Posted in

Baru saja suamiku menandatangani surat cerai untuk menikahi selingkuhannya di BGC…

Baru saja suamiku menandatangani surat cerai untuk menikahi selingkuhannya di BGC…

Tapi ketika malam itu dia membawa seluruh keluarganya untuk mengambil alih penthouse, sesuatu yang menunggu mereka di dalam membuat semuanya membeku ketakutan…

Marco Villanueva membanting pulpen dengan keras setelah menandatangani surat perceraian.

Dia melemparkannya ke atas meja kaca di penthouse mewah kami di Bonifacio Global City sambil tersenyum penuh kesombongan.

— “Akhirnya selesai juga. Mulai sekarang kamu sudah tidak ada hubungannya lagi dengan hidupku.”

Aku hanya menatap dokumen di depanku dengan tenang.

Sepuluh tahun pernikahan.

Sepuluh tahun aku membantu Marco membangun perusahaan logistiknya dari nol.

Dan pada akhirnya, semua itu ditukar dengan selembar surat cerai dan hinaan dingin dari keluarganya.

Mertuaku, Celina, berdiri di dekat wine bar sambil berkacak pinggang dan menatapku penuh penghinaan.

— “Lina, seharusnya dari dulu kamu tahu tempatmu. Kamu cuma perempuan kampung dari Cebu. Mana pantas jadi istri anakku?”

Adik Marco terkikik.

— “Harusnya kamu bersyukur masih dikasih Rp4,2 miliar sama Kak Marco. Kalau aku sih, sudah kuusir tanpa dapat apa-apa.”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Aku hanya menandatangani dokumen itu dengan tenang.

Saking tenangnya sampai Marco sendiri sempat terdiam.

Mungkin dia berharap aku menangis.

Atau berlutut memohon.

Tapi aku tidak melakukan apa pun.

Aku hanya menutup folder dan menarik koperku.

Sebelum keluar, aku menatapnya lurus.

— “Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu.”

Marco tertawa keras.

— “Tentu saja. Sofia memang wanita yang pantas untukku.”

Begitu pintu tertutup, suara tawa mereka langsung menggema di dalam penthouse.

Aku berhenti sejenak di depan lift.

Lalu mengeluarkan ponselku.

— “Semuanya sudah selesai.”

Beberapa detik hening dari seberang telepon sebelum seseorang menjawab.

— “Baik, Ma’am.”

Malam itu, Marco membawa seluruh keluarganya makan malam di rooftop restaurant mewah dengan pemandangan Manila Bay.

Sofia memakai gaun merah ketat dan penuh perhiasan mahal.

Dia terus memamerkan cincin berlian baru di jarinya.

— “Katanya ini special order dari Singapura,” ujarnya sombong.

Celina terkagum-kagum.

— “Anakku memang tahu cara memperlakukan wanita.”

Marco tertawa sambil merangkul Sofia.

— “Itu masih kecil. Kalau proyek pelabuhan baru kami jadi, uang kami bakal makin besar.”

Sofia menyandarkan kepala di bahunya.

— “Aku nggak sabar pindah ke penthouse itu. Jujur saja aku nggak suka style mantan istrimu. Rumahnya kelihatan suram.”

— “Ganti saja semuanya sesukamu.”

Marco tertawa keras.

— “Mulai sekarang itu rumahmu.”

Mereka semua tertawa bahagia.

Tak ada yang tahu bahwa…

di saat yang sama, sebuah rapat darurat sedang berlangsung di gedung pribadi di Makati.

Dan di layar LED besar ruang konferensi, hanya ada satu tulisan:

“EMERGENCY NOTICE: SELURUH KEPEMILIKAN VILLANUEVA PORTS TELAH DIALIHKAN KEPADA PEMILIK BARU.”

Hampir tengah malam ketika Lexus hitam berhenti di depan Aurelia Residences.

Marco turun dalam keadaan sedikit mabuk sambil merangkul Sofia.

— “Mulai malam ini, kamu ratu penthouse ini.”

Ibunya tersenyum lebar.

— “Akhirnya anakku tahu cara memilih perempuan yang tepat.”

Sofia berlari kecil menuju pintu.

Tapi tiba-tiba dia berhenti.

— “Marco… kenapa lock-nya beda?”

Marco mengernyit.

Smart lock lama di penthouse itu sudah tidak ada.

Diganti sistem keamanan modern dengan facial recognition scanner.

Dia mencoba fingerprint miliknya.

BEEP.

“ACCESS DENIED.”

Mata Marco langsung membesar.

— “Apa-apaan ini?!”

Dia buru-buru memasukkan password lama.

BEEP.

“INVALID PASSWORD.”

Wajahnya perlahan memucat.

Celina berkata kesal.

— “Pasti Lina mengganti lock buat balas dendam.”

Marco langsung meneleponku.

Tapi aku tidak mengangkatnya.

Dan tepat saat itu…

pintu penthouse terbuka dari dalam.

Seorang pria berjas hitam keluar bersama empat bodyguard.

Marco langsung bertanya dengan kesal.

— “Kalian siapa?”

Pria itu menyerahkan sebuah folder dengan tenang.

— “Maaf, Mr. Villanueva.”

— “Penthouse ini sekarang sudah menjadi milik chairwoman baru perusahaan.”

Marco tertawa menghina.

— “Kalian gila? Aku pemilik perusahaan itu!”

Pria itu tetap diam lalu mundur sedikit ke samping.

Dan ketika wanita yang berada di dalam penthouse melangkah keluar…

gelas wine Sofia jatuh dan pecah karena kaget.

Marco membeku.

Karena wanita yang berdiri di depan mereka…

adalah aku.

Tapi yang paling membuat seluruh keluarganya ketakutan…

adalah pria tua yang berdiri di belakangku — seorang miliarder berkuasa yang dikenal di seluruh Filipina sebagai “Raja Pelabuhan Manila.”

Dan di depan mereka semua, pria itu menunduk hormat kepadaku sambil berkata:

— “Selamat datang kembali… hija.”

Seluruh koridor lantai teratas Aurelia Residences mendadak sepi, sedingin es. Tawa mabuk Marco menguap dalam sekejap, digantikan oleh deru napasnya yang memburu karena syok.

Pria tua di belakangku adalah Don Alejandro Villanueva. Sang “Raja Pelabuhan Manila” yang asetnya menggurita di seluruh Asia Tenggara. Pria yang selama sepuluh tahun ini tidak pernah bisa ditemui oleh Marco, bahkan setelah puluhan proposal kerja sama dikirimkan oleh perusahaannya.

“H-Hija…?” suara Celina bergetar hebat. Kakinya melemas hingga dia harus berpegangan pada pundak Sofia yang gaun merahnya kini ketumpahan sisa wine dari gelas yang pecah. “A-Alejandro Villanueva… memanggil perempuan kampung ini… anak?”

Don Alejandro melangkah maju, berdiri tepat di sampingku. Tatapan matanya yang tajam dan berwibawa menyapu wajah Marco dan keluarganya seperti pisau.

“Perempuan kampung dari Cebu yang kalian hina selama sepuluh tahun ini,” suara Don Alejandro menggelegar, bergaung di langit-langit koridor yang tinggi, “adalah putri tunggal saya, Angelina Villanueva. Pewaris tunggal seluruh Villanueva Holdings.”

Marco mundur dua langkah, menatapku dengan mata yang hampir keluar dari rongganya. “Lina… ini tidak mungkin. Kamu… kamu Lina, istriku yang membantuku dari nol! Kalau kamu anak miliarder, kenapa selama ini kamu hidup sederhana?!”

Aku melangkah maju, melipat kedua tanganku di dada, dan menatap mantan suamiku itu dengan senyuman paling dingin yang pernah kuberikan padanya.

“Karena sepuluh tahun lalu, aku ingin membuktikan kepada ayahku bahwa ada pria yang mencintaiku tulus tanpa melihat nama besar keluargaku,” kataku, suaraku tenang namun menusuk. “Aku rela menyembunyikan identitasku, hidup di apartemen sewaan, dan memeras keringat untuk membangun bisnismu dari nol. Aku mengira kamu adalah pria itu, Marco.”

Aku menoleh ke arah Sofia yang kini gemetaran, mencoba menyembunyikan tangan yang memakai cincin berlian “special order Singapura” di balik punggungnya.

“Tapi ternyata, begitu perusahaanmu sukses, kamu lupa siapa yang membukakan jalan untukmu. Kamu berselingkuh, dan keluargamu memperlakukanku seperti sampah yang bisa dibuang setelah tidak berguna.”

“Lina… maafkan aku… aku khilaf!” Marco tiba-tiba maju, hendak berlutut dan meraih kakiku. “Surat cerai itu… kita bisa batalkan! Aku dipengaruhi oleh mereka! Aku mencintaimu, Lina!”

BUGH!

Dua bodyguard berbadan besar langsung menghadang Marco, mendorongnya hingga tersungkur di atas lantai marmer di depan pintu penthouse.

“Batalkan?” Aku tertawa kecil, suara tawa yang membuat Celina dan adiknya langsung merinding ketakutan. “Terlambat, Marco. Begitu pulpen itu kamu banting di meja kaca tadi, hakmu atas diriku, dan atas perusahaanmu, sudah hangus.”

Pria berjas hitam di sampingku mengeluarkan dokumen dari foldernya dan membacakannya dengan lantang.

“Mr. Marco Villanueva. Perusahaan logistik Anda, Villanueva Ports, beroperasi menggunakan hak jalur laut dan lisensi dermaga privat milik Villanueva Holdings. Berdasarkan klausul hukum yang ditandatangani malam ini, seluruh lisensi Anda resmi DICABUT. Selain itu, dana investasi terikat senilai Rp450 miliar yang awalnya dialokasikan untuk proyek pelabuhan baru Anda… telah ditarik kembali oleh Chairwoman Angelina.”

Wajah Marco berubah menjadi abu-abu. “Tidak… kalau lisensi dicabut dan dana ditarik, perusahaanku akan bangkrut besok pagi! Aku punya utang bank ratusan miliar!”

“Memang itu tujuannya,” sahut Don Alejandro dingin. “Dalam waktu dua puluh empat jam, pengadilan akan menyita seluruh aset pribadimu termasuk mobil-mobil mewahmu untuk membayar penalti pemutusan kontrak sepihak dengan perusahaan kami.”

Celina langsung menangis histeris. Dia berlutut di depan pintu, mencoba memohon pada ibuku yang bahkan tidak ada di sana. “Lina! Tolong mertuamu ini, Nak! Kami salah! Kami buta! Jangan biarkan kami jatuh miskin lagi!”

Adik Marco yang tadi terkikik sombong, kini menutup wajahnya sambil menangis ketakutan di pojokan. Sementara Sofia, menyadari bahwa “pangeran kaya” yang baru saja dia rebut ternyata telah berubah menjadi gembel jatuh bangkrut, perlahan-lahan mundur ke arah lift, mencoba melarikan diri sendirian.

“Mau ke mana, Sofia?” panggilku, membuat langkahnya terhenti. “Cincin berlian di jarimu itu dibeli menggunakan kartu kredit perusahaan Marco. Besok pagi, kurator bank akan datang untuk menyitanya dari jarimu.”

Sofia mematung dengan wajah pucat pasi.

Aku menarik napas panjang, merasakan kebebasan yang sesungguhnya setelah sepuluh tahun hidup dalam kepura-puraan yang menyiksa. Aku menatap mereka semua untuk terakhir kalinya.

“Uang Rp4,2 miliar yang kalian sebut sebagai kemurahan hati di surat cerai tadi? Anggap saja itu tip dariku untuk biaya hidup kalian di jalanan setelah ini,” kataku dingin.

Aku berbalik, melangkah masuk ke dalam penthouse-ku yang megah. “Bodyguard, bersihkan koridor ini dari para pengemis. Mereka merusak pemandangan BGC malam ini.”

“Siap, Ma’am!”

Pintu penthouse menutup otomatis dengan bunyi klik yang elegan diikuti pemindaian wajah yang mengunci seluruh akses mereka untuk selamanya. Dari balik pintu, aku masih bisa mendengar jeritan panik Marco yang menggedor-gedor dinding, tangisan histeris Celina, dan makian Sofia yang saling menyalahkan di depan lift.

Don Alejandro menepuk pundakku pelan. “Kamu melakukannya dengan baik, hija. Sekarang, pulanglah ke rumah yang sesungguhnya.”

Aku tersenyum menatap lampu-lampu kota Bonifacio Global City dari jendela besar penthouse-ku. Sepuluh tahun aku membangun mimpi orang lain, malam ini aku kembali untuk menguasai duniaku sendiri.