Posted in

“Bulan depan dia ngelahirin, Bum.” Suara seorang gadis terdengar parau, efek terlalu banyak menghisap nikotin dan menenggak alkohol membuat nasofaring Tiara Dijana Sudiro rusak.

“Bulan depan dia ngelahirin, Bum.” Suara seorang gadis terdengar parau, efek terlalu banyak menghisap nikotin dan menenggak alkohol membuat nasofaring Tiara Dijana Sudiro rusak.

“Ya, sayang. Aku inget kok, kamu udah ingetin aku berkali-kali.” Seorang pria menyahut, suara baritonnya khas, menggema mengisi ruangan kerjanya yang sunyi.

“Berarti kamu tau kan, apa yang harus kamu lakukan? Hum?” Tiara meny entuh d ad a pemuda itu, menyentuhnya pelan dengan gerakan sensasi.onal.

“Ya, ambil b a yinya, sin gkirkan ibunya.” Bumi Adhiakta, sang kekasih rahasia Tiara mengulang sebuah misi yang ia emban bertahun-tahun lamanya.

Menikahi, mengham*li, dan.. menghab*si.

**

Langkah Hana Araweda terasa berat, tapi hatinya seringan kapas malam itu. Tangannya tak berhenti mengusap per utnya yang sudah memb uncit besar, menghitung hari menuju kelahiran sang buah hati yang ia damba-damba.

Di usia 28 tahun, hidupnya terasa seperti dongeng. Ia punya karier arsitek yang mapan, suami setampan Bumi Adhiakta, dan kini calon pewaris Sudiro Group ada di dalam rahimnya.

Semuanya sempurna, nyaris sempurna andai malam itu… Ia tidak mendengar apa yang seharusnya tak perlu didengar.

Malam itu ia baru saja hendak membawakan segelas teh chamomile hangat untuk Bumi ke ruang kerjanya. Kasihan, seharian bekerja bahkan sampai malam juga masih harus membereskan pekerjaan pasti membuatnya lelah.

Teh ini adalah alternatif pengganti americano yang biasa Bumi minum sejak jaman kuliah. Sayang tiga tahun belakangan ia terkena gerd parah sampai harus berbaring berbulan-bulan untuk masa penyembuhan.

Sebagai istri yang baik, perhatian, dan tentunya bucin akut membuat Hana mencari alternatif penggantinya. Alhasil, teh ini menjadi pilihan untuk menemani kerja lembur sang suami.

Namun, langkah Hana terhenti tepat di depan pintu jati yang sedikit terbuka. Ada suara perempuan di dalam sana.

“Kamu jangan kelamaan main peran jadi suami idaman gini, Bumi. Aku udah muak lihat kamu pamer kemesraan sama dia.”

Itu suara Tiara, saudara tirinya. Hana mengerutkan kening, kenapa Tiara ada di sini malam-malam? Di rumahnya dan Bumi sang suami?

“Sabar, sayang. Tinggal sebulan lagi.” Suara Bumi terdengar berat, namun tetap manis dalam waktu yang sama. Sebuah kontradiksi yang tidak pernah Hana rasakan seumur mereka menikah.

Meskipun mereka suami istri, namun Bumi sangat dingin pada dirinya selaku istri. Senyum dan sapanya hanya formalitas di depan keluarga dan publik saja demi menjaga citra keluarga.

Sisanya? Bumi hanyalah lelaki dingin, acuh, abai, dan berhati congkak.

Namun karena Hana begitu mencintai Bumi, jadi tak masalah asalkan ia berhasil menikah dengan cinta pertamanya itu.

Meskipun yah, selama ini Bumi selalu dingin, bahkan nyaris tak tersentuh olehnya. Tapi beda kini, nada bicara itu begitu lembut. Bahkan, ada panggilan sayang juga pada Tiara, saudara tirinya sendiri.

“Dokter sudah atur jadwal operasinya bulan depan. Setelah ba y inya keluar, urusan kita sama Hana selesai.”

Deg.

Jantung Hana berdegup kencang. Ia menahan nafas, telinganya ditekan ke celah pintu untuk menangkap lebih banyak obrolan mereka.

“Terus kalau dia gak mau menyerahkan hak asuh?” Tiara bertanya dengan nada tajam, penuh kecurigaan.

“Gimana, Bum?”

“Ingat ya, rencana kita itu ambil ba yi nya! Papa cuma butuh anak buat jadi penerus perusahaan. Setelah itu, singkirkan Hana. Aku gak mau lihat muka dia lagi di rumah ini.”

“Kamu harus nikahin aku! Inget, kita pacaran dari S MP!”

Hana makin menegang, tangannya yang tengah memegang gelas otomatis bergetar karena kaget.

“Aku tau, sayang.” jawab Bumi pendek. “Aku udah atur semuanya biar dia kelihatan depresi berat setelah melahirkan. Orang-orang bakal percaya kalau dia hilang karena gangguan jiwa. Harta dan bayi itu bakal jadi milik kita, Tiara. Aku nikahin dia juga cuma buat ini, kan?”

DAR!!!!

Petir seolah meny ambar tepat di ulu hati Hana. Teh di tangannya mendadak terasa sedingin mayat.

Dunianya runtuh seketika. Suami yang ia puja, lelaki yang ia kejar mati-matian sejak remaja, ternyata hanya menganggapnya mesin pencetak b ay i.

Lalu ia juga baru tahu bahwa, Bumi dan Tiara punya hubungan spesial? Mereka.. berpacaran diam-diam di belakang dirinya? Lantas kenapa Tiara menginginkan anak Hana? Apakah karena Tiara terkena tumor di rahim dan melakukan pengangkatan rahim tujuh tahun lalu? Apakah semua ini sudah direncanakan sejauh itu? Selama itu?

Seketika tubuh Hana gemetar hebat. Ia mundur selangkah, namun nafasnya yang menderu membuat pandangannya kabur.

Namun tanpa sengaja, pinggulnya menyenggol guci keramik setinggi pinggang di samping pintu sampai membuat teh yang ia pegang ikut jatuh dan pecah.

PRANG!

Bunyi pecahannya memekakkan telinga di kesunyian malam itu.

“Siapa di luar?!” teriakan Bumi terdengar panik. Gawat, jangan sampai ada yang mendengar rencana dirinya dan Tiara. Jika tidak, kacaulah!

Hana yang panik tidak bisa berpikir lagi. Ia memutar tubuh, mengabaikan rasa nyeri di punggung bawahnya, dan berlari sekuat tenaga. Ia harus pergi! Ia harus menyelamatkan bayi dan nyawanya!

Bumi dan Tiara bergegas keluar dari ruangan tersebut dan mendapati Hana sudah berlari menjauh.

Ah, ternyata barusan itu Hana? Apakah istrinya itu mendengar semua percakapan mereka? Jika iya, matilah!

“Hana! Stop!” Suara langkah kaki Bumi mengejarnya di koridor yang panjang.

“Jangan lari, Hana! Kamu lagi ha mil!” teriak Bumi lagi, terdengar lebih seperti ancaman daripada kekhawatiran.

Hana terus berlari menuju tangga. Air mata sudah membanjiri pipinya. Pikirannya kalut, detak jantungnya berpacu dengan suara langkah kaki di belakangnya.

Ia serasa sedang dikejar malaikat maut yang siap menca b ut nyawanya saat ini juga.

Tidak, jangan sampai hidupnya harus berakhir di tangan dua manusia yang jahat ini. Jikapun semua harta yang menjadi haknya diambil, Hana rela. Tapi tidak dengan anak lelaki di rahimnya.

Ia harus pergi sejauh mungkin, setidaknya untuk menyelamatkan nyawa dirinya dan sang anak.

Akan tetapi tepat di a nak tangga teratas, kakinya yang lemas tak sengaja menginjak ujung dress panjangnya sendiri.

Dunia seolah bergerak lambat. Tub uh Hana limbung ke depan dan..

“HANA!!!”

Bumi yang berhasil menyamai langkah Hana itu memanjangkan tangannya guna meraih istrinya yang nyaris terjatuh, namun sayang ujung jemarinya hanya sempat menye ntuh helai rambut Hana yang terbang.

Pria itu tidak sampai menahan Hana, istrinya langsung jatuh menggelinding dari anak tangga paling atas.

BRAK!!

Tu buhnya menghantam an ak tangga, berguling ke bawah dengan suara dentuman yang mengerikan.

Rasa sakit yang luar biasa menghujam perutnya, segalanya mendadak menjadi merah, lalu gelap total.

Suara terakhir yang ia dengar adalah bisikan dingin dari arah atas tangga yang terdengar seperti sebuah ejekan.

“Mungkin lebih baik dia m.ati sekarang aja, Bumi.”

Lalu, sunyi.

**

Bumi merasakan tangannya bergetar hebat tanpa bisa ia kontrol, jemarinya basah, licin, dan pucat.

Baru saja ia melakukan hal yang tak pernah ia duga, yakni gagal menyelamatkan nyawa istrinya. Padahal ia bisa saja menyelamatkan Hana andai ia berlari lebih cepat.

Lagipula Hana itu pendek, langkah kakinya bisa dengan mudah Bumi kejar. Tapi kenapa, kenapa ia bahkan tidak bisa menarik tangan Hana dan menahan istrinya agar tidak lari?

“Hana…” Bumi menunduk, mengusap wajah Hana yang mengeluarkan d.arah dari hidung, mulut dan telinga.

“Hana!!!” teriaknya, membuat suasana di mansion mewah itu gelap dan mencekam.

“Hana, bangun Hana..” Bumi mencoba menepuk pelan pipi istrinya, dengan harapan keajaiban itu ada.

“Kenapa kamu harus sedih, sih? Bukannya rencana kita bisa berjalan lancar kalau dia m.ati duluan?” Tiara berdiri dengan kedua tangan tersilang di depan dada, nirempati.

Bumi tidak mengindahkan ocehan kekasih gelapnya itu, ia memilih me . r aba dan menekan nadi Hana, mencoba menangkap kemungkinan nyawa istrinya masih ada.

Dan, berhasil. Samar-samar Bumi menangkap denyut nadi itu masih ada.

“Dia masih hidup, Ra! Panggil ambulans!” Bumi membopong tubuh istrinya dengan hati-hati. Seluruh tangannya bergetar ketika melihat lelehan da.rah membasahi tangannya.

“Hana, kita ke rumah sakit sekarang. Jangan pergi, sayang… jangan.” Bumi me . n ciumi wajah istrinya sembari menitikan air mata. Ternyata, ia benar-benar tidak bisa melakukan semua ini.

Ia tidak bisa menyakiti Hana, istri yang sudah ia nikahi selama lima tahun dan tengah mengandung anak mereka.

“Cih..” Tiara berdecih, ponsel di tangannya masih menggantung di udara. Ia hendak menghubungi ambulans, namun ia merasa enggan ketika melihat pemandangan drama romansa di hadapannya.

“Berlebihan kamu Bum, dari awal juga kamu gak pernah cinta sama dia. Ingat, kita pacaran dari SMP!”

Bumi tidak mengindahkan ocehan Tiara, ia hanya mencoba menjaga istrinya agar tetap aman meskipun kondisinya semakin melemah.

“Panggil ambulans sekarang, Tiara!!” serunya.

“Panggil kalau kamu mau b a yi ini selamat.”

Tiara terkekeh, lalu mengangguk setuju untuk segera menghubungi ambulans dari rumah sakit terdekat.

Dan setelah itu, semuanya tidak pernah sama lagi.

Kabar langsung berhembus kencang, putri tiri pengusaha sukses Wenda Sudiro mengalami ma.ti batang otak akibat insiden di rumahnya, dalam kondisi mengandung delapan bulan.

Kondisi b a yi dipertanyakan, haruskah dilahirkan paksa ataukah menunggu keajaiban perempuan itu akan bangun dari koma dalam tenggat waktu satu bulan?