Posted in

“KALAU KAMU MERASA MUAL, MUNGKIN KAMU SEBAIKNYA MAKAN DI KAMAR MANDI SAJA.” IBUKU MENATAP ISTRIKU YANG SEDANG HAMIL ENAM BULAN SAAT MENGATAKAN ITU. SETELAH BERTAHUN-TAHUN AKU MEMBIAYAI SEMUA KEMEWAHAN MEREKA, AKU MEMUTUSKAN MENGAKHIRI PENGHINAAN ITU MALAM ITU JUGA… DENGAN CARA YANG DINGIN DAN MENGHANCURKAN.

“KALAU KAMU MERASA MUAL, MUNGKIN KAMU SEBAIKNYA MAKAN DI KAMAR MANDI SAJA.” IBUKU MENATAP ISTRIKU YANG SEDANG HAMIL ENAM BULAN SAAT MENGATAKAN ITU. SETELAH BERTAHUN-TAHUN AKU MEMBIAYAI SEMUA KEMEWAHAN MEREKA, AKU MEMUTUSKAN MENGAKHIRI PENGHINAAN ITU MALAM ITU JUGA… DENGAN CARA YANG DINGIN DAN MENGHANCURKAN.

Si Penumpang Hidup dan Sang Pencari Nafkah

Namaku Gabriel, tiga puluh lima tahun, seorang IT Executive yang sukses. Sejak ayahku meninggal, aku mengambil alih seluruh tanggung jawab keluarga. Aku membeli rumah besar tempat kami tinggal, dan aku juga yang membayar semua gaya hidup mewah ibuku, Mama Susan, serta adikku, Beatrice.

Saat aku menikahi Clara, aku pikir keluargaku akan menerima dia dengan sepenuh hati. Clara adalah wanita yang sangat baik, pendiam, dan sederhana. Tapi hidupnya berubah menjadi neraka di rumah kami sendiri. Mama dan Beatrice selalu memandangnya dengan hina dan melontarkan kata-kata tajam kepadanya. Clara menahan semuanya, terutama setelah dia hamil.

Aku? Aku pengecut.

“Sudahlah, sayang. Mama sudah tua,” itu selalu jadi alasanku untuk menghindari konflik. Sampai akhirnya datang satu malam yang benar-benar membuka mataku.

Penghinaan di Meja Makan

Malam Jumat. Clara sedang hamil enam bulan. Kehamilannya cukup sensitif dan dia sering mengalami mual parah.

Saat kami sedang makan malam bersama menikmati steak favorit Mama dan Beatrice—yang kubayar dan kupesan sendiri—Clara tiba-tiba menutup mulutnya.

“P-Permisi… aku cuma agak pusing karena baunya,” ucap Clara lirih sambil gemetar, jelas berusaha menahan rasa mual.

Mama Susan menatapnya dengan jijik dan kesal. Dia menurunkan garpunya.

“Kalau kamu merasa mual dan mau muntah, mungkin kamu lebih cocok makan di kamar mandi saja!” katanya tajam dan kejam. “Kamu sudah untung kami masih tahan melihatmu duduk di meja makan ini, malah banyak tingkah!”

Beatrice tertawa mengejek.

“Benar tuh, Ma. Sok jadi putri kerajaan. Baru hamil doang, bukan cacat.”

Aku melihat air mata mulai jatuh dari mata istriku. Clara menunduk, berdiri perlahan, lalu berjalan diam-diam menuju kamar kami. Dia bahkan tidak menyentuh makanannya.

Mama mengira aku akan tertawa atau diam seperti biasanya.

“Nah, bagus deh drama queen kamu akhirnya pergi juga, Gabriel,” katanya sambil tersenyum puas dan memotong steaknya.

Tapi di detik itu, rasanya ada sesuatu yang patah di dalam diriku.

Aku menatap ibu dan adikku. Mereka memakan makanan yang kubayar, duduk di kursi yang kubeli, di dalam rumah yang kubangun… sementara istriku yang sedang mengandung anakku menangis kelaparan di lantai atas.

Aku tidak berteriak. Aku tidak mengamuk.

Aku berdiri perlahan, mengambil gelas airku, lalu meninggalkan mereka di meja makan tanpa mengucapkan satu kata pun…

Malam Pembersihan

Aku tidak pergi ke kamar untuk menenangkan Clara. Aku langsung menuju ruang kerja pribadiku dan mengunci pintu. Di sana, aku melakukan apa yang seharusnya kulakukan bertahun-tahun lalu sebagai seorang IT Executive: mengambil kendali sistem.

Selama dua jam, aku mengabaikan ketukan pintu dari Beatrice yang merengek meminta password baru untuk akun belanja daringnya. Aku tetap diam, jari-jariku menari di atas kibor dengan dingin.


Strategi Pemutusan Hubungan

Pukul sepuluh malam, aku turun kembali ke ruang tamu. Mama Susan dan Beatrice sedang asyik menonton televisi di sofa kulit seharga ratusan juta yang kubayar tunai.

“Gabriel! Akhirnya kamu keluar,” protes Beatrice tanpa menoleh. “WiFi-nya mati, dan kartuku ditolak saat mau bayar deposit liburan ke Bali. Tolong perbaiki sekarang!”

Aku berdiri di depan televisi, menghalangi pandangan mereka. Aku memegang tumpukan map cokelat yang baru saja kucetak.

“WiFi-nya tidak rusak, Beatrice. Aku baru saja memutus langganannya,” kataku datar. “Sama seperti aku baru saja memutus akses kalian ke semua kartu kredit tambahan atas namaku.”

Mama Susan tertawa remeh. “Jangan konyol, Gabriel. Kamu mau menghukum ibumu sendiri hanya karena teguran kecil tadi? Ibu hanya mengajarinya disiplin!”

“Teguran kecil?” Aku melempar map itu ke atas meja kopi. “Di dalam situ ada surat pengosongan rumah. Rumah ini atas namaku. Aku memberi kalian waktu hingga besok pagi pukul delapan untuk mengemasi barang-barang kalian.”


Realitas yang Menghancurkan

Wajah Mama Susan memucat, sementara Beatrice mulai histeris.

“Kamu tidak bisa mengusir kami! Aku ibumu! Kamu yang berkewajiban membiayai hidup kami!” teriak Mama.

“Benar, aku memang anakmu. Tapi aku bukan bank tanpa batas yang bisa kamu injak-injak martabat istrinya,” jawabku dengan nada yang membuat mereka bergidik. “Kalian bilang Clara ‘untung’ karena masih bisa duduk di meja makan? Mari kita balik logikanya.”

Aku mencondongkan tubuh ke arah mereka.

“Kalianlah yang beruntung selama ini. Kalian makan dari keringatku, tidur di bawah atapku, tapi memperlakukan istriku seperti sampah. Mulai detik ini, tidak ada lagi steak, tidak ada lagi liburan, dan tidak ada lagi rumah mewah.”

“Gabriel, tolong… kami tidak punya uang simpanan!” Beatrice mulai menangis ketakutan. Selama ini dia tidak pernah bekerja karena terlalu sibuk menghamburkan uangku.

“Itu bukan masalahku,” kataku dingin. “Mungkin kalian bisa mencoba makan di kamar mandi umum nanti kalau sudah tidak punya tempat tinggal. Katanya tempat itu cocok untuk orang-orang seperti kalian, kan?”


Fajar yang Baru

Malam itu, aku membantu Clara mengemasi pakaiannya. Kami tidak akan tinggal di sana lagi. Aku sudah menyewa sebuah apartemen pribadi yang lokasinya tidak akan kukasih tahu pada mereka.

Keesokan paginya, tepat pukul delapan, truk pengangkut barang datang. Bukan untuk mengangkut barang-barangku, tapi untuk menyegel rumah itu. Aku melihat Mama Susan dan Beatrice berdiri di trotoar dengan koper-koper mereka, tampak kuyu dan kehilangan arah tanpa kemewahan yang selama ini mereka sombongkan.

Aku masuk ke dalam mobil, menggenggam tangan Clara yang kini tampak jauh lebih tenang.

“Maaf aku butuh waktu lama untuk sadar, Sayang,” bisikku.

Clara tersenyum, mengelus perutnya yang membuncit. “Terima kasih telah memilih kami, Gabriel.”

Aku melajukan mobil tanpa sekali pun melihat ke spion. Aku tidak hanya mengakhiri sebuah penghinaan; aku baru saja membuang parasit yang selama ini menghisap kebahagiaan keluargaku. Malam itu, aku bukan lagi seorang pengecut—aku adalah seorang suami dan ayah.