Posted in

“Mas, bisa transfer 15 juta? Buat renovasi rumah Ibu.”

“Mas, bisa transfer 15 juta? Buat renovasi rumah Ibu.”

Aku langsung kirim tanpa curiga. Dua hari kemudian, dia hilang tanpa kabar. Yang datang justru video dia check-in hotel dengan pria lain. Kesal, aku pulang diam-diam dan menyiapkan balasan dengan cara …
Spoiler

“Ada kecelakaan! Ya Tuhan, ada kecelakaan!” teriak salah satu petugas valet dengan wajah pucat.

Suasana lobi mendadak kacau. Orang-orang berlarian ke arah depan.

Aku dan Mas Kaizan ikut terseret kerumunan yang ingin tahu. Di tengah jalan, sebuah mobil putih yang dihias bunga-bunga cantik di bagian depannya tampak ringsek setelah dihantam oleh sebuah truk yang melaju dari arah berlawanan. Meski mereka mengenakan pakaian biasa, bukan gaun pengantin, jelas sekali itu adalah mobil pasangan yang baru saja menikah dan hendak pergi bulan madu.

Jantungku berhenti berdetak saat melihat sosok pria yang merangkak keluar dari pintu kemudi yang hancur. Wajahnya penuh debu, lecet, dan tatapannya kosong karena syok.

“Dimas?” gumamku tak percaya.

Itu benar-benar Dimas. Dan di kursi penumpang, Sisilia terjepit di antara dashboard yang remuk dan pintu mobil yang ringsek.

Sisilia tidak bergerak. Darah merembes dari pelipisnya, namun yang lebih mengerikan adalah cara dia memegangi perutnya sebelum jatuh pingsan. Gaun putih tipis yang ia kenakan mulai ternoda warna merah di bagian bawahnya. Pendarahan hebat.

“Sisil! Sisil, bangun! Aku tolong! Tolong istri saya!” Dimas berteriak histeris, suaranya pecah. Tangannya gemetar mencoba menarik pintu yang macet total, namun ia justru tampak linglung, tidak tahu harus melakukan apa.

Tanpa aba-aba, Mas Kaizan melepaskan tasnya ke tanganku dan berlari ke arah kerumunan. Ia menerobos orang-orang dengan langkah yang sangat sigap dan tenang, seolah-olah dia sudah terbiasa dengan situasi kacau seperti ini.

“Minggir! Beri ruang! Semuanya mundur!” Mas Kaizan berteriak lantang, suaranya memiliki wibawa yang membuat orang-orang secara otomatis memberinya jalan.

Ia mendekati mobil itu, memeriksa nadi leher Sisilia, lalu segera beralih memeriksa bagian perutnya yang mulai basah oleh darah.

Tangannya bergerak dengan presisi yang menakjubkan, sangat kontras dengan suasana yang hiruk pikuk di sekelilingnya.

“Heh! Mau apa kamu, Bang?!” Dimas yang baru menyadari kehadiran Mas Kaizan langsung berusaha mendorong bahunya. “Jangan sentuh dia! Kamu cuma kuli, tanganmu kotor! Jangan sok-sokan mau menolong, kamu malah bisa bikin dia makin parah!”

Dimas menatap Mas Kaizan dengan penuh kebencian meski matanya sembab oleh air mata. “Panggil ambulans! Mana ambulans?! Jangan biarkan orang rendahan ini mendekati Sisilia!”

Mas Kaizan tidak bergeming. Ia menepis tangan Dimas dengan satu gerakan kuat yang membuat Dimas mundur selangkah. Ia menatap adiknya itu dengan mata yang sangat tajam dan dingin.

“Diam, Dimas! Istrimu mengalami trauma tumpul di bagian abdomen. Dia mengalami pendarahan hebat, dan dari tanda-tandanya, dia sedang hamil muda! Jika aku tidak menghentikan perdarahannya sekarang, kamu akan kehilangan keduanya dalam hitungan menit!”

“Tahu apa kamu soal medis?!” raung Dimas, wajahnya merah padam. “Aku dokter! Aku yang lebih tahu!”