Nadia tiba di rumah pada sore hari, tepat sebelum pukul 3 sore yang sudah Tris janjikan pada Sena – pela yan yang bertanggung jawab penuh untuk menemani dan mela yani sang nyonya.
Dengan senyuman yang mengembang, Nadia terus berjalan menuju ke dalam vila, dia bahkan sesekali berdendang menyanyikan sebuah lagu. Sena yang melihat perubahan mood yang drastis pada sang nyonya pun tak bisa menahan dirinya untuk bertanya. Alhasil, saat Nadia hendak memutar knop pintu menuju kamar, Sena berusaha memanggil sang nyonya terlebih dulu.
“Nyonya… ” Nadia langsung membalikkan badannya dan menatap Sena dengan wajah berseri-seri.
“Ya mbak ? Loh, mbak dari tadi ngikutin saya ya ? Aduh, maaf ya mbak, saya gak tau. Memangnya ada apa mbak ? Kayanya serius sekali.”
“Ehh, ini nyonya… Emmm, tadi nyonya sama tuan Tris pergi kemana ya ? Sampai-sampai begitu bahagia sepulang dari sana.” Cerocosnya dengan lancar di sertai dengan cengiran khasnya.
Jiwa kekepoan sang pela yan sepertinya sudah tak bisa di ragukan lagi, terlihat dari perhatiannya yang langsung bisa membaca mimik wajah nyonya nya dan juga langsung ingin mengulik penyebab di balik perubahan sikap nyonya nya tersebut tanpa ragu.
Nadia yang mendengar pertanyaan Sena pun mengangkat sebelah alisnya sambil tersenyum keheranan. Dalam hati Nadia memuji keberanian Sena yang memang melebihi semua pela yan yang lain. Terbersit niat untuk mengerjai pela yannya yang sangat kepo akut itu dalam fikirannya.
“Emmm, dari mana yaa… Apa mbak juga harus tau tentang hal itu?” Tanya Nadia dengan berbisik sambil membungkukkan badannya ke dekat Sena.
Tentu saja ucapan Nadia tadi membuat Sena langsung sadar atas kelancangannya, padahal dia mengira kalau nyonya barunya itu sangat mudah di dekati walau oleh pelayan seperti dirinya, tapi ternyata dia kini sudah salah sangka dan terlanjur lancang. Sialnya Nadia pun seperti sedikit menyalahkan sikapnya itu.
“Ehh, emm… Maaf nyonya, lain kali saya tidak akan mengulangi sikap lancang saya lagi.” Ucap Sena dengan menundukkan kepalanya.
Nadia mengulum senyum melihat kejahilannya itu langsung berhasil.
“Nyonya mengampuni saya, kan ? Tolong ampuni saya nyonya, saya janji tidak akan mengulanginya lagi, dan tolong jangan bilang sama tuan muda, nanti saya pasti dipecat, nyonya. Kasihanilah saya.” Cerocosnya lagi masih dengan menunduk.
Tak tahan mendengar ucapan Sena yang begitu ketakutan dengan candaannya, tawa Nadia pun pecah seketika, Sena langsung mendongak dan terbengong-bengong menatap Nadia yang tiba-tiba saja tertawa sampai terpingkal-pingkal memegangi perutnya. Padahal tak ada hal yang mengundang tawa, menurutnya.
“Ya tuhan, nyonya kok jadi aneh seperti ini ya sepulang dari jalan sama tuan Tris? Aduh, apa terjadi sesuatu selama mereka pergi sehingga kewa rasan nyonya sedikit terganggu ?” Gumam Sena dalam hati sambil menatap Nadia dengan raut takut sekaligus cemas.
“Nyonya kenapa ketawa? Apa Nyonya tadi terbentur di jalan? Atau kecelakaan? Nyonya masuk kamar, ayo. Nyonya harus banyak istirahat supaya segera pulih.” Ucap Sena dengan raut cemas yang begitu kentara di wajahnya.
Nadia yang sudah bisa menghentikan tawa hanya mengerutkan keningnya mendengar ucapan Sena. Namun dia tetap saja menurut saat Sena menariknya ke dalam kamar dan membaringkannya di atas tempat tidur, ya walaupun sambil bengong tak mengerti.
“Kamu kenapa si, Mbak?” tanya Nadia tak mengerti.
“Aduh, gawat ini. Gimana kalau tuan muda sampai tau ?” Ucap Sena dengan heboh sendiri. tanpa mendengarkan pertanyaan nyonya nya.
Dia terus saja bergumam sambil merapikan selimut yang menutupi tu buh nyonyanya sampai da da.
“Mbak, ada apa? Dari tadi ketakutan seperti itu, apanya yang gawat ?” Tanya Nadia entah untuk yang ke berapa kalinya.
“Sudah, nyonya jangan banyak tanya dulu, nyonya jangan banyak berfikir, nanti saya akan panggilkan dokter!” Ucap Sena dengan sangat panik.
Saking paniknya, di sampai tak sadar sudah memben tak dan menempelkan tangannya pada bi bir Nadia. Nadia yang cukup terkejut dengan sikap Sena pun hanya terdiam mematung.
“Saya keluar dulu ya nyonya, kalau butuh apa-apa panggil saya saja. Oh, iya jangan lupa, nyonya jangan banyak berfikir dulu.”
Setelah mengatakan hal itu Sena pun berlalu, menyisakan Nadia yang masih terdiam di tempatnya sambil mengerutkan keningnya kebingungan.
“Ehh… Astagaa ! Mbak Sena …” Nadia yang mengingat kata-kata Sena tadi pun langsung bangkit dari tempat tidur dan berlari keluar kamarnya, dia berteriak-teriak memanggil Sena, membuat yang di panggil namanya langsung berlari tergopoh-gopoh menghampiri sang nyonya.

“Ya ampun, nyonya kenapa ke sini ? Kan saya sudah bilang tiduran saja dikamar.”
“Mbak, saya ini gak kenapa-napa. Jangan panggil dokter segala, nanti kalau tuan Arian tau, dia bakalan marah, aku masih ingat tadi pagi dia terus mewanti-wantiku supaya menjaga diri dengan baik.”
“Saya juga berfikir begitu nyonya, tapi sikap nyonya yang sangat aneh membuat saya khawatir, jadi saya hendak memanggil dokter.”
“Aduh, aneh gimana mbak?”
“Ya itu tadi, sepulang dari jalan-jalan nyonya jadi aneh sekali. Senyum-senyum terus, dan tadi juga tiba-tiba tertawa sampai cetar membahana, sampai saya kaget, padahal tidak ada yang lucu. Ya jadi mau tidak mau saya fikir ada yang salah sama nyonya.”
Nadia menepuk jidatnya. “Ya ampun, aku lagi senang malah terlihat aneh ya di mata kamu.” Ucapnya sambil melipat kedua tangannya di da da.
“Yaa.. Untuk itu jangan salahkan saya, nyonya. Kan awalnya nyonya gak pernah senyum dengan sepenuh hati begitu, apalagi tertawa. Dan sekalinya seyum malah gak berhenti-berhenti, langsung ketawa juga sampai saya takut.” Jelasnya dengan raut yang sungguh lucu bagi Nadia.
Dia pun mulai menceritakan perjalanannya yang sangat mengesankan tadi bersama Tris kepada Sena. Setelah mendengarkan penjelasan Nadia, Sena pun mulai faham dan ikut senang dengan perubahan sikap Nadia yang menjadi ceria.
Setelah selesai menceritakan semuanya, Nadia pun pamit untuk kembali menuju kamarnya. Tak lupa dia juga mengingatkan Sena untuk tak perlu mencemaskannya dengan berlebihan seperti tadi.
“Huuhh, kirain aku nyonya kenapa. Tapi aku ikut senang melihatnya ceria seperti ini. Kenapa ya, sebelumnya nyonya tidak pernah tersenyum dengan ceria seperti tadi ? Padahal dia pengantin baru, dapat suami ganteng lagi. Ahh, aku ini kenapa sih ?? Malah repot-repot mikirin orang lain.”
Sena pun menghentikan gumaman nya dan melanjutkan pekerjaannya dengan serius.
Di ruangan lain, seorang laki-laki sedang merebahkan tu buhnya sambil terus menatap layar ponselnya yang menampilkan sebuah foto seorang gadis cantik sedang berpose, walau foto tersebut di ambil dari sebelah samping, tapi tentu hal itu tak mengurangi aura kecantikan gadis tersebut.
Tris dapat merasakan sebuah getaran dalam da danya saat dia menatap foto tersebut, jantungnya pun ikut berpacu lebih cepat dari biasanya. Sungguh, hal itu sangat menyik sa bagi Tris.
“Hah, aku bisa g i l a kalau seperti ini terus. Seharusnya aku tidak boleh mencu ri fotonya, tapiii….” Tris menghentikan ucapannya, dia kemudian meletakkan ponselnya dan bangkit dari rebahannya, dia duduk di tepi ran janq sambil kedua tangannya menumpu pada lutut, berkali-kali ia mengusap wajahnya dengan gusar.
“Aarrgghh, bagaimana ini ??” erangnya dengan kesal karena menyadari kehadiran sesuatu dalam hatinya yang seharusnya tak ia rasakan.
“Apa aku berhenti kerja saja ?”