Posted in

Duniaku serasa runtuh dalam sekejap. Suara santriwati asing itu melengking, membelah keheningan di bawah tenda, dan setiap telunjuk yang mengarah padaku terasa seperti belati yang siap menghujam jantung. Aku mematung, mangkuk kecil di tanganku bergetar hebat hingga isinya nyaris tumpah ke tanah.

“Bohong! Demi Allah, saya tidak kenal siapa dia! Saya tidak pernah membayar siapa pun!” teriakku, suaraku parau, tertahan oleh sesak yang menghimpit dada.

“Alah! Tidak usah akting sedih, Nayla!” Laura melangkah maju, tawanya meledak sinis di depan kerumunan peserta dan warga yang menonton. “Pantas saja kamu tenang-tenang saja saat yang lain ketakutan. Ternyata kamu sutradaranya? Kamu bayar orang untuk meneror kita semua supaya kamu kelihatan paling berani dan suci di depan Gus Wafa? Benar-benar licik!”

“Saya tidak melakukan itu, Ning! Tolong, dengarkan saya!” Pembelaanku tenggelam dalam riuh bisik-bisik penonton yang mulai memandangku dengan tatapan jijik.

Tatapan Kyai Muzakki yang biasanya teduh kini meredup, penuh kekecewaan yang dalam. Sementara Nyai Fatimah hanya bisa menutup mulutnya, tampak syok melihat drama yang terjadi. Mbak Ratih berlari menerobos kerumunan, berdiri pasang badan di depanku.

“Tunggu dulu! Jangan asal tuduh! Saya saksi bagaimana Nayla ketakutan semalaman karena diteror. Mana mungkin dia menyewa orang kalau dia sendiri hampir pingsan karena trauma?”

Laura mendengus, ia melangkah mendekat hingga ujung jilbab mahalnya menyentuh wajah Mbak Ratih. “Mbak Ratih, sadar! Mbak sudah dicuci otaknya oleh anak ini. Dia itu pintar sandiwara. Lihat saja masakannya, dia sengaja bikin yang aneh-aneh supaya menarik simpati Gus. Mbak mau membela penjahat yang sudah menyembelih ayam dan mengancam nyawa santri lain demi obsesinya jadi istri Gus?”

“Nayla bukan penjahat!” bentak Mbak Ratih, namun suaranya bergetar.

“Tapi buktinya ada! Dia sudah mengaku!” Laura menunjuk ke arah santriwati yang tertangkap Mas Agus tadi. “Apa lagi yang mau dibantah? Menyingkir kamu, Nayla!”

Laura menyikut bahuku dengan sangat kasar hingga aku terhuyung. Ia kemudian membawa piring saji miliknya yang tampak sangat mewah ke hadapan Gus Wafa. “Gus, ini masakan saya. Lodeh Jantung Pisang yang sempurna. Tanpa drama, tanpa sandiwara berdarah. Ini bukti pengabdian yang nyata, bukan hasil manipulasi emosi.”

Aroma masakan Laura memang sangat menggoda, harum rempah yang kuat menyebar ke seluruh tenda. Secara visual, masakanku yang hanya berupa bubur lodeh sederhana tampak seperti penghinaan di samping hidangan Laura. Aku menatap Gus Wafa dengan mata berkaca-kaca. Aku ingin menjelaskan bahwa bubur itu adalah resep almarhumah ibuku, yang katanya adalah makanan favorit para ulama terdahulu.

“Gus… tolong percaya saya,” bisikku lirih, air mata mulai mengalir deras.

Gus Wafa mematung. Wajahnya yang pucat menyimpan gejolak batin yang luar biasa. Beliau menatap hidangan mewah Laura, lalu beralih ke mangkuk buburku yang sudah dingin. Beliau mengambil sendok, mencicipinya sedikit, namun tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi sangat pedih.

Gus Wafa berdiri. Matanya yang jernih kini tampak berlinang air mata kekecewaan. Beliau menatapku, namun bukan dengan tatapan perlindungan, melainkan tatapan pengkhianatan. Beliau seolah percaya bahwa aku telah menggunakan kenangan paling pribadinya sebagai alat untuk menipunya.

Gus Wafa menutup buku catatannya dengan dentuman keras. Tanpa menulis sepatah kata pun, beliau berbalik badan, membelakangiku sepenuhnya, dan melangkah pergi masuk ke dalam ndalem tanpa menoleh lagi.

“Gus! Jangan pergi! Gus Wafa!” teriakku histeris. Hatiku hancur berkeping-keping melihat punggungnya menjauh. Pria yang kucintai dalam diam itu telah membuangku ke dalam jurang fitnah.

Di tengah kehancuranku, suara sirine polisi meraung dari gerbang pesantren. Dua mobil polisi masuk dengan cepat, debu beterbangan. Seorang perwira polisi turun dan langsung menghampiri Kyai Muzakki. Setelah berdiskusi singkat, polisi itu berjalan ke arahku.

“Saudari Nayla Azzahra? Anda kami amankan atas dugaan tindakan teror lingkungan pesantren dan perusakan barang milik orang lain,” ujar polisi itu dengan nada dingin.

“Tidak! Saya tidak salah! Pak, tolong!” Aku menjerit saat tangan polisi itu memegang lenganku.

“Ayo ikut ke kantor! Jangan melawan!”

“Tidak mau! Saya difitnah! Mbak Ratih, tolong Nayla!” Aku berontak sekuat tenaga, namun tenaga polisi itu terlalu kuat. Aku jatuh tersungkur di tanah berdebu, lututku berdarah, jilbabku berantakan terkena tanah. Aku menangis meraung-raung, memohon keadilan di depan ratusan pasang mata yang kini menontonku seperti tontonan sirkus yang menjijikkan.

“Bawa dia!” perintah polisi itu.

Aku diseret paksa menuju mobil polisi. Aku menatap ke arah jendela kamar Gus Wafa di lantai atas. Di balik gorden yang tersingkap sedikit, aku tahu beliau melihatku diseret seperti pencuri. Namun gorden itu ditutup kembali dengan rapat. Beliau benar-benar meninggalkanku sendirian.

Laura berdiri di tengah lapangan, menyilangkan tangan dengan senyum kemenangan yang paling mengerikan yang pernah kulihat. Saat pintu mobil polisi ditutup dan mulai bergerak menjauh, aku melihat Mbak Ratih jatuh pingsan di pelukan santri lain.

Duniaku benar-benar gelap. Aku dibawa pergi dari tempat yang kusebut rumah, menuju sel dingin yang entah kapan akan melepaskanku. Dan yang paling menyakitkan, aku pergi dengan membawa cap sebagai pengkhianat di hati pria yang paling aku muliakan.

Saat mobil mulai meninggalkan gerbang pesantren, aku melihat sebuah mobil hitam mewah lain masuk berlawanan arah, membawa sosok yang selama ini menjadi misteri di balik semua teror ini.