Aku memasukkan satu per satu barang yang kutemukan dalam ransel milik Mas Aji pagi tadi, melakukannya dengan hati-hati seolah setiap benda menyimpan jawaban yang selama ini kucari. Tak lupa, kuselipkan pula sandal milik Pak Rahman yang kutemukan beberapa hari lalu di kolam tempat pembuangan sampah. Semua ini bukan lagi sekadar barang—ini adalah bukti.
Rencananya, malam ini juga aku akan menyerahkan semuanya secara langsung kepada Pak Kades. Aku harus memberinya bukti atas apa yang telah dilakukan Mas Aji. Dan ya, aku menyebutnya p3mbvnuh4n. Bukan tanpa alasan. Jilbab yang kutemukan semalam… itu milik Bu Sukma. Aku yakin betul—aku pernah melihatnya mengenakan kerudung itu saat ke masjid. Tak mungkin aku salah.
Jilbab itu kotor, penuh lumpur, dan masih basah saat kutemukan. Gambaran meng3rikan langsung terlintas di benakku—mungkin sebelum m3nengg3lamkal4n Bu Sukma ke sungai, Mas Aji telah melakukan sesuatu yang jauh lebih keji. Dan bukan hanya beliau… bisa jadi Pak Rahman, Pak Dahlan, bahkan rombongan warga yang hilang itu juga menjadi k0rb4n.
Wajah Mas Aji semalam pun tak kalah mencurigakan—penuh luka, seolah baru saja terlibat dalam sesuatu yang brvtal. Dari mana lvka-lvk4 itu berasal jika bukan akibat perbuatannya sendiri? Ditambah lagi, Pak Ahmad pernah bilang bahwa Mas Aji mengikuti Pak Rahman malam itu.
Semua potongan ini mulai membentuk satu gambaran yang utuh. Tak ada lagi yang perlu disembunyikan. Keadilan harus ditegakkan, meski itu berarti suamiku sendiri harus mempertanggungjawabkan semuanya.
Aku sudah siap.
Aku keluar melalui pintu belakang. Sengaja kupilih jalan itu agar kecil kemungkinan bertemu warga. Selain itu, aku ingin bertemu Pak Kades secara pribadi—tanpa saksi, tanpa keramaian. Aku ingin semua ini diselesaikan secara diam-diam. Mas Aji harus ditangkap, tapi bukan untuk dihakimi massa.
Perjalanan menuju rumah Pak Kades tidak terlalu jauh, dan syukurlah, tak satu pun warga yang kutemui di jalan. Rumah beliau tampak terang dari kejauhan. Bahkan bangunan baru yang beberapa waktu lalu sempat terbakar kini juga diterangi lampu, meski tak seterang rumah utama yang kini beliau tempati.
Aku berjalan menyusuri sisi rumah yang sempat terbakar itu, menuju bagian utama. Namun langkahku terhenti begitu mendengar suara dari dalam—suara orang berbincang. Nada mereka pelan, tapi cukup jelas untuk menimbulkan rasa penasaran.
Aku mendekat perlahan, lalu masuk dengan hati-hati. Rumah itu cukup besar—bahkan terasa dua kali lebih luas dibanding rumah utamanya. Suara percakapan itu berasal dari salah satu ruangan di tengah, ruangan yang tampaknya masih utuh dan tidak tersentuh api.
Karena tak bisa melihat dengan jelas dari tempatku berdiri, aku memutuskan untuk menunggu. Mengamati. Menahan napas.
Tak lama kemudian, dua pria keluar dari ruangan itu. Salah satunya adalah Pak Ahmad. Yang satu lagi… asing. Aku belum pernah melihatnya sebelumnya. Wajahnya dingin, dan ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuatku merasa tidak nyaman.
Apa yang dilakukan Pak Ahmad di sini? Dan siapa pria itu? Kenapa suasananya terasa… janggal?
“Ada yang aneh,” gumamku pelan dalam hati.
Keraguan mulai merayap. Aku mengurungkan niat untuk menemui Pak Kades malam ini. Entah kenapa, aku merasa Pak Ahmad menyembunyikan sesuatu. Gelagatnya tidak seperti biasanya. Jika benar dia mencurigai Mas Aji, kenapa bukan Pak Kades yang pertama kali dia beri tahu? Apa motifnya?
Aku mundur perlahan, memutuskan untuk pulang dan mencari tahu lebih jauh sebelum mengambil langkah berikutnya.
Namun saat aku baru saja keluar dari area rumah itu—
Tiba-tiba seseorang membekapku dari belakang.
Mulutku ditutup dengan kain. Bau menyengat dari kain itu langsung menyerang indera penciumanku, membuat kepalaku berputar hebat. Pandanganku mengabur, tubuhku melemas, dan dalam hitungan detik aku kehilangan kendali.

Aku memasukkan satu per satu barang yang kutemukan dalam ransel milik Mas Aji pagi tadi, melakukannya dengan hati-hati seolah setiap benda menyimpan jawaban yang selama ini kucari. Tak lupa, kuselipkan pula sandal milik Pak Rahman yang kutemukan beberapa hari lalu di kolam tempat pembuangan sampah. Semua ini bukan lagi sekadar barang—ini adalah bukti.
Rencananya, malam ini juga aku akan menyerahkan semuanya secara langsung kepada Pak Kades. Aku harus memberinya bukti atas apa yang telah dilakukan Mas Aji. Dan ya, aku menyebutnya p3mbvnuh4n. Bukan tanpa alasan. Jilbab yang kutemukan semalam… itu milik Bu Sukma. Aku yakin betul—aku pernah melihatnya mengenakan kerudung itu saat ke masjid. Tak mungkin aku salah.
Jilbab itu kotor, penuh lumpur, dan masih basah saat kutemukan. Gambaran meng3rikan langsung terlintas di benakku—mungkin sebelum m3nengg3lamkal4n Bu Sukma ke sungai, Mas Aji telah melakukan sesuatu yang jauh lebih keji. Dan bukan hanya beliau… bisa jadi Pak Rahman, Pak Dahlan, bahkan rombongan warga yang hilang itu juga menjadi k0rb4n.
Wajah Mas Aji semalam pun tak kalah mencurigakan—penuh luka, seolah baru saja terlibat dalam sesuatu yang brvtal. Dari mana lvka-lvk4 itu berasal jika bukan akibat perbuatannya sendiri? Ditambah lagi, Pak Ahmad pernah bilang bahwa Mas Aji mengikuti Pak Rahman malam itu.
Semua potongan ini mulai membentuk satu gambaran yang utuh. Tak ada lagi yang perlu disembunyikan. Keadilan harus ditegakkan, meski itu berarti suamiku sendiri harus mempertanggungjawabkan semuanya.
Aku sudah siap.
Aku keluar melalui pintu belakang. Sengaja kupilih jalan itu agar kecil kemungkinan bertemu warga. Selain itu, aku ingin bertemu Pak Kades secara pribadi—tanpa saksi, tanpa keramaian. Aku ingin semua ini diselesaikan secara diam-diam. Mas Aji harus ditangkap, tapi bukan untuk dihakimi massa.
Perjalanan menuju rumah Pak Kades tidak terlalu jauh, dan syukurlah, tak satu pun warga yang kutemui di jalan. Rumah beliau tampak terang dari kejauhan. Bahkan bangunan baru yang beberapa waktu lalu sempat terbakar kini juga diterangi lampu, meski tak seterang rumah utama yang kini beliau tempati.
Aku berjalan menyusuri sisi rumah yang sempat terbakar itu, menuju bagian utama. Namun langkahku terhenti begitu mendengar suara dari dalam—suara orang berbincang. Nada mereka pelan, tapi cukup jelas untuk menimbulkan rasa penasaran.
Aku mendekat perlahan, lalu masuk dengan hati-hati. Rumah itu cukup besar—bahkan terasa dua kali lebih luas dibanding rumah utamanya. Suara percakapan itu berasal dari salah satu ruangan di tengah, ruangan yang tampaknya masih utuh dan tidak tersentuh api.
Karena tak bisa melihat dengan jelas dari tempatku berdiri, aku memutuskan untuk menunggu. Mengamati. Menahan napas.
Tak lama kemudian, dua pria keluar dari ruangan itu. Salah satunya adalah Pak Ahmad. Yang satu lagi… asing. Aku belum pernah melihatnya sebelumnya. Wajahnya dingin, dan ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuatku merasa tidak nyaman.
Apa yang dilakukan Pak Ahmad di sini? Dan siapa pria itu? Kenapa suasananya terasa… janggal?
“Ada yang aneh,” gumamku pelan dalam hati.
Keraguan mulai merayap. Aku mengurungkan niat untuk menemui Pak Kades malam ini. Entah kenapa, aku merasa Pak Ahmad menyembunyikan sesuatu. Gelagatnya tidak seperti biasanya. Jika benar dia mencurigai Mas Aji, kenapa bukan Pak Kades yang pertama kali dia beri tahu? Apa motifnya?
Aku mundur perlahan, memutuskan untuk pulang dan mencari tahu lebih jauh sebelum mengambil langkah berikutnya.
Namun saat aku baru saja keluar dari area rumah itu—
Tiba-tiba seseorang membekapku dari belakang.
Mulutku ditutup dengan kain. Bau menyengat dari kain itu langsung menyerang indera penciumanku, membuat kepalaku berputar hebat. Pandanganku mengabur, tubuhku melemas, dan dalam hitungan detik aku kehilangan kendali.