Posted in

Di kampungku, semua gadis kabur ke kota karena takut dilamar Juragan Kamajaya—lelaki misterius yang konon mencari istri untuk dijadikan tvmbal.

Di kampungku, semua gadis kabur ke kota karena takut dilamar Juragan Kamajaya—
lelaki misterius yang konon mencari istri untuk dijadikan tvmbal.
Tapi aku tidak takut.
Karena jika benar dia datang untukku…
ada sesuatu yang ingin aku bongkar, sesuatu yang tak pernah berani diungkap siapa pun.

“Ratih, Juragan Kamajaya kabarnya akan menikah,” ujar Mbok Minah di dapurnya sembari menata kayu untuk tungku api.

Ratih hanya menghela nafas kasar, membuang pandang ke jendela. Melihat burung yang terbang bebas di alam sana. Aktivitas memarut kelapanya mendadak berhenti.

Kabar pernikahan Juragan Kamajaya, bagaikan kabar kem4tian bagi siapa saja yang menjadi sasaranya. Setiap istri sang juragan selalu di ceraikan setelah malam pernikahan mereka. Konon, Sang Juragan hanya ingin kegadisan para wanita yang dinikahinya untuk menambah kesaktian dan kekayaanya.

Selepas itu tak jarang mantan istri juragan yang langsung pergi dari wilayah ini, entah kemana, hilang tanpa kabar seperti di telan bumi. Pun tak jarang pula yang hilang kewarasanya.

Semua itu membuat para gadis di kaki Gunung Cikandey berduyun-duyun merantau ke kota, agar tidak menjadi sasaran Juragan Kamajaya yang selalu mencari istri seorang gadis.

“Pergilah, nak. Emak takut kamu menjadi korban selanjutnya,”

Sorot mata yang t4jam menghujam serta wajah seram yang membingkai seakan menghipnotis para gadis untuk mau diperistri Juragan, walau sebelumnya mereka tau siapa dan bagaimana latar belakang lelaki yang meminangnya.

Ratih terdiam. Bagaimana ia pergi dari kampung ini, sementara emaknya yang sudah renta hanya tinggal sebatang kara.

Ia juga muak dengan tingkah laku juragan yang membuat wilayah ini kehilangan para wanitanya. Dan kini lebih di dominasi oleh kaum laki-laki. Walau juga tidak sedikit para lelaki yang memperistri orang dari jauh sana, karena sudah langkanya para wanita di wilayah sendiri.

Sekilas ia menatap tubuh emak yang tidak sekuat dulu, kalau ia pergi dan membawa emak, rasanya juga tidak mungkin, selain faktor fisik dan juga ia sendiri belum tau akan tinggal dan bekerja dimana.

“Tidak ada jalan lain selain melawan mak. Kalaupun aku yang akan di peristri juragan, aku pastikan semua akan baik-baik saja. Aku akan buka tabir apa yang sebenarnya menyelimuti. Tidak selalu tinggal diam dan kabur seperti ini. Mau sampai kapan wilayah ini kehilangan wanitanya hanya karena takut pada sebuah pernikahan,”

Emak kaget dengan pembicaraan Ratih. Meskipun ia dikenal sebagai gadis yang pintar dan pemberani, namun keadaan ini berbeda.

“Nduk, Juragan Kamajaya itu bukan orang sembarangan,”

“Ratih hanya takut Tuhan, mak. Tidak selamanya kejahatan terus dibiarkan. Ada saatnya kita bertindak,”

Walaupun emak membenarkan dalam hati, dan bangga dengan tekad bulat putrinya, namun tidak dapat ditutupi rasa was-was itu. Ratih memang keras kepala untuk tujuanya.

Laki-laki bertopi koboy itu menatap lurus halaman belakang dari teras lantai dua. Rahang yang keras disertai sedikit bulu halus yang tumbuh menambah wibawanya. Alis tebal serta sorot mata tajam menambah kesan seram pada sosoknya.

Dia Juragan Kamajaya, lelaki dengan tongkat kecil yang berhias bentuk kepala naga selalu dibawanya kemana-mana walau tubuh dan kaki itu masih tegap melangkah. Ada yang bilang, letak kekuatan Sang Juragan ada di tongkat itu.

Pria yang berumur hampir setengah abad ini menjadi orang terkaya di kaki Gunung Cikandey. Walaupun tubuh yang seharusnya sudah rapuh, termakan usia, tetapi pesona dan kegagahan Juragan Kamajaya nyatanya seperti tidak pudar seiring bertambahnya waktu.

“Juragan, semua sudah siap,” ujar seorang pelayan dengan menundukan kepala.

Tidak ada yang keluar dari mulut itu. Kecuali anggukan kecil dari kepalanya.

Mobil Mercedez Benz hitam dengan sedikit kombinasi warna keemasan dibawahnya telah terbuka pintunya. Mobil yang sengaja dipesan khusus Sang Juragan dari pabriknya dengan request dilapisi emas asli dibagian bawahnya seakan menjadi simbol siapa dan bagaimana kaya rayanya seorang Kamajaya.

Juragan memakai pakaian serba hitam dengan jas tanpa kancing dan tanpa dasi menyelimuti tubuhnya, sepatu hitam tanpa kaos kaki membuat aura nya keluar seperti jiwa-jiwa muda.

*

Ratih yang tengah membersihkan beras dari kotoran, sesaat terpaku dengan siapa yang datang. Tubuh tegap dan gagah dengan banyak pengawal dibelakangnya telah berdiri di halaman rumah.

Sorot mata yang katanya mampu menghipnotis para gadis untuk tidak bisa menolak pinanganya tersebut terus menatap tajam Ratih.

Gadis pemberani tersebut tanpa takut juga membalas tatapan Sang Juragan. Dan Ratih…