Bailey Smith tidak dijual demi emas.
Dia tidak ditukar demi tanah, kapal, atau wilayah.
Ayahnya membayar utangnya dengan daging dan darah.
Dengan putrinya sendiri.
Malam itu, Bailey duduk di kursi belakang SUV hitam berlapis kaca gelap, memandangi hujan yang mengalir di jendela, tahu bahwa dirinya sedang diantar kepada bos mafia paling ditakuti di Chicago seperti barang tak diinginkan.
Bagi dunia, dia adalah anak gagal keluarga Smith.
Terlalu lembut.
Terlalu tajam mulutnya.
Terlalu besar untuk memenuhi standar rapuh kalangan elit.
Ayahnya menyebut ini hukuman.
Namun saat gerbang besi rumah keluarga Vane terbuka perlahan, Bailey belum tahu kenyataannya.
Monster yang menunggunya di dalam bukan sedang mencari korban.
Stefan Vane sedang mencari seseorang yang setara dengannya.
Hujan di Chicago malam itu tidak turun.
Ia menghukum jalanan.
Di dalam Cadillac, keheningan lebih bising daripada badai.
Bailey Smith, dipanggil B oleh sedikit teman yang masih ia punya, memeluk mantelnya erat di sekitar tubuhnya. Itu kebiasaan lama, lahir dari bertahun-tahun mencoba mengambil ruang sekecil mungkin di tempat-tempat yang selalu membuatnya merasa terlalu berlebihan.
Terlalu terlihat.
Terlalu gemuk.
Terlalu memalukan.
Terlalu sulit dicintai.
Dari kursi depan, ia bisa merasakan rasa jijik ayahnya memancar seperti panas tungku.
Alaric Smith adalah pria yang memuja penampilan.
Ia menjalankan kerajaan pelayaran yang tampak kuat dari luar, namun diam-diam tenggelam karena perjudian buruk, aliansi kotor, dan utang putus asa.
Bagi Alaric, Bailey selalu menjadi bukti kegagalan.
Dia bukan gadis sosialita kurus dan anggun yang ia impikan saat putrinya lahir. Bailey tidak berjalan gemulai di pesta dansa sambil memikat anak senator. Dia bertanya. Dia membaca kontrak. Dia melawan.
Dan yang paling buruk bagi Alaric, Bailey hidup dalam tubuh yang tidak bisa ia kendalikan.
“Rapikan rambutmu, Bailey,” bentak Alaric sambil menatapnya dari kaca spion. “Kau terlihat seperti bencana. Setidaknya cobalah terlihat pantas berada di ruangan yang sama dengan pria seperti Stefan Vane.”
Tangan Bailey mengepal di pangkuannya.
“Ayah menjualku pada pembunuh untuk menutupi utang judi,” katanya pelan. Suaranya gemetar, tapi tidak patah. “Kurasa rambutku bukan masalah terbesar kita.”
Wajah Alaric menegang.
“Aku menyelamatkan keluarga ini. Stefan Vane membutuhkan seorang istri untuk memperkuat citranya sebelum komisi memutuskan wilayah North Side. Dia meminta seorang Smith. Dia tidak menentukan yang mana.”
Tatapan pria itu menyapu Bailey penuh hinaan.
“Kau seharusnya bersyukur. Tidak ada orang lain yang akan datang untukmu.”
Kata-kata itu menyakitkan.
Tentu saja menyakitkan.
Namun Bailey sudah mendengar variasi kalimat itu sepanjang hidupnya. Luka itu tidak lagi memotong bersih. Ia hanya jatuh di luka lama dan membuatnya kembali nyeri.
SUV itu melewati gerbang besi raksasa dan memasuki jalan panjang menuju sebuah manor gotik di pinggir kota.
Rumah keluarga Vane terlihat seperti sesuatu yang dibangun oleh pria yang tidak pernah meminta izin pada dunia.
Dinding batu.
Jendela hitam.
Atap setajam pisau yang membelah langit.

Ini sarang singa.
Nama Stefan Vane dibisikkan di gang belakang maupun ruang rapat elite. Ia mewarisi sindikat kriminal yang nyaris runtuh lalu mengubahnya menjadi kerajaan sekeras berlian. Orang yang mengejeknya menghilang. Orang yang mengkhianatinya dijadikan peringatan.
Mobil berhenti.
Seorang pria bersetelan abu gelap membuka pintu.
Callum.
Tangan kanan Stefan.
Ia tidak menawarkan tangan pada Bailey. Hanya menyingkir tanpa ekspresi.
Mereka dibawa menuju perpustakaan besar yang dipenuhi rak kayu mahoni dan aroma tembakau mahal, kertas tua, serta kekuasaan.
Di dekat perapian berdiri Stefan Vane.
Dia tidak seperti bayangan Bailey.
Bukan gangster tua penuh bekas luka.
Bukan pria gemuk dengan cincin emas dan kekejaman di setiap gerak.
Dia muda, mungkin pertengahan tiga puluhan, bertubuh besar dengan rambut hitam dan mata sedingin laut musim dingin.
Dingin.
Dalam.
Mustahil dibaca.
Alaric melangkah maju dengan senyum licik dan putus asa.
“Stefan, seperti janji saya, putri saya Bailey. Dia memang agak keras kepala, tapi nanti juga belajar tahu tempat. Anggap saja utangnya lunas.”
Stefan tidak melihat Alaric.
Tatapannya hanya tertuju pada Bailey.
Ia berjalan mendekat dengan gerakan tenang dan terkendali. Bailey menegang. Ia menunggu hal yang biasa.
Tatapan ke pinggangnya.
Seringai menghina.
Lelucon.
Penilaian kasihan yang diterimanya sejak umur dua belas tahun.
Namun Stefan berhenti beberapa senti di depannya dan menatap langsung ke matanya.
Bukan tubuhnya.
Dirinya.
“Keluar, Alaric,” katanya.
Suaranya rendah, halus, dan berbahaya.
Alaric berkedip.
“Apa?”
“Pergi.”
“Bukankah kita perlu membahas syaratnya? Transfer dermaga—”
“Dermaga itu milikku,” potong Stefan sambil menatapnya dingin. “Dan putrimu sekarang berada di bawah perlindunganku. Kalau aku melihat wajahmu lagi di propertiku, Callum akan menunjukkan ruang bawah tanah.”
Mulut Alaric terbuka lalu tertutup lagi.
Dia tidak menoleh pada Bailey.
Tidak sekali pun.
Langkahnya menjauh, dan suara itu menjadi paku terakhir bagi kehidupan lama Bailey.
Kini dia berdiri sendirian bersama pria paling ditakuti di Illinois.
Dia menunggu hukuman dimulai.
Menunggu perintah.
Masuk dapur.
Turunkan berat badan.
Jangan terlihat olehku.
“Kau gemetar,” ujar Stefan.
“Aku menunggu hukumannya dimulai,” bisik Bailey.
Stefan mengangkat tangan.
Bailey refleks tersentak.
Namun pria itu tidak memukulnya.
Ia menyelipkan rambut Bailey ke belakang telinga, ibu jarinya menyentuh pipinya dengan kelembutan mengejutkan.
“Ayahmu pikir dia menghukummu dengan memberimu kepadaku,” kata Stefan. “Tapi dia bodoh. Dia pikir kecantikan diukur dengan pita meter.”
Tatapan mereka bertemu.
“Aku pikir kecantikan adalah ekspresi di matamu saat kau sadar akhirnya bebas darinya.”
Bailey menatapnya tanpa suara.
“Kau bahkan tidak mengenalku.”
“Aku tahu dia mencoba menghancurkanmu selama dua puluh empat tahun karena dia tidak bisa mengendalikanmu.”
Stefan berbalik menuju meja makan.
Bukan salad kering dan air soda seperti yang dipaksa ayahnya di acara elite.
Makanan sungguhan.
Roti hangat.
Daging panggang.
Mentega.
Anggur.
Makanan untuk dinikmati, bukan dihukum.
“Makan, Bailey,” kata Stefan. “Besok kita mulai pekerjaan sebenarnya. Kau bukan sekadar pengantin. Kau adalah wanita yang akan membantuku membakar warisan ayahmu sampai jadi abu.”
Bailey melihat makanan itu.
Lalu melihat Stefan.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia tidak merasa seperti kegagalan.
Dia merasa seperti senjata.Putri yang Diberikan Ayahnya kepada Bos Mafia sebagai Hukuman—Namun “Monster” Itu Melihat Ratu yang Memang Ditakdirkan untuk Menjadi Dirinya
Bailey Smith tidak dijual demi emas.
Dia tidak ditukar demi tanah, kapal, atau wilayah.
Ayahnya membayar utangnya dengan daging dan darah.
Dengan putrinya sendiri.
Malam itu, Bailey duduk di kursi belakang SUV hitam berlapis kaca gelap, memandangi hujan yang mengalir di jendela, tahu bahwa dirinya sedang diantar kepada bos mafia paling ditakuti di Chicago seperti barang tak diinginkan.
Bagi dunia, dia adalah anak gagal keluarga Smith.
Terlalu lembut.
Terlalu tajam mulutnya.
Terlalu besar untuk memenuhi standar rapuh kalangan elit.
Ayahnya menyebut ini hukuman.
Namun saat gerbang besi rumah keluarga Vane terbuka perlahan, Bailey belum tahu kenyataannya.
Monster yang menunggunya di dalam bukan sedang mencari korban.
Stefan Vane sedang mencari seseorang yang setara dengannya.
Hujan di Chicago malam itu tidak turun.
Ia menghukum jalanan.
Di dalam Cadillac, keheningan lebih bising daripada badai.
Bailey Smith, dipanggil B oleh sedikit teman yang masih ia punya, memeluk mantelnya erat di sekitar tubuhnya. Itu kebiasaan lama, lahir dari bertahun-tahun mencoba mengambil ruang sekecil mungkin di tempat-tempat yang selalu membuatnya merasa terlalu berlebihan.
Terlalu terlihat.
Terlalu gemuk.
Terlalu memalukan.
Terlalu sulit dicintai.
Dari kursi depan, ia bisa merasakan rasa jijik ayahnya memancar seperti panas tungku.
Alaric Smith adalah pria yang memuja penampilan.
Ia menjalankan kerajaan pelayaran yang tampak kuat dari luar, namun diam-diam tenggelam karena perjudian buruk, aliansi kotor, dan utang putus asa.
Bagi Alaric, Bailey selalu menjadi bukti kegagalan.
Dia bukan gadis sosialita kurus dan anggun yang ia impikan saat putrinya lahir. Bailey tidak berjalan gemulai di pesta dansa sambil memikat anak senator. Dia bertanya. Dia membaca kontrak. Dia melawan.
Dan yang paling buruk bagi Alaric, Bailey hidup dalam tubuh yang tidak bisa ia kendalikan.
“Rapikan rambutmu, Bailey,” bentak Alaric sambil menatapnya dari kaca spion. “Kau terlihat seperti bencana. Setidaknya cobalah terlihat pantas berada di ruangan yang sama dengan pria seperti Stefan Vane.”
Tangan Bailey mengepal di pangkuannya.
“Ayah menjualku pada pembunuh untuk menutupi utang judi,” katanya pelan. Suaranya gemetar, tapi tidak patah. “Kurasa rambutku bukan masalah terbesar kita.”
Wajah Alaric menegang.
“Aku menyelamatkan keluarga ini. Stefan Vane membutuhkan seorang istri untuk memperkuat citranya sebelum komisi memutuskan wilayah North Side. Dia meminta seorang Smith. Dia tidak menentukan yang mana.”
Tatapan pria itu menyapu Bailey penuh hinaan.
“Kau seharusnya bersyukur. Tidak ada orang lain yang akan datang untukmu.”
Kata-kata itu menyakitkan.
Tentu saja menyakitkan.
Namun Bailey sudah mendengar variasi kalimat itu sepanjang hidupnya. Luka itu tidak lagi memotong bersih. Ia hanya jatuh di luka lama dan membuatnya kembali nyeri.
SUV itu melewati gerbang besi raksasa dan memasuki jalan panjang menuju sebuah manor gotik di pinggir kota.
Rumah keluarga Vane terlihat seperti sesuatu yang dibangun oleh pria yang tidak pernah meminta izin pada dunia.
Dinding batu.
Jendela hitam.
Atap setajam pisau yang membelah langit.
Ini sarang singa.
Nama Stefan Vane dibisikkan di gang belakang maupun ruang rapat elite. Ia mewarisi sindikat kriminal yang nyaris runtuh lalu mengubahnya menjadi kerajaan sekeras berlian. Orang yang mengejeknya menghilang. Orang yang mengkhianatinya dijadikan peringatan.
Mobil berhenti.
Seorang pria bersetelan abu gelap membuka pintu.
Callum.
Tangan kanan Stefan.
Ia tidak menawarkan tangan pada Bailey. Hanya menyingkir tanpa ekspresi.
Mereka dibawa menuju perpustakaan besar yang dipenuhi rak kayu mahoni dan aroma tembakau mahal, kertas tua, serta kekuasaan.
Di dekat perapian berdiri Stefan Vane.
Dia tidak seperti bayangan Bailey.
Bukan gangster tua penuh bekas luka.
Bukan pria gemuk dengan cincin emas dan kekejaman di setiap gerak.
Dia muda, mungkin pertengahan tiga puluhan, bertubuh besar dengan rambut hitam dan mata sedingin laut musim dingin.
Dingin.
Dalam.
Mustahil dibaca.
Alaric melangkah maju dengan senyum licik dan putus asa.
“Stefan, seperti janji saya, putri saya Bailey. Dia memang agak keras kepala, tapi nanti juga belajar tahu tempat. Anggap saja utangnya lunas.”
Stefan tidak melihat Alaric.
Tatapannya hanya tertuju pada Bailey.
Ia berjalan mendekat dengan gerakan tenang dan terkendali. Bailey menegang. Ia menunggu hal yang biasa.
Tatapan ke pinggangnya.
Seringai menghina.
Lelucon.
Penilaian kasihan yang diterimanya sejak umur dua belas tahun.
Namun Stefan berhenti beberapa senti di depannya dan menatap langsung ke matanya.
Bukan tubuhnya.
Dirinya.
“Keluar, Alaric,” katanya.
Suaranya rendah, halus, dan berbahaya.
Alaric berkedip.
“Apa?”
“Pergi.”
“Bukankah kita perlu membahas syaratnya? Transfer dermaga—”
“Dermaga itu milikku,” potong Stefan sambil menatapnya dingin. “Dan putrimu sekarang berada di bawah perlindunganku. Kalau aku melihat wajahmu lagi di propertiku, Callum akan menunjukkan ruang bawah tanah.”
Mulut Alaric terbuka lalu tertutup lagi.
Dia tidak menoleh pada Bailey.
Tidak sekali pun.
Langkahnya menjauh, dan suara itu menjadi paku terakhir bagi kehidupan lama Bailey.
Kini dia berdiri sendirian bersama pria paling ditakuti di Illinois.
Dia menunggu hukuman dimulai.
Menunggu perintah.
Masuk dapur.
Turunkan berat badan.
Jangan terlihat olehku.
“Kau gemetar,” ujar Stefan.
“Aku menunggu hukumannya dimulai,” bisik Bailey.
Stefan mengangkat tangan.
Bailey refleks tersentak.
Namun pria itu tidak memukulnya.
Ia menyelipkan rambut Bailey ke belakang telinga, ibu jarinya menyentuh pipinya dengan kelembutan mengejutkan.
“Ayahmu pikir dia menghukummu dengan memberimu kepadaku,” kata Stefan. “Tapi dia bodoh. Dia pikir kecantikan diukur dengan pita meter.”
Tatapan mereka bertemu.
“Aku pikir kecantikan adalah ekspresi di matamu saat kau sadar akhirnya bebas darinya.”
Bailey menatapnya tanpa suara.
“Kau bahkan tidak mengenalku.”
“Aku tahu dia mencoba menghancurkanmu selama dua puluh empat tahun karena dia tidak bisa mengendalikanmu.”
Stefan berbalik menuju meja makan.
Bukan salad kering dan air soda seperti yang dipaksa ayahnya di acara elite.
Makanan sungguhan.
Roti hangat.
Daging panggang.
Mentega.
Anggur.
Makanan untuk dinikmati, bukan dihukum.
“Makan, Bailey,” kata Stefan. “Besok kita mulai pekerjaan sebenarnya. Kau bukan sekadar pengantin. Kau adalah wanita yang akan membantuku membakar warisan ayahmu sampai jadi abu.”
Bailey melihat makanan itu.
Lalu melihat Stefan.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia tidak merasa seperti kegagalan.
Dia merasa seperti senjata.