Posted in

“Aku minta u4ng sumb4 ngan kamu ya, Dek.” Buat apa, Mas? Kamu ‘kan udah punya u4 ng su mb4 ngan dari rekan kerja kamu. Bahkan, nominalnya jauh lebih banyak dari u 4 ng sum ban ganku.”

“Apa susahnya sih kamu nurut, Dek? Gak usah banyak tanya gitu.”

Sumbangan Pernikahanku Dipakai Mertua (4)

“U a ng dekorasi itu harus dib 4 y ar sekarang.”

DEG!

Aku membeku.

“Dekorasi?” ulangku lirih.

Perempuan itu menyilangkan tangan di dada. “Jangan pura-pura tidak tahu! Mertuamu yang pesan dekorasi untuk penikahan kalian. Sudah DP, tapi sisanya belum dib a yar sampai sekarang!”

Ternyata yang Bu Wiwid katakan kemarin benar. Dekorasi untuk pernikahan kami belum dib ay ar.

“Saya benar-benar tidak tahu soal itu,” kataku jujur.

“Tidak tahu?” Lelaki itu hampir tertawa sinis. “Kami sudah kasih waktu dari kemarin! Tapi tidak ada itikad baik!”

“Berapa sisanya, Bu?” tanyaku lagi.

“Masih kurang 15 j u ta.”

Dunia seolah berhenti sesaat. Jumlah itu … bukan angka kecil. Bahkan, terlalu besar untukku.

“Sebanyak itu?” lirihku.

“Iya!” jawabnya ketus. “Dan harus di b b ay ar sekarang!”

Aku menelan ludah dengan susah payah. Bagaimana bisa aku memb ay ar sekarang sementara aku tak memiliki uang sebanyak itu.

“Saya tidak punya u 4 ng sebanyak itu,” kataku jujur.

“Lalu di mana ibu mertuamu?” tanya perempuan itu tajam.

“Saya tidak tahu,” jawabku pelan.

“Jangan bohong!” lelaki itu mengge br ak pintu.

Aku tersentak.

“Suamimu?” desaknya.

“Belum pulang,” jawabku.

“Kami tidak mau tahu!” Lelaki itu menyilangkan kedua tangan di d a d a “Ini tanggung jawab kalian!”

Aku mulai merasa terpojok.

“Tapi saya tidak tahu apa-apa soal ini!” Suaraku mulai bergetar.

“Jangan pura-pura!” seru perempuan itu.

“Saya tidak pura-pura!” balasku.

“Kalau begitu ba y ar!” sahut lelaki itu lagi.

“Saya tidak punya!” jawabku tegas.

“Ambil dari dalam!” katanya lagi.

Aku menggeleng. “Saya tidak punya u a n g sama sekali.”

“Mustahil!” Perempuan itu mencibir.

“Habis nikah pasti banyak u a ng!”

Ucapannya membuat da d aku sesak.

U a ng sum ban gan yang kami punya … dibawa ibu. Jangan-jangan yang itu tak jadi dita bungkan. Astaghfirullah.

“U a ng itu … sudah tidak ada,” kataku pelan.

“Maksudnya?” tanya lelaki itu seraya menatapku ta j am.

“Sudah dibawa Ibu,” jawabku jujur.

“Semuanya?”

Aku mengangguk pelan.

Hening sejenak.

Lelaki itu menghembuskan napas ka s ar. “Jadi sekarang kamu tidak punya apa-apa?”

Aku mengangguk pelan. Toh kenyataannya memang benar. Aku tak memiliki u a ng. Semua uangku sudah diambil Mas Eka. Tanpa kejelasan.

“Lalu kami harus bagaimana?” Suaranya mulai meninggi lagi.

Aku menatap mereka, bingung. Aku sendiri tak tahu nasib u a ng sumb anganku. Apalagi nasib mereka.

“Saya akan sampaikan ke Ibu dan Mas Eka,” kataku.

“Kami tidak mau dengar alasan!” Perempuan itu memotong pembicaraan.

“Kami maunya u a ng!”

“Saya tidak bisa memberi sekarang,” kataku, mencoba tetap tenang.

“Kalau begitu kami tunggu di sini!”

Lelaki itu tiba-tiba melangkah masuk. Diikuti perempuan di sampingnya. Tanpa meminta izin, mereka duduk di ruang tamu.

Aku kebingungan tak tahu harus berbuat apa. Hanya nama Mas Eka yang terus muncul di kepala.

Buru-buru aku melangkah ke kamar. Kusambar ponsel yang tergeletak di atas kasur. Dengan cepat kutekan nomor telepon suamiku.

Berdering.

Namun, Mas Eka tak langsung mengangkatnya. Entah ke mana lelaki itu? Kenapa di saat seperti ini dia justru menghilang.

Kamu di mana sih, Mas? Biasanya juga gak lembur.

Dengan langkah gontai aku berjalan menuju ruang tamu. Dua orang itu masih di sana.

“Maaf, suami saya tidak bisa dihubungi,” ucapku pelan dan hati-hati.

“Br 3ng s 3 k! Pokoknya aku mau tunggu mereka sampai pulang.”

Aku hanya bisa mengangguk. Tak mungkin menolak keinginan dua orang yang sedang dipenuhi amarah itu.

Kami menunggu dalam diam. Tidak ada percakapan atau obrolan. Hanya ketegangan yang memenuhi ruangan ini.

Beberapa saat terdengar suara kendaraan roda dua dari kejauhan. Semakin lama suara itu semakin jelas. Dan aku hafal siapa pemilik kendaraan itu. Mas Eka–suamiku.

“Assalamualaikum,” ucap Mas Eka saat melangkah masuk.

“Akhirnya datang juga kamu, Eka!” Suara lelaki itu menggema, membuat tatapan Mas Eka tertuju pada dua sosok yang duduk tegang di sofa ruang tamu.

“Pa–pak Kris,” ucap Mas Eka terbata. Senyum yang sempat singgah seketika sirna, meninggalkan wajah pucat dengan sorot bingung dan takut.

“Mana u a ng dekorasinya, Eka! Jangan janji-janji saja!”

Suamiku mematung di mulut pintu. Tak ada niatan untuk mendekat, apalagi duduk di hadapan Pak Kris dan istrinya.

Pak Kris dan istrinya pun berdiri, lalu berjalan mendekat ke arahnya.

BUG!

Tangan lelaki itu melayang, mengenai pipi suamiku. Gerakan tiba-tiba itu membuat tubuh Mas Eka terhuyung dan nyaris jatuh di lantai.

Sontak aku berlari, mendekati Mas Eka.

“Saya minta maaf, Pak. Secepatnya akan saya lu n asi. Saat ini saya tidak memiliki u a n g.”

BUG

Ti n ju itu kembali mendarat di pipi Mas Eka. Suamiku langsung meronta, kesakitan. Bahkan d4 r ah keluar dari bibirnya.

“Stop!” teriakku. “Kalau Pak Kris melakukan kekerasan, saya akan laporkan ke polisi.”

Lelaki itu menatap kami ta j am.

“Aku gak mau tahu. Lusa uang itu harus ada!”

Pak Kris dan istrinya pun pergi, meninggalkan aku dan Mas Eka dalam keheningan.

“Jelaskan, kenapa Pak Kris minta u an g dekorasinya? Bukankah kata Mas semua sudah lu na s?” tanyaku saat kami duduk di ruang tamu.

“Pembay aran memang belum lu n as, Dek. Kami tidak punya u a n g untuk melunasinya.”

Jawaban itu membuatku teringat dengan u 4 n g sumbangan pernikahan yang Mas Eka ambil beberapa hari lalu. Jangan-jangan u a ng itu habis untuk memba yar bi a ya pernikahan.

“Lalu u a ng sum b anganku Mas ke manain?”

Mas Eka terdiam sejenak. Seolah ia tengah merangkai kata untuk memberikan jawaban yang tepat.

“U a ng sumbanganku beneran ditabung ‘kan, Mas?” tanyaku untuk kedua kalinya karena dia hanya diam seribu bahasa.

“I–iya, Dek.”

“Kalau gitu mana buku ta b vngannya, Mas. Aku mau lihat!”