Hari ini aku tidak berangkat ke sawah lagi. Bukan karena ma las, tapi untuk menenangkan hati dan pikiranku. Tak mungkin aku terus-terusan memikirkan hal itu sendiri.
Aku memutuskan untuk pergi ke rumah ibu lagi. Setelah memarkirkan motor, aku berjalan ke depan rumah, duduk di bangku kayu yang sudah mulai lapuk. Langit mendung, udara lembab. Tapi dadaku entah kenapa terasa lebih lapang. Mungkin karena tadi malam, untuk pertama kalinya, aku memilih membuka suara. Bukan hanya diam, menerima, dan menga lah.
Tak lama kemudian, Rani datang. Membawa dua gelas teh manis dan sepiring pisang goreng.
“Ibu mana, Ran?”
“Biasa, ibu gak mau diem orangnya. Ibu ikut tetangga panen cabai di kebunnya juragan Darma.” Aku mengangguk paham.
“Padahal udah sering aku lar ang, tapi ibu kekeuh. Katanya badan sa kit-sa kit kalau gak digerakkan,”
“Eh, Mas kelihatan beda, lho,” sambungnya lalu duduk di sampingku.
“Beda gimana?”
“Lebih tenang. Dan juga lebih… si gap.”
Aku hanya tersenyum. “Mas belum tahu mau apa. Tapi Mas tahu, Mas gak bisa terus diam kayak gini.”
Ia menyerahkan segelas teh padaku. “Temenku bilang, kalau Mas siap, dia bisa bantu dampingi ke O J K buat lap oran. Minimal Mas bisa tahu mana pin jol le gal, mana ile gal. Jadi gak semua harus Mas tanggung.”
Aku mengangguk pelan. “Nanti mas pikirin.”
“Aku kirimkan nomor temanku saja ya, biar Mas langsung yang bicara sama dia.” Aku mengangguk.
Siangnya, aku pulang dan mendapati Amira sedang sibuk membuat video TikTok di ruang tengah. Ada ring light kecil dan make-up berserakan. Ia tampak riang, tertawa kecil sambil bergaya di depan kamera.
Aku berdiri beberapa detik di ambang pintu. Melihat semua itu… bukan lagi membuatku mar ah. Tapi ge tir.
“Enak ya, hidup tanpa be ban,” gumamku lirih.
Dia menoleh. “Apa?”
Aku berjalan masuk. “Aku mau kita bicara.”
Amira menghela napas. “Lagi? Bukannya udah semalam?”
“Belum selesai.”
Ia melipat tangan di dada. “Ya udah, bilang aja mau nyala hin aku apalagi?”
Aku mengabaikan nadanya. Kali ini, aku harus bicara sebagai kepala keluarga, bukan sebagai suami yang takut kehilangan istri.
“Aku udah hit ung semua hut ang kamu. 15 ju ta. Aku gak akan ka bur. Aku akan bantu cari jalan keluar. Tapi kamu juga harus ikut tanggung jawab.”

Dia tertawa kecil. “Tanggung jawab? Aku udah tanggung jawab dengan tetap tinggal di rumah ini, Mas. Mas pikir gampang hidup kayak gini?”
Aku menatapnya, taj am. “Amira, tanggung jawab bukan hanya tinggal bersama. Tapi hidup bersama.”
Ia tercekat.
“Aku gak bisa berjanji kita tetap bersama. Tapi kalau kamu tetap kayak gini, aku juga gak akan tentu bisa bertahan.”
“Ini anca man?”
“Enggak, cuma perin gatan.”
Ia terdiam. Untuk pertama kalinya, tak ada jawaban sarkas darinya. Mungkin karena ia sadar, nada bicaraku sudah bukan nada pria yang bisa dia inj ak lagi.
Malamnya, aku membuka ponsel dan menghubungi nomor yang dikirim Rani. Seorang peng acara muda menjawab. Sopan dan tenang.
Setelah kujelaskan semuanya, ia bilang akan bantu cek lega litas pinj ol-pi njol itu. “Kalau ada yang ilegal, bisa langsung dilaporkan. Jangan takut. Selama datanya dimanipulasi dan bukan Mas yang ajukan, posisi Mas kuat.”
Aku menutup telepon dengan hati campur aduk. Antara lega dan khawatir. Tapi setidaknya, aku sudah mulai bergerak.
Sebelum tidur, aku menatap langit-langit ruang tengah. Kami masih pisah ranjang. Amira belum keluar dari kamar sejak sore. Tapi aku tak mem aksa.
Biar waktu yang membuka matanya. Aku sudah terlalu lelah berperang sendirian.
Dan dalam hati, aku berbisik pada diri sendiri, “kalau orang lain bisa sembuh dari luk a, aku juga bisa.”
Keesokannya, hari berjalan seperti biasa. Aku bangun subuh, menanak nasi. Lalu menumis kangkung dan menggoreng tempe yang aku beli sebelum pulang dari rumah ibu kemarin. Tak lupa juga aku membuat sambal. Itu untuk bekal makan siangku di sawah nanti.
Saat sedang mencuci wadah bek as masak tadi, Amira melewatiku sambil melirik sekilas.
Tak ada obrolan pagi hari. Menyapa saja tidak. Entah berapa lama lagi aku harus dihadapkan dengan situasi seperti ini.
“Dek, Mas berangkat ke sawah sekarang. Mas sudah nanak nasi dan masak,” ucapku.
“Hmm,” dia hanya menanggapi dengan berdehem saja.
Aku menghela nafas. “Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,” jawabnya mal as.
Sampai di sawah, aku bergabung dengan yang lainnya.
“Eh, Jang Ilham. Kemarin kemana, Jang? Udah dua hari gak ke sawah?” tanya pak Karno.
“Iya, Pak. Saya ke rumah ibu, Pak. Biasa, kangen masakannya,” jawabku.
“Eh, tau nggak? Si Lastri, orang kampung sebelah ju al rumahnya untuk menutupi angs uran pin jol yang gak bisa dia ba yar, lho,” cetus Pak Lukman.
“Wah masa sih?” tanya Pak Karno.
“Iya, saya denger pas kemarin pulang dari sawah. Tapi gak aneh sih, si Lastri penampilannya kayak istri pejabat, sedangkan suaminya pengang guran, suka main ju di onli ne lagi,” jawab Lukman.
“Hadeuh, suami istri sama saja kalo gitu,” ucap Pak Karno lagi.
Aku hanya diam menyimak pembicaraan mereka.
“Ham, kok ngelamun sih? Lagi dikej ar pin jol juga?”