNYA… DAN KEESOKAN PAGINYA, AKU LANGSUNG MEMBAWANYA KE KANTOR KELURAHAN.
Sudah tiga tahun sejak kami menandatangani surat perceraian.
Selama itu, aku terbiasa menjalani hidup hanya berdua dengan anakku.
Setiap pagi aku mengantarnya ke sekolah.
Sore hari aku menjemputnya.
Malamnya kami makan bersama orang tuaku.
Hidup kami memang tidak mewah, tapi tenang.
Dan aku pikir aku bisa terus hidup seperti ini—pelan, sepi, tapi damai.
Kupikir semuanya sudah selesai.
Sampai kemarin.
Dia berdiri di depan pagar rumah kami.
Mantan istriku.
Angela Bautista.
Wajahnya masih sama seperti dulu, tapi ada sesuatu yang berubah di matanya. Tatapannya tak lagi setajam dulu. Ada keraguan… dan harapan.
Dia bilang ingin menemui anak kami.
Aku diam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk.
Saat anakku, Miguel, melihat ibunya…
dia sempat terpaku.
Lalu langsung berlari dan memeluknya erat.
Angela tertawa.
Tawa yang sangat bahagia.
Sudah lama aku tidak mendengar anakku tertawa seperti itu.
Aku hanya berdiri di samping mereka.
Ada rasa hangat dan sakit yang datang bersamaan di dadaku.
Mungkin selama tiga tahun ini…

anakku lebih merindukan ibunya daripada yang kusadari.
Angela tinggal sampai sore.
Lalu malam.
Orang tuaku terus mengajaknya bicara, sementara Miguel sama sekali tidak mau melepaskannya.
Sebenarnya aku ingin menyuruhnya pulang.
Tapi melihat pemandangan itu…
aku tidak sanggup bicara.
Akhirnya justru orang tuakulah yang berkata:
“Makan malam saja di sini. Menginaplah semalam bersama Miguel.”
Dia langsung mengangguk.
Seolah memang sudah lama menunggu tawaran itu.
Malam itu semua orang tidur.
Sekitar tengah malam, aku terbangun untuk minum air.
Lampu ruang tamu masih menyala.
Aku hendak mematikannya ketika mendengar suara pelan dari arah sofa tempat Angela tidur.
Seperti sedang bicara dengan seseorang.
Aku berjalan perlahan mendekat untuk mendengar lebih jelas.
Dan saat aku melihat apa yang sedang terjadi…
seluruh tubuhku langsung dingin.
Angela sedang duduk membelakangi aku.
Tangannya memegang ponsel.
Dan di layar video call itu…
ada seorang pria asing.
Pria itu tersenyum sambil berkata:
“Jadi benar rumah mantan suamimu masih luas ya?”
Angela tertawa kecil.
“Iya. Orang tuanya juga sudah tua semua. Kalau semuanya lancar, Miguel bisa kita bawa bulan depan.”
Dadaku langsung sesak.
Pria itu kembali bicara.
“Pastikan mantan suamimu tetap percaya sama kamu. Begitu surat izin keluar, kita langsung pergi ke Cebu.”
Angela mengangguk pelan.
“Aku tahu caranya.”
Tanganku langsung mengepal.
Jadi ini alasannya dia datang.
Bukan karena rindu pada anaknya.
Bukan karena ingin memperbaiki hubungan.
Dia ingin mengambil anak kami.
Dan menggunakan kepercayaan keluargaku untuk melakukannya.
Aku mundur perlahan tanpa bersuara.
Lalu kembali ke kamar.
Sepanjang malam aku tidak tidur.
Paginya, aku bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku bahkan mengantar Angela sarapan.
Dia tersenyum manis seperti biasa.
Sampai akhirnya aku berkata pelan:
“Ayo ikut aku sebentar.”
Dia tampak bingung.
Tapi tetap ikut naik motor bersamaku.
Selama perjalanan dia terus bertanya kami mau ke mana.
Aku tidak menjawab.
Sampai motor berhenti di depan barangay hall.
Wajah Angela langsung pucat.
“A-apa ini?”
Aku menatapnya dingin.
Lalu mengeluarkan rekaman video call dari ponselku.
“Aku rasa… kita perlu bicara soal rencanamu membawa anakku pergi.”
Angela terpaku di atas motor. Wajahnya yang tadi tampak lembut seketika berubah menjadi topeng ketakutan. Dia mencoba meraih lenganku, tapi aku menepisnya dengan kasar.
“E-Elias, itu tidak seperti yang kamu dengar. Aku cuma bercanda dengan temanku, aku—”
“Masuk,” kataku pendek. Suaraku tidak tinggi, tapi penuh dengan ancaman yang membuat nyalinya ciut.
Di dalam kantor kelurahan, suasana masih sepi karena hari masih pagi. Aku langsung menuju meja petugas keamanan dan meminta bertemu dengan Sekretaris Barangay. Aku mengenal hampir semua orang di sini; mereka tahu aku adalah ayah tunggal yang bekerja keras demi Miguel.
Begitu kami duduk di ruang mediasi, aku meletakkan ponselku di atas meja kayu yang retak itu. Aku tidak hanya merekam suaranya tadi malam, tapi aku juga menghubungi seorang teman di penyedia layanan telekomunikasi yang beberapa tahun lalu pernah membantuku. Aku sudah memegang data bahwa pria di video call itu adalah seorang buronan kasus penipuan di Cebu.
“Pak Sekdes,” kataku pada pria tua di depan kami. “Saya ingin membuat laporan resmi mengenai percobaan penculikan anak dan penipuan dokumen. Wanita ini berencana membawa lari anak saya ke luar kota tanpa izin legal.”
Angela mulai histeris. “Dia ayah yang kejam! Dia menghalangi aku bertemu anakku sendiri!” teriaknya, mencoba menarik simpati orang-orang di ruangan itu.
Aku menatapnya tanpa emosi. “Kamu boleh menjenguk, Angela. Tapi kamu datang ke rumahku, memakan makanan ibuku, dan memeluk Miguel hanya untuk menjadikannya tiket menuju hidup barumu dengan pria kriminal itu? Itu bukan cinta ibu. Itu eksploitasi.”
Sekretaris Barangay melihat rekaman video yang kumiliki. Di sana terdengar jelas suara Angela yang tertawa saat membahas rencana “membersihkan” harta orang tuaku setelah Miguel berhasil dibawa.
“Sita KTP-nya,” perintah Sekdes kepada petugas di sana. “Dan buatkan surat pernyataan larangan mendekat (Restraining Order) sementara sampai kasus ini diproses di kepolisian.”
Angela jatuh berlutut di lantai kantor kelurahan yang dingin. Dia menangis, tapi bukan tangis penyesalan. Itu adalah tangis kekalahan. Dia menyadari bahwa mimpinya untuk hidup mewah di atas penderitaan keluargaku telah hancur dalam semalam.
“Tolong, Elias… aku tidak punya tempat tinggal lain…” ratapnya.
Aku berdiri, mengenakan jaket motorku kembali. “Selama tiga tahun aku memberimu ruang untuk membuktikan bahwa kamu masih punya hati nurani sebagai ibu. Tapi tadi malam, kamu sendiri yang membunuh kesempatan itu.”
Aku berjalan keluar, meninggalkan Angela yang sedang diinterogasi lebih lanjut oleh petugas.
Saat aku sampai di rumah, Miguel sedang bermain di halaman bersama kakeknya. Dia menoleh dan tersenyum, lalu berlari ke arahku.
“Papa! Mama mana? Katanya mau ajak aku beli es krim?”
Aku berlutut, memeluk tubuh kecilnya yang hangat. Hatiku sakit harus membohonginya, tapi aku tahu ini adalah satu-satunya cara melindunginya.
“Mama harus pergi kerja jauh lagi, Sayang. Tapi Papa di sini. Papa tidak akan pernah pergi ke mana-mana.”
Aku memandang ke arah jalan raya, tempat motor-motor berlalu lalang. Hidup kami mungkin tetap sepi dan sederhana, tapi aku akan memastikan pagar rumah kami tetap tinggi untuk siapa pun yang mencoba mencuri kedamaian putriku—bahkan jika itu adalah orang yang pernah kucintai paling dalam.
Pagi itu, aku tidak hanya mengusir seorang mantan istri. Aku membuang sisa-sisa kenangan pahit yang selama ini menghambatku untuk benar-benar bahagia bersama anakku.