“Ini sisa tulang, makanan untuk kucing. Kenapa kamu makan?”
“Karena hanya ini yang tersisa, Mas.”
Aku terkejut saat pulang ketika mendapati istriku makan makanan sisa padahal setiap bukan kukirim ua-ng 20 ju-ta. Aku mulai bertanya, kemana perginya ua-ng bulanan istriku dan ternyata….
Bab 2 Istri Dari Kebencian
—
Tak tahan melihat Citra makan dari makanan sisa, langsung kuta-rik tang-annya hingga berdiri. Kami saling bertukar tatap dan dia masih dengan tatapan polos itu sambil mengunyah.
“Ada apa, Mas?” tanya Citra.
“Siapa yang menyuruhmu memakannya?” tanyaku balik, rasanya ingin marah tapi tak tau kenapa dan pada siapa.
Tatapan polos itu berubah bingung.
“Memangnya kenapa, Mas?”
Kenapa katanya? Masih nanya lagi. Kalau dia kenapa-napa kan aku jadi repot dan gak bisa marah-marah. Lihat saja tu-buhnya sampai kurus, bisa-bisa aku dikira nyik-sa istri sama orang lain.
“Kata mama, kamu suruh aku makan sisaan, Mas. Terus sekarang kenapa kamu nanya?”
Aku menyerngit. “Kapan aku bilang gitu? Kamu jangan ngada-ngada, ya. Atau jangan-jangan ini cuma taktik bu-sukmu aja?” tu-duhku seraya menunjuk-nunjuknya.
Citra menggeleng lagi. “Tapi, mama memang bilang begitu, Mas. Sehari setelah kita menikah, katanya kamu titip pesan sama mama supaya aku makan sisaan aja.”
Ck! Aku mengacak ram-but dengan ka-sar. Ternyata mama. Aku tau beliau tak pernah suka pada Citra. Selain karena istriku ini terlibat dalam kema-tian abang, juga karena dia berasal dari kampung. Tak selevel dengan kami.
“Kenapa kamu gak konfirmasi dulu ke aku? Tanya benar apa enggak kalau aku nyuruh begitu?!”
“Aku kan gak punya kontak ponsel kamu, Mas. Kamu sendiri yang gak mau tukeran nomor ponsel sama aku,” jawabnya.
Argh! Benar juga. Aku yang meno-lak untuk memberikan kontak ku padanya. Tapi, meskipun begitu harusnya dia bisa cari tau melalui siapa saja.
“Ya kamu juga bodoh! Kenapa gak minta kontak ku sama Reni atau sama papa? Punya o-tak itu dipakai, Citra! Kamu juga disuruh-suruh sama Tanteku mau-mau aja. Memangnya kamu pembantu di rumah ini?!”
Tanpa sadar, emosi ini membuncah sementara Citra hanya diam saja sembari menatap lantai. Harus kuapakan istri seperti ini?
“Cepat ganti bajumu, kita keluar.”
Akhirnya ma-ta bulat yang memiliki bulu ma-ta lentik itu menatapku juga.
“Mau kemana, Mas?”
“Bisa gak jangan banyak tanya? Ikutin aja apa kata aku. Ganti baju sana!”
Citra bergegas ke kamar kami dan tak menunggu waktu lama dia sudah kembali. Bajunya tetap gamis yang sama—sederhana dan jauh dari selera orang sepertiku.
“Ini pakaian terbaikmu?” tanyaku padanya.
Citra mengangguk. Cih, bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta padanya. Penampilan saja seperti ini, mana ba-dan kurus kurang gi-zi. Makin gak selera aku. Makanya aku yakin gak akan pernah punya perasaan sama dia.

“Apa kurang pantas, mas?”
“Sudahlah, pakai ini aja. Kita juga gak akan lama. Lagian percuma kalau kamu ganti baju lagi. Buang-buang waktu juga, toh ini pakaian terbaikmu, kan? Ayo kita pergi.”
Aku sudah membuka pintu mobil namun Citra masih berdiri mematung. Apalagi kali ini?
“Saya duduk di mana, Mas?”
“Menurutmu di mana? Ya di kursi penumpang samping ku. Kenapa? Jangan-jangan kamu berpikir mau duduk dipang-kuan ku, ya? Ora sudi!”
“Ih siapa juga yang mau duduk di pang-kuan, Mas,” sahutnya kemudian masuk ke dalam mobil.
Loh, kok aku kesal, ya?
.
Sudah lama aku tak menikmati jalanan kota, apalagi menyetir sendiri. Biasanya, aku selalu sibuk dengan dokumen dan pekerjaan.
Ma-taku fokus pada jalanan meski ujung ma-ta ini sesekali menangkap sosok Citra yang terlihat antusias. Seperti orang yang tak pernah jalan-jalan saja. Dasar kam-pungan.
Aku berhenti di sebuah rumah makan padang, mencari parkiran yang kosong dan parkir di sana. Sebenarnya, ada rasa ingin mengajak Citra ke restoran gaya Jepang tapi takut pe-rutnya tak cocok dengan makanan di sana.
“Kita ke rumah makan, mas?” tanya Citra yang terdengar begitu bersemangat.
“Enggak, kita ke rumah Joglo. Ya sudah tau itu ada bacaannya RUMAH MAKAN PADANG, masih nanya lagi. Dibilang gak bisa baca tapi bisa. Cepat keluar!”
“Ngomel mulu, mas,” lirihnya kemudian berjalan mendahuluiku.
Apa katanya tadi? Kukira Citra ini pendiam dan memang hanya bisa manggut-manggut saja. Tapi, tadi dia bilang aku mengomel? Awas saja kalau sudah sampai di rumah nanti. Aku buat dia menyesal!
Makanan datang satu persatu ke meja. Citra malah terlihat sangat bersemangat.
Melihat wa-jahnya yang berbinar, muncul niat usil yang kejam di ke-palaku. Sekali ini, biar dia merasakan bagaimana dipermainkan. Selamat datang di pembalasan kedua, Citra.
“Makan sebanyak apapun yang kamu mau,” ucapku.
“Benar, Mas? Aku boleh makan apapun yang kumau?”
“Ya, cepat. Aku gak akan nunggu lama.”
Dia makan dengan lahap seperti orang yang sudah lama tak makan enak. Kalau memang benar ternyata selama setahun istriku diberi makanan sisa, da-ging yang menempel di tu-lang dan berdiri ketika yang lain makan, tak akan kubiarkan.
“Alhamdulillah, kenyang.”
“Sudah?” tanya ku.
“Iya, mas. Makasih ya karena udah ngajak dan teraktir aku makan di sini.”
Ma-taku memicing. Kedua tang-an melipat di da-da kemudian bersandar pada kursi.
“Memang siapa yang bilang kalau aku ba-yarin?”
“Loh, tapikan kamu yang ngajak aku makan, mas.”
“Heh, kamu tu punya ua-ng, ya. Setiap bulan aku kirim ua-ng. Kalau habis karena dipakai belanja dan gak ditabung, ya itu salahmu sendiri. Aku cuma suruh kamu makan, gak ada bilang bakal ba-yarin.”
Wa-jah panik Citra menjadi kesenangan tersendiri untukku. Aku pun beranjak dari duduk.
“Pulang sendiri naik taksi, eneg semobil sama kamu. Bau-bau kampung mobil aku jadinya.”
Tak kuperdulikan Citra yang teriak memanggilku. Langkah ini terus melaju sampai ke mobil. Sementara istriku itu tak menyusul, mungkin sudah ditahan sama karyawan di sana.
Citra pasti punya m-banking, dia bisa bayar makanan nya melalui Qris atau transfer. Jadi, aku tak perlu khawatir meninggalkannya di sini.
Dua jam, tiga jam bahkan sudah hampir tengah malam tapi Citra belum pulang ke rumah. Aku sampai menunggunya di teras padahal cuaca sedang dingin-dinginnya.
Dia benaran bodoh atau sedang marah sih? Kok bisa gak pulang padahal sudah larut begini. Atau jangan-jangan dia lagi sama laki-laki lain? Awas aja, pulang nanti kumarahi!
Resah menunggu, akhirnya aku mengambil kunci mobil dan pergi mencarinya. Jalanan yang sudah sedikit sepi kulalui dan ketika hampir tiba di rumah makan tadi, aku melihat Citra yang sedang berjalan seorang diri.
Aku segera menghampirinya. Langkah ka-ki gadis itu terhenti, ma-ta nya sudah sembab dan basah.
“Kenapa nangis?” tanyaku.
“Masih nanya kamu, Mas?”
Nada kecewa bercampur amarah. Wah, berani juga dia. Tak sadar posisinya siapa.
“Ngapain di jalan? Kenapa gak pulang dari tadi? Ayo, masuk mobil. Jelaskan semuanya di rumah.”
Aku sudah berjalan beberapa langkah namun Citra masih diam saja. Terpak-sa kembali dan menggenggam tang-annya.
Tapi saat kugenggam, tang-annya dingin—terlalu dingin untuk orang yang masih berdiri tegak. Kuperhatikan wa-jahnya pucat ketika terkena sinar lampu jalanan.
“Kenapa kamu?” tanyaku.
Alih-alih menjawab, ia malah menangis.