Posted in

Pada hari aku seharusnya melunasi SUV baru untuk tunanganku di Manila, satu pertanyaan dari pegawai showroom membuat seluruh tubuhku langsung dingin.

Pada hari aku seharusnya melunasi SUV baru untuk tunanganku di Manila, satu pertanyaan dari pegawai showroom membuat seluruh tubuhku langsung dingin.

“Ma’am, apakah co-owner yang sekarang tetap dipertahankan atau akan dipindahkan ke nama Anda?”

Tanganku berhenti saat menandatangani dokumen asuransi.

“Co-owner?”

Pegawai muda itu menatapku dengan bingung.

“Maaf, ma’am… kendaraan ini terdaftar atas nama Sir Adrian Villareal dan Ms. Camille Villareal.”

Bolpenku jatuh ke meja.

Aku pikir aku salah dengar.

“Camille… Villareal?”

“Iya, ma’am.”

Dia sedikit memutar monitor ke arahku.

Jelas tertulis di layar:

Ford Everest Titanium warna hitam.

Primary owner: Adrian Villareal.

Co-owner: Camille Villareal.

Relationship: Istri.

Darahku terasa membeku.

Di luar showroom di Bonifacio Global City, hujan turun deras di Manila. Air mengalir di kaca gedung seperti garis-garis kabur.

Tapi telapak tanganku saat itu terasa jauh lebih dingin.

Aku menatap lama kata “Istri”.

Begitu lama sampai pegawai itu mulai canggung.

“Ma’am… Anda tidak apa-apa?”

Aku mendengar diriku sendiri bertanya:

“Sejak kapan kendaraan ini terdaftar atas nama Adrian?”

“Sudah lebih dari satu tahun, ma’am.”

Satu tahun.

Aku dan Adrian baru bertunangan sepuluh bulan.

Aku bahkan menghabiskan tiga bulan memilih warna leather seat mobil itu.

Katanya dia ingin kami punya mobil baru setelah menikah supaya lebih mudah mengantarku ke Batangas saat aku pulang menjenguk Mama dan Papa.

Waktu itu dia bahkan memelukku di parkiran condo kami di Makati sambil tersenyum.

“Nanti setelah kita menikah, kamu yang pertama kali nyetir mobil keluarga pertama kita.”

Keluarga.

Baru sekarang aku sadar… memang itu keluarganya.

Hanya saja bukan denganku.

Aku menarik napas panjang.

“Siapa Camille Villareal?”

Pegawai itu langsung menggeleng.

“Maaf ma’am, kami tidak boleh memberikan informasi pribadi customer.”

Tapi sebenarnya aku tidak perlu penjelasan lagi.

Villareal adalah nama belakang Adrian.

Camille Villareal.

Mustahil dia hanya pacar biasa.

Aku terduduk kaku di kursi.

Dan yang paling menyakitkan… alasan aku datang hari ini adalah untuk melunasi sisa cicilan mobil itu.

Tiga bulan lalu Adrian bilang cash flow perusahaannya sedang bermasalah.

Dia memelukku erat di apartemen sewaan kami di Ortigas dengan suara serak.

“Aku tidak mau kamu susah setelah kita menikah.”

“Ini cuma sementara. Aku pasti ganti semuanya.”

Aku percaya.

Aku selalu percaya padanya.

Aku menggunakan seluruh bonusku dari perusahaan advertising, bahkan uang tabungan untuk membuka studio sendiri, lalu memberinya hampir Rp280 juta.

Matanya sampai memerah waktu itu.

Dia bahkan berlutut di ruang tamu dan mencium tanganku.

“Hanya kamu yang benar-benar mencintaiku.”

Sekarang kupikir… mungkin dia memang terharu saat itu.

Karena tidak mudah menemukan orang sebodoh aku.

Aku keluar dari showroom sambil menggenggam ponsel.

Hujan turun deras di Manila.

Ujung rokku basah kuyup tapi aku sudah tidak peduli.

Aku menelepon Adrian.

Panggilan pertama langsung ditolak.

Baru di panggilan kedua dia menjawab setelah hampir satu menit.

Suaranya pelan.

“Honey, aku lagi meeting.”

Ada suara piano samar di belakangnya.

Bukan suara kantor.

Lebih mirip restoran.

Aku berdiri di bawah atap showroom sambil melihat kemacetan EDSA.

“Kamu di mana?”

Dia diam sesaat.

“Di Makati.”

“Tadi malam kamu bilang kamu di Cebu.”

“Oh… jadwalnya berubah.”

Aku tertawa kecil.

“Adrian.”

“Hmm?”

“Siapa Camille Villareal?”

Mendadak sunyi di seberang sana.

Musik piano masih terdengar.

Ada juga bunyi samar gelas wine.

Aku bisa merasakan napasnya berubah cepat.

“Maksud kamu apa?”

“Aku lagi di showroom Ford di BGC.”

Dia langsung sadar saat aku berhenti memanggil diriku “sayangmu.”

Dan saat itu dia mengerti.

Nada suaranya langsung tegang.

“Chiara, dengarkan dulu penjelasanku.”

“Aku cuma tanya satu hal.”

“Siapa Camille Villareal?”

Lama sekali sebelum dia menjawab.

“Sepupuku.”

Aku tertawa keras meski hujan turun deras.

“Sepupu yang terdaftar sebagai istri?”

“Itu cuma formalitas.”

“Formalitas?”

“Waktu itu aku butuh supaya loan lebih gampang disetujui—”

“Ini terakhir kalinya aku tanya.”

Aku menggenggam ponsel begitu erat sampai jemariku gemetar.

“Adrian.”

“Kamu sudah menikah?”

Dia tidak menjawab.

Tapi kadang, diam adalah jawaban paling jelas.

Hujan semakin deras.

Tiga tahun kami pacaran.

Sepuluh bulan bertunangan.

Venue di Pasay sudah dibooking.

Undangan sudah dicetak.

Aku bahkan sudah fitting wedding gown.

Dan baru sekarang aku tahu…

Pria yang tidur di sampingku setiap malam ternyata sudah menjadi suami wanita lain.

Aku mendengarnya bicara pelan.

“Chiara, ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”

“Lalu aku harus berpikir apa?”

“Aku dan Camille tidak benar-benar hidup bersama.”

“Kalau begitu kenapa kalian menikah?”

Dia kembali diam.

Lalu hampir berbisik.

“Mama yang memaksaku.”

Aku memejamkan mata.

Tentu saja.

Dipaksa lagi.

Terpaksa lagi.

Selalu ada alasan.

Seolah semua pria yang berselingkuh selalu punya alasan untuk terlihat tidak bersalah.

Dan satu-satunya yang benar-benar bodoh hanyalah orang yang ditipu.

Dia melanjutkan.

“Sebenarnya aku berniat membereskan semuanya setelah pernikahan kita.”

“Maksudmu kamu berencana menjadikan tunanganmu sendiri sebagai selingkuhan?”

“Tidak!”

Suaranya tiba-tiba meninggi.

“Aku benar-benar mencintaimu!”

Aku tertawa.

Katanya mencintaiku.

Sementara namanya di surat nikah berdampingan dengan wanita lain.

Dan tepat pada saat itu…

Aku mendengar suara wanita pelan di seberang telepon.

“Babe, makanan kita mulai dingin.”

Aku langsung membeku.

Dia buru-buru bicara lirih.

“Nanti aku telepon lagi.”

Lalu sambungan diputus.

Aku berdiri lama di tengah hujan.

Sampai ponselku tiba-tiba bergetar.

Pesan dari nomor tak dikenal.

Sebuah foto.

Di foto itu Adrian duduk berhadapan dengan seorang wanita bergaun putih di restoran mahal di tepi sungai di Makati.

Senyumnya begitu manis.

Dan di jari tangannya…

Ada cincin pernikahan yang sama persis dengan cincin yang pernah kulihat di laci Adrian.

Di bawah foto hanya ada satu kalimat.

“Memangnya kamu pikir cuma kamu satu-satunya wanita dalam hidupnya?”

Dan sebelum aku sempat bernapas…

Video lain masuk.

Terlihat Adrian merangkul pinggang wanita itu saat mereka masuk ke lift sebuah hotel di Pasig.

Waktu video.

Tadi malam.

Malam ketika dia bilang sedang ada pekerjaan di Cebu.

Darahku rasanya berhenti mengalir.

Di bawah guyuran hujan BGC yang semakin menderu, aku menatap layar ponselku yang basah oleh rintik air. Rasa sakit yang beberapa menit lalu menghunjam dada, mendadak menguap, digantikan oleh rasa dingin yang teramat sangat. Rasa dingin dari sebuah keputusan mutlak.

Mereka mengira aku adalah Chiara yang lemah. Chiara yang akan menangis histeris di pinggir jalan, memohon penjelasan, dan hancur meratapi nasib.

Mereka lupa satu hal: Aku bekerja di industri advertising tingkat tinggi di Manila. Tugasku sehari-hari adalah mengendalikan narasi, menyusun strategi, dan menghancurkan reputasi kompetitor jika diperlukan.

Dan hari ini, Adrian Villareal baru saja mendaftarkan dirinya sebagai target utama kempen penghancuran terbaikku.

Aku menghapus air di layar ponsel, menyalin nomor tak dikenal itu, lalu mengetik balasan singkat: “Terima kasih fotonya, Camille. Nikmati makan malam kalian, karena ini akan menjadi makanan mahal terakhir yang bisa dibeli suamimu.”

Aku berbalik dan melangkah kembali ke dalam showroom dengan kepala tegak. Sepatuku yang basah meninggalkan jejak di lantai marmer yang bersih. Pegawai muda tadi terkejut melihatku kembali dengan ekspresi yang sama sekali berbeda. Tidak ada lagi gurat kesedihan. Yang tersisa hanyalah tatapan tajam yang menghunus.

“Ma’am Chiara? Ada yang bisa saya bantu lagi?”

Aku mengeluarkan kartu kredit hitamku, meletakkannya di atas meja dengan ketukan pelan.

“Batalkan pelunasan Ford Everest atas nama Adrian Villareal.”

Pegawai itu berkedip. “Tapi ma’am, uang Rp280 juta yang Anda transfer tiga bulan lalu sebagai dana talangan sudah masuk ke sistem pembayaran uang muka milik Sir Adrian…”

“Saya tahu,” aku tersenyum dingin. “Dan sebagai orang yang memegang bukti transfer dari rekening pribadi saya, lengkap dengan surat perjanjian notaris yang ditandatangani Adrian bahwa uang itu adalah ‘pinjaman modal usaha’, saya menyatakan dana itu ditarik kembali secara sepihak atas dugaan penipuan.”

Aku mencondongkan tubuh ke depan. “Sampaikan pada manajer Anda. Jika Ford Manila tidak membekukan unit tersebut hari ini dan mengembalikan uang saya, tim hukum perusahaan advertising saya akan memastikan nama showroom ini ikut terseret dalam tuntutan pidana pasal penipuan dan pencucian uang di pengadilan Makati besok pagi.”

Wajah pegawai itu memucat. Dia langsung berdiri dan berlari ke ruangan manajernya. Lima belas menit kemudian, aku keluar dari showroom dengan dokumen pembatalan dan tanda terima pengembalian dana penuh ke rekeningku.

Langkah pertama selesai. Adrian baru saja kehilangan mobil impiannya, sekaligus berutang Rp280 juta pada diler karena pembatalan kontrak sepihak.

Namun, itu baru pemanasan.

Aku masuk ke dalam taksi, menuju apartemen kami di Ortigas. Sepanjang perjalanan, jariku bergerak cepat di atas layar ponsel. Aku menelepon vendor venue pernikahan di Pasay, pihak katering, dan desainer gaun pengantin.

“Batalkan seluruh acara atas nama Chiara dan Adrian. Alihkan seluruh down payment yang sudah saya bayar untuk acara gala dinner agensi saya bulan depan. Jangan berikan refund satu peso pun jika pihak Adrian menghubungi kalian.”

Mereka semua patuh. Mengapa? Karena akulah yang membayar seluruh deposit itu menggunakan uangku sendiri.

Pukul delapan malam. Aku tiba di apartemen. Dengan tenang, aku mengeluarkan koper besar milik Adrian. Aku melempar semua pakaian desainer yang kubelikan untuknya, jam tangan, hingga sepatu-sepatunya ke dalam koper. Aku tidak membakarnya. Itu terlalu klise.

Aku menyeret koper itu ke lobi lantai dasar, meletakkannya tepat di samping meja sekuriti.

“Kuya,” kataku pada satpam penjaga, sambil menyelipkan beberapa lembar uang kertas ratusan peso. “Jika pria bernama Adrian Villareal datang, katakan padanya bahwa akses kartunya ke unit atas namaku sudah diblokir. Dan ini barang-barangnya.”

“Baik, Ma’am Chiara,” jawab sekuriti itu dengan patuh.

Tepat pukul sembilan malam, ponselku bergetar hebat. Nama ‘Adrian’ berkedip di layar. Aku mengangkatnya, sengaja menyalakan fitur speaker.

“CHIARA! APA-APAAN INI?!” Suara Adrian melengking, penuh kepanikan dan kemarahan. Tidak ada lagi suara piano. Yang terdengar adalah deru napas memburu di pinggir jalan. “Pihak diler Ford baru saja meneleponku! Mereka bilang unitku dibatalkan karena masalah hukum?! Dan kenapa kartu akses apartemenku tidak bisa digunakan?! Di mana kamu?!”

Aku menuang segelas air putih di dapur apartemenku yang sunyi. “Aku di rumah, Adrian. Rumah yang kubayar dengan uangku sendiri.”

“Chiara, jangan gila! Aku sedang di lobi sekarang! Buka pintunya! Kita perlu bicara! Camille itu cuma—”

“Camille itu istrimu, Adrian. Dan video kalian masuk ke hotel di Pasig tadi malam sangat jernih. Bahkan ekspresi wajahmu saat merangkul pinggangnya terlihat sangat bahagia.”

Seberang telepon mendadak hening. Adrian tersedak ludahnya sendiri. “Ka… kamu tahu dari mana?”

“Itu tidak penting,” kataku landai. “Yang penting adalah, dalam waktu sepuluh menit ke depan, pastikan kamu memeriksa email kantormu.”

“Apa maksudmu?!”

“Perusahaan logistik keluarga istrimu, Villareal Shipping, sedang mengajukan kontrak eksklusif dengan agensi advertising-ku untuk kampanye regional mereka bulan depan, kan?” Aku tertawa kecil, suara yang membuat Adrian pasti merinding di bawah sana. “Sayang sekali, direktur agensiku adalah sahabat baikku. Dan aku baru saja mengirimkan seluruh berkas penipuanmu, foto-foto perselingkuhanmu, beserta bukti bahwa kamu menggunakan nama perusahaan mereka untuk menjebak dana pihak ketiga—yaitu aku—ke email seluruh dewan direksi mereka.”

“Chiara! Jangan lakukan itu! Itu bisa menghancurkan karierku! Keluarga Camille akan mengusirku!” Suara Adrian berubah drastis, kini dipenuhi tangisan panik dan rintihan minta ampun. “Aku mohon, Chiara… aku terpaksa menikahi dia karena bisnis ayahnya! Aku cuma memanfaatkan uang mereka! Aku cuma cinta kamu!”

“Oh, kamu memanfaatkan mereka?” Aku tersenyum, menatap pemandangan lampu kota Manila dari jendela lantai dua puluh. “Menarik. Karena aku juga menyertakan rekaman suara teleponmu yang baru saja mengatakan ‘cuma memanfaatkan uang mereka’ ke nomor WhatsApp Camille dua detik yang lalu.”

“K-Chiara… kamu…” Suara Adrian bergetar hebat, hancur sepenuhnya.

Di seberang telepon, samar-samar aku mendengar suara teriakan melengking dari arah pintu masuk lobi apartemen. Suara Camille yang baru saja tiba, tampaknya baru membaca pesan dariku dan mendengar rekaman suara suaminya.

“ADRIAN!!! APA YANG KAMU KATAKAN PADA PEREMPUAN JALANG INI?! KAMU MEMANFAATKAN UANG KELUARGAKU?!” Teriakan Camille terdengar sangat histeris, disusul suara tamparan keras yang menggema bahkan sampai ke ponselku.

“Camille, tunggu! Bukan begitu! Dengarkan aku dulu—”

Pip.

Aku mematikan sambungan telepon.

Aku berjalan menuju balkon, memandang hujan yang perlahan mulai mereda di atas langit Makati dan BGC. Di bawah sana, Adrian mungkin sedang merangkak di lantai lobi, diusir oleh istri kayanya, kehilangan mobil barunya, kehilangan tempat tinggalnya, dan menghadapi kehancuran karier yang total.

Aku menyesap air putihku, merasakan ketenangan yang luar biasa merayapi dada.

Dia mengira aku adalah korban yang bisa ditipu. Tapi malam ini, di bawah langit Manila, dia baru saja sadar bahwa dia tidak sedang bermain dengan wanita bodoh—dia sedang berhadapan dengan sutradara dari akhir hidupnya sendiri.