Posted in

“AYAH PACARKU ADALAH ORANG PERTAMA YANG MENYENTUHKU”

“AYAH PACARKU ADALAH ORANG PERTAMA YANG MENYENTUHKU”

Sudah bertahun-tahun berlalu sejak kejadian itu, tapi semuanya masih sangat jelas di ingatanku. Aku ingin membagikan cerita ini bukan untuk ditiru, melainkan karena aku sadar… terkadang lebih baik sebuah rahasia tetap disimpan demi menjaga semuanya tetap utuh. Tidak semua kebohongan membawa kehancuran.

Begini awal semuanya. Panggil saja aku Melody dari Balanga, Bataan.

Sampai sekarang, aku masih tidak tahu bagaimana menatap mata pacarku, Justin, tanpa merasa bersalah. Kukira malam itu akan mempererat hubungan kami, tapi ternyata justru menghancurkan diriku dan keluarganya.

Aku dan Justin sudah hampir dua tahun bersama. Karena hubungan kami serius, dia mengajakku menginap di rumah keluarganya di kampung saat pesta rakyat berlangsung. Di sanalah aku pertama kali bertemu ayahnya, Pak Dante. Tubuhnya tegap, wajahnya serius.

Karena sedang pesta, ada acara minum-minum. Aku tidak terbiasa minum alkohol, tapi karena suasana ramai dan menyenangkan, aku jadi kebanyakan minum. Aku merasa pusing, jadi lebih dulu masuk ke kamar Justin untuk beristirahat. Lampu mati, dan tubuhku terasa berat karena pengaruh alkohol.

Beberapa jam kemudian, aku merasakan pintu terbuka dan seseorang berbaring di sampingku. Dalam pikiranku, itu pasti Justin yang baru selesai minum di luar. Dia tidak bicara, tapi aku bisa merasakan hangat tubuhnya.

Di situlah semuanya bermula. Karena pengaruh alkohol dan suasana gelap, aku menjadi lebih berani. Aku mengira pria itu adalah Justin, jadi aku memberikan semuanya. Kupikir sentuhan dan semua tindakan penuh gairah malam itu memang untuk pacarku.

Dalam pikiranku, “Justin malam ini berbeda… lebih agresif, lebih berpengalaman.”

Aku semakin terbawa suasana ketika merasakan bagaimana setiap gerakannya terasa begitu mahir, sesuatu yang belum pernah kurasakan dari Justin sebelumnya.

Keesokan paginya, aku perlahan terbangun karena sinar matahari yang masuk dari jendela. Saat aku menoleh ke kiri, dunia rasanya berhenti berputar.

Itu bukan Justin yang tidur di sampingku.

Pria yang masih tertidur lelap di sebelahku adalah Pak Dante.

Aku langsung menutup mulutku agar tidak berteriak.

Dengan tubuh gemetar, aku buru-buru bangun dan memunguti pakaianku. Saat itu juga aku baru ingat… karena Justin terlalu mabuk, dia tertidur di sofa ruang tamu bersama para sepupunya. Sedangkan Pak Dante yang juga mabuk masuk ke kamar miliknya sendiri—yang ternyata adalah kamar tempat aku tidur, karena keluarganya mempersilahkanku memakai kamar terbesar agar lebih nyaman.

Aku langsung meminta maaf kepada Justin dan mengatakan bahwa aku harus segera pulang karena ada “keadaan darurat” di rumah. Aku tidak sanggup tinggal lebih lama di sana. Aku tidak sanggup melihat Pak Dante bangun dan menyadari apa yang telah terjadi.

“Aku tidak tahu mana yang lebih membuatku gila… malam itu di rumah Justin, atau minggu-minggu setelahnya yang penuh ketakutan dan keraguan.”

Setelah pulang, aku tidak pernah lagi menghubungi Pak Dante. Aku juga tidak pernah kembali ke kampung mereka. Justin semakin bingung melihatku menjauh tiba-tiba. Aku hanya bilang sedang mengalami stres berat karena pekerjaan.

Padahal kenyataannya, ada hal yang jauh lebih besar yang sedang kuhadapi.

Beberapa minggu setelah pesta itu, aku mulai merasakan sesuatu yang aneh. Pusing setiap pagi, mual, dan menstruasiku terlambat. Aku mencoba mengabaikannya dan berkata pada diriku sendiri bahwa mungkin itu hanya efek stres dan kejadian malam itu.

Tapi semakin hari, firasatku semakin kuat.

Suatu hari, aku tidak tahan lagi.

Aku membeli test pack kehamilan. Tanganku gemetar saat menggunakannya di kamar mandi. Aku menunggu hasilnya dengan campuran rasa takut dan harapan.

Muncul dua garis.

Test pack itu terjatuh dari tanganku ke lantai. Aku terduduk di kamar mandi sambil menangis tanpa suara. Hanya satu kali. Semuanya hanya terjadi satu kali, dan sekarang ada akibatnya. Seorang anak… anak dari ayah pacarku sendiri.

Sebuah kehidupan yang tumbuh dalam rahimku dan mungkin akan menghancurkan semuanya.

Bagaimana aku harus menjelaskan ini kepada Justin? Aku tidak ingin menyakitinya. Aku tidak bisa mengatakan bahwa anak ini—yang seharusnya menjadi “anak pertama” yang kami impikan bersama—sebenarnya adalah anak ayahnya.

Membayangkan dia mengetahui kebenaran itu saja sudah terasa seperti membunuhku perlahan-lahan.

Dalam kepanikanku, aku memutuskan harus menemui Pak Dante.

Aku memberanikan diri pergi ke kampung tanpa memberi tahu Justin.

Aku menemukan Pak Dante di ladang. Nafasku semakin berat saat mendekatinya. Ketika melihatku, raut wajahnya langsung berubah kaget.

“Melody? Sedang apa kamu di sini? Kenapa tidak bersama Justin?” tanyanya bingung.

Aku tidak langsung bisa menjawab. Aku hanya menunjukkan test pack yang kugenggam. Matanya membesar saat melihat dua garis itu.

“Positif…” bisikku pelan. “Saya hamil.”

Pak Dante terdiam. Aku bisa melihat ketakutan dan keterkejutan di matanya, seolah dia sendiri tidak pernah membayangkan semua ini akan terjadi.

Wajah Pak Dante yang semula tegang perlahan memucat. Dia menoleh ke sekeliling, memastikan tidak ada orang lain di ladang itu yang mendengar pengakuanku. Keheningan di antara kami terasa begitu menyesakkan, hanya suara angin yang menggeser daun-daun jagung di sekitar kami.

“Melody… malam itu… aku benar-benar mengira itu adalah istriku,” suaranya parau, penuh penyesalan yang dalam. “Aku terlalu mabuk. Aku tidak tahu kalau kamu ada di kamar itu.”

Aku hanya bisa menunduk, air mata mulai mengalir deras. “Lalu bagaimana sekarang, Pak? Justin… dia sangat mencintai saya. Dia ingin kita menikah tahun depan. Bagaimana saya bisa menatapnya jika saya mengandung adiknya sendiri?”

Pak Dante terduduk di sebuah batang kayu besar. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang. Pria yang biasanya terlihat tangguh dan berwibawa itu kini tampak hancur.

Setelah hening yang cukup lama, dia mengangkat wajahnya. Sorot matanya kini berubah—bukan lagi ketakutan, melainkan sebuah ketegasan yang dingin dan pahit.

“Justin tidak boleh tahu,” katanya dengan suara rendah. “Jika dia tahu, keluarga ini akan hancur. Dia akan membenciku selamanya, dan dia akan hancur melihatmu. Kamu harus membiarkan dia percaya bahwa itu adalah anaknya.”

Aku terbelalak. “Maksud Bapak… saya harus berbohong seumur hidup?”

“Demi kebahagiaan Justin,” bisik Pak Dante. “Aku akan membiayai semuanya. Aku akan memastikan kalian hidup berkecukupan. Tapi rahasia ini harus mati bersama kita. Kamu akan menikah dengan Justin secepatnya, dan anak ini… anak ini akan menjadi anak Justin di mata dunia.”

Aku pulang dengan perasaan yang lebih hancur dari sebelumnya. Pak Dante benar, kejujuran akan menghancurkan segalanya. Tapi kebohongan ini terasa seperti racun yang akan membunuh jiwaku setiap hari.

Sebulan kemudian, aku dan Justin menikah secara sederhana karena “kehamilan di luar nikah” yang ia kira adalah perbuatannya. Justin sangat bahagia; dia berjanji akan menjadi ayah terbaik di dunia. Dia mencium perutku setiap malam, berbicara pada bayi yang ada di dalamnya, tanpa tahu bahwa bayi itu adalah darah daging ayahnya sendiri.

Setiap kali kami berkunjung ke rumah mertua, aku harus menahan mual bukan karena kehamilan, tapi karena melihat Pak Dante. Kami saling menghindari tatapan mata, namun aku bisa merasakan pengawasannya yang konstan. Dia memberikan uang “hadiah” yang sangat besar setiap bulan, yang Justin kira adalah bentuk kasih sayang seorang kakek kepada calon cucunya.

Sampai akhirnya, hari persalinan itu tiba.

Justin setia menemaniku di ruang bersalin, menggenggam tanganku erat saat aku berjuang. Dan ketika suara tangis bayi laki-laki kami pecah, Justin menangis haru. Namun, saat perawat membersihkan bayi itu dan membawanya kepada kami, jantungku seolah berhenti berdetak.

Bayi itu memiliki tanda lahir yang sangat spesifik di bahu kirinya—sebuah tanda merah berbentuk unik yang persis sama dengan tanda lahir yang dimiliki Justin… dan ayahnya.

Justin tertawa kecil sambil mencium kening bayi itu. “Lihat, Melody… dia benar-benar anakku. Dia punya tanda lahir yang sama denganku.”

Aku hanya bisa tersenyum getir dalam tangis. Di satu sisi, aku merasa lega karena tanda itu seolah mengonfirmasi bahwa rahasia ini akan tetap aman karena kemiripan fisik keluarga mereka. Namun di sisi lain, setiap kali aku melihat tanda itu, aku diingatkan bahwa aku sedang membesarkan sebuah rahasia besar yang bisa meledak kapan saja.

Kini, setiap kali aku melihat Justin menggendong putranya, aku menyadari satu hal: Kebenaran mungkin membebaskan, tapi dalam kasusku, kebohongan adalah satu-satunya cara agar Justin tetap bisa tersenyum.