Posted in

Hujan mulai turun deras malam itu, sementara Arman masih belum pulang. Teleponnya terus berdering tanpa jawaban. Sampai akhirnya seseorang mengangkat, namun bukan suara hangat yang biasa didengar Nadira, melainkan suara asing seorang petugas medis yang terdengar tergesa-gesa.

Hujan mulai turun deras malam itu, sementara Arman masih belum pulang. Teleponnya terus berdering tanpa jawaban. Sampai akhirnya seseorang mengangkat, namun bukan suara hangat yang biasa didengar Nadira, melainkan suara asing seorang petugas medis yang terdengar tergesa-gesa.

“Pemilik nomor ini mengalami kecelakaan lalu lintas serius. Saat ini sedang dalam penanganan darurat di rumah sakit…”

Sendok sayur di tangan Nadira jatuh berderak ke lantai. Tubuhnya gemetar hebat, wajahnya pucat pasi, tetapi anehnya… dia tidak menjerit sedikit pun.

Dengan langkah limbung, Nadira membangunkan kedua mertuanya. Namun bahkan sebelum mereka sempat keluar rumah, kabar paling mengerikan sudah datang menghantam seperti petir.

Arman meninggal dunia.

Ibu mertuanya langsung pingsan di tempat. Ayah mertuanya, Pak Surya, pria yang selama hidup dikenal kuat menghadapi badai kehidupan, sampai harus berpegangan pada kusen pintu agar tidak roboh.

Hanya Nadira—istri Arman yang sedang mengandung anaknya—yang bereaksi begitu aneh.

Dia duduk perlahan di kursi kayu, menatap kosong ke arah dinding. Tidak berteriak. Tidak menangis. Bahkan setetes air mata pun tidak keluar.

Selama tiga hari pemakaman, rumah itu dipenuhi suasana duka yang begitu berat. Ibu Arman menangis sampai kehabisan suara. Sang ayah memaksakan diri mengurus semua keperluan pemakaman sambil menahan rasa sakit.

Sementara Nadira…

Dia berdiri di samping peti mati suaminya seperti patung batu.

Dia menyambut tamu, membalas salam belasungkawa, menyalakan dupa dan menundukkan kepala dengan sopan. Semua gerak-geriknya sempurna. Tapi dingin. Sangat dingin.

Bisik-bisik mulai menyebar dari ujung kampung ke ujung lainnya.

“Suaminya meninggal tapi mukanya datar begitu?”

“Jangan-jangan memang mereka sudah nggak akur.”

“Aneh banget. Lagi hamil tapi nggak nangis sedikit pun.”

“Aku yakin dia punya laki-laki lain.”

“Baru juga suaminya meninggal, pasti hatinya memang sudah berpaling.”

Kata-kata itu menyebar seperti racun.

Aku, Raka—adik Arman—mendengar semuanya dengan dada sesak. Aku sendiri juga tidak mengerti sikap Kak Nadira. Bagaimana mungkin seseorang bisa setenang itu saat kehilangan suaminya?

Namun di balik tatapan kosong Nadira, kadang aku melihat sesuatu yang lain.

Kesedihan yang begitu dalam.

Kosong.

Hancur.

Tetapi selalu hilang begitu cepat, seolah dia mati-matian menyembunyikannya.

Malam demi malam, setelah semua orang tidur, Nadira diam-diam keluar rumah.

Dia berjalan sendiri dalam gelap.

Dan itulah yang membuat seluruh kampung semakin yakin bahwa dia memang menyimpan sesuatu.

Suatu malam, aku terbangun karena suara anjing menggonggong di luar. Saat melihat ke arah kamar sebelah, Nadira sudah tidak ada.

Aku mengintip dari balik jendela.

Kulihat dia mengenakan pakaian gelap dan berjalan cepat menuju ujung desa.

Jantungku berdegup keras.

Aku memutuskan mengikutinya.

Sepanjang jalan tanah yang sepi itu, bayangannya terlihat rapuh. Tubuhnya yang sedang hamil tampak begitu lelah, namun langkahnya terus bergerak.

Dia berhenti di sebuah rumah tua yang nyaris roboh di ujung desa.

Rumah seorang tabib tua.

Tempat yang belakangan sering disebut-sebut warga.

“Katanya Nadira sering ke sana malam-malam.”

“Jangan-jangan ketemu selingkuhan tua.”

Aku bersembunyi di balik pohon besar, menahan napas.

Nadira mengetuk pintu perlahan.

Pintu terbuka.

Seorang nenek tua muncul dari balik cahaya lampu minyak yang redup.

Nadira masuk.

Aku mendekat diam-diam dan mengintip dari celah jendela kayu.

Di dalam, Nadira duduk sambil menunduk. Wajahnya pucat. Matanya sembab.

“Apa obatnya masih ada, Nek?” suaranya bergetar.

Nenek itu menghela napas panjang.

“Sudah kubilang… obat ini belum tentu berhasil.”

“Tolong…” suara Nadira pecah. “Saya harus mencobanya demi anak saya.”

Anak?

Aku tertegun.

Nenek itu mengambil sebuah bungkusan kecil berisi ramuan herbal lalu menyerahkannya pada Nadira.

Nadira menerimanya dengan kedua tangan gemetar.

Sebelum pergi, dia tiba-tiba menangis tertahan.

Tangis pertama yang kulihat sejak Kak Arman meninggal.

“Aku nggak boleh menyerah…” bisiknya lirih. “Aku sudah janji sama Mas Arman…”

Dadaku mendadak sesak.

Aku mengikuti Nadira saat dia keluar dari rumah tua itu.

“Mbak Nadira!”

Dia terkejut dan berbalik cepat. Wajahnya langsung pucat saat melihatku.

“Raka…?”

“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku. “Kenapa Mbak sembunyi-sembunyi begini? Kenapa Mbak nggak nangis sedikit pun waktu Kak Arman meninggal?”

Nadira menggenggam erat bungkusan obat di tangannya.

Tubuhnya gemetar.

Lalu perlahan… air mata mulai jatuh membasahi pipinya.

Tangisnya pecah begitu saja di tengah jalan gelap itu.

“Aku nggak bisa…” katanya tersendat-sendat. “Kalau aku menangis waktu itu… aku pasti nggak akan sanggup berdiri lagi…”

Aku membeku.

Nadira menatapku dengan mata merah penuh penderitaan.

“Mas Arman… sebenarnya sudah sakit lama.”

“Apa?”

“Leukemia stadium akhir.”

Dunia seperti runtuh di bawah kakiku.

“Tiga tahun terakhir dia bolak-balik rumah sakit diam-diam. Dia nggak mau Ayah dan Ibu tahu. Dia bilang nggak mau bikin keluarga menderita.”

Aku benar-benar tidak percaya.

“Kecelakaan itu…” lanjut Nadira sambil menangis, “bukan penyebab utamanya. Tubuhnya sudah terlalu lemah…”

Aku mundur selangkah.

Semua yang kupikir selama ini salah.

“Kenapa Mbak nggak bilang?”

“Karena aku janji.”

Nadira memeluk perutnya erat.

“Mas Arman takut anak kami lahir membawa gangguan kesehatan akibat pengobatan yang dia jalani. Dia terus mencari pengobatan herbal supaya anak kami tetap sehat.”

Dia mengangkat bungkusan kecil di tangannya.

“Ini obat terakhir yang dia minta aku cari.”

Air matanya jatuh tanpa henti.

“Dia bahkan memikirkan anaknya sampai detik terakhir hidupnya…”

Aku tidak mampu berkata apa-apa lagi.

Semua fitnah warga kampung tiba-tiba terasa begitu kejam.

Nadira tidak menangis di pemakaman bukan karena dia tidak cinta.

Justru karena dia terlalu hancur.

Dia memaksa dirinya tetap berdiri demi bayi yang dikandungnya.

Malam itu, aku pulang dengan langkah gemetar.

Aku menceritakan semuanya kepada Ayah dan Ibu.

Ibu langsung menangis histeris.

“Ya Allah… anakku…” tubuhnya roboh di lantai.

Ayah memukul dadanya sendiri sambil menunduk menangis untuk pertama kalinya sejak Arman meninggal.

“Kami… kami sudah menyakiti Nadira…”

Namun semuanya terlambat.

Karena saat kami masuk ke kamar Nadira…

Dia sudah pergi.

Yang tersisa hanya sepucuk surat kecil di atas meja.

“Maafkan aku karena tidak bisa menjadi menantu yang baik. Aku hanya ingin memenuhi janji terakhir Arman.”

Keesokan harinya, seluruh kampung geger setelah mengetahui kebenaran.

Orang-orang yang dulu menghina Nadira mulai merasa malu.

Beberapa ibu-ibu datang ke rumah sambil menangis.

“Kami berdosa…”

“Kami sudah memfitnah perempuan sebaik itu…”

Pak RT bahkan memimpin warga mencari Nadira ke seluruh desa.

Sampai akhirnya kami menemukannya kembali di rumah tua sang tabib.

Dia sedang membersihkan rak-rak penuh tanaman obat milik tabib itu.

Saat melihat kami datang, Nadira langsung berdiri kaku.

Ibu mertua langsung memeluknya erat sambil menangis tersedu-sedu.

“Nadira… maafkan Ibu…”

Ayah juga menundukkan kepala.

“Kamu bukan cuma menantu kami. Kamu anak kami.”

Nadira akhirnya menangis sejadi-jadinya dalam pelukan keluarga kami.

Untuk pertama kalinya sejak Arman pergi.

Waktu berlalu.

Rumah tua tabib di ujung desa itu perlahan berubah menjadi tempat pengobatan sederhana.

Nadira meneruskan cita-cita Arman.

Dia belajar tentang tanaman herbal, membantu orang-orang miskin yang sakit, dan merawat siapa pun yang datang dengan tulus.

Warga desa yang dulu mencibir kini menghormatinya sepenuh hati.

Dan setiap kali melihat Nadira tersenyum sambil menggendong putra kecilnya, aku selalu teringat satu hal:

Kadang orang yang terlihat paling dingin sebenarnya adalah orang yang menanggung luka paling dalam.

Dan sering kali, penyesalan datang setelah semuanya terlambat.